Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Tepuk Jidat!


__ADS_3

"Halo ... Eric! Ah, malah dimatiin teleponnya!" gerutu Alvin. Ia berdiri dalam posisi menghadap jendela dengan berkacak pinggang. 


"Kenapa, Mas?" tanya Daniza. Dahinya berkerut melihat ekspresi kesal sayang suami.


"Itu Eric matiin telepon, padahal aku mau minta tolong belikan kamu." 


Daniza yang masih duduk di sofa langsung bangkit mendekati suaminya. Merasa malu jika harus Eric yang membelikan keperluan pribadinya. "Kenapa bukan kamu aja yang beli? Nggak enak sama Kak Eric."


"Kan cuma minta tolong, Sayang. Memangnya kenapa kalau Eric yang beli?" tanya Alvin sambil meletakkan kembali ponsel ke meja. 


"Ya malu kalau orang lain yang beli, apalagi laki-laki. Masa barang pribadi begitu harus orang yang beli." Daniza menunduk dengan bibir mengerucut. 


"Kamu juga pernah minta aku beli saat baru tinggal di apartemen. Lupa ya, Bu?" 


Mendongakkan kepala, Daniza menatap suaminya. Kali ini dengan ekspresi malu-malu bercampur kesal. Benar kata Alvin, Daniza memang pernah meminta tolong dibelikan barang serupa beberapa bulan lalu. Kala itu Daniza terpaksa meminta bantuan Alvin karena mengalami kram perut dan tidak bisa ke mana-mana. 


"Ya udah, aku aja yang keluar beli." Daniza akan melangkah, tetapi Alvin menarik lengannya. 


"Eh jangan, Sayang!" Ia menghembuskan napas panjang. "Ya udah, biar aku aja yang beli, kamu tunggu di sini." Akhirnya Alvin mengalah demi menjaga perdamaian dunia. 


Menyambar kunci mobil di meja, ia bergegas keluar. Sementara Daniza tetap menunggu di kamar. Terduduk di sofa sambil memijat betis yang terasa pegal. 

__ADS_1


Kurang dari 30 menit, Alvin sudah kembali dengan membawa barang bukti cinta dan perhatian terhadap Daniza. Membeli keperluan pribadi khusus wanita sebenarnya sangat memalukan baginya. Tetapi, apapun akan dilakukan untuk sang istri.  


"Aku mau mandi dulu, ya. Kalau capek kamu tidur duluan saja," ucap Alvin seraya membuka seluruh pakaian dan masuk ke kamar mandi.


Berendam di air hangat selama beberapa menit menyegarkan otot-ototnya yang kaku.


Sementara Daniza sendiri, sambil menunggu Alvin mandi, ia memilih menikmati pemandangan kota malam ini dari jendela besar di kamar hotel. 


Entah mengapa bayangan masa lalu terlintas di benaknya. Masih segar dalam ingatan malam di mana Daniza mendapati suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri. 


Kala itu Daniza terpuruk selama berbulan-bulan. Ia kehilangan segalanya di saat bersamaan. Suami, harta dan buah hati yang sedang tumbuh di rahimnya. Bahkan rasanya lebih baik mati. 


Alvin hadir dalam hidupnya seperti sebuah kejutan. Memberinya perlindungan dan cinta yang tak pernah ia dapatkan selama hidupnya. Cinta Alvin yang luar biasa membuatnya bertahan untuk hidup.


Daniza terlonjak mendengar bisikan suaminya yang tiba-tiba mendesis di telinga. Tak ada waktu untuk berbalik, karena Alvin sudah mengunci tubuhnya dengan pelukan dari belakang. 


"Belum ngantuk," jawabnya gugup. 


Alvin membalikkan tubuh Daniza hingga posisi mereka saling berhadapan. Spontan wanita itu menutup mata ketika menatap suaminya yang hanya menggunakan handuk selutut untuk menutupi area pribadinya. Dada bidang berbalut kulit putih bersih itu tampak sangat s3xy di mata Daniza. 


"Matanya kenapa ditutup?" 

__ADS_1


"Malu, Kak ... eh, Mas," jawabnya semakin gugup. Tanpa dapat dikendalikan, tubuhnya gemetar. Ingin menghindar tetapi Alvin lagi-lagi menangkap tubuhnya. 


"Mau ke mana, sih?" Ia terkekeh. Ekspresi malu-malu Daniza terasa sangat menggemaskan baginya. "Nanti juga kamu terbiasa melihat aku seperti ini." 


Semakin merah saja pipi Daniza. Ini adalah pertama kali ia melihat Alvin dalam bentuk seperti sekarang. Apa lagi laki-laki itu belum mengenakan apa-apa, selain handuk. Saking gugupnya Daniza hanya dapat menggigiti kukunya.


Tak tahan dengan tingkah istrinya, Alvin membenamkan wanita itu di dadanya. Membuat perasaan Daniza semakin tidak karuan. Aroma segar dari tubuh tinggi tegap itu seperti menghipnotisnya. 


Daniza pasrah saja ketika laki-laki itu semakin merapatkan tubuh mereka. Kemudian menghadiahkan sensasi hangat meledak dengan penyatuan bibir. 


Ia terpaku di tempat. Rasa hangat dan damai yang tercipta membuatnya betah berlama-lama dalam posisi ini. Alvin terus menyerangnya dengan sentuhan lembut. 


"Mas ...." 


"Sttt! Jangan bicara! Kamu milikku malam ini," bisik Alvin ke telinga Daniza. Lagi-lagi embusan napasnya yang segar membuat Daniza terhanyut. 


Wanita itu bahkan diam saja saat Alvin menggendongnya dan merebahkan di tempat tidur. Pencahayaan kamar yang temaram, sejuknya udara dari pendingin ruangan, dan disempurnakan  oleh aromaterapi dengan harum bunga mawar, mampu menghilangkan kewarasan keduanya. 


Alvin menatap dalam-dalam wajah istrinya yang malam itu tampak sangat cantik alami tanpa riasan sedikit pun. Bibirnya yang basah menjelajahi tubuh mungil itu. Tetapi, baru menyibak piyama yang membalut tubuh Daniza, Alvin sudah tersadar sepenuhnya. 


"Ah lupa! Palang merah ternyata!" Alvin menepuk jidat. 

__ADS_1


**** 


__ADS_2