
Sepanjang pesta berlangsung Alvin melakukan banyak hal untuk membuat Revan cemburu. Mengenalkan Daniza sebagai tamu istimewa hingga mengajak wanita itu untuk berdansa. Alvin bahkan sengaja memamerkan kemesraan dengan Daniza dan itu sangat melukai perasaan Revan.
Sorot mata Alvin tertuju kepada Revan yang duduk bersama Alina, sama seperti Revan yang saat ini terus mengawasi Alvin dan Daniza.
"Apa kamu mau membuat suami tidak berguna kamu itu semakin kesal?" Alvin sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Daniza, yang mana membuat Revan tidak tahan.
Mengerti ke mana arah pembicaraan Alvin, Daniza hanya mengangguk. Ia pikir tidak apa-apa jika malam ini membalas sedikit sakit hatinya kepada Revan.
Dalam sepersekian detik Alvin menarik pinggang ramping Daniza hingga tubuh keduanya menempel. Alvin lantas meminta Daniza menyandarkan dagu di bahunya. Beruntung malam ini Daniza menggunakan heels, sehingga menyamarkan perbedaan tinggi badan mereka yang mencolok. Jika tidak menggunakan heels, puncak kepala Daniza hanya setinggi bahu Alvin.
Melihat kemesraan yang tersaji di depan matanya, Revan semakin terbakar api cemburu. Ia merasa Alvin seperti sengaja membuatnya marah. Tetapi Revan hanya diam di tempat. Ia tidak ingin mengambil resiko yang malah akan membuat dirinya malu nantinya.
"Kak Alvin, apa boleh dansanya sudah dulu? Kakiku sakit!" bisik Daniza. Tidak terbiasa menggunakan heels membuat otot-otot kakinya terasa tegang dan kaku.
Tangan Alvin yang melingkar di pinggang Daniza berpindah ke punggung. "Ya sudah. Untuk bagian ini cukup." Sekarang laki-laki itu meminta Daniza untuk menggandeng lengannya. "Kita makan dulu, ya. Kamu pasti belum makan, kan?"
Daniza mengangguk pelan. Sejujurnya rasa gugup malam ini membuatnya kehilangan selera makan. Namun, ia diam saja dan mengikuti Alvin yang menuntunnya menuju sebuah meja khusus yang telah disediakan untuk mereka. Beberapa menu lezat dan menggugah selera sudah tersedia di meja. Alvin segera menarik kursi untuk Daniza.
"Kamu mau makan apa?" tanya Alvin.
Daniza menatap beberapa menu di hadapannya. Ada steak daging sapi di sana yang memang merupakan makanan kesukaan Daniza.
"Aku mau makan steak saja."
Dengan penuh perhatian, Alvin meraih menu yang diminta Daniza. Ia mengambil pisau dan garpu, lalu memotong daging.
"Buka mulutnya!" Alvin menyodorkan sepotong daging ke hadapan Daniza. Membuat wanita itu terdiam. Betapa tidak, Alvin memotong daging dengan ukuran yang cukup besar. Daniza yakin potongan daging itu tidak akan muat di mulutnya.
"Ayo, makan!" Alvin menempelkan potongan daging ke bibir Daniza, hingga akhirnya wanita itu terpaksa membuka mulut. Potongan daging yang cukup besar membuat Daniza menggigit setengahnya. Alvin tersenyum manis, lalu memasukkan sisa gigitan Daniza ke mulutnya sendiri.
__ADS_1
Sepertinya laki-laki itu benar-benar ingin mengibarkan bendera perang dengan Revan malam ini.
"Enak, kan?" tanya Alvin.
Daniza menunduk sambil berusaha menyembunyikan semburat merah di pipi. Beruntung make up natural yang membalut wajahnya cukup membantu untuk menyamarkan rona merah di pipi.
Sementara di sudut sana, jangan ditanya sudah seperti apa suasana yang tercipta. Melihat sendiri Alvin menyuapi dan kemudian memakan sisa gigitan Daniza membuatnya kesal setengah mati.
"Dia pasti sengaja!" gerutu Revan. Memukul meja sedikit keras.
"Kamu ini kenapa sih dari tadi marah-marah terus?"
Alina kesal melihat Revan yang seakan tak peduli akan keberadaannya. Wanita itu mendengkus kesal. Sikap Revan membuatnya tidak berselera makan, sehingga hanya mengaduk spaghetti miliknya dengan kesal.
Alina turut melirik ke arah meja di mana Alvin dan Daniza duduk berdua layaknya sepasang kekasih. Tanpa dapat dikendalikan, perasaan iri merasuk ke hatinya. Bukannya hidup menderita setelah dibuang oleh Revan, Daniza malah mendapatkan laki-laki seperti Alvin—yang jelas lebih kaya dan lebih berkuasa dari Revan.
"Aku harus mempermalukan Daniza malam ini. Memalukan bukan, kalau dia begitu mesra dengan Alvin, sementara dia masih istri Revan."
"Nanti saja kita bahas soal pernikahan, Al. Kamu pikir menikah itu urusan gampang?" balas Revan. Masih memandang ke arah meja Daniza.
"Aku tahu, tapi tidak apa-apa kalau kita menikah dulu. Urusan perceraian dengan Daniza bisa kamu urus setelah kita menikah." Perkataan Alina yang terkesan memaksa membuat sepasang mata Revan terpejam.
Menceraikan Daniza sudah tidak ada lagi dalam daftar rencana masa depannya. Malah ia akan melakukan apapun agar Daniza kembali ke pelukannya.
"Nanti saja kita bicarakan di rumah."
Penolakan Revan membuat Alina kesal setengah mati. Ia meletakkan garpu di piring dengan kasar. Lalu, beranjak meninggalkan Revan dengan menghentakkan kaki cukup keras.
Revan bahkan tidak berniat untuk mengejar Alina dan membujuknya, seperti yang selama ini ia lakukan.
__ADS_1
Apakah kecantikan Daniza telah berhasil mengikis cintanya? Revan tidak tahu. Yang pasti saat ini hanya Daniza yang menguasai pikirannya.
***
Sementara itu ....
"Selamat malam, Pak Alvin." Sapaan yang hadir secara tiba-tiba itu membuat perhatian Alvin teralihkan. Ia menatap Pak Samudra, salah satu manajer di perusahaannya.
"Selamat malam, Pak Samudra," balas Alvin dengan mengulas senyum ramah.
Pria bertubuh gemuk dengan rambut sebagian memutih itu menunduk penuh hormat sebelum berbicara. "Pak Alvin, maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya mau mengenalkan perwakilan dari TAM Grup yang menyempatkan diri untuk turut hadir malam ini. Mungkin Pak Alvin belum pernah bertemu."
Pandangan Alvin mengarah kepada seorang pria kira-kira seusia dirinya yang berdiri tepat di samping Pak Samudra. Lalu kembali memasang senyum. Namun, sejurus kemudian senyum di bibirnya mendadak sirna saat menyadari siapa sosok lelaki yang baru saja akan diperkenalkan oleh Pak Samudra.
"Ini adalah Pak Ruben, beliau adalah wakil dari TAM Grup," ucap Pak Samudra memperkenalkan pria itu.
Baik Alvin maupun pria itu saling tatap. Bahkan tidak ada yang mulai mengulurkan tangan untuk menjabat.
"Kenapa ini orang bisa nongol di sini, sih?" gerutu Alvin dalam hati.
"Ruben, kamu sudah datang?" Suara tak asing yang muncul dari belakang membuat Alvin merinding. Belum hilang rasa terkejut atas pertemuan mendadak dengan mantan rivalnya itu, kini harus kembali dikejutkan dengan kehadiran mamanya.
"Iya, Tante. Maaf, saya datang agak terlambat. Soalnya ada urusan sebentar."
"Tidak apa-apa, yang penting kamu datang," ucap Mama Elvira ramah sambil menepuk bahu Ruben, lalu menatap putranya. "Alvin, ini Ruben anak Tante Lusi. Itu loh, teman arisan mama. Katanya Ruben ini juga pernah sekolah di SMA Pelita Harapan."
Alvin menelan saliva kasar. Meraba tengkuknya yang terasa meremang.
"Ya ampun, Mamanya Ruben teman arisan mama, toh? Bisa disembelih sama Mama kalau cecunguk ini sampai ngadu."
__ADS_1
****