
Daniza menjatuhkan tubuhnya yang lemas pada kursi. Hatinya kembali dipenuhi perasaan gundah, sebab yang datang tadi ternyata adalah karyawan laundry hotel yang membawakan pakaian, bukan Alvin seperti yang ia harapkan.
"Sebenarnya kamu di mana, Mas?"
Wanita itu menatap jam di dinding sambil menghitung detik demi detik yang berlalu. Berharap Alvin akan segera datang. Ingin keluar mencari pun ia ragu, sebab tidak begitu memahami bahasa umum yang digunakan di kota itu. Selain itu, Daniza tidak mengenal siapapun di Paris.
Daniza hanya terus memantau ponsel dan berharap setidaknya ada kabar dari Alvin.
Tetapi, hingga pagi bergerak menuju siang, bahkan jadwal pesawat sudah terlewatkan tetapi Alvin tak juga kembali. Daniza pun sudah menghubungi Mama Elvira dan Eric untuk memberitahu tentang hal ini. Keduanya ikut khawatir, sebab tidak biasanya Alvin pergi dan tidak kembali dalam waktu yang cukup lama.
Tak lama berselang, suara bel terdengar untuk kedua kalinya, membuat Daniza berlari menuju pintu.
Wanita itu harus terkejut dan bertanya-tanya, di ambang pintu ada tiga anggota kepolisian. Entah membawa kabar apa.
*
*
*
Jeritan Daniza menggema di langit Kota Paris siang itu. Hampir saja tubuhnya terhuyung ke belakang saat melihat mobil yang semalam digunakan Alvin baru saja terangkat dari dasar sungai oleh sebuah mobil derek.
Sedangkan tubuh Alvin ditemukan warga di tepi sungai dalam keadaan tak sadarkan diri. Beberapa petugas medis tampak sedang memasang alat pernapasan darurat. Suasana sekitar pun mulai ramai dan kepanikan menyelimuti.
Pemandangan memilukan yang tersaji di depan mata membuat Daniza seperti kehilangan akal sehat. Ia berlari cepat ke arah kerumunan dengan histeris.
__ADS_1
"Mas Alvin!"
Beberapa pria langsung menghalangi dan menjelaskan agar ia memberi ruang kepada petugas kesehatan untuk melakukan pertolongan pertama kepada korban.
"Tolong, tenanglah, Nona. Biarkan petugas melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya."
Daniza terdiam. Ia hanya dapat menangisi suaminya dari jarak aman. Hingga akhirnya Alvin diangkut menuju ambulan yang sudah tersedia. Baru lah ia diizinkan untuk ikut naik ke ambulan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tangisan Daniza mengiringi. Hatinya serasa diremas kuat melihat tubuh suaminya yang basah dan pucat, berikut beberapa luka yang terlihat di tubuhnya.
"Bangun, Mas, jangan pergi. Kamu sudah janji tidak akan meninggalkan aku, kan?" bisik wanita itu. Namun, setelah berkali-kali memanggil tak ada respon sedikit pun dari Alvin. Ia diam tak bergerak.
Setibanya di rumah sakit, Alvin langsung mendapat penanganan dari beberapa dokter ahli. Daniza duduk dengan hati berkecamuk di ruang tunggu. Entah mengapa ia seolah kehilangan seluruh tenaga. Untuk sekedar menangis pun ia seakan tak sanggup. Ketakutan seperti melumpuhkan seluruh syarafnya.
Tak lama berselang, ponsel berdering. Daniza melirik layar ponsel di mana tertera nama Eric. Sekitar satu jam lalu, Daniza sempat menghubungi Mama Elvira untuk memberitahukan tentang kecelakaan yang terjadi kepada Alvin. Mama Elvira pun sempat syok. Beruntung ada Eric yang terus menemaninya.
"Bagaimana Alvin?" Suara Eric terdengar lirih. Daniza yakin saat ini Eric sedang menahan untuk tidak menangis.
"Masih ditangani dokter. Kak Eric sama mama cepat datang, ya. Aku takut di sini."
"Iya, Daniz. Tapi kamu harus tetap tenang dan jangan panik. Aku sudah hubungi teman yang tinggal di Paris. Danny akan ke sana menemani kamu untuk sementara. Besok aku sama Tante Elvira juga akan berangkat ke sana."
Daniza tak menjawab. Lidahnya terasa kaku. Namun, ia masih dapat mencerna dengan baik setiap perkataan Eric.
"Halo, Daniz? Kamu mengerti, kan?"
__ADS_1
"Iya, Kak."
Panggilan terputus setelah Eric berusaha menenangkan Daniza.
Wanita itu beranjak menuju sebuah jendela kaca. Dari sana ia dapat melihat aktivitas yang terjadi di dalam ruangan. Namun, tak dapat melihat Alvin karena terhalang oleh tirai pembatas.
*
*
*
Daniza baru saja mendapat penjelasan dari tim dokter tentang langkah penanganan selanjutnya, mengingat kondisi Alvin cukup mengkhawatirkan.
Beruntung teman lama Eric dan Alvin, yaitu Danny, yang menetap di Paris menyempatkan diri untuk datang dan menemani Daniza. Sehingga Daniza merasa sangat terbantu dalam berkomunikasi dengan dokter.
Setelah mengurus administrasi rumah sakit, Danny pamit sebentar untuk menyelesaikan sesuatu. Daniza pun memilih masuk ke dalam ruangan di mana suaminya terbaring tak sadarkan diri.
Melihat tubuh Alvin yang terluka di beberapa bagian membuat Daniza merasa seperti ikut tersayat. Belum pernah sebelumnya ia melihat Alvin tak berdaya seperti sekarang.
"Kamu bisa dengar aku, kan? Kamu pernah bilang tidak akan meninggalkan aku. Aku mau menagih janji itu," bisik Daniza ke telinga Alvin. "Kamu akan bertahan, kan?"
Daniza mencium punggung tangan suaminya. Kemudian mengguncangkan lengan pelan sekali.
"Bangun, Mas. Aku harus bilang apa sama mama dan Kak Eric nanti? Mereka akan marah sama aku karena membiarkan kamu pergi sendirian."
__ADS_1
Isak tangis kembali memenuhi ruangan itu.
...****...