Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Tidak Akan Datang Sampai Diizinkan


__ADS_3

Untuk beberapa saat, waktu seakan terhenti bagi Daniza. Napasnya tercekat, kewarasannya pun terbang entah ke mana. Alvin baru melepas tautan bibirnya secara perlahan setelah mendengar isak tangis.


Sekuat tenaga Daniza mendorong dada lebar lelaki itu, namun malah tubuhnya sendiri yang terhuyung ke belakang, karena tidak sedikit pun Alvin bergeser. Ia lantas membuka pintu dan menutup rapat-rapat.


"Daniz, buka pintunya!" Alvin baru tersadar dari kegilaannya. Beberapa kali ia mengetuk pintu sambil meneriakkan nama Daniza. Namun, tak ada jawaban dari dalam.


Laki-laki itu hendak mendobrak pintu kokoh itu, namun seketika akal sehatnya kembali berfungsi. Ah, bodoh sekali! Bukankah ia bisa masuk dengan menggunakan password pintu?


Secepat kilatan di angkasa, ia menekan beberapa angka pada panel yang membuat pintu terbuka. Alvin lantas mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Suasana hening, tak terlihat sosok Daniza di sana. Hanya Santi yang terlihat terburu-buru keluar dari dapur. 


"Mbak Daniz langsung masuk ke kamar, Den," ucap wanita itu tanpa di tanya. Santi yakin dua orang itu baru saja terlibat pertengkaran, karena Daniza masuk ke sambil terisak-isak.


Tanpa kata Alvin beranjak menuju kamar. Ia ketuk beberapa kali, namun tak ada sahutan apapun. 


"Daniz, tolong dengar aku dulu. Aku minta maaf, aku khilaf," teriak Alvin dari arah luar.


Mendengar panggilan itu, Daniza yang merebahkan tubuh di ranjang sambil menangis, langsung menutup kedua daun telinga.

__ADS_1


"Pergi dari sini! Aku tidak mau bertemu Kak Alvin!" Daniza semakin terisak. Ia merasa Alvin telah menginjak harga dirinya dengan mencium secara paksa.


"Aku minta maaf, Daniz! Tolong buka pintunya, kita bicara baik-baik dulu," bujuknya sekali lagi. Namun, hingga beberapa saat Daniza tak kunjung menjawab.


Menghembuskan napas berat, Alvin mencoba menenangkan pikiran. Ia sadar sikapnya barusan sedikit berlebihan dan wajar jika Daniza marah. Mungkin benar, bahwa wanita itu sedang butuh waktu untuk sendiri.


"Ya sudah, aku tidak akan memaksa. Kalau kamu tidak nyaman, maka aku tidak akan ke sini sampai kamu memberi izin. Tapi tolong jangan pergi." Alvin mulai melunak. Ia pun menyesali pengendalian dirinya yang buruk sampai melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.


Laki-laki itu menoleh ke belakang. Di sana tampak Santi yang berdiri mematung di dekat dapur. Wanita itu bahkan belum berani mengucapkan sepatah kata.


Setidaknya ia harus memastikan Daniza tidak pergi dari apartemen. Mungkin akan memantau lewat CCTV yang terpasang di beberapa sudut di apartemen setiap jam demi memastikan.


"Baik, Den!" Wanita itu mengangguk patuh.


Alvin pun beranjak meninggalkan apartemen dengan menanggung rasa bersalah. Kini, tugasnya adalah memberi pelajaran kepada Tante Keshia dan juga beberapa keluarga yang lain, yang tadi juga sempat menjadikan Daniza bahan tertawaan.


*

__ADS_1


*


*


Kurang dari tiga puluh menit, Alvin sudah tiba di rumah. Suasana di taman masih tampak ramai, meskipun beberapa di antara tamu sudah pulang.


Begitu melihat Alvin berjalan mendekat, Mama Elvira langsung memasang sikap waspada. Ia bisa melihat kemarahan yang tertahan di wajah putranya.


"Alvin, kamu sudah kembali?" tanya sang mama, namun Alvin tak menyahut dengan kata, melainkan tatapan membunuh yang mengarah kepada beberapa orang yang masih berada di sana.


Pusat pencariannya adalah Tante Keshia, akan tetapi wanita itu tak terlihat di antara puluhan tamu yang tersisa.


"Ke mana semua orang yang tadi menghina Daniza!" tanyanya, setengah berteriak.


Suasana yang tadinya sudah kondusif itu kembali tegang. Semua orang yang ada di sana memusatkan perhatian kepada Alvin.


*****

__ADS_1


__ADS_2