
Teriakan Alvin di tengah malam buta mengejutkan semua orang yang ada di kamar. Terlebih Daniza yang tiba-tiba merasakan telinganya berdengung. Untung semua penghuni kamar memiliki jantung kuat. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.
"Kamu kenapa, Mas?" Daniza yang panik refleks mengusap dada suaminya.
Merasakan betapa lembut jemari halus Daniza menyapu dadanya membuat jantung Alvin berdegup tak karuan. Laki-laki itu langsung menepis. "Jangan sentuh! Aku merinding kalau dipegang-pegang sama kamu!"
Mama Elvira langsung mendekat. Sebelah tangannya mengusap bahu. "Kamu kenapa, Nak? Kamu mimpi buruk?"
"Bukan mimpi buruk lagi, Mah! Aku berasa habis masuk ke Supermassive black hole!"
Mama Elvira, Eric dan Daniza saling pandang penuh tanya. Semakin lama tingkah Alvin semakin aneh tapi nyata.
"Ngapain kamu masuk ke Supermassive black hole segala?"
"Aku terjebak!" Alvin melirik Daniza dari ujung kaki ke ujung kepala. Kemudian kembali menatap mamanya dengan memelas. "Mah, kira-kira selama di Paris, aku habis diapain aja sama dia?"
Eric yang seketika paham dengan maksud Alvin langsung menyeringai. Ia pasti sudah meledakkan tawa jika tidak ingat situasi dan kondisi, serta tempat di mana mereka berada sekarang.
Pertanyaan polos lelaki tua dengan jiwa ABG itu pun membuat Mama Elvira melotot tajam. Tanpa memerdulikan kondisi putranya yang belum pulih pasca kecelakaan, sang mama menggerakkan jari ke telinga Alvin. Mencapit dengan kekuatan penuh.
"Alvin Alexander! Seharusnya pertanyaan itu lebih cocok diajukan ke kamu!"
...*...
...*...
...*...
Tiga hari berlalu
__ADS_1
Setelah mengantongi izin dokter untuk rawat di rumah, Mama Elvira dan Eric membawa Alvin pulang. Malam ini mereka akan menginap di hotel dan besoknya akan langsung bertolak ke Indonesia. Nantinya Alvin akan melakukan pengobatan berlanjut setelah tiba di sana.
Sekarang Alvin sedang duduk bersandar di tempat tidur. Sejak tadi ia tampak tidak tenang. Sekelumit bayangan tersamar sempat muncul di ingatan ketika menatap ranjang berukuran besar itu. Apa kemarin-kemarin ia menghabiskan waktu di tempat ini bersama Daniza
Tidak! Alvin menjerit dalam hati.
Lamunan laki-laki itu membuyar saat Mama, Daniza dan Eric hendak masuk ke kamar. Eric meletakkan koper Alvin ke dekat lemari.
"Ngapain dia ke sini? Aku tidak mau tidur dengannya." Suara ketus Alvin membuat semuanya menoleh. Daniza tampak menghela. Namun, sebisa mungkin berusaha menjaga ekspresinya supaya tetap tenang.
Alvin yang tidak senang mendapat tatapan aneh itu langsung menatap Erick dan Mama Elvira secara bergantian. "Kenapa melihatku seperti itu? Kalian pasti mau memaksaku untuk tidur di kamar ini dengan si culun itu, 'kan?"
"Daniza sudah tidak culun, Vin!" Eric menyela. "Lagi pula tidak ada yang akan memaksa kamu. Orang kamu duluan yang langsung masuk ke kamar ini."
"Bodo amat!" Alvin melipat tangannya di depan dada. "Kalian tidur saja di kamar ini, aku mau cari kamar lain," lanjutnya semakin ketus.
"Kalau tidur sendiri nanti mimpi buruk lagi seperti malam-malam sebelumnya, Mas," bujuk Daniza.
"Kalau begitu kamu tidur sama aku saja di kamar sebelah, biar Daniz dan Mama tidur di kamar ini." Eric memberi pendapat sambil menunjuk sebuah kamar yang letaknya berdampingan dengan kamar utama.
"Ya sudah!" Alvin pun terpaksa menyetujui ucapan Eric. Apalagi sang Mama sudah memberi kode tatapan marah kepadanya.
Melangkah dengan malas, laki-laki itu menuju kamar sebelah diikuti Eric di belakang dengan membawa koper Alvin.
"Waoww!" Eric sempat melongo sejenak saat mengetahui kamar apa yang baru saja ia masuki. Aroma vanila menyerbak di mana-mana. Ada sebuah sofa melengkung di sudut ruangan, dan beberapa peralatan lengkap yang menjurus pada kegiatan 21+.
"Kamar apaan ini?" gerutu Alvin.
"Ini kamar yang sangat indah dan aesthetic, Vin. Sayang aku masuk ke sininya sama kamu!" gerutu Eric kemudian mendudukkan dirinya pada sofa keramat.
__ADS_1
Alvin langsung melempar Eric dengan sebuah bantal. "Aesthetic kepalamu!"
Eric masih terkekeh.
"Aku yakin kamu dan Daniz pasti sudah mencoba di sini! Atau jangan-jangan ini yang kamu maksud dengan supermassive black hole?" celoteh Eric lagi. Ia bahkan menepuk sofa tersebut seolah sedang mencari sisa jejak petualangan Alvin.
"Mulut kondisikan! Kamu belum pernah nginap di gorong-gorong, kan?" Ucapan bernada ancaman itu membuat Eric terbahak.
"Nginap di gorong-gorong itu hal biasa. Tapi menghabiskan satu malam ini di sini itu luar biasa." Eric semakin gencar menggoda Alvin. Mungkin dengan begitu Alvin akan mengingat Daniza sedikit demi sedikit.
"Luar biasa apanya? Ini cuma kamar biasa."
"Jangan bilang kamu belum pernah nginap di kamar ini. Kalau dilihat dari mesumnya tatapan kamu ke Daniza selama ini, tidak mungkin kalau kamu tidak mengeksekusi dia di tempat ini!"
"Otakmu sudah tidak waras, ya! Mengeksekusi apanya? Lihat wajahnya sama bikin eneg!" Alvin lagi-lagi membantah. Eric pun semakin gencar dengan aksinya.
Menurut Eric biasanya otak mudah encer jika membahas hal-hal yang berbau kemesuman seperti ini.
"Daniz yang sekarang itu cantik, Vin! Aku yakin di luar sana banyak laki-laki yang menginginkan dia kalau sampai kamu lepasin!" pancing Eric makin menjadi-jadi.
Alvin terdiam. Entah mengapa hati kecilnya merasa tidak terima dengan ucapan Eric.
"Bisa diam tidak! Sekali lagi kamu membahas si culun Daniza, tidak akan kubiarkan kamu tidur di sini!"
"Cih! Aku bicara fakta, Nyet! Sebagai orang yang paling tahu keadaanmu selama ini, aku hanya mau mengingatkan. Jangan sampai kamu menyesal kalau Daniza hilang kesabaran dan pergi meninggalkan kamu!"
Alvin memilih ikut duduk di sofa melengkung itu, sehingga posisinya saling bersisian dengan Eric. Wajah galak laki-laki itu mendadak murung. "Kamu bilang aku cinta sama dia, kan? Bagaimana bisa, padahal dia penyebab papa kecelakaan."
Mendengar pertanyaan itu, Eric menepuk bahu Alvin. Ia tahu berat bagi Alvin untuk membahas papanya, karena kenangan itu terlampau menyakitkan.
__ADS_1
"Kalau aku ceritakan apa kamu akan percaya?"
...***...