
Daniza dan Eric saling lirik sambil menahan senyum. Tingkah Alvin yang terkesan cemburu terhadap Om Agung terlihat sangat lucu di mata mereka. Calon papa dari sepasang bayi kembar itu terus mengomel dan mengeluarkan kalimat-kalimat keramat.
"Setuju aja kenapa sih, Mas? Anak-anak pasti senang nanti punya opa sultan," bujuk Daniza lagi.
"Siti sama Jarot nggak butuh opa sultoni," sambar Alvin cepat.
Daniza terkekeh, lalu merangkul lengan suaminya. "Ya sudah. Kalau begitu, kita makan dulu yuk, Aku lapar! Sebentar lagi acaranya juga selesai, kan?"
"Boleh deh," jawab Alvin. Sejak siang tadi ia memang belum makan apapun karena sibuk dengan urusan Eric.
Keduanya turun dari pelaminan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Sesekali Alvin melirik Mama Elvira yang sepertinya sedang mengenalkan Om Jabrik kepada teman-teman sosialitanya. Pesona si om memang tak terbantahkan meski usianya tidak muda lagi. Semua teman mama bahkan menatapnya kagum.
"Mas, lihat mama bahagia begitu rasanya senang, ya?" bisik Daniza sesaat setelah selesai makan.
Alvin terdiam. Hanya sorot matanya yang tertuju kepada mama. Tidak dapat dipungkiri kehadiran Om Agung memang menciptakan banyak perubahan dalam diri mama. Lebih ceria, penuh semangat dan ... semakin cantik tentunya.
Perlahan Daniza bersandar di bahu suaminya. "Kalau aku saja punya kesempatan bahagia menikah lagi dengan kamu, kenapa mama tidak boleh?"
"Kamu dan mama 'kan beda kondisinya, Sayang."
"Beda apanya, Mas?"
Lagi, ucapan Daniza berhasil membungkam Alvin. Jika dipikir lagi, Daniza dan mama memang mengalami ujian rumah tangga yang sama, yaitu dikhianati oleh suami.
"Aku berharap mama memiliki kesempatan bahagia untuk kedua kalinya sama seperti aku. Kalau si Om bisa membahagiakan mama, kenapa tidak?"
"Alvin, Daniza, ayo foto keluarga!" sambar Mila yang tiba-tiba hadir di antara mereka.
Alvin menghembuskan napas panjang. Sementara Mila langsung membawa pergi Daniza ke pelaminan untuk berfoto bersama. Di sana juga sudah ada Mama Elvira dan calon papa sultoni yang sudah siap berfoto dengan pengantin malam itu.
"Apa? Jangan ikut-ikutan kamu! Jangan karena dapat hadiah mobil limited edition kalian jadi condong ke om menyebalkan itu, ya!" Alvin melirik sebal ke arah Eric.
Laki-laki itu hanya menunjukkan senyum lebar sambil mengusap bahu sang kakak. "Aku mendukung om bukan karena dikasih hadiah mobil mewah. Tapi, ini semua demi mama. Lagi pula om itu kelihatannya baik dan tidak macam-macam."
"Masalahnya bukan itu saja, Ric. Aku tidak mau mama nanti sakit hati lagi. Kamu lihat si om jabrik itu. Dia pasti dikelilingi wanita-wanita lain."
"Waktu itu kamu juga dikelilingi wanita tapi tetap memilih Daniza."
"Aku sama si om kan beda."
Eric terkekeh. "Ya, kalian memang beda. Kalau si Om cuma memantau mama dari jarak jauh. Sedangkan kamu nekat merebut istri orang."
__ADS_1
"Sialan! Ini anak, kalau ngomong suka benar."
Sepasang mata Alvin melotot tajam, membuat Eric merasa suasana sekitar mendadak terasa horor.
"Kamu tahu, Ric. Aku sempat bertanya-tanya, sebenarnya papa ini ngasih adek apa ngasih ujian sih!"
Eric hanya tertawa mendengar candaan kakaknya.
"Dua-duanya. Sekarang ayo, kita foto sama calon papa sultan." Sambil menarik lengan Alvin menuju pelaminan.
*
*
*
Sesi foto keluarga menjadi penutup manis dalam pesta meriah itu. Alvin harus rela menyelipkan om Jabrik di dalam lembaran foto keluarga mereka. Entahlah, ia masih merasa abu-abu antara setuju dan tidak.
Setelah acara selesai, Eric dan Mila menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan pihak hotel. Sebenarnya, Alvin dan Daniza juga mendapatkan layanan kamar di hotel tersebut. Tetapi, Daniza memilih pulang sebab merasa perutnya sedikit kram dan lebih suka istirahat di rumah.
Setibanya di rumah, Daniza dibuat terpukau. Sebuah mobil mewah dengan hiasan pita sudah terparkir di antara beberapa koleksi mobil milik Alvin.
"Wow, jadi ini hadiah kecil untuk kamu yang dimaksud Om Agung?" ucap Daniza. Wanita itu berjalan mengelilingi mobil berwarna merah tersebut.
"Ini mobil siapa?" tanya Alvin.
"Tadi kata yang antar, mobil ini hadiah untuk Den Alvin dari Pak Agung. Kuncinya ada di dalam mobil, Den."
Alvin mengangguk pelan.
"Mobil ini pasti mahal banget ya? Sama bagusnya dengan mobil buat Kak Eric," sambar Daniza penuh semangat.
Alvin tak ingin berkomentar. Sebab mobil di hadapannya itu memang tidak kalah mewah dengan hadiah untuk Eric tadi.
"Tapi kayaknya percuma Om Agung kasih hadiah ini. Suami aku ini 'kan lebih suka bis dari pada mobil mewah. Iya kan, Mas?" celetuk Daniza.
Membuat Alvin merasa ingin menggigit habis istrinya itu.
"Udah, kamu masuk duluan! Aku mau bereskan mobil ini dulu!" perintah Alvin.
"Mau dibalikin mobilnya?"
__ADS_1
"Terserah aku, dong!"
Bibir Daniza mengerucut, tetapi ia memilih tak banyak membantah. Malam ini tubuhnya cukup lelah setelah aktivitas seharian. Tetapi, di balik semua rasa lelah itu, sepenuh hatinya turut merasakan kebahagiaan Eric, Mila dan mama.
"Ya sudah aku duluan. Aku tunggu di kamar ya, Mas."
"Hemm."
Alvin terdiam sebentar. Setelah memastikan Daniza benar-benar sudah masuk ke rumah, ia meneliti mobil itu. Tangannya bergerak mengusap bagian depan mobil super mewah yang ia tebak seharga miliaran rupiah.
"Mau di test drive dulu, Den?" tanya Pak Udin.
"Tidak! Saya cuma mau memastikan mobil ini aman atau tidak. Takutnya nanti dipakai Daniza. Kayaknya dia suka mobil ini."
Pak Udin hanya membalas dengan senyum. Ia pun segera kembali ke pos. Sementara Alvin membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Keren juga ini mobil. Siti sama Jarot pasti senang diajak keliling naik mobil ini," gumamnya dalam hati, sambil memperhatikan bagian dalam mobil.
Persetan dengan kursi yang hanya ada dua, pajak mahal dan keunggulan bis yang bisa digunakan untuk jalan-jalan sekeluarga.
Alvin menyalakan mesin mobil, kemudian melajukan mobil tersebut mengelilingi halaman rumahnya yang luas.
"Bagus juga ternyata."
Ah, nikmat om Jabrik mana lagi yang kau dustakan? Sepenuh hati Alvin mengakui bahwa mobil pemberian si om memang sangat keren. Alvin sampai beberapa kali mengelilingi halaman rumah dengan menggunakan mobil tersebut.
Tak lama berselang, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Begitu mobil berhenti, seorang sopir tampak turun dan membukakan pintu, disusul dengan kemunculan Mama Elvira dan Om Agung.
Alvin yang masih duduk di mobil terlonjak seketika. Ia mengira malam ini mama akan menginap di hotel bersama beberapa keluarga yang lain. Ternyata pulang dengan diantar calon papa.
"Kamu suka hadiahnya, Vin?" tanya sang Elvira.
...*...
...*...
...*...
...* ...
...Halo, gengs, yang penasaran seperti apa wajah Papa Sultoni berikut Mpin dan lainnya, aku simpan di IG yaaa 😚😚😚...
__ADS_1
...follow IG @Kolom_langit....