Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Bonchap 03 - Mencurigai Sesuatu!


__ADS_3

Daniza segera membenarkan rambut dan pakaian yang sedikit berantakan karena ulah sang suami. Sambil bersungut-sungut kesal, Alvin membuka pintu. Di depan sudah ada Eric dan Mila yang memasang senyum tanpa dosa.


"Apa?" pekik Alvin terdengar sangat kesal.


Eric yang belum paham situasi hanya mencibir, dipikirnya penyebab kekesalan kakaknya itu masih seputar pertemuan Daniza dengan Revan tadi.


"Sensi amat jadi manusia. Mau makan siang bareng nggak?"


"Bentar, tanya ibu kota dulu!" Alvin menoleh kepada Daniza yang masih duduk di sofa. "Sayang, mau makan siang sama mereka nggak?"


"Boleh." Daniza langsung bangkit meninggalkan tempat duduknya dan menyambut Mila dengan penuh semangat.


Sebuah restoran yang berada tak begitu jauh dari kantor menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan waktu istirahat siang bersama.


"Puas-puasin ketemunya, karena mulai besok kalian tidak bisa bertemu lagi," celetuk Alvin sesaat setelah melakukan pemesanan makanan.


Mulai Esok hari, Eric dan Mila akan menjalani proses pingitan sebelum hari pernikahan tiba. Keduanya pun tidak boleh bertemu selama beberapa hari ke depan.


"Tidak apa-apa. Cuma beberapa hari juga," sambar Eric santai.


"Hati-hati, Mil. Eric itu tidak bisa dipercaya. Sepuluh hari itu lama loh."


Kala Mila mulai melayangkan tatapan curiga terhadap calon suaminya, Alvin malah tertawa. Membuat Eric melemparkan tissue yang sudah ia remas hingga membentuk bola kecil.


"Dasar kompor!"

__ADS_1


Tatapan galak dan menyeramkan pun diterima Eric dari Mila. "Berani macam-macam aku bius total biar tahu rasa!"


"Jangan mudah terhasut sama ucapan makhluk lain, Mil. Dia itu suka huru-hara." Eric menatap Daniza. "Daniza, sebaiknya kamu berdoa yang banyak. Jangan sampai kelakuan anak-anak kamu nanti mirip bapaknya."


"Ngomong sekali lagi kukirim kamu ke Bikini Bottom biar kerja di krusty krab sekalian," potong Alvin dengan mata melotot.


Perdebatan Alvin dan Eric membuat Daniza dan Mila terkekeh. Obrolan kakak beradik ini sering unfaedah jika dalam suasana santai. Berbeda saat sedang bekerja, di mana keduanya menjadi seseorang yang sangat serius dan kaku.


Tidak lama berselang, pesanan pun datang. Mereka menikmati makan siang sambil sesekali mengobrol santai.


Mila sempat merasa sedikit iri melihat kemesraan Alvin terhadap Daniza yang sesekali menyuapi makanan. Sedangkan Eric si calon suami begitu datar, kaku dan sangat tidak romantis.


Eric pun tak banyak bicara, namun ia dapat membaca ekspresi wajah Mila dengan baik.


"Sini, aku suapin. Biar kamu tahu kalau aku juga bisa romantis." Ia meraih sepotong siomay berukuran cukup besar dan menyuapkan ke mulut Mila. Membuat mulut wanita itu penuh dan sedikit kesulitan mengunyah.


"Oh ya, Mas. Kamu pulang jam berapa hari ini? Aku mau ke mall belanja perlengkapan bayi," ucap Daniza sesaat setelah mereka selesai makan. Kini di hadapan mereka ada beberapa hidangan penutup.


"Pulangnya malam. Aku masih ada kerjaan. Iya kan, Ric?"


Eric mengangguk sambil menyeruput secangkir teh hangat.


"Kalau Alvin tidak bisa temani, biar belanjanya sama aku saja. Kebetulan aku tidak ke rumah sakit lagi habis ini," tambah Mila.


"Yang benar, Kak?"

__ADS_1


"Iya, sekalian aku juga mau belanja."


Daniza langsung tersenyum senang. Selama kehamilan, ia memang belum menyiapkan apapun untuk si kecil. Selain itu, berbelanja dengan sesama wanita akan lebih menyenangkan dibanding dengan suami. Karena terkadang para suami kerap menggerutu jika menemani istrinya berbelanja.


"Kalau begitu aku akan belanja dengan Kak Mila saja. Boleh kan, Mas?"


"Boleh. Yang penting hati-hati dan pulangnya jangan malam."


"Oke. Aku akan pulang jam 5 sore."


Kelopak mata Alvin melebar saat itu juga. Dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Mau belanja apaan selama itu? Ini baru jam 1 siang, loh?"


Melihat betapa posesif kakaknya itu, Eric pun menyela. "Perlengkapan bayi kan banyak, Dodol! Kalau yang sedikit itu perlengkapan mayit!"


"Itu juga aku tahu, Dodol."


Lagi, Daniza dan Mila hanya mengatupkan bibir mendengar perdebatan itu. Hingga pada titik di mana perhatian Daniza teralihkan pada sesuatu yang berada tak jauh darinya. Wanita itu mencoba menajamkan penglihatan untuk memastikan tidak salah mengenali orang.


"Mas, Kak Eric, bukannya yang di sana itu mama, ya?" tanya Daniza sambil menunjuk ke suatu arah dengan gerakan mata.


Pandangan Alvin, Eric dan Mila pun mengikuti arah yang ditunjuk Daniza. Keduanya pun menjadi sangat terkejut sekaligus bertanya-tanya. Dari jarak tak jauh, Mama Elvira terlihat tengah makan siang berdua dengan seorang pria asing.


"Mama makan siang sama siapa itu?" tanya Alvin penasaran.


Eric turut menatap sosok pria berpenampilan formal layaknya bos-bos yang duduk bersama sang mama. Dari segi fisik, Eric dapat menebak bahwa usia pria tersebut tak jauh dari Mama Elvira.

__ADS_1


"Gaya si om-om itu sih oke, Vin! Rambutnya itu loh, jabrik kayak bulu babi."


...****...


__ADS_2