Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Jangan Berani Pergi Dariku!


__ADS_3

Alvin merangkul Daniza meninggalkan taman rumahnya yang luas nan indah. Begitu tiba di parkiran, ia menarik wanita itu ke dalam pelukan. Alvin dapat merasakan tubuh Daniza yang masih gemetar. Sepertinya sangat ketakutan dan malu atas kejadian di taman barusan. 


"Aku minta maaf. Jangan dengar apa kata Tante Keshia," bisik Alvin lembut. 


Daniza terdiam. Lidahnya terasa kaku untuk sekedar mengucapkan sebuah kata. Membuat Alvin mendekap wanita itu semakin dalam.


Butuh beberapa menit bagi Daniza untuk menetralkan perasaannya. Terlebih, sebagian orang yang ada di pesta memandang remeh dirinya.


"Aku mau pergi dari sini, Kak!" lirihnya. Sepasang mata indah itu kini tergenang cairan bening.


Alvin semakin disergap rasa bersalah. Niat mengenalkan wanita pilihannya kepada keluarga besar malah membuat Daniza dipermalukan di depan seluruh keluarga dan teman-teman mamanya. "Ya sudah. Ayo, aku antar pulang." 


"Kak Alvin di sini saja, acaranya 'kan belum selesai. Aku bisa pulang sendiri naik taksi." Daniza sama sekali tidak ingin mengacaukan pesta ulang tahun Mama Elvira dengan kepergian Alvin. Biarlah dirinya yang pergi, bukankah ia hanyalah orang asing di rumah itu?  


"Aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendirian naik taksi, apalagi ini sudah malam." Nada Alvin terdengar menekan.


Memberanikan diri mendongakkan kepala, Daniza menatap dalam manik lelaki itu. Ia dapat melihat ketulusan dari tatapan Alvin. Tetapi, entah mengapa hal itu malah membuatnya semakin merasa tidak layak dan tidak pantas. 

__ADS_1


"Aku tidak enak sama Ibu Elvira kalau Kak Alvin pergi. Ini pasti hari yang penting untuknya." 


"Tidak apa-apa, mama pasti mengerti." Alvin berusaha meyakinkan. Sebab Mama Elvira pasti tahu kapan waktu sedang serius dan kapan waktu bercanda. Dan, setelah kejadian tadi, bisa dipastikan senjata andalan Mama Elvira akan kehilangan eksistensinya untuk sementara waktu. 


"Tapi, Kak ...."


"Aku tidak suka tapi-tapian!" potong Alvin cepat.


Akhirnya Daniza menyerah. Alvin membawanya ke mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Sepanjang perjalanan pulang, keheningan mendominasi. Alvin terfokus berkendara, sementara Daniza memandangi setiap ruas jalan yang mereka lalui.


"Tapi, Daniz!" Alvin jelas menolak, sebab ingin menemani setidaknya sampai Daniza merasa lebih baik. Daniza memang tidak menjatuhkan air mata, tetapi Alvin dapat melihat betapa ia menjerit dalam hati dan menyembunyikan luka dalam diam.   


"Tolong jangan membuat posisiku semakin sulit, Kak. Ucapan Tante Keshia memang benar, aku tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga kalian. Kak Alvin bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik." 


Amarah Alvin kembali melambung. Lidah tante Keshia yang tajam itu telah menjadi benteng kokoh yang memisahkannya dari Daniza. "Aku hanya menginginkan kamu! Kalau tidak sama kamu lebih baik aku jomblo seumur hidup!" 


Kalimat Alvin yang begitu menekan membuat Daniza mengernyit heran. Tanda tanya besar muncul dalam benaknya, tentang apa yang membuat Alvin begitu terpaku terhadap dirinya. Bukankah hubungan mereka di masa lalu hanyalah sebatas kakak kelas dan adik kelas? 

__ADS_1


"Aku mohon tinggalkan aku, Kak! Kak Alvin bisa bahagia walaupun tanpaku." Daniza kembali berkaca-kaca. Ia tak ingin dianggap memanfaatkan cinta Alvin. "Mulai besok aku akan meninggalkan apartemen ini." 


Ancaman Daniza membuat tubuh Alvin bergetar. Demi apapun ia tidak akan pernah memberi celah sekecil lubang semut pun bagi Daniza untuk pergi dari hidupnya. Tetapi, Alvin juga tahu sekeras apa Daniza, karenanya ia harus punya jurus jitu untuk mengikat wanita itu.


"Kamu mau lari dari tanggung jawab? Ingat kamu masih punya utang ratusan juta. Kalau mau pergi lunasi dulu." 


Daniza mematung di tempat mendengar ucapan Alvin. Napasnya seperti tertahan saat itu juga. Darimana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat?


Sebenarnya, Daniza pun yakin ini hanya akal-akalan Alvin untuk menahannya. Sebab lelaki itu sama sekali tidak pernah mempermasalahkan berapapun uang yang dihabiskan Daniza. "Jangan memaksa, Kak!" lirihnya lagi. 


"Aku tetap akan memaksa jika perlu!" Alvin mencengkram kedua bahu Daniza dengan menghujamkan tatapan tajam. "Berani pergi dariku, kamu harus siap-siap hidupmu tidak tenang!" 


Daniza membeku menatap manik hitam lelaki itu. Alvin yang biasanya ramah, hangat dan sedikit lucu kini terlihat cukup menyeramkan. Dengan gerakan tak terduga, Alvin yang tengah dikuasai amarah menarik tengkuk leher Daniza, mendekatkan wajah dan merapatkan kedua bibir mereka.


Membuat sepasang mata Daniza membelalak. Ia merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Apalagi bibir Alvin bergerak dengan sangat liar dan memaksa.


*****

__ADS_1


__ADS_2