Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Berbelanja!


__ADS_3

Siang harinya Alina sedang berbelanja di mall dengan beberapa orang temannya. Sejak Revan menguasai perusahaan mendiang ayah Daniza, Alina memang mendapatkan fasilitas kartu belanja dari Revan, meskipun bukan kartu tanpa batas. Walau begitu Alina bisa membeli apapun yang ia inginkan dan mentraktir teman-temannya untuk sekedar pamer dan memperlihatkan bahwa sekarang hidupnya lebih baik.


Seperti siang ini, Alina sedang berbelanja bersama beberapa teman-temannya. Sesuai janji, ia akan membayar belanjaan mereka dengan berbekal kartu pemberian dari Revan.


"Sering-sering saja kamu ajak kita jalan, Al!" ucap Nela, salah satu dari tiga teman Alina.


"Tenang saja! Nanti setelah menikah dengan Revan, aku pasti akan lebih sering mengajak kalian berbelanja."


"Memang kapan kalian akan menikah?" tanya satu teman lainnya.


Sebenarnya Alina sendiri tidak tahu kapan Revan akan menikahinya. Ia hanya berharap agar Daniza dan Revan segera bercerai agar dapat segera menikah.


"Pokoknya secepatnya!"


Wanita itu kembali terfokus dengan beberapa barang yang akan dibeli. Sebuah tas dengan harga puluhan juta baru saja dipegang Alina.


Sepertinya tidak apa-apa kalau aku membeli yang satu ini. Revan pasti tidak akan marah.


Alina masih menimbang satu dari beberapa tas mahal yang akan dibelinya, ketika perhatiannya tertuju pada satu arah. Ia bahkan harus menajamkan penglihatannya demi memastikan tak salah mengenali orang.


"Apa yang di sana itu benar-benar Daniza?" Alina sempat terkejut, namun kemudian tersenyum licik setelah meyakini bahwa wanita di ujung sana memang Daniza. Ia lantas melirik teman-temannya yang sedang mengobrol. "Ayo kita ke sana sebentar!" ajak Alina.


Perlahan kaki wanita itu melangkah mendekat. Sejumlah rencana jahat sudah tersusun rapi di otaknya. Salah satunya, mempermalukan Daniza di depan umum.


"Wah kebetulan sekali kamu ada di sini?" Sapaan Alina membuat sosok wanita cantik itu menoleh. Namun, Daniza hanya melirik sekilas. Sama sekali tidak membalas sapaan Alina.


"Apa kamu kenal dia, Alina?" tanya salah satu teman Alina.

__ADS_1


Alina terkekeh sinis. "Aku pernah dekat dengannya. Dulu dia itu culun, jelek dan kampungan. Karena itulah dia dibuang oleh suaminya sendiri."


Ketiga teman Alina menunjukkan ekspresi terkejut. Kemudian menatap Daniza seperti meremehkan.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita membayar belanjaan dulu!"


Alina lalu berjalan menuju kasir tak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Terkesan ingin menunjukkan kepada Daniza bahwa Revan memanjakannya dengan kehidupan mewah dan mengizinkan membeli apapun dengan kartu pemberian Revan.


Sambil menunggu kasir menghitung total belanjaan, mereka mengobrol sebentar. Alina memberikan sebuah kartu belanja kepada sang kasir.


"Apa kalian tahu ... sekarang dia menjadi sugar baby dari seorang pria kaya. Kasihan sekali kan, dia harus jual diri."


"Benarkah? Oh ya ampun, dia murahan sekali!"


Ketiga teman Alina langsung mencibir sambil memandang remeh Daniza. Bahkan sekarang tampak saling berbisik sambil tertawa kecil. Perhatian beberapa pengunjung pun tertuju kepada mereka.


"Maaf, kartunya tidak bisa digunakan!" ucap sang kasir.


"Apa? Tidak bisa digunakan? Ini pasti salah! Kemarin aku masih bisa menggunakan kartu itu. Tolong dicoba lagi!"


Sang kasir kembali mencoba kartu milik Alina. Tetapi kartu tersebut memang tidak bisa digunakan. "Maaf, memang tidak bisa! Apa ada kartu lain? Atau mungkin bisa dengan pembayaran tunai."


Entah sudah sepucat apa wajah Alina sekarang. Yang pasti ia merasa tubuhnya memanas dan jantungnya berdetak cepat. Padahal ia telah berjanji kepada teman-temannya akan membayarkan belanjaan.


"Nela, apa kamu punya uang dulu? Nanti aku ganti," pinta Alina.


"Bagaimana sih kamu, Al. Kan kamu yang ajak kita-kita belanja dan janji mau membayar semuanya. Aku mana punya uang sebanyak itu!"

__ADS_1


Sekarang keempat wanita itu malah saling dorong. Alina tahu benar teman-temannya tidak punya uang untuk membayar belanjaannya. Niat mempermalukan Daniza malah berbalik menyerang dirinya. Apa lagi kini tatapan semua orang sedang tertuju pada mereka.


Daniza menyeringai senang. Benar kata Alvin, ia harus main cantik.


"Apa mereka tidak punya uang untuk membayarnya?" Daniza mendekat dan berdiri di depan meja kasir. "Jadi pacarmu yang kaya dari hasil merebut milik orang lain itu sudah memblokir kartumu, ya?"


Menyamarkan rasa malu, Alina menundukkan kepala. Harga dirinya jatuh di hadapan teman-temannya.


"Karena mereka tidak sanggup membayarnya, jadi aku yang akan beli. Tolong dihitung semuanya, ya!" Daniza mengeluarkan kartu miliknya.


Sepasang mata Alina melotot ketika melihat black card di tangan Daniza. Ia yakin itu pemberian Alvin. Memang tak dapat dipungkiri bahwa Alvin jauh lebih kaya dibanding Revan. Terlebih, sekarang perusahaan orang tua Daniza yang dikelola oleh Revan sedang mengalami kemunduran.


Setelah menunggu beberapa saat, sang kasir mengembalikan kartu setelah pembayaran selesai. "Ini Mbak, kartunya ...."


"Terima kasih. Sebenarnya barang belanjaan mereka ini sama sekali bukan seleraku, jadi semua ini akan aku sumbangkan saja nanti," ucap Daniza.


Tiga teman Daniza bergidik ngeri sekaligus takjub. Bagaimana mungkin barang bagus dan mahal itu akan disumbangkan. Bukankah dia seperti the real Sultan?


Daniza membagikan paper bag di tangannya kepada kasir dan juga pelayan toko satu-persatu. Membuat Alina dan teman-temannya melotot. "Lain kali kalau kantong tidak kuat, jangan memaksakan diri!"


Napas Alina seperti tertahan. Tingkah Daniza yang terkesan sombong membuatnya seperti terbakar.


Kepingan rasa iri kembali merasuk dalam ke hatinya. Betapa tidak, ia baru memperhatikan semua benda yang melekat di tubuh Daniza. Baju, tas, jam tangan dan juga sepatu. Sebagai seorang wanita yang gila belanja, Alina tahu betul harga semua barang yang dipakai Daniza. Bahkan Alina tidak akan sanggup membelinya dengan kartu pemberian Revan.


Daniza tersenyum puas. "Kenapa? Apa sekarang kamu iri karena aku mendapatkan seseorang yang jauh lebih kaya dari Revan?"


*****

__ADS_1


__ADS_2