Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Maafkan aku, Mama!


__ADS_3

Eric meringis mengusap wajahnya yang lebam di beberapa bagian setelah mendapat hantaman bertubi-tubi dari Alvin. Sebuah kejutan besar saat membuka pintu dan langsung dihadiahi kepalan tinju. Bahkan kini saudaranya itu tampak tidak merasa bersalah sedikit pun.


"Kamu jauh-jauh ke sini cuma untuk memukul orang?" protes Eric.


"Kalau perlu aku akan membuat kamu patah tulang sekalian seperti si Revan!" balas Alvin sambil mengoles antiseptik ke sudut bibir Eric.


"Awh! Pelan-pelan, ini sakit!" keluh Eric, karena Alvin menekan cotton bud dengan sekuat tenaga.


"Sukur! Biar tahu rasa!"


Eric mendengkus. Bibirnya mengerucut saat melihat pantulan wajahnya melalui cermin. Lebam ini benar-benar mengurangi kadar kegantengan sempurna yang dimilikinya. "Bonyok ini muka!"


"Kalau kurang nanti aku tambah!" Bukannya merasa iba, Alvin malah menekan tangannya semakin kuat. Membuat Eric harus menjerit dibuatnya.


"Jadi sebenarnya kamu mau membantu mengobati atau memperparah?"


"Biar aku perparah dulu, setelah itu baru diobati!"


"Dasar kakak durhaka!" gerutu Eric dalam hati.


*


*


*


Suasana lebih tenang setelah beberapa saat berlalu. Keduanya duduk bersama membicarakan banyak hal sebagai saudara yang sesungguhnya.


Eric menceritakan apapun yang selama ini ia tutupi dari Alvin. Tentang kedua orang tuanya dan juga tentang Mama Elvira yang dengan begitu mudah menerimanya, tanpa melihat kesalahan yang dilakukan papa.


"Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini. Hanya saja aku merasa tidak layak untuk diterima di keluargamu. Lagi pula kalau saat itu kamu tahu papa punya anak dari wanita lain, kamu pasti akan membenciku," lirih Eric.


Alvin masih terdiam. Tetapi, dalam hati turut membenarkan ucapan Eric. Mungkin jika saat itu ia tahu, ia tidak akan sedekat ini dengan Eric.


Masih segar dalam ingatannya ketika beberapa tahun lalu Mama datang dengan membawa seorang pemuda yang kemudian ia kenalkan sebagai anak yang baru saja diangkatnya.


Alvin yang kala itu tidak tahu siapa Eric yang sebenarnya menerima dengan tangan terbuka. Bahkan tak butuh waktu lama agar keduanya menjadi sangat dekat layaknya saudara pada umumnya.


Bahkan Alvin tidak pernah menaruh kecurigaan sedikit pun. Bahkan ketika Mama Elvira memberi Eric segala fasilitas yang sama dengannya.

__ADS_1


"Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya sedikit kecewa dengan papa. Aku pikir tahu apapun tentang papa. Tapi ternyata aku salah." Ia menarik napas dalam.


"Maaf." Hanya kata bermakna penyesalan itu yang dapat terucap dari mulut Eric. Jika bisa memilih, ia pun tidak ingin keadaannya seperti ini.


"Bukan salah kamu." Alvin menjeda ucapannya dengan tarikan napas. Sekarang ada yang yang jauh lebih penting, yang harus diutamakan. "Oh ya, aku ke sini untuk memberitahu kalau mama sakit. Sekarang mama sedang dirawat di rumah sakit."


Informasi barusan membuat Eric terhenyak. Mendadak dadanya terasa semakin sesak. Dalam hitungan detik, cairan bening sudah menggenang di bola matanya.


"Tante Elvira sakit?" gumamnya.


Alvin mengangguk. "Sejak kepergian kamu, mama kurang memperhatikan kesehatannya. Makanya sampai sakit."


Eric membungkam. Lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan sepatah kata pun. Sekarang hatinya dipenuhi rasa bersalah. Keputusan untuk pergi dan menata hatinya yang luka ternyata membawa dampak buruk bagi sang mama.


"Sekarang aku harus pergi. Keputusan sepenuhnya ada di tangan mu. Mau temui mama boleh. Tapi, kalau kamu mau tetap di sini juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa."


Eric masih mematung.


Alvin bangkit dari kursi. Ia melirik arah jarum jam pada pergelangan tangannya. Tiga jam lagi, ia harus terbang lagi ke ibu kota. Ia tak ingin berlama-lama meninggalkan Daniza dan mama.


"Kamu mau ke mana?" tanya Eric saat menatap Alvin berjalan menuju pintu.


Eric turut bangkit dari posisi duduknya. Ia menatap Alvin dengan sedikit ragu.


"Apa kamu tidak keberatan kalau aku ikut?" pinta Eric dengan kepala tertunduk. Sebisa mungkin ia menahan agar cairan bening yang menggenang di bola matanya tidak jatuh.


"Ya sudah, ngapain masih duduk di situ? Kalau mau ikut cepat!"


*


*


*


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Alvin dan Eric tiba di rumah sakit. Keduanya langsung menuju ruang perawatan Mama Elvira.


Rasa tak sabar sudah mendera. Langkah Eric pun terhenti di ujung lorong. Dari jarak tak begitu jauh, terlihat Mila dan Daniza duduk di sebuah sofa di depan ruangan dengan kepala tertunduk. Keduanya tampak murung.


Perlahan Eric melangkah meskipun dengan irama jantung yang semakin tak menentu. Ketakutan itu semakin nyata merasuki hatinya. Apa lagi Daniza tampak beberapa kali mengusap matanya dengan tissue.

__ADS_1


Kedua wanita itu spontan menoleh dan langsung berdiri meninggalkan tempat duduknya. 


 "Mas, mama ...," lirih Daniza. Wanita itu langsung menundukkan kepala. Tak terasa air matanya jatuh.


Alvin langsung mendekat dan memeluk istrinya. Berulang-ulang ia mengusap punggung Daniza untuk menenangkan.


"Sabar, Sayang. Kamu harus tetap kuat. Ingat, kamu sedang hamil."


"Tapi, mama ...."


Melihat kesedihan Daniza, Eric lantas melirik Mila. Wanita itu bahkan tak berani mengangkat kepala. Raut wajahnya yang sedih seolah mampu menjelaskan bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi kepada Mama Elvira.


"Ada apa, Mil?" Suara Eric terdengar gemetar ketika mengajukan pertanyaan itu. "Tante Elvira baik-baik saja, Kan?"


Mila menundukkan kepala. Tidak ada kata yang dapat terucap dari bibirnya. Bahkan kini wajahnya tampak pucat.


"Maafkan aku, Ric. Kata dokter Tante Elvira ...."


Deg!


Eric terpaku di tempat. Seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Tatapannya kini tertuju pada ruangan berpintu kaca di hadapannya. Demi apapun ia tak akan sanggup jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Mama Elvira.


"Apa kata dokter? Bicara yang jelas!" bentakan Eric menggema di ruangan luas itu.


Sementara Mila tetap diam dan seolah tak sanggup untuk memberi jawaban.


"Jawab, Mil! Tante Elvira kenapa?" bentaknya sekali lagi. Tetapi, Mila tetap diam dan menunduk.


Tanpa banyak bertanya, Eric memasuki ruangan itu. Hatinya bagai diremas tanpa ampun melihat mama terbaring dengan beberapa alat medis yang melekat di tubuhnya. Eric merasakan lemas pada kedua kakinya saat melangkah hingga berada tepat di sisi sang mama.


"Mama ... aku sudah di sini," lirihnya sambil menjatuhkan diri di kursi tepat di sisi pembaringan. "Bangu, Mah ...."


Detik itu juga Kristal bening yang sejak tadi berusaha ditahannya jatuh membasahi pipi. Tubuh lemah dan wajah pucat mama Elvira berhasil meruntuhkan pertahanannya. Eric memeluk mama Elvira dalam tangis yang menjadi-jadi.


"Jangan pergi, Mah! Jangan tinggalkan aku! Maafkan aku sudah membuat Mama sedih. Aku sudah pulang, Mah. Aku janji tidak akan pergi lagi. Aku akan menuruti semua keinginan mama asal mama mau sembuh!"


Ruangan itu seketika penuh dengan Isak tangis.


"Bangun, Mah!"

__ADS_1


...****...


__ADS_2