Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Mau Apa Mama Ke Sini?


__ADS_3

Daniza dan Alvin masih menghabiskan waktu berduaan di tempat tidur untuk melepas kerinduan. Alvin mencumbui istrinya dengan lembut yang membuat Daniza seperti melayang ke angkasa. Memang, ia sangat merindukan suaminya itu. Terlebih, selama kehamilan, kadang ia diam-diam menangis di malam hari jika merasa merindukan suaminya.


"Boleh, kan?" tanya Alvin.


Dengan pipi bersemu merah, Daniza mengangguk malu.


Baru saja Alvin akan melanjutkan pelepasan kerinduan mereka ke tahap yang lebih intim, sudah terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar. Alvin merasa seperti terhempas ke Bumi.


"Siapa sih di luar sana? Ganggu orang lagi senang saja!" gerutu Alvin kesal. Ia menatap istrinya seperti sedang bertanya.


"Mungkin itu mama, Mas," bisik Daniza, sambil membenarkan pakaiannya yang sudah setengah terbuka karena ulah suaminya.


"Tapi ini 'kan jam tidur, Sayang! Mau apa mama di kamar kita malam-malam begini?" Alvin melirik ke arah jam yang sudah menunjuk di pukul 11 malam.


Tidak mungkin mama mau bertamu ke kamar di jam seperti ini, 'kan? Begitu pikir Alvin.


"Mungkin ada sesuatu yang penting. Aku buka aja ya, Mas." Daniza hendak beranjak dari tempat tidur, tetapi Alvin langsung mengurungnya dalam pelukan.


Tidak akan ia beri celah sedikit pun bagi siapa pun yang ingin mengganggu malam indahnya bersama Daniza. Ia lantas menarik selimut dan menyembunyikan kepalanya di samping perut sang istri.


"Nak, lihat deh! Mama kamu itu nyebelin. Nanti kalau kamu besar jangan seperti Mama, oke!" Alvin menggerutu sambil mengusap perut. Sesekali membenamkan ciuman di sana.


"Kamu ini bicara apa sih, Mas! Sama anak yang belum lahir sembarangan." Capitan kecil melayang di daun telinga Alvin. Daniza lantas membuka selimut. "Minggir dulu, aku mau buka pintu!"


Alvin menghela napas frustrasi. Ia menatap Daniza sambil bergumam-gumam sebal. "Bisa gagal masuk gorong-gorongnya kalau begini!"


"Lepas dulu makanya. Aku cuma mau lihat mama!"


"Nggak mau!" Alvin semakin merapatkan tubuh mereka, membuat Daniza kesulitan bergerak.


"Buka dulu sebentar, kasihan mama, Mas," bujuk Daniza. "Nanti aku kasih kamu jatah malam sepuasnya, deh."


"Benar, ya!" Alvin tersenyum penuh harap.


"Iya!"

__ADS_1


"Aku saja yang buka. Kamu diam di sini!"


Dengan sedikit terpaksa, laki-laki itu melepas pelukan. Alvin bangkit dari tempat tidur menuju pintu. Benar saja di depan sana ada Mama Elvira. Sorot mata tajam wanita itu langsung menerobos masuk hingga mengarah kepada Daniza yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Mama Elvira dengan nada sarkas. Kepalanya sudah melongok ke dalam.


"Yang seharusnya tanya seperti itu, aku Mah. Mama ngapain ketuk kamar kita malam-malam begini?" tanya Alvin.


"Tentu saja karena Mama khawatir!" Wanita paruh baya itu menjawab lebih sarkas. Namun, satu detik kemudian kakinya melangkah masuk, membuat Alvin membeliakkan mata sambil setengah terbatuk-batuk.


"Apa yang harus dikhawatirkan? Semuanya aman terkendali."


"Semuanya memang aman terkendali. Hanya kamu saja yang tidak terkendali di sini! Iya, kan?"


Bibir Alvin sudah mengerucut. Acara masuk gorong-gorong yang belum dimulai bisa berantakan karena kedatangan Mama. "Sebudiman ini dibilang tidak terkendali. Tenang, anak mama ini sudah jinak!"


"Kamu mana bisa dipercaya! Mama ke sini untuk memastikan Daniza tidak disakiti lagi sama kamu!" Mama melirik Daniza yang hanya terdiam di tempat. "Ayo, Daniz. Malam ini kamu tidur sama mama saja."


"Hah? Kok gitu, Mah?" lirih Alvin seolah tak terima.


Daniza refleks mengatupkan bibir rapat. Hanya bola matanya yang memindai mama dan suaminya secara bergantian. Pasangan ibu dan anak itu memang cukup unik. Selalu saja ada hal yang menjadi bahan perdebatan dan terkesan lucu.


"Baru juga mau diapa-apain mama sudah datang tiba-tiba," gerutu Alvin dari balik punggung mama, sambil melayangkan tatapan memelas ke arah Daniza.


Daniza yang mengerti maksud isyarat suaminya lantas membuka suara. "Tapi Mas Alvin sudah sadar, Mah! Dia sudah mulai ingat sama aku."


"Mana bisa dia dipercaya begitu saja? Anak di bawah umur seperti dia ini banyak akal. Jangan-jangan dia lagi modusin kamu."


Daniza mengatupkan bibir agar tak menyemburkan tawa. Apa lagi setelah melihat suaminya cemberut.


"Tapi Mah—" protes Alvin.


"Jangan membantah! Anggap ini hukuman untuk kamu karena pernah menyakiti Daniza." Ucapan Mama Elvira sontak membuat Alvin terdiam.


"Ya udah, aku mau hilang ingatan lagi aja," celetuk Alvin.

__ADS_1


"Berani amnesia lagi, mama coret nama kamu dari kartu keluarga!" ancam sang mama.


Daniza bangkit dari duduknya. Tetapi, Alvin langsung menggenggam tangannya. "Biar Daniza aja yang pilih. Malam ini mau tidur sama aku atau sama mama." Alvin melirik Daniza dengan tatapan mengancam. "Aku ini suami kamu loh, Daniz!"


Daniza kembali menatap Mama Elvira dan Alvin secara bergantian. Posisinya sekarang bagaikan tambang yang kerap dipakai dalam lomba Agustusan. Tangan satunya dipegang mama Elvira, dan satu lagi ditarik oleh Alvin.


"Ingat pesan Mama Daniz! Waspada ... pelaku kejahatan itu ada di mana-mana!"


"Mama pikir aku Bang Napi?" Alvin menyambar kesal. Mulutnya cemberut seperti ikan cucut.


"Kamu itu sudah sering nyakitin Daniza, Vin! Bagaimana Mama bisa membiarkan Daniza tidur dengan orang seperti kamu. Apalagi dia sedang hamil! Mama tidak mau bakal cucu mama makan hati sama kelakuan bapaknya!"


Wajah Alvin semakin tertekuk. Sekarang otaknya sedang berusaha menemukan cara mempertahankan Daniza agar tidak direbut mama.


"Mama tahu Malika nggak?" tanya Alvin. "Malika aja yang anak angkat dibesarkan dengan sepenuh hati seperti anak sendiri walaupun di kebon. Masa aku yang anak kandung disiksa lahir batin seperti ini!"


Kedua alis sulam mama Elvira saling bertaut. "Kamu lagi iklan kecap, Vin?"


"Terserah! Kalau begitu aku mau jadi keledai aja, biar dibesarkan dengan sepenuh hati!"


"Kedelai, Vin! Bukan keledai!"


Tawa Mama Elvira refleks meledak saat itu juga. Sebenarnya, malam ini ia sengaja mendatangi Alvin demi memastikan bahwa putranya itu memang sudah mengingat segala yang terlupa.


"Ya udah kalau begitu. Malam ini mama percayakan Daniza sama kamu. Sekarang mama balik ke kamar aja."


Alvin mengusap dada sambil bernapas lega.


Sebelum keluar dari kamar, Mama menarik tangan Alvin hingga ke ambang pintu kamar.


"Jangan sampai kamu buat Daniza kelelahan! Ingat, usia kandungannya masih rawan!" bisik Mama Elvira.


"Iya, Mah."


Mama Elvira mengulas senyum, lalu menoleh kepada Daniza. "Nak, kalau sampai keledai ini menyakiti kamu, teriak aja panggil mama, ya!"

__ADS_1


"Kedelai, Mah! Bukan keledai!"


...*****...


__ADS_2