Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Bonchap 07 - Pernikahan Eric


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Setelah naik turun gunung dan ditimpa badai kehidupan, akhirnya tadi pagi, tepat jam delapan lewat sepuluh menit, Eric resmi mengucapkan janji sucinya bersama Mila. Janji yang hanya ingin Eric ucapkan satu kali seumur hidup, terkhususnya untuk wanita yang paling ia cintai.


Semua hadirin yang menyaksikan ikut berbahagia. Terutama Mama Elvira yang tak hentinya menitikkan air mata sepanjang melihat Eric duduk di depan penghulu. Eric sampai harus mengulang ijab sebanyak 3 kali karena terus salah saat menyebutkan nama lengkap mempelai wanita.


Detik demi detik berlalu. Kini momen mendebarkan itu telah berganti pada acara puncak yang paling ditunggu-tunggu. Di tepi pantai yang indah, Eric dan Milla menggelar acara resepsi. Malam yang cerah itu seolah turut mendukung kebahagiaan keluarga besar mempelai pria dan wanita.


"Selamat ya, Bro. Nanti aku kasih paket bulan madu ke Paris untuk kalian." Alvin memeluk adiknya sambil menepuk punggung.


"Makasih. Tapi kalau ke Paris jangan, deh. Takut pulangnya amnesia." Eric terkekeh setelah mengucapkan kalimat tersebut.


"Dasar adek durhaka!" cibir Alvin, lantas melirik Mila. Sahabatnya itu sekarang menjelma menjadi adik iparnya. "Selamat ya, Mil. Jangan lupa malam ini si Eric di suntik formalin, biar kalian awet sampai tua."


Mila mengerucutkan bibir. Jika saja ini bukan hari bahagia, sepatu pasti sudah mendapat ke punggung Alvin.


"Yang suntikan formalin itu kamu, biar ingatannya awet," balas Eric.


Baru saja mulut Alvin akan terbuka untuk membalas candaan Eric, namun perhatiannya seketika terfokus kepada sosok tamu yang baru saja tiba. Sorot mata tajam langsung mengarah ke Om Jabrik yang kedatangannya langsung disambut oleh Mama Elvira.


"Itu kan om hidung belalang, ngapain dia ke sini." Alvin menatap tak senang.


Eric turut melihat ke arah yang sama. Jika Eric sudah memberi lampu hijau kepada si om untuk mendekati mamanya, maka berbeda dengan Alvin yang masih abu-abu. Separuh hatinya ingin mama juga mendapatkan kehidupan yang bahagia seperti dirinya dan Eric, namun sisi lain dari hatinya berkata tidak.


Sebagai anak, Alvin tak ingin kenangan pahit mamanya terulang kembali jika menjalin hubungan baru. Apa lagi sebagai duda keren dan banyak uang, si Om Jabrik pasti dikelilingi para wanita.


"Apa salahnya sih kalau dia ke sini, Vin?" tanya Eric.

__ADS_1


"Ya masalah buat aku! Dia pasti ke sini mau modusin mama."


"Vin, Om itu tamunya mama. Kita harus hargai itu. Kamu tidak lihat, mama kelihatan bahagia sama si om."


Alvin menarik napas dalam demi memenuhi kebutuhan oksigen dalam paru-parunya. Demi Eric dan Mama, kali ini ia akan berusaha untuk menekan ego.


"Dasar belalang kegatelan!"


Di sana, mama Elvira menunjukkan senyum terindah kala berbincang dengan Mas Agung. Tak lama berselang, keduanya berjalan mendekati panggung pelaminan untuk bergabung bersama Eric.


Eric, Mila dan Daniza menyambut baik saat pria paruh baya itu mengulurkan tangannya. Sementara Alvin memilih untuk diam.


"Selamat ya, Eric, Mila! Maaf Om tidak bisa memberi hadiah banyak-banyak untuk pernikahan kalian. Hanya sebatas kado sederhana. Hadiahnya ada di depan." Tangan lelaki itu itu menyerahkan sebuah kotak kecil yang terbuat dari kaca di sekelilingnya. Tak lupa pita kecil berwarna biru di bagian atasnya sebagai pemanis.


Eric mengulas senyum ramah. "Maaf, Om. Bukannya saya tidak mau terima. Tapi, hadiah ini terlalu mahal." Ia lantas menyerahkan kembali kotak tersebut.


"Wah, saya bisa kecewa kalau kamu menolak hadiah dari saya."


"Saya tidak biasa menggunakan barang mewah seperti ini, Om."


Melihat itu, Mama Elvira langsung menyela. "Maafkan Eric, Mas Agung. Dia Anaknya memang begini. Jangankan hadiah dari orang lain, hadiah dari saya saja sebagai mamanya sendiri saja sering ditolak."


Om Jabrik tampak membalas senyum. Ia mengusap bahu Eric. "Tapi kalo ini boleh lah hadiah dari saya diterima. Kebetulan ini limited edition dan cuma ada 7 unit di dunia. Saya akan senang kalau kamu mau terima."


Eric melirik istrinya. Mila tak banyak berkomentar terkait hal tersebut. Lebih tepatnya tidak peduli. Karena menikah dengan Eric adalah hal termahal di dunia baginya.

__ADS_1


"Ayo, Ric. Terima hadiah dari Om Agung," bujuk Mama Elvira.


Akhirnya, Eric meraih kotak kecil pemberian Om Agung. "Terima kasih, Om."


"Sama-sama, Eric. Om juga ada hadiah paket bulan madu ke Eropa. Nanti tiketnya akan dikirim ke rumah kalian. Oh ya, ada hadiah kecil juga untuk Alvin nanti."


Alvin hanya membalas dengan senyum seadanya.


"Mau nyogok pake mobil mewah ini," tuduh Alvin dalam hati.


"Sekali lagi terima kasih, Om," ucap Eric.


"Sama-sama, Eric. Semoga kamu selalu bahagia dan langgeng sampai maut memisahkan."


Setelah memberi ucapan selamat dan doa, pria paruh baya itu turun dari panggung bersama mama Elvira. Pandangan Alvin terus mengikuti ke mana om dan mamanya melangkah. Ia lantas melirik Eric yang masih memandangi hadiah kunci mobil dari si om.


"Cih! Mobil mewah begitu pajaknya mahal, Ric! Kursinya cuma dua, nanti anak kamu mau ditaruh di mana? Mendingan beli bis, bisa buat jalan-jalan sekeluarga," celetuk Alvin tiba-tiba.


Mendengar betapa julid suaminya, Daniza hanya menahan senyum. Memang agak susah untuk menaklukkan Alvin. Sepertinya Om Jabrik harus benar-benar membuktikan diri layak bersanding dengan Mama Elvira.


"Tidak apa-apa, Mas. Kapan lagi punya papa sultan?" bisik Daniza.


"Kalau begini namanya bukan papa sultan, tapi papa syaiton!"


...****...

__ADS_1


__ADS_2