Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Sedang Tidak Ingin Membantumu


__ADS_3

"Mila, tunggu!" Eric mempercepat langkah menyusul Dokter Mila yang tengah berjalan menuju parkiran hotel.


Wanita itu menoleh sejenak, tetapi tak begitu peduli dengan makhluk yang sedang berusaha mengikis jarak.


"Ada apa, Ric?"


"Aku perlu bicara dengan kamu, penting!" jawab Eric sambil berusaha mengatur napas yang memburu.


"Apa lagi, sih? Bukannya semua sudah jelas, ya?"


"Masih belum!" Eric menekan suara. Lalu menarik lengan Mila menuju mobilnya. Tetapi, Mila langsung menepis.


"Kamu mau bawa aku ke mana?"


"Kamu ikut aku, kita perlu bicara."


"Aku nggak mau! Lagi pula aku bawa mobil sendiri," tolak Mila. Tetapi, Eric tak menyerah. Ia tetap menggiring Mila menuju mobilnya. Membuka pintu mobil sebelah kiri dan memaksa wanita itu masuk.


"Nanti aku suruh orang ambil mobil kamu."


Tanpa banyak bicara lagi, Eric melajukan mobil meninggalkan gedung hotel. Tak peduli dengan penolakan Dokter Mila yang terus meminta diturunkan.


Tak berselang lama mereka tiba di sebuah danau yang cukup sepi. Danau itu adalah tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang mereka. Dokter Mila yang masih kesal dengan Eric tampak enggak untuk berbicara. Sejak tiba di danau wanita itu memilih banyak diam.


"Aku minta maaf, Mil. Saat itu aku mau datang tapi Alvin ngasih aku tugas mendadak," jelas Eric.


Mila lantas membuang napas kasar. "Itu sudah membuktikan kalau aku memang tidak ada artinya di mata kamu. Kamu lebih mementingkan pekerjaan dibanding aku."


"Bukan begitu, Mil. Kamu kan tahu aku juga harus menabung yang banyak untuk masa depan kita."


Mendengar ucapan Eric, sepasang mata Dokter Mila berkaca-kaca. Pria di sebelahnya itu memang tidak begitu peka dan terkadang seenaknya sendiri. Melupakan janji bertemu bukan hal yang baru bagi Eric. Ia kerap membuat Mila menunggu lama atau batal datang dengan banyak alasan.


"Tapi kamu tenang saja. Mulai malam ini semua halangan kita sudah tidak ada lagi. Karena Alvin sudah ketemu pawangnya."


"Yakin?" tanya Mila seolah tak percaya.


"Yakin, Mil!" Eric menaikkan kedua jari untuk meyakinkan.

__ADS_1


Baru saja Eric menyelesaikan kalimatnya, ponsel sudah berdering tanda panggilan masuk. Laki-laki itu segera merogoh saku blazer dan mengeluarkan ponsel. Spontan bola matanya melebar melihat nama yang tertera pada layar.


"Alvin? Mau apa lagi dia?" Eric membatin sembari memutar tubuhnya kesal. Ada helaan napas kasar saat pria itu membelakangi tubuh Mila.


Melihat tingkah Eric, Mila bisa menebak kalau panggilan itu pasti dari si penghalang yang katanya sudah tidak ada lagi.


"Siapa, Ric? Penghalang kamu muncul lagi?"


Eric hanya mengulas senyum penuh ragu. Kemudian melirik ponsel sambil berpikir sejenak. Sepertinya tidak apa-apa jika Sekali-kali memutuskan untuk mengabaikan panggilan dari Alvin.


"Nggak penting. Cuma panggilan dari orang orang iseng!"


Eric memasukkan kembali ponsel ke saku blazer. Namun, benda menyebalkan itu kembali berdering.


Sambil melipat tangannya di depan Dada, Mila mengunci wajah bingung Eric dengan pandangan malas. "Angkat ajalah! Aku paham kok kalau kamu memang tidak bisa lepas dari si Pengganggu itu!"


"Bentar ya, Mil ...."


Dengan sangat terpaksa Eric menjawab panggilan tersebut. Ia sengaja berjalan menjauh agar Mila tidak mendengar obrolannya.


"Ada apalagi, Setan?" sergah Eric sebelum Alvin sempat mengucapkan kata 'halo'.


"Mau apa lagi kamu, Vin? Bukannya hal yang paling kamu inginkan di dunia sudah ada di sebelah kamu? Lalu mau apa lagi hubungi aku?"


"Jadi kamu cemburu sama Daniz, Ric?"


"Bukan begitu oon!" maki Eric semakin kesal. "Kamu itu selalu saja menghubungiku di saat yang kurang tepat!"


"Memang kalau hubungi kamu harus atur jadwal dulu?"


Ingin sekali Eric melempar ponsel ke danau. Tetapi masih sayang dengan harga yang mahal. Jika tidak, benda dengan logo apel habis digigit itu pasti sudah karam di danau.


"Ya udah mau apa?"


"Aku butuh bantuan kamu sekarang juga, Ric."


"Eh, setan! Untuk malam pertama pun kamu masih minta bantuanku?"

__ADS_1


Sepertinya amarah di jiwa Eric semakin berkobar. Ia tak henti-hentinya menyerang sang bos dengan makian.


"Bukan itu, Ric!"


"Terus bantuan apalagi? Kalau bingung cara malam pertama cari tutorial di internet aja!"


Terdengar hela napas Alvin yang panjang di ujung telepon. Sepertinya sang bos kehilangan kata-kata.


"Sekarang aku lagi sibuk, Vin. Aku lagi sama Mila!" Nada suara Eric meninggi seketika.


"Bentar! Aku benar-benar butuh bantuan kamu sekarang!"


"Memangnya kamu saja yang butuh bantuan? Aku juga butuh bantuan! Aku butuh kamu tidak menggangguku untuk malam ini saja, ngerti!"


Eric mematikan ponselnya begitu saja. Namun, baru saja ia hendak mengantongi, ponsel itu kembali berbunyi dengan begitu nyaring.


"Sialan, gak ngerti bahasa manusia kayaknya ini orang!" Eric berteriak kesal. Dari kejauhan Mila dapat melihat betapa marahnya laki-laki itu saat ini.


"Mau ngapain lagi sih, Alvin Alexander? Kalimat yang tadi masih kurang jelas?" geram Eric frustrasi.


"Aku cuma mau minta tolong kamu beliin pembalut untuk Daniza," balas Alvin.


"Hah, pembalut? Kamu gila ya? Aku mana ngerti soal gitu-gituan!"


Mendengar jawaban Eric, Alvin pun paham. Dirinya yang jauh lebih berpengalaman saja tidak tahu soal pembalut, apalagi Eric yang hidupnya monoton dan tidak ada warnanya.


"Kalau begitu aku tidak jadi minta tolong ke kamu. Kasih hape kamu ke Mila. Tadi kamu bilang lagi sama Mila, 'kan?"


"Iya, tapi—"


"Ini perintah!" seru Alvin tak mau dibantah.


Eric terdiam sambil mengatur napas yang memburu. Ia hanya berdiri di tempat tetapi tak berniat mendekati wanita itu.


"Woy, cepat kasih hape kamu ke Mila! Yang penting aku nggak minta tolong sama kamu, kan? Aku akan minta tolong sama Mila saja. Dasar perhitungan!" maki Alvin dari balik sana.


Membuat Eric ingin meledakkan dunia saat itu juga.

__ADS_1


"Kalau kamu minta tolongnya sama Mila ya sama saja konsepnya, dodol!" teriak Eric.


*****


__ADS_2