Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Dari Simpati Menjadi Empati, Lalu Cinta Mati


__ADS_3

"Ngapain kamu ngobrol dengan orang tidak penting seperti mereka, Daniz?" Alvin menarik tangan Daniza. Membuat lelaki yang ada di depannya spontan melirik dan menatap tajam ke arahnya.


"Sebaiknya kita pergi saja, jangan kamu ladeni wanita pelakor seperti dia!" tandas Alvin.


Sejak tadi ia terus memperhatikan gerak-gerik Daniza, jadi ia jelas tahu bagaimana Alina menghina dan memfitnah Daniza telah menjual diri kepadanya.


Revan yang sejak tadi geram dengan kelakuan Alvin, reflek menarik ujung baju lelaki itu. Membuat Revan menatap tak percaya lantaran Revan dinilainya cukup berani.


"Jangan sembarangan bicara, Tuan Alvin! Jika Alina adalah pelakor, apa bedanya dengan Anda yang sekarang adalah perebut istri orang?" Revan menyerang Alvin. Sebenarnya ia tidak ingin membela Alina, tapi momen ini sangat pas untuk menjatuhkan harga diri Alvin yang sejak awal datang tadi selalu menyombongkan diri.


Ia sudah sangat geram karena Alvin terus membuatnya cemburu. Sekarang giliran Revan yang membuat lelaki itu mati kutu.


"Anda jangan lupa! Daniza itu masih istri saya. Saya bisa saja melaporkan Anda karena telah membawa kabur istri orang!" tandas Revan.


Di ancam seperti tak membuat Alvin takut. Ia terbahak lalu melakukan ekspresi merinding geli.


"Wow, menakutkan sekali! Daniza, bagaimana ini? Sepertinya sebentar lagi aku akan mendekam di penjara karena dilaporkan suamimu!" Alvin menoleh ke belakang. Daniza melotot sebal lalu mencubit lengan pria itu.


"Ayo kita pergi saja," bisik Daniza. Permintaanya jelas tak dituruti karena Alvin sekarang berubah pikiran, ia masih ingin bermain-main dengan Revan dan wanita pelakor itu.


"Tunggu dulu. Aku masih ingin memberikan pelajaran berharga pada laki-laki ini!" Alvin mengalihkan pandangannya kepada Revan kembali.


"Silakan penjarakan saya kalau Anda mampu! Tapi sebelum Anda memenjarakan saya, mungkin Anda yang akan saya buat mendekam di penjara karena telah mengalihkan seluruh aset peninggalan ayah Daniza menjadi atas nama Anda." Alvin menyeringai, ia lalu beralih menatap Alina. "Dan kamu, sebaiknya kamu jangan pernah ganggu Daniza, atau aku akan bergerak liar dan memastikan hidupmu hancur berantakan! Paham?" Alvin sengaja mendorong bahu Alina dengan satu telunjuknya. Wanita itu mundur satu langkah saat Alvin mendekat dan berbisik tepat di samping telinga Alina.


"Jauhi Daniza, atau aku tidak segan membuka kartu as mu di di depan Revan," bisik Alvin kemudian.


Setelah itu ia mengajak Daniza pergi. Tak lupa Alvin menggandeng tangan Daniza agar Revan paham kalau kesempatannya untuk kembali bersama wanita itu sudah tidak ada lagi.


"Usir dua manusia perusuh itu dari acara ini!" perintah Alvin pada satpam. Pria berseragam hitam itu mengangguk, lantas berjalan ke arah Revan dan juga Alina.


"Tidak usah mengusir kami! Saat ini juga kami akan pergi tanpa harus diusir!" tandas Revan sembari menggandeng lengan Alina kasar. Satpam itu tak menjawab lantaran Revan sudah pergi sebelum sempat ia mengusirnya.

__ADS_1


Di luar hotel, Alina menyentak lengan Revan, lalu berteriak.


"Revan! Hentikan, kamu menyakiti aku!" Alina menatap Revan dengan mata berkaca-kaca. Ia tak paham dengan isi pikiran Revan, tetapi yang jelas lelaki itu terlihat sangat marah.


"Apa yang kamu lakukan di belakangku, Al? Kenapa tadi dia berbisik seperti itu ke kamu?"


"Berbisik apa?" Alina membulatkan matanya. Tak senang dengan pertanyaan Revan yang terkesan menuduh.


"Jangan berpura-pura! Tadi aku mendengar sendiri kalau dia bilang memegang kartu As-mu! Apa yang kamu lakukan di belakangku sampai dia bisa berkata seperti itu?" cecar Revan.


Alina meneguk salivanya. Ia sendiri juga masih dipenuhi tanda tanya, kenapa Alvin berkata begitu.


Apalagi suaranya sengaja diperjelas seolah ia ingin Revan mendengar bisikannya juga.


"Aku tidak paham apa maksudmu, Rev! Aku tidak menyembunyikan apapun di belakangmu!"


"Oh ya? Awas saja kalau kamu ketahuan bohong! Aku tidak akan segan melakukan sesuatu kalau kamu sampai bohong!"


"Hmmm." Revan hanya berdeham. Kemudian berjalan menuju mobil. Sementara Alina mencoba membedah maksud ucapan Alvin tadi.


Apakah Tuan Alvin sudah tahu kalau aku adalah orang yang membuat Daniza keguguran? Menyeramkan sekali dia?


Alina meremang. Tiba-tiba ia membayangkan nasib dirinya jika Revan sampai tahu bahwa dirinya lah dalang dibalik pendarahan yang dialami Daniza. Alina yakin akan berakhir di balik jeruji besi.


Tidak-tidak! Jangan berpikir terlalu berlebihan Alina. Aku yakin sekali di sana tidak ada CCTV atau semacamnya, jadi tak akan ada orang yang tahu kalau aku telah menyelinap masuk ke kontrakan Daniza, ucap wanita itu dalam hati.


*


*


*

__ADS_1


Sementara itu, Daniza sedang dipenuhi tanda tanya besar di kepala. Ia juga sempat mendengar bisikan Alvin kepada Alina barusan. Ia ingin tahu apa maksud dari perkataan Alvin. .


"Kak Alvin ... apa maksud Kak Alvin tadi? Apa Kak Alvin benar-benar memegang kartu As Alina? Apa sudah ada bukti kalau Alina pelakunya? tanya Daniza. Sorot matanya yang terlihat penasaran itu, sukses membuat Alvin menyeringai jenaka.


"Aku cuma iseng! Kamu kan tahu sendiri aku tidak mengenal wanita itu, jadi mana mungkin aku memegang kartu As-nya?"


Mendengar itu, Daniza reflek memukul bahu Alvin. "Jadi tadi Kak Alvin tidak serius?"


"Aku tidak serius. Tapi setelah ini pasti dia yang akan berpikir serius sampai mau gila!"


Sebenarnya Alvin memang sengaja mengatakan itu agar dapat melihat ekspresi wajah Alina. Dan benar saja, wanita itu seperti orang yang gugup dan takut setelah Alvin melayangkan ancaman kepadanya.


"Ya ampun Kak Alvin! Aku pikir yang tadi ancaman beneran. Ternyata semua itu hanya ancaman palsu?" Daniza menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar gemas mendengar penuturan Alvin.


"Tapi aktingku keren, kan?" Alvin memuji diri.


"Apanya yang keren?!" Daniza mencebikkan bibir. Jika dilihat-lihat kejahilan Alvin tidak berubah sejak masa SMA. Dan sekarang ia seolah terjebak dengan kakak kelas yang dulu kerap ia juluki raja setan itu.


Bahkan, Daniza pernah berjanji dalam hati, jika suatu hari bisa membalas perbuatan jahat Alvin, ia akan membalas dengan lebih kejam. Tapi lihatlah sekarang, alih-alih bisa membalas. Alvin malah menjeratnya semakin dalam.


Alvin sebenarnya sudah mengantongi beberapa bukti kejahatan yang mengacu bahwa Alina adalah pelaku utama yang menyebabkan Daniza keguguran. Namun, ia tak mau buru-buru membongkar agar bisa menyelam sambil minum air. Alvin akan menggunakan keadaan ini untuk menjerat Daniza, dengan dalil menawarkan bantuan. Begitulah misi Alvin untuk mendapatkan cinta lama yang belum kesampaian itu.


"Berawal dari simpati menjadi empati. Lalu berakhir dengan cinta mati."


"Pokonya ikuti saja rencanaku. Malam ini Alina pasti tidak bisa tidur nyenyak. Sama kayak si Ruben saat aku ancam pakai pistol mainan sampai ngompol!" tambah Alvin.


"Jadi begitu cerita yang sebenarnya ya, Alvin Alexander! Pantesan kamu pernah dua kali tinggal kelas."


Alvin seketika membeku. Suara lembut namun menusuk di belakang punggung membuatnya merinding.


*****

__ADS_1


__ADS_2