
Alina merasakan lemas pada tungkai kakinya saat keluar dari restoran. Alvin baru saja menjatuhkan bom yang seolah mampu memporak-porandakan seluruh hidupnya. Kini nasibnya sedang berada di tangan Alvin dan Alina tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri.
Begitu keluar dari restoran, ia termangu selama beberapa saat. Mobilnya yang tadi ditinggal di salon ternyata sudah ada di parkiran. Salah satu dari pria yang menjemput paksa dirinya pun segera keluar dari mobil dan menyerahkan kunci.
"Terima kasih," ucapnya sedikit gugup.
Wanita cantik itu menarik napas dalam-dalam demi mengembalikan akal sehatnya yang hampir menghilang. Berada di bawah tekanan Alvin seperti sekarang bukan sesuatu yang menyenangkan.
****
Di sisi lain, Alvin dan Eric masih dalam perjalanan kembali ke kantor. Eric hampir tak percaya dengan Alvin yang menghabiskan waktu berharganya hanya untuk memberi sedikit ancaman kepada Alina. Semua hanya demi memuluskan keinginannya atas perceraian Revan dan Daniza.
"Sebenarnya kamu itu kenapa sih, Vin? Tanpa campur tangan kamu sekalipun, gugatan cerai Daniza pasti dikabulkan, kok." Eric membuka suara setelah beberapa menit terdiam.
"Aku tahu. Tapi ...." Alvin menjeda ucapannya dengan hela napas.
"Tapi apa?"
"Aku takut Daniz akan luluh sama si cecunguk Revan. Daniz itu masih cinta sama dia, Ric. Revan itu mulutnya manis sampai Daniz bisa tertipu sama dia."
Eric turut prihatin dengan kisah percintaan temannya yang tak semulus jalan tol itu. "Tapi kamu yakin si Alina bisa diandalkan untuk menghalangi Revan ke persidangan?"
"Ya dicoba saja!" ucap Alvin yang kini terfokus dengan ponsel. Ia baru saja mengirimkan pesan kepada Daniza.
__ADS_1
"Kalau Alina gagal bagaimana? Memang dia itu bisanya apa?" Sedikit banyak Eric tahu bahwa Alina hanyalah tipe wanita parasit yang suka merusak.
"Kalau gagal ya gunakan alternatif terakhir. Apa susahnya, sih?"
Eric mencibir. Tentu saja ia paham ke mana arah pembicaraan Alvin. Temannya itu memang spesies paling aneh yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia di Bumi.
"Alternatif apa? Gorong-gorong lagi?" Wajah Eric sudah mulai kusut. Membayangkan akan serepot apa dirinya jika Alina sampai gagal.
Detik itu juga senyum mengembang sempurna di wajah Alvin. "Kamu pernah tes IQ tidak, Ric?"
"Tidak! Memang kenapa?" sahut Eric sedikit bingung.
"Aku yakin IQ kamu hanya beberapa angka di bawah Einstein. Kamu pintar, padahal aku sama sekali tidak kepikiran ke gorong-gorong!"
Hanya satu obsesi Eric seumur hidupnya, yang begitu sulit untuk diwujudkan. Yaitu menabung uang banyak hingga mampu membeli sebidang tanah kosong di belakang sekolah, lalu menimbun gorong-gorong legendaris yang kerap merepotkan dirinya itu.
"Jadi gorong-gorong aja ngerepotin. Bagaimana kalau jadi manusia?" gerutu Eric dalam hati.
*
*
*
__ADS_1
Malam harinya ....
Daniza membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya seperti enggan terpejam meskipun hanya sesaat. Padahal angka pada jam dinding sudah menunjukkan larut malam. Besok adalah hari yang penting bagi Daniza, yaitu sidang putusan perceraiannya dengan Revan.
Meskipun tidak ada jaminan kebahagiaan setelahnya, namun Daniza sudah mantap untuk memilih perpisahan. Segala usaha Revan untuk rujuk sama sekali tak ia tanggapi. Perbuatan jahat Revan di masa lalu telah mengikis semua cinta yang dimilikinya untuk lelaki itu, hingga hanya menyisakan rasa kecewa dan benci.
Daniza baru akan membaringkan tubuhnya di ranjang saat mendengar bunyi pengingat pesan. Wanita itu segera meraih ponsel miliknya. Tertera pemberitahuan pesan baru dari Alvin pada layar.
"Ingat ya, besok jangan sampai luluh sama cecunguk Revan!" Isi pesan Alvin.
Daniza mengulas senyum tipis. "Sekalipun dia mengembalikan semua yang diambil dariku ... aku tidak akan mau kembali. Aku tidak sebodoh itu untuk jatuh ke lubang yang sama."
Wanita itu bergumam sambil meletakkan kembali ponselnya ke samping bantal setelah menjawab "iya."
Membuat Alvin gemas setengah mati. "Hanya membalas iya? Jari kamu keseleo, ya?"
Pesan balasan langsung muncul di layar. Hal itu membuat Daniza terkekeh kecil.
"Lalu Kak Alvin mau dijawab apa?"
"Terserah! Yang penting ingat satu hal, jangan sampai mau rujuk sama Revan. Atau sejarah antara kamu, Ruben dan gudang akan terulang!"
Pesan balasan itu dikirim Alvin sambil menggerutu. Kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
*****