Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Bonchap - 05 Memergoki Mama


__ADS_3

"Kenapa perasaanku jadi tidak enak, ya? Aku takut Mas Alvin dan Kak Eric malah akan membuat mama malu. Bagaimana kalau om-om tadi cuma temannya mama?" Daniza mendesahkan napas panjang. Beberapa kali ia mencoba menghubungi sang mertua untuk memberitahu perihal Alvin dan Eric, namun tak kunjung tersambung.


Mila yang sedang menemaninya berbelanja keperluan bayi pun tampak khawatir. "Tante Elvira tidak jawab telepon, ya?"


Daniza menggelengkan kepala.


"Tenang saja, Daniz. Kalau yang tadi memang cuma teman biasa, Tante Elvira pasti bisa menghadapi Alvin dan Eric."


"Iya, juga sih."


Daniza mencoba menenangkan hati. Memang benar ucapan Mila barusan. Selama ini Mama Elvira selalu mampu mengatasi sikap barbar kedua anaknya dengan baik.


"Mending kita lanjut belanja. Kamu belum beli kaus kaki bayi. Kita ke sana, yuk!" Mila menunjuk sebuah rak di mana berjejer sepatu dan kaus kaki bayi yang lucu.


"


*


*


*


Di sisi lain, Alvin dan Eric bergegas turun dari mobil dan mengikuti sang mama. Keduanya berjalan dengan mengendap-endap layaknya pengintai profesional. Mama Evira bersama om-om tadi tampak memasuki sebuah ruangan pertemuan dengan spanduk besar nama sebuah perusahaan ternama di depannya. Membuat Alvin dan Eric bernapas lega karena ternyata mama tidak masuk ke sebuah kamar dengan si om-om.


"Mau ngapain mama sama orang itu di sana, Ric?" bisik Alvin yang kini sedang mengintai dari balik sebuah pilar besar.


"Mungkin mama lagi ada pertemuan bisnis dengan orang itu."

__ADS_1


Namun, Alvin tidak sepenuhnya percaya. Ia tidak bisa begitu saja mempercayakan mamanya kepada om-om hidung belalang tadi, sebab apa saja bisa terjadi. Apa lagi setelah adegan usap-usap bibir di restoran tadi.


"Ayo, kita ke sana. Sebagai anak aku tidak mau mama kenapa-kenapa."


Alvin sudah berjalan dengan gagah menuju pintu, diikuti Eric di sampingnya. Namun, saat melewati dua orang pria berseragam navy menghadang.


"Maaf, Pak. Bisa tunjukkan undangan?"


Spontan Alvin dan Eric saling lirik. Jangankan undangan, bisa sampai ke sini pun adalah hasil main detektif-detektifan ala Sherlock Holmes.


"Maaf, Pak. Sebenarnya kami tidak ada undangan. Tapi barusan mama saya masuk ke ruangan ini," ucap Eric.


"Aduh ... maaf, Pak! Kami diperintahkan untuk tidak menerima peserta workshop yang tidak membawa undangan."


"Gimana ini, Vin?" Eric melirik Alvin.


Dua jam Mama Elvira berada di ruangan itu dan tak kunjung keluar. Ingin rasanya Alvin merobohkan gedung hotel bintang lima tersebut yang membuatnya pusing bintang tujuh.


Eh, maksudnya pusing tujuh keliling.


Tidak lama berselang, pintu ruangan itu terbuka. Satu-persatu tamu undangan tampak keluar. Namun, tidak terlihat sang mama bersama om tadi di antara sekian puluh orang.


"Mama mana, Ric?" tanya Alvin sambil mencari mamanya di kerumunan lautan manusia.


"Nggak tahu. Coba kita ke sana. Kebetulan si kumis lele nyebelin yang jaga pintu neraka tadi udah nggak ada!"


Tanpa basa-basi Alvin dan Eric langsung masuk ke dalam sebelum si kumis lele datang. Keduanya langsung dibuat membeliak saat melihat sang Mama sedang asyik mojok di sudut ruangan.

__ADS_1


"Mama!" teriak Alvin tak bisa menahan diri.


Sontak saja Mama Elvira dan si om-om berambut jabrik bulu babi itu langsung menoleh.


"Oh My God!" Mama Elvira langsung memijit pelipis. Firasat buruk menggelayuti diri saat kedua biang rusuh itu mendekat.


"Ehemmm. Mama ngapain sama om-om di ruang sepi kayak gini," tukas Alvin nyinyir.


"Dipojokan pula!" Eric juga tak mau kalah. Membuat Mama Elvira langsung bangkit meninggalkan kursi.


"Kalian berdua apa-apaan? Sedang apa kalian di sini?" Mama Elvira menatap sosok pria yang tadi makan siang dengannya. "Sorry, Mas Agung! Aku benar-benar tidak tahu ada mereka di sini. Ini diluar dugaan," ujar Mama Elvira merasa tak enak hati kepada si jabrik itu.


Mendengar betapa lembutnya Mama Elvira kepada si om yang katanya bernama Mas Agung, Alvin semakin meradang. Dua tangannya terkepal di bawah sana. Seolah siap digunakan untuk menghajar muka sok kecakepan si om jabrik itu.


"Mereka siapa, Vir? Anak-anak kamu?" Si Om itu tersenyum sambil menatap Eric dan Alvin.


Gemas rasanya melihat tingkah kedua anak ini. Sebab beberapa saat lalu, Mama Elvira baru saja menceritakan tentang keunggulan anak-anaknya. Termasuk pembawaan Alvin si anak pertama yang katanya sangat berwibawa dan punya segudang keunggulan. Juga Eric yang katanya anak penurut dan bisa dipercaya.


Tetapi pada kenyataannya, Mas Agung malah mendapati tingkah anak-anak Elvira seperti anak ayam kehilangan induknya.


"Mama kenapa belain Om-Om itu? Sudah jelas kita ke sini untuk menyelamatkan Mama. Seandainya kita telat sedikit saja, mungkin Mama sudah dibuat jadi rempeyek sama Om-Om rambut landak laut ini!" seru Alvin.


"Udah bukan om-om hidung belalang lagi, Vin?" bisik Eric dari belakang.


Jangan tanya seperti apa ekspresi Mama Elvira sekarang. Ia benar-benar seperti kehilangan muka menghadapi kelakuan brutal anak-anaknya.


"Alvin, Eric!" pekik Mama Elvira sambil mengeluarkan jurus capitan andalannya.

__ADS_1


__ADS_2