
Alvin meneguk ludah dengan susah payah. Kakinya yang hendak dipakai berlari tiba-tiba kaku. Sehingga yang bisa ia lakukan hanya duduk mematung sembari menatap takut-takut ke arah si Singa, eh maksudnya sang mama.
Mama Elvira berdiri sambil mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi. "Karena tangan ini mirip tukang pukul, bagaimana kalau kita mulai praktek sekarang saja, Vin?"
Glek.
Suara jakun Alvin terdengar sampai ke telinganya sendiri. "Ma ... Mah, jangan seperti ini! Aku bisa jelaskan," tahan Alvin. Entah kenapa dua tangannya langsung terangkat seakan mamah Elvira membawa pistol.
"Jelaskan apa, Vin? Bukannya lebih enak langsung kita praktekan saja? Barang kali kamu ingin tahu seperti apa rasanya dipukul sama tukang pukul!"
Alvin sontak berdiri dan siap berlari. Seringai di bibir mama Elvira sukses membuat lelaki itu merinding disko.
"Sini kamu anak kurang ajar!" Mama Elvira hendak menjewer Alvin, tapi laki-laki itu sigap berlari ke arah Daniza dan bersembunyi di belakang punggungnya.
"Daniz, tolong aku!"
Alvin bersembunyi di belakang Daniza seolah meminta perlindungan, tetapi wanita itu malah terpaku di tempat. Mama Elvira tampak sangat mengerikan saat sedang marah.
"Menyingkir Daniza. Biar mamah hajar anak mesum satu ini. Kalau perlu mamah garuk pakai garpu biar kamu tidak kegatelan lagi!"
"Mana aku tahu kalau itu tangan Mama! Mama datangnya tiba-tiba kayak hantu!" Alvin masih mencoba menghindari kejaran mamanya. Jika tidak dijewer, maka hantaman sapu pasti mendarat lagi. Otak Alvin sedang berpikir keras bagaimana agar terhindar dari keadaan ini.
"Dasar anak durjana kamu, Vin! Tadi bilang tangan mama kayak tangan tukang pukul, sekarang kamu bilang mama kayak hantu? Sini kamu!" pekik Mama Elvira tampak sangat marah.
__ADS_1
Daniza yang berada di antara Alvin dan mamanya tidak tahu harus berbuat apa. Hanya tubuhnya yang bergeser ke kanan dan kiri karena Alvin benar-benar menggunakan tubuh Daniza sebagai perisai.
"Janji dulu tidak akan ada sapu flying in the sky di antara kita!" pinta Alvin.
Mama Elvira menipiskan bibirnya gemas. Entah harus diapakan anak semata wayangnya yang bandel selevel setan itu. Mungkin Alvin memang harus segera dinikahkan untuk meminimalisir kelakuannya yang kadang membuat jantung kembang kempis.
"Sapu tidak akan dancing in the sky! Percaya deh sama mama." Mama Elvira memasang senyum terbaik miliknya, yang sialnya malah membuat Alvin semakin merinding.
"Aku ragu, Mah. Senyum Mama membawa luka."
Kedua tangan Mama Elvira terkepal kuat, matanya melotot tajam, napasnya pun menjadi lebih cepat.
"Alvin Alexander!" teriakan Mama Elvira menggema di ruangan itu.
Alvin berjalan dengan lesu menuju parkiran sambil mengusap telinga yang baru saja menjadi sasaran kemarahan Mama Elvira. Dengan sangat terpaksa, Alvin meninggalkan Daniza setelah mengalami pengusiran oleh mamanya sendiri. Padahal baru saja ingin membangun chemistry dengan Daniza melalui sentuhan pada luka di kening.
"Kok mama bisa tahu aku ke sini? Kan tadi sudah bilang mau lembur di kantor."
Langkah Alvin sempat terhenti sesaat. Pandangannya mengarah kepada Eric yang sedang berdiri di samping mobil sambil memainkan ponsel.
"Pasti cecunguk sialan itu yang ngadu sama mama!" Alvin menggerutu, lalu melangkah ke arah Eric.
Sejak zaman sekolah, Eric memang memiliki fungsi lebih baik dari CCTV yang bekerja untuk melaporkan semua kelakuannya kepada sang mama.
__ADS_1
Bahkan Eric pernah melaporkan Alvin yang sempat memakai obat-obatan terlarang. Beruntung kala itu Alvin baru beberapa kali menggunakan, sehingga ia langsung dikirim ke pusat rehabilitasi selama berbulan-bulan.
"Eh, sudah, ya? Kok cepat?" tanya Eric santai sambil melirik arloji.
"Dasar pengkhianat! Kamu dibayar berapa sama mama sampai ngadu segala?" protes Alvin cukup kesal.
Bukannya panik atau merasa bersalah, Eric malah bersikap tenang. Seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
"Aku takut kamu tergoda sama setan kalau cuma berduaan sama Daniza di apartemen. Kamu bisa bikin malu keluarga?"
Jawaban santai Eric membuat Alvin jengkel setengah mati. Jika tak takut dosa, ia pasti sudah menonaktifkan kamera CCTV bernyawa milik Mama Elvira itu.
"Sono cari pacar! Biar otak kamu tidak suudzon melulu sama orang!"
Eric hanya mencibir. Ingin sekali mencekik bosnya itu.
"Tadi juga gagal kencan karena kamu!" Dasar teman tidak tahu diuntung! gerutu Eric dalam hati.
"Mending jomblo seumur hidup daripada punya gebetan tapi galau melulu kayak kamu!" balas Eric tak kalah sengit.
Membuat Alvin melayangkan tinju ke bahu temannya itu. Sindiran pedas Eric benar-benar menciderai image 'high quality jomblo' yang selama ini dipertahankan Alvin. Kini, ia malah terlihat seperti 'sad boy'.
"Kamu tahu satu hal Eric Ricardo ... untung kamu manusia. Kalau kamu aplikasi sudah aku uninstall dari tadi!"
__ADS_1
****