
Menanti kelahiran sang buah hati adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Alvin. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk menimang sepasang bayi kembar, yang kelahirannya tinggal menghitung hari.
Setelah berkonsultasi dengan Dokter Allan, operasi caesar menjadi pilihan Alvin. Selain karena kelahiran kembar, kondisi fisik Daniza juga terbilang cukup lemah sehingga operasi menjadi pilihan terbaik.
Pagi menjelang siang ini Alvin sedang disibukkan dengan tumpukan berkas yang harus diperiksa. Waktunya benar-benar tersita untuk bekerja. Terlebih, beberapa hari lagi pernikahan Eric dan Mila akan tiba.
Hari ini cukup melelahkan. Tetapi, semua rasa lelah itu terbayarkan dengan senyum ketika menatap foto yang menghiasi meja kerja. Satu foto milik Daniza dengan perut membesar, dan satu lagi foto hasil USG yang diambil beberapa hari lalu.
"Dih, senyum-senyum sendiri." Sapaan Eric yang tiba-tiba masuk ke ruangan berhasil mengalihkan perhatian Alvin.
"Jangan berusaha merusak suasana hatiku yang sedang baik. Beberapa hari ini aku kelelahan dan tidak mau diganggu," balas Alvin.
Eric terkekeh. Ia tahu beberapa hari belakangan ini Alvin memang sengaja mempercepat semua pekerjaan, karena tidak ingin pernikahan Eric terganggu dengan urusan pekerjaan.
"Siapa yang mau merusak suasana hati Yang Mulia Alvin Alexander yang budiman seantero galaksi Bima Sakti? Aku cuma mau mengingatkan, 20 menit lagi kita ada meeting dengan TAM Grup."
"Oh ...." Alvin menjawab singkat.
Sebenarnya ia agak malas untuk menghadiri pertemuan siang ini. Terlebih akan ada Revan juga di sana. Meskipun keduanya sudah berdamai, tetapi entah mengapa kadar cemburu di hatinya masih cukup tinggi jika menyangkut hal yang berhubungan dengan Daniza.
"Kamu saja lah yang mewakili. Bilang saja aku sedang sakit dan tidak bisa diganggu."
Mendengar ucapan Alvin, Eric berdecak gemas. "Kamu itu memang bos yang tidak profesional."
"Apa sih kamu, Ric? Aku ada jadwal meeting dengan orang yang lebih penting siang ini."
"Meeting dengan orang penting? Siapa?" tanya Eric penasaran.
Alvin lantas menatap Eric dengan memasang senyum menyebalkan. "Kamu nanyeaaa? Kamu bertanya-tanyeaa?"
Mendengar suara Alvin yang dibuat seperti gaya seorang selebgram, Eric meremas kertas di tangannya. Ingin sekali ia lemparkan ke wajah menyebalkan kakaknya itu.
"Jawab saja apa susahnya! Aku adukan ke mama tahu rasa!" Akhirnya ancaman mematikan keluar juga.
"Sama istri, Ric! Aku mau makan siang sama Daniza."
"Astaga. Jam makan siang masih lama, Vin. Kita rapat aja dulu."
__ADS_1
Alvin menghembuskan napas kasar. Eric terasa sangat menyebalkan hari ini.
*
*
*
Lima belas menit berlalu, semua orang sudah berada di ruang rapat. Sementara Alvin dan Eric belum terlihat di tempat.
Sambil menunggu, beberapa di antaranya terlihat sedang membaca berkas, sementara yang lain mengobrol satu sama lain.
Begitu pun dengan Ruben. Dia yang sudah mengenal Revan semasa SMP cukup terkejut setelah mendengar bahwa Revan ternyata adalah mantan suami Daniza, dan ia baru mengetahui saat Sherly yang memberitahu kemarin. Kebetulan hari ini bertemu dengan Revan di ruang rapat dan mengobrol banyak hal.
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Semua sudah selesai dan tidak ada masalah lagi antara aku, Daniza dan Alvin. Aku ikut senang melihat mereka bahagia," ucap Revan. Bermaksud menghindari pembicaraan tentang hubungannya dengan Daniza di masa lalu.
Ruben turut mengiyakan. Sekarang ia telah berdamai dengan Alvin dan menjadi bestie. Kadang mereka menghabiskan waktu bersama untuk nongkrong di kafe.
"Baguslah! Ngomong-ngomong untung kamu tidak terlibat lebih jauh dengan Alvin dan Eric," bisik Ruben sambil tertawa.
"Memang kenapa?"
Ruben kembali tertawa. Rasanya cukup lucu jika mengingat kelakuan Alvin dan Eric di masa lalu.
Revan meneguk saliva. Ruben tidak tahu saja bahwa Alvin pernah membuatnya patah tulang saat nekat menculik Daniza. Selain itu mau ditaruh di mana harga dirinya jika ketahuan pernah merasakan gorong-gorong juga?
Keheningan seketika mendominasi ketika sang bos dan juga Eric memasuki ruangan itu. Semua orang langsung berdiri dan menyambut dengan hormat. Tak terkecuali Revan dan Ruben.
"Maaf semuanya. Saya agak telat. Ada urusan sedikit. Bisa dimulai rapatnya?" Alvin membuka suara.
Rapat pun dimulai. Alvin membuka pertemuan siang itu dengan memukau seperti biasanya.
*
*
*
__ADS_1
Daniza baru saja tiba di kantor suaminya demi memenuhi janji kepada Alvin untuk makan siang bersama.
Kedatangannya pun disambut hormat oleh beberapa staf yang kebetulan berpapasan di lobi. Daniza yang sejak dulu pemalu itu hanya menyapa dengan senyum. Perlakuan hormat karena menyandang status istri bos kadang membuatnya tak nyaman.
"Daniza?" Suara yang terdengar tak asing itu berhasil menyita perhatian Daniza. Wanita itu refleks menoleh dan sedikit terkejut menyadari siapa yang baru saja menyapa.
"Mas Revan?" Ia langsung menunduk. Ini adalah pertemuan pertama dengan Revan setelah kejadian Revan menculiknya.
"Hai, apa kabar?" tanya revan ramah. "Ah, tidak seharusnya aku menanyakan kabar. Tentu saja kamu dalam keadaan baik-baik saja."
Daniza hanya mengangguk diiringi senyum tipis.
Untuk beberapa saat Revan menatap perut Daniza yang sudah membesar. Hal itu kembali menumbuhkan rasa bersalah dalam hatinya. "Oh ya, karena mumpung kita bertemu, jadi aku mau sekalian minta maaf untuk semua perbuatanku di masa lalu. Aku tahu mungkin kesalahanku sulit untuk dimaafkan. Tapi, aku tetap ingin minta maaf."
"Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan," jawab Daniza.
Satu hal Daniza syukuri, ia merasa beruntung telah dibuang oleh Revan, karena menjadi jembatan baginya untuk mendapatkan cinta yang sebenarnya dalam diri Alvin.
"Aku juga mau mengucapkan selamat untuk kehamilan kamu. Semoga kamu dan Alvin selalu bahagia."
"Terima kasih. Kamu juga semoga mendapatkan jodoh yang baik."
Revan mengangguk. Sekarang ia dapat bernapas lega karena sudah berhasil meminta maaf secara langsung kepada Daniza. Karena selama ini Alvin selalu melarang jika Revan ingin bertemu untuk minta maaf.
Tanpa disadari oleh keduanya, sepasang mata sedang menatap penuh cemburu. Alvin merasa hawa sekitar terasa memanas dalam hitungan detik.
"Kamu masih saja cemburu sama Daniza dan Revan?" tanya Eric, setelah menyadari tajamnya tatapan Alvin.
"Bukan cemburu! Cuma kesal!" Padahal raut cemburu di wajahnya terlihat sangat jelas.
"Sabar, Vin. Mungkin si Revan cuma mau menyapa."
"Sepertinya dia lupa Daniza sekarang istri siapa," ucapnya semakin kesal. "Menurut kamu mereka lagi ngobrol apa di sana?"
Eric menyeringai. "Kamu nanyea? Kamu bertanya-tanyeaa?"
Alvin mendengkus kesal mendengar nada suara Eric. Ingin sekali ia mendorong adiknya itu ke dasar lembah terdalam di Bumi.
__ADS_1
...*****...