
Alvin menatap Daniza yang baginya kelewat polos. Setelah tepuk tangan meriah dan juga perhatian semua orang yang tertuju kepada mereka, rupanya Daniza belum juga menyadari siapa Alvin sebenarnya. Wanita itu malah masih mengira Alvin hanyalah karyawan biasa kantor tempatnya bekerja.
"Aku tidak menyamar. Mereka saja yang mengira aku pewaris Alamjaya Grup."
Sekarang Daniza memandang ke segala penjuru. Tatapan semua orang yang tertuju kepadanya membuat tidak nyaman.
Alvin disambut oleh beberapa petinggi Alamjaya Grup. Daniza kenal salah satunya karena pernah membersihkan di ruangan pria 45 tahunan itu. Daniza bingung sekaligus bertanya-tanya mengapa semua orang memperlakukan Alvin dengan sangat hormat. Semakin heran karena ternyata Mama Elvira juga ada di acara penting itu.
"Ayo, kita ke meja mama saja," ajak Alvin.
Daniza terdiam di tempat seolah sepatunya terpaku di lantai. Ia ragu, sebab malam ini Mama Elvira tampil sangat elegan, tidak kalah dari wanita-wanita yang lebih muda darinya.
"Aku di meja lain saja, Kak. Tidak enak dengan Ibu Elvira," tolak Daniza, tanpa berani menatap mantan bosnya itu.
"Tidak apa-apa. Kalau duduk di meja lain kamu akan sendirian."
Alvin menggandeng tangan Daniza menghampiri Mama Elvira. Daniza sempat merasa ketakutan dan mengira Mama Elvira akan marah. Ternyata semua di luar dugaan karena wanita itu malah bersikap baik dan ramah. Malah Daniza dikenalkan kepada teman-teman sosialitanya yang malam itu hadir di pesta.
Seorang MC pria yang bertugas menjadi pemandu acara malam itu berdiri di panggung. Ia memberikan beberapa sambutan. Daniza hampir tidak percaya saat sang MC menyebut nama Alvin Alexander dan mempersilahkannya untuk memberi sambutan.
Pada saat itu Daniza baru menyadari bahwa Alvin ternyata benar-benar pewaris Alamjaya Grup.
"Ternyata Kak Alvin benar-benar pewaris tunggal Alamjaya. Kenapa aku bodoh sekali sampai tidak sadar?"
Daniza baru ingat beberapa hal. Ketika mengalami pendarahan ia dirawat di ruang VVIP termewah. Selain itu, ia juga ditangani oleh dokter ahli kandungan terbaik di rumah sakit itu. Bukan hanya itu, beberapa orang bodyguard yang ditugaskan Alvin untuk berjaga di pintu.
Jika memang Alvin hanyalah karyawan biasa di perusahaan tempatnya bekerja, mana mungkin ia bisa membayar semua itu? Daniza menundukkan kepala. Ia merasa sangat malu.
Selain memberi sambutan, Alvin juga mengenalkan Daniza sebagai tamu istimewanya malam ini. Tentu saja semua itu sengaja ia lakukan untuk membuat Revan cemburu.
Benar dugaan Alvin, sepasang mata Revan masih menatap geram. Revan tidak pernah menyangka bahwa Alvin akan membawa Daniza ke ulang tahun perusahaannya. Bahkan Alvin tak segan memamerkan kedekatannya dengan Daniza.
"Wah, mereka pasangan yang serasi, ya!" puji salah satu tamu undangan.
"Iya, Benar! Apa jangan-jangan dia itu calon istri Pak Alvin?"
"Mungkin saja," sahut salah satu wanita lainnya.
__ADS_1
Tangan Revan terkepal sempurna di bawah meja mendengar pembicaraan dua wanita itu. Ingin rasanya membongkar kedok Alvin saat itu juga. Bagaimana pun juga, Daniza masih istrinya dan Revan merasa berhak sepenuhnya atas diri Daniza.
"Benar-benar kurang ajar!"
Baru saja Revan akan berdiri dari duduknya, Alina sudah mencengkram kuat lengannya. Membuat pria itu kembali terduduk.
"Apa sih, Al?!" ketus Revan sambil berusaha melepas tangan Alina.
"Mau ke mana kamu?"
"Aku cuma mau ke toilet sebentar, Al!"
Alina terkekeh sinis. Tentu saja ia sangat tahu ke mana arah yang dituju Revan. Berpacaran selama bertahun-tahun membuatnya sangat mengenal Revan lebih baik dari siapapun. "Kamu pikir aku percaya? Kamu pasti mau menemui Daniza, kan? Ingat ya, Revan, kamu itu milik aku! Dan kamu sudah berjanji untuk menceraikan Daniza demi aku!"
Revan melepas genggaman Alina dengan kasar. Ia sedikit menyesal mengapa tadi tidak menolak keinginan Alina untuk ikut. Karena keberadaan Alina hanya membatasi ruang geraknya.
*
*
*
"Mau dansa?" Alvin mengulurkan tangan. Namun, Daniza hanya melirik tanpa berniat menyambutnya.
"Maaf, Kak. Tapi aku tidak bisa berdansa. Apa tidak sebaiknya Kak Alvin dengan yang lain saja?" tolak Daniza.
"Nanti aku ajari. Gampang, kok."
"Tapi ...."
"Coba lihat di sana!" Alvin menunjuk ke satu arah dengan lirikan. Spontan pandangan Daniza mengikuti ke mana yang ditunjuk Alvin. Daniza cukup terkejut melihat keberadaan Alina dan Revan di sana.
"Bukannya kamu mau membalas mereka, ya? Anggap saja ini adalah langkah awal."
Daniza terdiam sambil menimbang ucapan Alvin dalam hati. Setelah melihat Revan dan Alina, entah mengapa rasa sakit kembali merasuk ke hatinya.
"Baiklah." Akhirnya Daniza menerima ajakan Alvin. Keduanya berjalan ke tengah gedung di mana pasangan lain sedang berdansa.
__ADS_1
Melihat Alvin melingkarkan tangan di pinggang Daniza dengan mesra membuat Revan seperti terbakar. Keduanya berdansa dalam pencahayaan temaram dan saling menatap satu sama lain.
"Oh ya, Daniz. Kamu sangat cantik malam ini. Aku baru sadar kenapa dulu sangat menyukai kamu sampai susah lupa," puji Alvin.
"Tapi Kak Alvin sering mem-bully aku, sampai aku susah lupa dan malah jadi trauma."
"Salah sendiri kenapa menjauhi aku dan malah janjian dengan si Ruben!"
Daniza mencubit dada Alvin, membuat lelaki itu meringis. "Itu karena Kak Alvin terlalu jahat!"
"Kamu yang jahat! Segitu aku usahanya mencari perhatian kamu sampai harus ngancam anak-anak lain biar tidak ada yang dekat sama kamu!"
Bibir Daniza mengerucut lucu. Alvin memang out of the box. Menunjukkan rasa suka dengan menyiksa seseorang.
"Aku akan membalas Kak Alvin karena dulu sering mengerjai diri aku. Karena perbuatan Kak Alvin aku sampai trauma dan tidak mau lanjut sekolah. Bahkan sampai sekarang aku masih takut gelap."
Alvin mengulas senyum tipis yang sialnya malah membuat Daniza berdebar. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya hingga keduanya hampir berciuman.
"Aku akan membayar kesalahan itu dengan seluruh hidupku." Sebuah kalimat rayuan terlontar bebas dari mulut Alvin.
Daniza seketika menundukkan kepala. Ia paham apa maksud Alvin tetapi tidak ingin langsung percaya begitu saja. Sebab pengkhianatan Revan masih menyisakan trauma. Dan Daniza tidak akan mengulang kebodohan yang sama dengan percaya kepada sembarang laki-laki. Termasuk Alvin.
"Jadi waktu itu Kak Ruben diapakan?" tanya Daniza. Sebab setelah kejadian batalnya janjian itu, Ruben mendadak pindah sekolah keesokan harinya dan tidak pernah bertemu lagi. Daniza sampai heran apa yang membuat Ruben memutuskan pindah sekolah tanpa memberi kabar.
"Aku ikat!" jawab Alvin. Membuat mulut Daniza terbuka karena terkejutnya.
"Terus?"
"Aku masukin ke gorong-gorong!"
Daniza tidak tahu harus memaki atau tertawa. Alvin bahkan menjawab seperti tanpa dosa seolah kenakalannya di masa sekolah tidak berbahaya.
"Tapi kenapa Kak Ruben tidak mengadu? Papanya Kak Ruben kan kepala sekolah."
"Aku ancam pakai pistol mainan!"
*****
__ADS_1