Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Terakhir Kalinya ....


__ADS_3

"Maafkan aku, Mama. Jangan pergi! Biarkan aku menebus semua kesalahanku. Aku tidak pernah menuruti keinginan Mama untuk memanggil mama. Tolong bangun, Mah. Aku janji kalau Mama bangun aku akan pulang ke rumah," lirih laki-laki itu panjang lebar.


Eric masih larut dalam tangis saat tiba-tiba merasakan capitan keras di telinga. Sontak saja laki-laki itu mengaduh sambil berusaha melepas tangan lembut, yang tengah asyik menyiksa telinganya.


"Aduh, aduh ... ampun ampun!"


Sepasang mata Eric yang masih basah membulat penuh melihat Mama Elvira telah membuka mata. Wanita paruh baya itu bahkan sudah merubah posisi yang semula berbaring menjadi duduk di pembaringan pasien. Satu tangannya masih mencapit telinga Eric, sementara sebelah tangannya melepas alat bantu pernapasan yang sedari tadi membuatnya tak nyaman. 


"Bandel kamu, ya! Main kabur-kaburan sampai lupa pulang!" ucap Mama Elvira.


Untuk beberapa saat Eric merasa seperti ada di dunia mimpi. Tetapi rasa kebas dari capitan mama membuatnya meyakini bahwa ia tidak sedang bermimpi. 


"Ma-Mama?" Eric belum mampu mengerjapkan mata karena terkejutnya. Hatinya seperti melayang ke udara. "Mama sudah bangun?" ucapnya terbata. 


"Memang sejak kapan mama tidur?" 


Sekali lagi, Eric meneliti tubuh dan wajah Mama Elvira. Wanita itu tampak sangat pucat, tetapi justru berbanding terbalik dengan tenaganya yang ada di level full power. 


Eric sedang menduga-duga dalam hati dan membentuk kesimpulan sendiri dalam benaknya. Apakah semua ini hanya sandiwara untuk membawanya pulang?


Dalam hitungan detik, bola matanya kembali berkaca-kaca. 


"Maafkan aku, Mah ... maafkan aku!" Ia langsung memeluk sang mama. Sesak yang tadi menghimpit dadanya terasa mulai menghilang. Lega, setelah meyakini Mama Elvira ternyata dalam keadaan baik-baik saja. "Aku tidak akan pergi lagi. Tapi Mama jangan sakit lagi, ya." 


Mama Elvira mengusap punggung putranya itu. Sesekali mengusap puncak kepala. "Kalau kamu berani kabur lagi, bukan cuma sapu dan sandal yang akan flying to the sky. Ember tetangga juga akan mama terbangkan ke kepala kamu." 


"Iya, Mah. Apapun itu yang penting Mama jangan sakit!" 


Keduanya saling memeluk. Dalam hitungan detik, pintu ruangan itu terbuka. Alvin, Daniza dan Mila menyusul masuk setelah tadi mendengar suara Eric mengaduh.


Jika Alvin terlihat sangat terkejut, berbeda hal nya dengan Daniza yang tampak sangat tenang. 

__ADS_1


"Loh, Mama sudah bangun?" Ada kerutan dalam di dahi Alvin. Ia meneliti mama dari ujung kaki ke ujung kepala.


Seingatnya, saat pergi tadi mama dalam keadaan sangat lemah dan terus mengigau. Tetapi, kini mamanya itu malah duduk santai seolah tidak dalam keadaan sakit. Tatapan penuh tanya pun diarahkan Alvin kepada istrinya. Daniza hanya terkekeh dengan jemari menutup mulut.


"Sebenarnya ada apa ini? Kalian lagi sandiwara, ya?" 


Daniza menatap suaminya. "Maaf, Mas. Kalau tidak begini, kamu tidak akan mau pergi menyusul Kak Eric keluar kota." 


Alvin hampir tidak percaya mendengar ucapan Daniza. Bagaimana mungkin mereka bisa se-totalitas itu dalam bersandiwara. Bahkan Mila pun ikut terlibat dalam drama pura-pura sakit ini. 


"Bagaimana dengan mama yang tadi pingsan? Itu juga bohongan?"


Daniza mengangguk dengan malu-malu. "Sebenarnya mama memang sempat pingsan, Mas. Tapi sudah baikan setelah aku kasih obat dari Kak Mila. Terus mama menyusun rencana ini."


Alvin hampir tak percaya mendengar ucapan Daniza. "Jadi yang mengigau itu juga ...."


Ia kehilangan kata-kata. Untung saja dirinya memiliki jantung buatan Tuhan. Jika buatan manusia, sudah pasti akan meledak karena terkejutnya. 


Seluruh kekhawatiran Alvin lenyap saat itu juga. Kemudian mendekat dan memeluk mamanya. Meskipun sedikit kesal, namun ada rasa syukur dan bahagia yang teramat besar. Setidaknya, mama ternyata dalam keadaan baik-baik saja dan Eric sudah kembali bersama mereka.


"Terima kasih, Vin. Kamu sudah bawa pulang anak keras kepala ini," lirih mama sambil memeluk kedua putranya. 


Alvin turut memeluk mama dan Eric. "Sama-sama, Mah. Tapi cara Mama ini terlalu ekstrim, dan aku yakin drama seperti ini hanya terjadi di dunia novel." 


Di balik punggung Mama, Eric melirik Alvin. "Alaaah, ngatain cara mama ekstrim tapi sendirinya jemput orang juga pakai cara yang lebih ekstrim!"


"Ekstrim bagaimana?" Perkataan Eric sontak membuat mama Elvira melepas pelukan. Kemudian menatap wajah Eric penuh teliti. Bola matanya seketika membulat penuh setelah menyadari wajah Eric tampak lebam di beberapa bagian. "Ini kenapa wajah kamu lebam-lebam begini, Nak? Kamu habis dipukuli siapa?" 


"Ini dipukuli sama A ...."


Melihat adanya sinyal bahaya, Alvin bereaksi cepat dengan menginjak kaki Eric sekuat tenaga, lalu memasang wajah paling polos di dunia. Bisa-bisa jurus andalan mama berdendang di ruangan itu jika perbuatannya tadi sampai ketahuan. 

__ADS_1


Eric dapat membaca sinyal ancaman mematikan dari tatapan kakaknya itu.


"Ini ... tadi jatuh di bandara, Mah," ucapnya, Kemudian membalas menginjak kaki Alvin sekuat tenaga. 


"Jatuh di bandara? Bagaimana bisa?" Mama membelai bagian wajah Eric yang tampak membiru. 


"Habis kakinya punya mata tapi nggak bisa melihat," kelakar Eric.


"Aku rasa kamu terlalu memikirkan Mila, jadi tersandung." Ucapan Alvin menciptakan semburat merah di pipi Mila. Wanita itu langsung menunduk dengan malu-malu.


"Sembarangan! Aku jatuh bukan karena terlalu memikirkan Mila," protes Eric.  


"Jangan percaya, Mah! Anak Mama satu ini suka lain di mulut lain di hati. Mungkin dia perlu duduk di kursi anti bohong. Buktinya waktu itu dia mengikuti Mila ke ...." Ucapan Alvin menggantung di udara karena lebih dulu dibungkam Eric dengan telapak tangan. Jika tidak kasihan, ia pasti sudah membocorkan perbuatan Alvin yang memukulinya kepada Mama Elvira.


"Mama jangan mudah terhasut! Anak Mama yang budiman sejagat Bima Sakti ini kan kriminal!"


"Suka ikat orang di gorong-gorong!" tambahnya dengan gerakan mulut tanpa suara.


Mama Elvira hanya menatap kedua putranya secara bergantian sambil menggelengkan kepala. Kedua anak ini memang kerap berdebat jika sudah bertemu.


Di belakang sana Daniza dan Mila sudah tertawa pelan mendengar perdebatan itu. 


"Sekarang mama jadi yakin kalian berdua memang sedarah. Sama-sama kriminal!" ucap wanita itu. "Sudah, ah, mama mau pulang. Capek tiduran di sini dari siang!"


Dengan gerakan santai, Mama Elvira melepas infus di pergelangan tangan kanan dan membenarkan rambut. Kemudian turun dari tempat tidur dan merapikan pakaiannya di depan cermin. 


Alvin dan Eric saling melirik dengan mulut ternganga dan ekspresi heran. Keduanya langsung meraih infus yang tadi digunakan mama. Semakin heran, sebab ternyata infus tersebut tak menggunakan jarum. 


"Ya ampun, macam lagi main sinetron-sinetronan deh," ucap Alvin dan Eric bersamaan.


...**** ...

__ADS_1


__ADS_2