
Dokter Mila baru saja selesai memeriksa kondisi Daniza. Selama menjalankan tugasnya, ia harus menahan kesal karena Alvin tak henti-hentinya menggerutu.
Apalagi hingga kini Daniza tak kunjung tersadar dan membuat Alvin cukup panik. Bahkan Daniza tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sepertinya Daniza pingsan karena pengaruh shock dan menghirup obat bius dalam dosis tinggi," jelas Dokter Mila.
"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Alvin sekali lagi demi meyakinkan hatinya.
"Iya, aku sangat yakin!" sahut Dokter Mila sedikit kesal. Kemudian membenarkan selimut yang membalut tubuh Daniza. "Perasaan Daniza sering banget pingsan. Sebagai calon suami kamu ini bisa menjaga dia tidak sih?"
Tidak terima dengan tuduhan Mila, Alvin menatap tajam. Padahal usahanya tadi dalam menjaga Daniza benar-benar menguras tenaga dan emosi.
"Tidak usah banyak protes, kamu! Tugas kamu 'kan hanya mengobati orang sakit, jadi pastikan saja Daniz tidak apa-apa," ujar Alvin. Ia takut Daniza mengalami trauma setelah kejadian tadi.
Dokter Mila hanya mencibir. Tingkah Alvin yang menyebalkan tidak pernah berubah sejak dulu. Jangan lupa, laki-laki ini lah penyebab sebenarnya segala permasalahan Dokter Mila dan Eric.
"Daniza tidak apa-apa, Tuan Alvin Alexander yang terhormat. Setelah siuman nanti dia pasti akan merasa lebih baik. Tapi mungkin akan sedikit lemas karena efek obat bius itu," terang Dokter Mila panjang lebar. Sengaja menekan suara agar Alvin mengerti.
Alvin pun mengangguk paham. Kemudian menatap nanar wajah Daniza yang pucat pasih.
"Oh ya, sekarang aku harus pergi. Masih ada urusan lain."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih. Maaf repotin kamu terus."
"Nah itu sadar. Sudah ngerepotin orang bawel lagi!" sindir Mila. Kemudian terkekeh kecil sambil merapikan alat kesehatan yang tadi digunakannya.
"Nanti aku transfer, ya."
"Seratus ...."
"Iya, seratus juta! Berapapun untuk kamu, dasar dokter rentenir!" potong Alvin gemas.
Dokter cantik memesona itu hanya terkekeh. Setelah kembali memastikan semuanya terkendali, Mila pun pamit untuk pulang. Ia tidak ingin berlama-lama, karena Eric ternyata ada di rumah itu, sementara Dokter Mila sedang menghindar darinya karena masih menyimpan rasa kecewa.
Setelah kepergian Mila, kini tinggal Alvin berdua dengan Daniza di kamar itu. Ia menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Kemudian menatap lekat-lekat wajah Daniza yang masih terlelap. Sebelah tangannya terulur membelai puncak kepala.
"Untung kamu belum sempat diapa-apain sama si cecunguk Revan. Kalau tidak ...."
"Kalau tidak kenapa, Vin?" Suara datar yang tiba-tiba muncul dari belakang membuat Alvin tersentak. Saat menoleh, tampak Mama Elvira menatap dengan curiga.
"Eh Mama ...."
"Kenapa bicaranya kepotong? Si Revan mau kamu apakan tadi?"
__ADS_1
Alvin gelagapan. Bibirnya melukis senyum tanpa dosa. "Tidak, Mah. Aku tidak berniat melakukan apa-apa. Daniza sudah selamat saja aku sudah senang."
Tatapan Mama Elvira masih belum berubah. "Kamu pikir Mama tidak tahu kelakuan kamu?"
Mendengar ucapan mama, Alvin telah menebak bahwa Eric pasti sudah mengadukan perbuatannya terhadap Revan. Manusia satu itu memang seperti ember bocor. Tidak bisa menjaga rahasia di hadapan ibu suri.
"Dasar pengkhianat, pasti Eric sudah ngadu! Awas saja nanti!" tebak Alvin dalam hati. Ia menatap mamanya begitu memelas.
"Aku janji ini yang terakhir, Mah! Lain kali aku tidak akan menggunakan kekerasan," ucapnya bersungguh-sungguh.
Menghela napas panjang, Mama Elvira memilih duduk di sofa. Alvin langsung mengikuti dan duduk di sebelah mamanya.
"Alvin, kamu itu anak mama satu-satunya. Apa kamu tidak pikirkan kalau tindakan kamu tadi melanggar hukum? Kenapa tidak kamu serahkan saja si Revan ke tangan polisi?"
"Aku sengaja biar si Revan ada efek jera. Salah sendiri kenapa calon istri orang diculik!" ujar Alvin tak terima.
Mama Elvira menarik napas panjang. Dengan gerakan sangat cepat ia sudah menjambak rambut putranya itu. Sepertinya Alvin sedang lupa daratan.
"Lalu kamu sendiri bagaimana? Kamu lebih parah karena istri orang kamu rebut!"
****
__ADS_1