Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Terpaku!


__ADS_3

Daniza terduduk di tepi ranjang setelah berbicara empat mata dengan Alvin. Tubuhnya terasa lemas. Kedua tangannya meraba perut yang rata. Ia teringat ucapan Alvin tadi, bahwa seseorang berusaha mencelakai dirinya, atau mungkin tidak ingin Daniza melahirkan bayinya, sehingga menghalalkan segala cara.


"Apa Mas Revan? Dia sejak awal memang memintaku menggugurkannya. Atau Alina? Hanya mereka yang memiliki kemungkinan." Daniza menimbang dalam hati.


Tak terasa, sepasang matanya melelahkan cairan bening. Ucapan Alvin tadi masih segar dalam ingatannya. Ya, benar. Daniza harus menghukum orang-orang jahat itu. Mengakhiri hidup hanya akan mempermudah jalan mereka.


Daniza mengusap air mata yang mengaliri pipi. Di antara kepingan rasa sakit itu, ada kepingan rasa yang sulit dipahami. Alvin menyatakan cintanya. Padahal selama ini dalam pandangan Daniza, Alvin adalah lelaki yang buruk.


Entahlah, Daniza tidak tahu.


*


*


*


Mobil yang dikemudikan Revan memasuki halaman rumah sakit. Begitu laju mobil terhenti, pria itu memasang kacamata hitam demi menyamarkan wajahnya. Kemudian melirik ke arah pintu utama rumah sakit.


Revan kembali membuka kacamata hitamnya. Kemudian mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Dua pria bertubuh besar yang biasanya berjaga di ambang pintu tak terlihat lagi. Padahal beberapa hari belakangan ini para bodyguard Alvin itu yang menjadi sambutan pertama saat tiba di rumah sakit.


"Apa Daniza sudah keluar dari rumah sakit?"


Revan ingin memastikan sendiri. Karenanya ia segera turun dari mobil menuju ruang informasi.


"Permisi. Saya mau menanyakan pasien atas nama Daniza Amaria. Apa masih dirawat di rumah sakit ini?"


Petugas di ruang informasi itu lantas memeriksa data pasien. Kemudian menatap pria di hadapannya dengan ramah. "Pasien atas nama Daniza Amaria sudah keluar sejak kemarin, Pak."


"Sudah pulang?" gumamnya pelan. "Baik, terima kasih."


Setelah mendapatkan informasi tentang Daniza, Revan kembali ke mobil. Tanpa mengulur waktu, Revan melajukan mobil menuju rumah kontrakan Daniza. Namun, sesampainya di sana, yang ia temukan hanya kesunyian.


Rumah Daniza kosong tak berpenghuni. Hingga seorang tetangga menghampiri dirinya.


"Bu, Daniza ke mana, ya?" tanya Revan. Ia masih ingat wanita yang ia tanyai itu adalah wanita yang sama yang beberapa hari lalu memberinya informasi tentang Daniza yang dilarikan ke rumah sakit.


"Oh, Daniza ... sejak dilarikan ke rumah sakit, Daniza belum kembali lagi, Pak," jawab sang tetangga. "Beberapa hari lalu memang ada perempuan yang datang. Mengaku orang suruhan Daniza untuk mengambil beberapa barang di rumah."


Revan berpikir beberapa saat. Setahunya, Daniza tidak memiliki keluarga lain ataupun teman selain Alina dan ibunya Alina yang tinggal di luar kota.


Sekarang Revan yakin, bahwa Alvin lah yang telah membawa pergi Daniza.

__ADS_1


"Kurang ajar! Apa jangan-jangan Daniza sekarang tinggal dengan laki-laki itu?" gerutu Revan geram.


Revan mulai menebak dalam hati, bahwa Alvin telah membawa Daniza pergi. Sekarang tugasnya adalah mencari keberadaan Alvin.


Sambil melajukan mobil, laki-laki itu berpikir sepanjang jalan. Entah mengapa hatinya seakan tak rela jika Daniza sampai jatuh ke tangan pria lain. Terlebih, secara hukum, Daniza masih istrinya dan Revan tidak akan rela jika Daniza direbut laki-laki lain.


*


*


*


Setelah berminggu-minggu menyembunyikan Daniza, akhirnya Alvin dapat bernapas lega. Semakin hari kondisi Daniza semakin membaik. Menurut saran dokter, Daniza harus menjalani psikoterapi. Dan terbukti Daniza sembuh secara perlahan.


Hari ini Alvin berniat membawa Daniza ke sebuah salon ternama. Sepanjang jalan tidak ada pembicaraan antara Alvin dan Daniza. Alvin memilih fokus mengemudi sementara Daniza memandangi jalan-jalan yang dilewati.


“Ayo turun!” ajak Alvin.


Daniza memandangi bangunan besar di hadapannya. Sebuah salon ternama dan terbesar di kota ini. Daniza ingat, dulu Alina kerap mendatangi salon itu.


“Kita mau apa ke sini?” tanya Daniza, yang memang belum diberitahu oleh Alvin untuk apa ke salon tersebut.


Alvin turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Daniza. Begitu memasuki salon, tiga orang wanita sudah menyambut dengan ramah.


"Selamat siang, Tuan Alvin dan Nona Daniza," ucap mereka ramah.


Daniza sedikit terkejut dan bertanya-tanya bagaimana karyawan salon mengetahui namanya. Ah, mungkin Alvin sudah membuat janji lebih dulu. Begitu pikir Daniza.


Tiga karyawan salon itu langsung melayani Daniza bak seorang ratu. Sementara Alvin memilih duduk di sofa ruang tunggu sambil memainkan ponselnya. Seingatnya, menunggu wanita di salon itu seperti mimpi buruk bagi para lelaki. Sebab dulu Alvin kerap mengalaminya.


Bukan dengan kekasih, tetapi dengan Mama Elvira. Ya ampun, mamanya itu jika ke salon pasti menghabiskan waktu yang sangat lama. Terkadang Alvin sampai ketiduran di salon demi menunggu mamanya.


Satu jam


Dua jam


Tiga jam


Empat jam berlalu.


Alvin melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Kok beda ya? Nunggu mama di salon kayak nunggu kiamat. Tapi kalau Daniza kok beda?" Alvin terkekeh sendiri dengan gumamannya barusan.


Bahkan waktu lima jam terasa seperti lima menit baginya. Hingga akhirnya, pintu sebuah ruangan terbuka disusul dengan kemunculan tiga wanita.


Lalu, beberapa detik kemudian, seorang wanita anggun memesona keluar dari ruangan itu. Alvin terpana saat melihat penampilan baru Daniza. Benar tebakannya selama ini, bahwa Daniza memiliki kecantikan tersembunyi yang tidak diketahui orang lain.


"Daniza?" Suara Alvin terdengar terbata.


Daniza menundukkan pandangan. Ia yakin wajahnya pasti sangat merah jika saja tidak tertutupi oleh make up. Ini adalah pertama kali ia berdandan dan berpakaian seperti ini.


“Tuan Alvin, bagaimana penampilannya?” 


Alvin tersadar dari lamunan. Pandangannya menyisiri Daniza dari ujung kaki ke ujung kepala. Dress selutut berwarna lembut itu membuat penampilannya tampak elegan. 


Dia cantik sekali kalau menggunakan pakaian yang bagus.


“Bagaimana, Tuan?” Sang karyawati salon mengulang pertanyaannya ketika Alvin tak kunjung menjawab. 


"Cantik!" pujinya dalam hati.


*


*


*


Alvin terduduk di sofa ruang tamu. Jantungnya masih berdebat cepat setelah melihat tampilan baru Daniza. Bahkan sejak tadi ia kehilangan kata-kata.


"Langkah pertama berjalan dengan baik," gumamnya pelan.


Namun, di antara perasaan bahagia itu, ada kepingan rasa yang memenuhi hatinya. Dan ini lebih mendebarkan dibanding menyatakan cinta kepada Daniza. Tentu saja tentang bagaimana memberi penjelasan kepada Mama Elvira.


Alvin masih menyusun skenario pembujukan untuk mamanya ketika bel berbunyi. Alvin seketika bangkit dari duduknya. Mungkin itu adalah salah satu anak buahnya, yang tadi ia perintahkan untuk membeli sesuatu.


Begitu membuka pintu, sepasang mata Alvin membulat penuh. Jantungnya berdetak sangat cepat seperti hendak keluar dari tempatnya.


"Apa kabar anak mama yang budiman seantero galaksi Bimasakti?" sapa sang mama dengan senyum manis.


Juga dengan sebuah gagang sapu yang terlihat di belakang punggungnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2