Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Kenangan Buruk Masa Lalu


__ADS_3

Sementara di ruang tunggu, Daniza termenung dengan tatapan kosong. Ia masih belum bisa menerima penjelasan dokter tentang kondisi suaminya.


Rasanya baru kemarin ia diterbangkan bak seorang ratu, sekarang ia harus kembali dijatuhkan, dan kali rasanya lebih sakit daripada melihat Revan dan Alina berselingkuh. Itu semua karena Daniza sudah benar-benar jatuh cinta kepada Alvin.


Tertunduk menatap lantai keramik yang dingin, Daniza merasakan napasnya sesak. "Kenapa rasanya bisa sesakit ini?" Daniza bergumam seraya menahan air matanya agar tidak jatuh.


Ia sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak menyerah. Jadi apapun keadaannya, semua akan dihadapi dengan ketegaran.


Wanita itu hanya dapat memandangi pintu ruang perawatan suaminya dengan tatapan nanar. Ingin sekali masuk ke sana dan memeluk Alvin dan melampiaskan kerinduan. Tetapi, kakinya terasa lemas. Untuk menemui Alvin pun ia tak berani.


Sementara di dalam ruangan, Mama Elvira dan Eric sedang berusaha memberi pengertian kepada Alvin agar menerima Daniza sebagai istrinya.


Alvin yang merasa masih remaja itu jelas menolak. Menikah belum pernah ada dalam rencana sebelumnya. Terlebih dengan Daniza, gadis culun yang telah menjadi penyebab kematian papanya.


"Vin, kasihan Daniza. Kamu hanya lupa sama dia. Nanti pelan-pelan kamu akan ingat kembali," bujuk Mama Elvira sekali lagi.


"Aku tidak mau, Mah! Kenapa juga mama harus setuju aku menikah dengan dia!"


Alvin benar-benar berharap semua ini hanya mimpi buruk. Ia berharap segera terbangun dan ternyata sedang ketiduran di gorong-gorong sekolah.


Pikiran remaja usia 18 tahun kembali mendominasi. Lebih baik kedapatan tawuran dan dikeluarkan dari sekolah, atau mungkin dihukum membersihkan lapangan seluruh sekolah. Dibanding terbangun di rumah sakit dengan kejutan tak mengenakkan seperti sekarang.


"Tapi kamu sangat bahagia bersama Daniza."


"Bahagia seperti apa? Aku benci dia, Mah! Lihat mukanya saja aku tidak mau!" pekik Alvin.


Tanpa disadari oleh mereka, Daniza sudah berdiri di ambang pintu mendengar pembicaraan Mama dan Alvin. Rasa sakit memaksa bola matanya untuk berair. Ia benar-benar berharap ini semua hanya mimpi buruk.


"Daniza?" Mama Elvira sedikit terkejut saat melihat menantunya sedang berdiri di dekat pintu. Buru-buru Daniza menyeka air mata dan berjalan mendekat setelahnya tanpa memedulikan tatapan sinis yang dilemparkan oleh Alvin.


"Ngapain kamu ke sini! Cepat keluar!" teriak Alvin, meskipun suaranya terdengar masih lemah.

__ADS_1


Daniza tak langsung menuruti keinginan Alvin. Dalam hatinya masih ada keyakinan akan cinta Alvin kepadanya. "Aku istri kamu, Mas. Kita baru menikah tiga Minggu lalu."


"Diam kamu, siapa yang mengizinkan kamu bicara!" pekik Alvin. Kalimat Daniza barusan terdengar sangat menjijikkan di telinganya.


"Alvin, jangan seperti itu terhadap istri kamu." Mama Elvira menyela. "Kamu akan menyesal kalau bisa mengingat semuanya."


"Aku tidak suka dia dan tidak mau dia ada di sini! Suruh dia pergi sekarang juga!" Sesaat setelah ia meneriakkan penolakan keras itu, dadanya disergap rasa ngilu.


Tak tahan melihat suaminya kesakitan, Daniza memilih keluar dari ruangan itu. Mungkin akan lebih baik jika ia mengalah untuk sementara demi kesehatan Alvin. Toh, lupa ingatan yang dialami Alvin mungkin hanya bersifat sementara.


"Aku sangat merindukan kamu, Mas. Kenapa harus jadi begini? Apa dulu kamu sebenci itu padaku?" Daniza menjerit pilu dalam hati.


Ia bersandar di dinding sambil terisak-isak.


"Daniz." Panggilan dari belakang membuat Daniza menyeka air mata. Eric segera menyusul setelah diminta Mama Elvira.


"Iya, Kak."


"Kamu harus banyak-banyak sabar menghadapi Alvin. Kamu tahu kan, bagaimana dia mencintai kamu?"


"Kamu mau pulang ke hotel dulu? Biar aku antar," tawar Eric.


"Tapi Mas Alvin bagaimana?" Daniza terlihat ragu untuk meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti sekarang. Tetapi, ia juga khawatir keberadaan dirinya akan memperburuk kondisi Alvin.


"Tidak apa-apa. Biar aku yang jaga dia di sini. Kamu istirahat saja. Paling beberapa hari lagi Alvin sudah boleh pulang."


"Aku mau di sini saja, Kak. Biar aku di luar saja, yang penting bisa lihat Mas Alvin walaupun dari jauh."


Tak ada yang dapat dilakukan Eric lagi. Ia hanya berharap ingatan Alvin tentang Daniza segera kembali.


*

__ADS_1


*


*


Malam sudah larut, tetapi Alvin belum dapat terpejam. Mimpi masa lalu yang menyakitkan terus saja menghantui. Rasanya baru kemarin ia kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.


Papa ....


Hujan deras mengguyur malam itu ketika Alvin berlari melewati lorong-lorong gelap rumah sakit. Ia baru saja mendapat telepon dari mama yang memberitahu bahwa papa dalam keadaan kritis di rumah sakit karena mengalami kecelakaan mobil.


Dunia Alvin seperti runtuh saat mendapati papa terbaring dalam keadaan setengah sadar. Tubuhnya dipenuhi alat medis.


Hanya satu pesan yang ditinggalkan papa sebelum menghembuskan napas terakhir. Yaitu menjaga seorang gadis bernama Daniza Amaria.


"Dia penyebab kematian papa. Malam itu papa kecelakaan karena mau melindungi dia, kan?"


Perlahan Alvin membuka mata demi menghilangkan bayangan-bayang buruk dari masa lalu. Ia tersentak saat melihat Daniza sedang tertidur dalam posisi duduk di kursi, dengan kepala menelungkup.


Sepertinya wanita itu masuk sembunyi-sembunyi saat semua orang sedang tidur.


Alvin menatapnya nanar. Ingin memaki, namun entah mengapa ada rasa tak tega dari lubuk hati terdalam. Melihat wajah pucat dan matanya sembab itu saja sudah membuat hatinya seperti tersayat.


Lalu, benarkah wanita yang sedang tertidur di samping adalah istrinya? Ah, rasanya tidak mungkin. Alvin seperti akan gila sekarang.


"Tidak! Alvin, jangan berpikiran sembarangan!"


Sebisa mungkin ia berusaha mengembalikan akal sehatnya yang hampir hilang. Menikah dan bulan madu terasa sangat mengerikan bagi remaja 18 tahun.


"Tunggu! Tunggu! Kalau sudah menikah, apa artinya aku tidak perjaka lagi?"


Bola mata Alvin melebar saat itu juga. Kemudian melirik sesuatu yang tersembunyi di balik celana sambil berusaha membayangkan benda kesayangan miliknya sudah tidak suci lagi.

__ADS_1


"Aaaa!" jeritan Alvin memenuhi ruangan itu.


...****...


__ADS_2