Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Apa Yang Terjadi Dengan Daniza?


__ADS_3

Kelopak mata Alvin terbuka secara perlahan. Hal pertama yang hadir dalam ingatannya adalah Daniza.


Ia berusaha menajamkan penglihatan sebab segalanya masih tersamar. Dalam kesadaran yang belum utuh sepenuhnya, ia terus menggumamkan nama Daniza. Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia baru sadar sedang berada di kamar.


"Daniza?"


Alvin memposisikan tubuhnya duduk bersandar di tempat tidur. Tampak kebingungan dan mulai gelisah mencari. Di kamar luas itu ia hanya seorang diri. Baru akan bangun dari tempat tidur, pintu sudah terbuka dan memunculkan Mama Elvira.


"Kamu sudah bangun, Vin?" ucap sang mama.


"Mama, di mana Daniz?" tanyanya tiba-tiba.


Pikiran buruk sudah memenuhi pikirannya. Ia dapat mengingat dengan jelas kejadian tadi. Alvin takut telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap Daniza dan janin dalam kandungannya. Apa lagi tadi ia melihat darah yang cukup banyak di pakaian Daniza.


"Di mana Daniza, Mah?" tanya Alvin sekali lagi ketika tak kunjung mendapat jawaban.


Bukannya menjawab, Mama malah membalas dengan ucapan yang terdengar ketus. "Untuk apa kamu menanyakan Daniza segala?"


"Mah, tolong! Daniza tadi pendarahan!"


"Lalu apa urusannya dengan kamu? Bukannya kamu tidak peduli sedikit pun dengan Daniza?"


Semakin frustrasi mendengar jawaban mamanya, Alvin memijat kepala. Kejadian di hotel masih menyisakan denyutan, meskipun tidak sesakit tadi.


Kepingan rasa sesal mulai menyergap yang membuat dadanya terasa penuh sesak. Alvin teringat perbuatan jahatnya kepada Daniza belakangan ini. Bahkan dia berteriak dan mengusir istrinya dari kamar saat memberitahu tentang kehamilannya.


"Mama, aku tahu aku salah. Tapi tolong beritahu di mana istriku."


"Sudah diakui istri, toh?" balas sang mama, masih dengan mimik kesal.


"Mah—"


Mama menghembuskan napas panjang. Sebenarnya ia masih ingin menyembunyikan Daniza, tetapi di saat yang bersamaan juga tidak tega dengan putranya. Terlebih, sikap Alvin belakangan ini bukanlah karena kesengajaan.


"Daniza sedang istirahat di kamar sebelah!"


"Di kamar sebelah?"


Tanpa banyak bertanya lagi, Alvin segera bangkit dari tempat tidur dan tergesa-gesa menuju kamar sebelah. Beberapa kali ia hampir terhuyung. Rasa sakit di kepala membuatnya kehilangan keseimbangan tubuh.


Begitu membuka pintu, tampak Daniza sedang terlelap di ranjang dengan selimut membalut tubuhnya. Alvin mematung selama beberapa saat.

__ADS_1


"Kenapa Daniz tidak dibawa ke rumah sakit, Mah? Tadi dia berdarah!" pekik Alvin sangat panik.


"Daniz tidak apa-apa, Vin!"


"Tidak apa-apa bagaimana, Mah! Aku lihat sendiri Daniza jatuh dan berdarah!" Ia terlihat sangat frustrasi dan ketakutan. "Bagaimana kalau Daniza keguguran lagi seperti waktu itu?"


Mama Elvira yang berada di belakang tercengang. Ia mulai menebak Alvin telah mengingat sesuatu. "Kamu ingat Daniza pernah pendarahan sebelumnya?"


"Aku ingat, Mah. Daniza berdarah di hotel persis seperti kejadian di kontrakannya dulu. Mama sama Eric kenapa tidak bawa dia ke rumah sakit. Kalau anakku kenapa-kenapa bagaimana?"


Khawatir, Alvin menyibak selimut dan hendak menggendong Daniza. Tetapi, langsung dihalangi oleh Mama Elvira. "Mau apa kamu?"


"Mau bawa Daniz ke rumah sakit!"


Mama Elvira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya. Meskipun begitu, ia merasa lega karena ini menandai bahwa Alvin benar-benar sudah mengingat Daniza. "Kamu tenang dulu. Daniza tidak apa-apa, kok."


"Tapi dia tadi berdarah banyak, Mah! Kita harus cepat bawa dia ke rumah sakit."


Mama Elvira kembali menghalangi Alvin yang ingin menggendong Daniza. "Daniza tidak apa-apa, Vin! Dia tidak mengalami pendarahan!"


Kedua alis tebal Alvin saling bertaut mendengar ucapan mamanya. Bagaimana mungkin tidak pendarahan, sedangkan jelas-jelas tadi Alvin melihat cairan merah yang cukup banyak di pakaian Daniza.


"Maksud Mama apa?" tanya Alvin semakin bingung.


Alvin terdiam beberapa saat seperti sedang mencerna maksud ucapan Mama Elvira. Ia yang masih ragu pun segera menyibak selimut dan memeriksa pakaian istrinya.


Benar saja, di sana tidak ada bercak darah. Alvin bahkan sempat mengintip area yang paling membuatnya khawatir itu. Ia baru bernapas lega setelah memastikan bahwa Daniza memang tidak mengalami pendarahan.


"Syukurlah!" ucapnya sambil menghela napas. Laki-laki itu membungkuk dan membenamkan ciuman di kening secara berulang-ulang.


Setidaknya apa ia takutkan tidak terjadi. Entah apa yang akan terjadi kepada Daniza jika sampai mengalami pendarahan untuk yang ke dua kali. Mungkin trauma yang sama akan terulang dan Daniza mungkin akan membenci dirinya.


"Terima kasih, Mah. Aku sudah sangat ketakutan!" Alvin menjatuhkan tubuhnya di tepi pembaringan.


"Makanya jangan panikan. Ayok, kita keluar! Biarkan Daniza istirahat dulu! Dia pasti capek menghadapi suaminya yang berubah menjadi remaja 18 tahun!" sindir wanita itu.


Alvin menatap mamanya dengan bibir mengerucut. "Itu kan tidak sengaja, Mah. Aku juga tidak mau melupakan Daniza seperti kemarin."


"Dapatnya susah loh, ini. Sampai harus jadi pebinor dulu!" tambahnya dalam hati.


"Makanya karena dapatnya susah, jadi jaga baik-baik. Kamu beruntung Daniza masih punya kesabaran dalam menghadapi kamu. Kalau mama jadi Daniza, kamu sudah mama pukul pakai sapu!" ujarnya panjang lebar.

__ADS_1


"Aku curiga, jangan-jangan papa dulu sering dipukul sapu sama Mama!"


Tuduhan Alvin berhasil membangunkan jiwa brutal Mama Elvira. "Alvin Alexander! Ayo, cepat keluar!"


"Aku mau di sini saja menemani Daniza, Mah," pintanya memelas.


Mama Elvira lantas melayangkan tatapan penuh curiga. "Apa kamu bisa dipercaya? Mama takut meninggalkan Daniza berdua dengan kamu. Bagaimana kalau kamu menyakiti dia lagi seperti kemarin?"


Rahang Alvin terbuka lebar mendengar tuduhan mamanya. "Ya ampun. Aku sudah bisa ingat sedikit-sedikit, Mah. Aku tidak mungkin menyakiti Daniza lagi," ucapnya berusaha meyakinkan.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau kamu berani menyakiti Daniza sekali lagi, mama akan bawa dia pergi jauh dari kamu dan kamu tidak akan bisa menemukan dia." Ancaman mama yang terdengar begitu serius membuat alvin bergidik.


"Iya, Mah! Deal!"


"Apa deal-deal! Kita tidak sedang tawar menawar!"


"Maksudnya, aku setuju, Mah. Aku janji akan jaga Daniza baik-baik!"


Galak banget sama anak sendiri!


"Ya sudah, mama keluar dulu!" Setelah meyakinkan diri, Mama Elvira pun keluar dari kamar itu. Meninggalkan Daniza dan Alvin berdua.


Mama Elvira mengusap cairan bening yang meleleh di pipi. Hatinya dipenuhi rasa syukur dan haru. Alvin sudah bisa mengingat Daniza lagi.


*


*


*


Setelah mama keluar kamar, Alvin menatap Daniza dengan mata berkaca-kaca. Rasa bersalah dan sesal menyatu begitu kuat dalam hati.


Lelaki itu membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Ia menatap dalam-dalam wajah Daniza yang tidur dengan lelap. Hatinya seperti ditusuk belati tajam. Apa lagi sisa dandanan culun tadi masih terlihat di wajah dan rambutnya.


"Maafkan aku, Sayang."


Alvin mendekap tubuh itu dengan begitu erat, lalu membenamkan ciuman di kening lagi dan lagi. Melepaskan kerinduan yang selama ini menyiksa. Sebelah tangannya bergerak mengusap perut yang masih rata.


"Hey, Sayang. Maafin papa, ya. Papa pernah jahat sama kamu dan mama. Jangan marah, ya."


Ia menciumi perut istrinya berulang-ulang.

__ADS_1


...****...


__ADS_2