Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Rahasia Besar Terbongkar!


__ADS_3

"Bungsu di keluarga Alamjaya?" Bola mata Mami Linda melebar. Jantungnya berdetak tak karuan. Jangan lupakan wajahnya yang kini sudah pucat bak mayat hidup. Dalam hatinya bertanya, apakah dirinya baru saja melakukan kesalahan besar dengan menghina Eric. "Maksudnya apa ya, Jeng?" 


Semua orang masih terdiam di tempat. Eric yang sebenarnya tidak ingin identitasnya terbongkar mencoba meredakan amarah Mama Elvira sekali lagi.


"Sudah, Tante. Tidak usah dibahas. Kita pulang saja. Ayo, aku antar." 


Namun, lembutnya bujukan Eric sama sekali tak ditanggapi oleh Mama Elvira. Tidak akan ia beri ampun bagi siapapun yang berani menghina anaknya. Wanita itu menarik napas dalam-dalam. Butuh keberanian besar baginya untuk melanggar sebuah janji yang pernah ia berikan kepada Eric, untuk merahasiakan jati diri Eric yang sebenarnya. "Eric adalah anak dari pernikahan ke dua suami saya. Selama ini kami tidak mengumumkan karena permintaan Eric sendiri," ucap Mama Elvira.


Mila tertegun. Tatapan penuh tanya ia arahkan kepada Eric. Sedangkan Mami Linda sudah tak dapat berkata apapun lagi. Tubuhnya mungkin sudah terhuyung ke belakang jika tidak berpegang pada meja. Malu! Mungkin hanya kata itu yang tepat untuknya sekarang. 


"Apa artinya Eric adalah saudaranya Alvin? Tapi bagaimana bisa?" Mila bergumam dalam hati. Air matanya terus meleleh membanjiri wajah cantiknya. Selama ini ia merasa sangat dekat dengan Eric dan Alvin. Tetapi, bahkan ia tak tahu hal sepenting ini.


Bukan hanya Mila yang terkejut. Mami Linda pun sama halnya. Sekarang wanita itu sedang menatap Eric dan Mama Elvira dengan raut wajah penuh sesal sekaligus bingung. "Maafkan saya, Jeng Elvira! Saya benar-benar—" 


"Tidak usah minta maaf segala!"potong Mama Elvira cepat. "Sekarang saya sudah bisa menilai seperti apa keluarga kamu!" Mama Elvira menatap Eric. Ia dapat melihat kesedihan yang coba ditutupi Eric dengan sikap tenang. "Ayo, Nak. Kita pulang! Kamu layak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan tentunya yang berasal dari keluarga beradab." 


"Eric, tolong jangan pergi!" Mila menyela dengan cepat. Rasa bersalah dan malu semakin terasa kuat memeluk hatinya. Wanita cantik nan memesona itu hendak melangkah, namun tatapan tak bersahabat dari Mama Elvira membuatnya mematung di tempat. 


Baru saja Eric dan Mama Elvira akan beranjak meninggalkan tempat itu, langkah keduanya mendadak terhenti. Alvin berdiri di sudut bersama Daniza dengan wajah tegang. Khawatir yang berlebih kepada Mama dan Eric membuatnya segera menyusul.


"Alvin?"


Mama Elvira tersentak. Sama sekali tak pernah terpikir olehnya bahwa Alvin dan Daniza akan menyusul ke sana. Bahkan kini putranya itu sedang melayangkan tatapan mengintimidasi. Tetapi, Mama Elvira tetap berusaha bersikap tenang. Ia tidak ingin Eric lebih malu lagi jika ternyata Alvin menolak kenyataan bahwa Eric adalah adik satu ayah dengannya. 


"Alvin, Eric, kita bicarakan semua ini di rumah saja, ya," ajak sang mama, berusaha tetap bersikap tenang.

__ADS_1


Sepasang mata Alvin berkaca-kaca. Amarah dan kecewa terlihat jelas dalam tatapannya. Kejutan tak menyenangkan yang didapatinya hari ini seakan mampu melumpuhkan akal sehatnya.


"Ayo, Sayang. Kita pergi dari sini!" Tanpa permisi, ia merangkul Daniza meninggalkan tempat itu. Mama Elvira dan Eric pun segera menyusul langkah kaki Alvin yang cepat. Sebelum laki-laki itu naik ke mobil, Mama Elvira sudah menarik lengannya. 


"Tunggu, Vin! Biar mama jelaskan dulu semuanya biar kamu tidak salah paham!" 


"Penjelasan apa lagi, Mah?" pekik Alvin. "Penjelasan kalau selama ini Mama dan Eric membohongiku?" Alvin berbicara dengan rahang mengetat. Berusaha untuk tak membentak mamanya.


"Bukan begitu, Nak! Makanya dengar mama dulu! Eric itu ...."


"Aku tidak mau dengar apapun penjelasan Mama atau pun dia!" teriak Alvin. Bola matanya menyala memancarkan kemarahan. 


Mama Elvira pun terhenyak dibuatnya. Ini adalah pertama kali Alvin tega membentaknya, entah dalam keadaan sadar atau pun tidak.


Sedangkan Daniza yang berdiri di sisi Alvin terus berusaha untuk menenangkan suaminya. "Sabar, Mas! Aku yakin mama dan Kak Eric punya penjelasan untuk semua ini."


Tinggallah Mama Elvira dan Eric mematung di tempat sambil menatap mobil yang perlahan semakin menjauh. 


Dari arah taman, terlihat Mila setengah berlari. "Maafkan saya, Tante. Mami saya memang salah. Tapi saya benar-benar mencintai Eric dengan tulus. Saya tidak peduli siapa pun Eric," lirih Mila. Tetapi, wanita itu harus menelan pahitnya rasa kecewa, karena Eric tak menatapnya sedikit pun.


"Mila, untuk sementara sebaiknya kamu merenung baik-baik. Eric juga butuh waktu untuk memikirkan semuanya," balas Mama Elvira. "Saya tidak mungkin membiarkan Eric masuk ke sebuah keluarga yang memandang orang lain hanya dari status sosial." 


"Tapi, Tantee—" 


"Sudahlah." Mama Elvira menjeda ucapannya dengan hela napas. Ia lantas menarik lengan Eric. "Ayo, Nak! Kita pulang!"  

__ADS_1


*


*



Setelah kepergian Alvin dalam keadaan marah dari rumah keluarga Mila, Mama Elvira memutuskan membawa Eric ke apartemen.


Jika Alvin dan Eric dipertemukan sekarang dalam keadaan emosi tidak stabil, mungkin akan terjadi salah paham yang lebih buruk, sehingga Mama Elvira memilih menenangkan Eric terlebih dahulu. Dan menyerahkan urusan Alvin kepada Daniza untuk saat ini. Ia sadar dan paham betapa hancur perasaan kedua putranya itu saat ini. 


Sekarang Eric sudah duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Tatapannya kosong nyaris tanpa ekspresi. Mama Elvira duduk di sisinya dan mengusap bahu lembut. 


"Maafkan aku, Tante." Eric membuka suara. "Aku sudah banyak membuat Tante susah. Mulai sejak kepergian mama papa. Dan sampai sekarang, aku masih menjadi beban untuk Tante. Papa selingkuh dengan mamaku membuat Tante sakit hati."


Mama Elvira menyeka air mata. Ucapan Eric layaknya sembilu menggores luka. "Kata siapa kalau kamu adalah beban mama? Sama sekali tidak."


"Tapi Alvin pasti akan membenci aku setelah tahu semua ini." Suara Eric terdengar gemetar. Bola matanya dipenuhi cairan bening. Menjambak rambutnya sendiri, rasa frustrasi seolah membekukan otaknya.


"Itu tidak akan terjadi. Alvin akan menerima kamu sebagai saudaranya. Kalian sudah bersama selama bertahun-tahun dan Alvin tidak mungkin membenci kamu!" 


"Itu karena Alvin belum tahu siapa aku! Setelah ini, dia pasti akan membenci," lirih Eric. "Lagi pula siapa yang mau punya saudara hasil dari perselingkuhan papanya, Tante? Aku adalah hasil kesalahan terbesar papa!" 


Tak tahan, Mama Elvira mendekap Eric. Keduanya larut dalam tangisan. Luka lama yang sebenarnya ingin mereka dikubur dalam-dalam itu kembali muncul ke permukaan. Menciptakan rasa sakit yang teramat.


Eric mungkin terlihat kuat dari luar, tetapi menyimpan luka sedalam samudra. 

__ADS_1


***


__ADS_2