Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Resep Obat


__ADS_3

Daniza larut dalam hangatnya pelukan Alvin. Rasa nyaman terasa memenuhi jiwa dan raganya. Menghilangkan perasaan gundah yang selama beberapa hari ini berkuasa atas hatinya. Entah mengapa ada perasaan tak rela ketika Alvin sedikit menjauhkan tubuhnya. Padahal rasanya belum puas menyelami kehangatan tubuh kokoh itu. 


Daniza pun menunduk seraya mengusap lelehan air mata di pipi. Sedikit tak rela Alvin melepas pelukan. 


"Mila, kamu belum selesai periksa Daniz, kan?" Alvin menoleh kepada Dokter Mila yang berdiri tepat di belakang punggungnya. 


"Belum. Karena kamu geser aku sampai hampir jatuh!" seloroh dokter itu tanpa basa-basi. 


Alvin mengulas senyum tipis. "Maaf, aku refleks. Ya sudah, tolong diperiksa lagi." 


"Minggir makanya!" 


Daniza mendongak demi menatap Dokter Mila. Pikirannya disergap pertanyaan tentang siapa wanita cantik nan anggun dengan rok sepan selutut dan kemeja ketat, yang memamerkan lekukan sempurna tubuhnya itu. Daniza sama sekali belum mengenal Dokter Mila, sebab saat pertama kali Alvin membawanya ke apartemen dan meminta Dokter Mila datang, ia dalam keadaan tak sadarkan diri dan baru bangun di pagi hari. 


Alvin beranjak dan berdiri di sisi ranjang, membuat Dokter Mila menggantikan posisinya. Daniza mengamati fisik dan gerakan wanita itu. Rambut menyerupai warna madu, kulitnya putih, bersih nan terawat. Selain itu, ia memiliki paras cantik yang didukung oleh tubuh semampai. Saking sempurnanya, Daniza sampai merasa Alvin bodoh jika tidak jatuh cinta dengan dokter cantik itu. 


"Tekanan darahnya cukup rendah," ucap Dokter Mila, yang seketika membuyarkan lamunan Daniza. "Demamnya juga agak tinggi." Ia tersenyum, lalu meletakkan kembali alat kesehatan ke dalam tas setelah digunakan. 


   


Daniza terpukau. Dokter satu ini tidak hanya ramah, tetapi juga sangat lembut dan cekatan. Lalu, apa kriteria seperti ini yang cocok untuk dijadikan menantu versi Mama Elvira daan Tante Keshia? Ah, kepala Daniza terasa semakin berdenyut memikirkannya. 

__ADS_1


"Banyak istirahat, ya," ucap sang dokter. 


Daniza menjawab dengan anggukan kepala. Sebab suaranya sedang serak sekarang. Selain itu, ia sedang tidak dalam keadaan baik untuk sekedar menjawab. 


Ketika Dokter Mila beranjak dan duduk di sofa yang terdapat di sudut kamar, pandangan Daniza kembali mengikuti. Rasa panas terasa menjalar ke setiap pembuluh darahnya ketika melihat Alvin mendekat dan duduk tepat di sisi Dokter Mila, dalam posisi yang terbilang sangat dekat di mata Daniza. 


"Jangan!"


Ingin sekali Daniza berteriak. Namun, lidahnya terasa kaku. Sehingga hanya mampu menjerit dalam hati. Ia hanya dapat meremas selimut dengan sisa tenaga yang tersisa. 


"Bagaimana, Mil? Harus dibawa ke rumah sakit atau ...." 


"Hanya demam biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dokter Mila mengeluarkan sebuah buku catatan. "Aku akan resepkan obat, nanti bisa ditebus di apotek terdekat."


Dokter Mila lantas menghela napas panjang. Sorot matanya tajam menghujam, tetapi justru terlihat semakin cantik di mata Daniza. Entah seperti apa di mata Alvin, Daniza tak berani membayangkan. Yang pasti saat ini jantung Daniza bergemuruh layaknya petir. 


"Aku banyak ketemu pasien tapi tidak ada yang serewel kamu loh, Vin!" 


Napas Daniza tertahan melihat interaksi antara Alvin dan Dokter Mila. Apakah mereka seakrab itu? Rasanya Daniza ingin membuang sofa sialan yang diduduki Alvin dan wanita itu keluar jendela. 


"Bodo amat, yang penting bayar!" tambah Alvin. 

__ADS_1


"100 juta!" Dokter Mila tertawa setelahnya. Tetapi, Alvin masih memasang sikap cool seperti biasanya. 


"Sebenarnya sejak lama aku heran, kamu itu dokter atau rentenir?"    


Mendadak udara di dalam kamar luas itu seakan tak cukup bagi Daniza untuk bernapas. Dadanya berat seperti sedang dihimpit bongkahan batu besar. Jika tidak segera dihentikan, Daniza yakin akan pingsan untuk ke dua kalinya. 


"Santi, boleh bantu aku baring, kepalaku sakit sekali," lirih Daniza. Ucapannya ditujukan untuk Santi, tetapi matanya malah mengarah kepada Alvin. 


Dengan gerakan super cepat, Santi membantu Daniza membaringkan tubuhnya. Daniza sedikit kecewa mengapa bukan Alvin yang melakukannya. 


"Kalau begitu aku akan pergi. Daniza juga butuh istirahat," ucap Dokter Mila.


Untuk kali ini Daniza bernapas lega. Seluruh beban di jiwanya seperti menghilang saat itu juga. Tanpa sadar, bibirnya melukis senyum yang ia sembunyikan di balik selimut. 


"Kebetulan aku juga mau pulang. Aku akan ke apotik dulu." Alvin ikut berdiri. "Daniz, kamu istirahat, ya. Aku akan tebus resep dulu, dan langsung pulang." 


Daniza kalang kabut. Mendadak ia tampak gelisah di balik selimut. Sialnya, tubuh ini terasa lemas dan kepalanya seperti sedang kosong. 


Alvin mau meninggalkannya? Entah mengapa Daniza seakan tak rela.


"Argh perutku sakit sekali!" keluh Daniza sambil meletakkan tangan di perut. 

__ADS_1


****


__ADS_2