Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Melanggar Janji


__ADS_3

Untuk beberapa saat, Alvin membeku di tempat. Mengasah otak demi mencari sebuah alasan tepat untuk diberikan kepada sang mama. Sebab, jika ia mengaku akan menemui Daniza, sudah pasti Mamanya akan melarang.


"Kenapa diam kayak maling yang ketahuan? Mau ke mana kamu?" Mata Mama Elvira sudah memicing curiga. Sebab Alvin berjalan tergesa-gesa seperti tengah dikejar sesuatu. Padahal ia hanya menggunakan setelan piyama.


"Mau ke kamar mandi, Mah. Kebelet, mau boker." Jawaban tak masuk akal itu membuat Mama Elvira menarik napas dalam.


"Mau boker di mana kamu? Memangnya kamar mandi di kamar kamu buntu?" seloroh Mama Elvira diiringi tatapan semakin curiga.


Alvin menggigit bibirnya geram. Bisa-bisanya mulut mode rem blong miliknya mengeluarkan alasan bodoh itu. "Bukan, Mah. Maksud aku ...."


"Apa?" potong Mama Elvira dengan menekan. Menuntut sebuah jawaban pasti.


"Aku ada urusan penting, Mah. Nanti aku jelaskan, aku harus pergi sekarang!"


Baru saja mulut Mama Elvira terbuka untuk mengucapkan sebuah kata, Alvin sudah mengambil langkah seribu.


"Alvin tunggu! Dengar mana dulu!" panggil Mama Elvira. Namun, Alvin tak sedikitpun menoleh. Malah mempercepat langkah.


Wanita paruh baya itu pun mengikuti langkah putranya. Alvin sudah naik ke mobil dan melajukannya cepat. Bahkan penjaga gerbang di rumah mewah mereka harus mengelus dada karena Alvin terus membunyikan klakson agar segera di bukakan.


Sementara Mama Elvira hanya dapat menggelengkan kepala. Bingung sekaligus kesal dengan ulah putra semata wayangnya itu.


"Anak ini benar-benar butuh diruqiyah!"


*


*


*


Kurang dari dua puluh menit, Alvin sudah tiba di apartemen Daniza. Ia tak peduli lagi meskipun harus melanggar janjinya sendiri untuk tidak menemui Daniza sampai wanita itu mengizinkan. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah kondisi kesehatan Daniza.

__ADS_1


Begitu masuk, Alvin sudah disambut Santi yang tampak sangat khawatir dan kebingungan.


"Di mana, Daniz?" pekik Alvin. Panik membuat dirinya kurang mampu mengontrol emosi.


"Di kamar, Den," jawab Santi sedikit gemetar. Ia sudah takut jika Alvin nanti akan marah kepadanya. Sebab sebelumnya, Alvin sudah memintanya untuk melaporkan hal sekecil apapun yang terjadi kepada Daniza


Secepat kilat, Alvin berlari menuju kamar. Mendadak sendi-sendinya terasa lemas melihat Daniza tergeletak di lantai dengan beralaskan karpet bulu. Karena tidak sanggup membopong tubuhnya, Santi hanya memakaikan bantal dan juga selimut demi melindungi Daniza dari udara dingin.


"Daniz!" Alvin meraih tubuh lemah itu dan memeluknya. Beberapa kali ia tepuk pipi, namun Daniza tak bereaksi. "Bangun, Daniz!"


Entah sadar atau tidak, Alvin membenamkan kecupan di kening. Sepasang matanya terpejam saat merasakan suhu tubuh Daniza yang cukup tinggi. Buru-buru Alvin mengangkat tubuh lemah Daniza ke tempat tidur dan menyelimuti.


"Sudah berapa lama dia pingsan begini?"


Santi yang berada tepat di belakang Alvin, masih ketakutan. Apalagi melihat kepanikan majikannya itu. "Hampir satu jam, Den. Maaf saya tidak kuat mengangkat tubuh Mbak Daniz, jadi saya pakaikan bantal dan selimut seadanya."


Alvin tak menyahut. Ia memilih duduk di tepi ranjang dan meletakkan punggung tangannya di kening. Demam tinggi dan wajah Daniza yang sedikit tirus dan pucat membuat hatinya serasa diremas kuat.


"Santi, tolong ambilkan handuk kecil sama air hangat untuk kompres Daniza!" perintah Alvin, setelah menghubungi Dokter Mila. Setidaknya, ia akan melakukan pertolongan pertama sambil menunggu kedatangan dokter.


"Baik, Den." Wanita itu tergesa-gesa keluar kamar dan kembali kurang dari lima menit dengan membawa handuk dan wadah berisi air hangat.


Dengan penuh perhatian, Alvin melakukan perawatan pada Daniza.


"Kenapa kamu tidak beritahu saya sebelumnya kalau Daniza sakit?" Kali ini tatapan mengintimidasi diarahkan Alvin kepada Santi.


"Maaf, Den. Saya tadinya mau memberitahu, tapi dilarang Mbak Daniz. Katanya tidak apa-apa."


"Kalau tidak apa-apa tidak mungkin pingsan seperti ini!" Santi menunduk takut. Membuat Alvin mendesahkan napas panjang. Mungkin akan berlebihan jika ia memarahi Santi karena hal ini. "Maaf, saya tidak bermaksud menyalahkan kamu."


Beberapa menit kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Santi bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Alvin baru bernapas lega saat melihat Dokter Mila masuk bersama Santi.


"Tolong, Mil. Daniz pingsan!" pekik Alvin.


"Tenang, Vin. Biar aku periksa dulu." Dokter Mila mengeluarkan beberapa alat kesehatan dari dalam tas. Alvin tak henti-hentinya komat-kamit di belakang punggung.


"Mil, apa tidak sebaiknya aku bawa dia ke rumah sakit saja?" tanya Alvin penuh penekanan.


Dokter Mila menatap dengan raut sedikit kesal. "Tunggu dulu, aku belum selesai periksa!"


Saat itu juga terdengar suara lenguhan lemah di sana. Perhatian Alvin, Dokter Mila dan Santi langsung mengarah kepada Daniza.


Wanita yang masih terlihat pucat itu tampak mengerjapkan mata perlahan, seperti sedang meneliti keadaan sekitar. Alvin menggeser posisi Dokter Mila yang duduk di tepi pembaringan. Kemudian menatap lekat-lekat wajah Daniza yang lesu.


"Kamu kenapa, Daniz?" bisik Alvin seraya mengelus puncak kepala.


Daniza yang masih antara sadar dan tidak kembali meneliti keadaan sekitar. Ia bahkan harus beberapa kali mengucek mata demi memastikan tidak sedang berhalusinasi. Bola matanya yang sayu sontak berkaca-kaca saat akal sehatnya kembali bekerja dan menyadari keberadaan Alvin di sana.


Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Daniza berusaha merubah posisi hingga sekarang dalam keadaan duduk. Denyutan di kepala membuat konsentrasinya sedikit membuyar.


"Kak Alvin ...." lirih Daniza. Air matanya mulai berjatuhan.


Entah sadar atau tidak, ia membenamkan tubuhnya di dada bidang Alvin. Kedua tangannya pun melingkari tubuh kokoh lelaki itu. Isak tangis pun mulai terdengar.


"Kamu kenapa, Daniz?" Kedua tangan Alvin hendak mendorong bahu Daniza dengan lembut untuk merebahkannya lagi. Namun, Daniza mengeratkan pelukan dan menyandarkan kepada di dadanya, hingga dapat mendengar detak jantung Alvin yang cepat.


"Aku minta maaf," lirih Daniza diiringi isak tangis.


Kelopak matanya terpejam ketika merasakan betapa lembutnya belaian Alvin pada setiap helai rambutnya. Tetapi, bukannya reda, isak tangis Daniza malah semakin menjadi. Dan dalam hitungan detik sudah terdengar sesegukan.


*****

__ADS_1


__ADS_2