Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Aku Tidak Butuh Dia!


__ADS_3

Sambil menangis sesenggukan, Daniza beranjak meninggalkan Alvin. Ia sempat berpapasan dengan Mama Elvira. Namun, belum sempat wanita paruh baya itu menegur, Daniza sudah lebih dulu masuk ke kamar. Hal itu menimbulkan rasa penasaran di benak sang mertua.


"Pasti Alvin berulah lagi!" Mama Elvira menyusul masuk ke kamar. Baru membuka pintu, sudah terlihat Daniza sedang telungkup di atas tempat tidur. "Daniza, apa Alvin menyakiti kamu lagi, Nak?"


Meskipun paham bahwa semua perbuatan Alvin adalah ketidaksengajaan, tetapi lama-kelamaan Mama Elvira semakin tak tahan dengan sikap putranya yang dirasa berlebihan. Apalagi setiap kali melihat Daniza berusaha menutupi kesedihannya.


"Nggak, Mah," jawab Daniza.


"Terus kenapa kamu nangis? Ini pasti karena Alvin, kan?"


Daniza menghapus lelehan air mata di pipi. Sebab tak ingin sang mertua sampai marah kepada Alvin. "Aku cuma agak sensitif. Mungkin efek kehamilan."


Mama Elvira menatap iba. Sebagai seorang wanita, ia tahu bagaimana rasanya menjadi wanita hamil. Kadang naluri kemanjaan lebih mendominasi. "Mama mengerti perasaan kamu. Kamu harus kuat, jangan sampai stres, karena itu bisa mempengaruhi janin dalam kandungan kamu."


Daniza mengangguk lemah. "Makasih, Mama."


"Iya, Sayang. Kamu istirahat, ya. Mama yang akan bicara dengan Alvin. Anak itu sepertinya butuh sapu untuk bisa sadar."


Daniza terkekeh mendengar ucapan mertuanya.


Setelah mama meninggalkan kamar, Daniza kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia mengusap perut yang masih rata.


Jika saja Alvin tidak kehilangan memorinya, mungkin saja ia akan jadi orang yang paling bahagia dengan kehamilan ini.


"Sayang, kamu sabar ya. Papa tidak membenci kamu. Dia cuma butuh sedikit waktu untuk bisa mengingat semuanya," gumam Daniza, sambil mengusap perut yang masih rata.


Di kamar luas nan sunyi itu, ia meluapkan segala perasaan sesak yang selama ini menghimpit dadanya.


*


*


*

__ADS_1


Malam sudah larut, tetapi Alvin belum dapat terpejam walaupun hanya satu menit. Kesunyian membungkus hati dan menciptakan kehampaan. Sejak tadi, ia hanya memandangi foto papa dan foto pernikahannya dengan Daniza.


"Apa aku benar-benar pernah mencintai wanita itu?"


Mungkin dilema adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Alvin sekarang. Ia yakin sepenuh hatinya membenci Daniza sebagai penyebab kematian papa. Tetapi, mengapa dalam foto pernikahan itu dirinya seperti manusia paling bahagia di dunia?


Alvin meraba tempat kosong di sisinya. Kebencian menguasai hati saat berhadapan dengan Daniza. Tetapi sebaliknya, ia merasakan kekosongan yang nyata jika Daniza tidak muncul di hadapannya.


Dalam keambiguan, ia termenung. Bentakannya kepada Daniza tadi menciptakan rasa bersalah yang besar.


"Dia ke mana, ya? Biasanya kalau malam begini nyelinap ke kamar." Alvin mulai gelisah.


Biasanya di malam seperti ini, Daniza akan masuk ke kamar dengan diam-diam dan tidur di sampingnya. Lalu keluar menjelang pagi, saat semua orang masih terlelap.


Kini, dengan bodohnya ia malah menunggu kedatangan Daniza hingga menjelang pagi.


"Sial, malah nggak bisa tidur!"


"Kenapa Daniza tidak ada?"


"Stop, Alvin! Bukannya bagus kalau dia tidak ada di sini?"


Seolah batin Alvin sedang berperang.


"Selamat pagi," sapa Alvin, lalu menarik kursi dengan wajah lesu.


"Pagi juga," balas Eric menatap Alvin. "Tumben muka kamu buluk begitu macam kurang tidur."


Alvin menghela napas panjang. "Semalam susah tidur, jadi kepalaku agak sakit!"


"Jadi mau dipanggilkan dokter atau dipanggilkan Daniza?" Perkataan Eric membuat Alvin menatap garang.


"Cuma agak sakit, Monyet! Tidak lebay sampai harus panggil Daniza segala!" sungut Alvin lalu membalikan piring di hadapannya.

__ADS_1


"Barang kali saja yang sakit kepala bawah, jadi kamu butuh diperiksa sama Daniza!" cibir Eric.


"Siapa juga yang butuh dia?" Alvin mulai menyuap makanan ke mulut. "Ngomong-ngomong, mama mana? Tumben sarapan tidak ada?"


"Sudah ke butik pagi-pagi sekali."


"Oh ...." Alvin menjawab singkat. Sebenarnya ingin bertanya di mana Daniza juga, tetapi gengsi mengalahkan segalanya sehingga memilih acuh tak acuh.


"Daniza tidak ditanyakan?" ucap Eric.


"Aku tidak tertarik menanyakan dia!"


"Yakin tidak tertarik?" potong Eric.


"Yakin! Justru bagus kalau dia tidak ada di sini!" sahutnya kesal.


*


*


*


Mungkin Alvin telah menyesali ucapannya pagi tadi. Karena seharian ini ia benar-benar tidak pernah melihat Daniza keluar kamar.


Sekarang laki-laki itu sedang rebahan di sofa ruang televisi sambil sesekali melirik ke arah kamar. Sambil menghitung detik demi detik yang berlalu. Tetapi, hingga menjelang sore, Daniza tak kunjung menampakkan diri.


Alvin bahkan sengaja tidak masuk ke kamar demi bisa melihat wajah Daniza.


"Katanya lagi hamil, tapi kenapa tidak keluar kamar? Dia pasti belum makan apa-apa dari pagi," gumamnya. Rasa khawatir mulai merasuk ke hati.


"Apa jangan-jangan dia sakit?"


...****...

__ADS_1


__ADS_2