
"Maaf, aku refleks." Alvin merubah posisi. Kini ia duduk sambil mengucek mata yang masih terserang kantuk luar biasa.
Sedangkan Daniza terdiam menatap lelaki itu. Hingga Alvin kembali menatapnya penuh tanya. "Oh ya, kamu kenapa tadi?"
"Kenapa Kak Alvin tidur di sofa?" tanya Daniza.
"Oh ... ini ... tidak apa-apa. Aku sengaja. Takut kamu bangun dan butuh sesuatu. Kalau aku tidur di kamar, aku pasti tidak bisa mendengar saat kamu memanggil." Dalam pencahayaan temaram, Alvin menatap Daniza dalam. Wanita itu tampak lebih manis dengan rambut terurai. "Kamu butuh sesuatu? Atau mau makan sesuatu? Nanti aku pesankan?" tawar Alvin panjang lebar.
"Apa aku sudah merepotkan?" lirih Daniza pelan sekali. Setelah semua kebaikan Alvin kepadanya, ia merasa telah menjadi beban. Mulai dari Alvin yang membiayai rumah sakit, menemani selama dirawat, sampai menjaganya dari Revan.
"Kata siapa? Tidak sama sekali. Aku melakukannya karena ...." Alvin mengatupkan bibirnya saat itu juga. Akal sehatnya memerintahkan agar tak sembarang memberi jawaban kepada Daniza. Jangan sampai apa yang diucapkan Alvin malah membebani wanita itu.
"Karena apa?"
"Aku mau membayar kesalahan dulu saat mengurungmu di gudang. Mungkin saja setelah ini kita bisa berteman baik."
Berteman dulu, lalu teman dekat, lalu pacar, dan berakhir menjadi istri. Ini namanya jenjang hubungan, bukan jenjang karier.
Alvin mendesahkan napas panjang. Ia merasa akan gila memikirkan nasibnya sendiri.
"Apa kamu butuh yang lain lagi?" tanya Alvin kemudian, setelah kebisuan mendera beberapa saat.
Daniza menggeleng sebagai jawaban. Membuat Alvin bangkit dan menarik tangannya.
"Kalau begitu kamu tidur saja. Kata dokter tidak baik begadang." Alvin menuntun Daniza kembali ke kamar. Dengan penuh perhatian ia menyelimuti wanita itu. Lalu kembali ke depan.
Sementara Daniza berbaring dengan mata yang basah. Rasa sakit itu masih menyergap begitu kuat. Ia bahkan tak dapat memejamkan mata malam ini.
Di luar ....
Alvin menghempas tubuhnya di sofa. Lelaki itu masih sempat melirik ponsel untuk melihat jam. Tetapi pemberitahuan yang muncul di layar membuat sepasang matanya membulat penuh.
"Oh my God. Mamah?"
__ADS_1
Ada puluhan panggilan tidak terjawab, dan juga puluhan pesan belum terbaca yang berasal dari mama. Alvin bahkan tidak berani membuka pesan yang sudah pasti berisi omelan.
"Bisa ditumis beneran sama mama besok."
Akhirnya, Alvin kembali membaringkan tubuhnya di sofa. Ia pikir lebih baik besok saja menjelaskan kepada mama. Toh sekarang sudah larut malam, mama pasti sudah tidur.
*
*
*
Jam setengah empat pagi.
Alvin mengerjap-ngerjap saat mendengar suara berisik dari arah dapur. Rasa kantuk yang amat pekat membuat lelaki itu sulit membuka mata meski sudah dipaksa untuk terbuka.
Klontang ….
Tiba-tiba ia mendengar suara benda jatuh cukup keras. Alvin langsung terjaga. Buru-buru lelaki itu berlari ke arah dapur, dan benar saja, ketika sampai ke dapur, ternyata Daniza sedang memegang botol pembersih kamar mandi.
Daniza yang panik refleks mengambil pisau dapur lalu mengarahkannya kepada Alvin. Membuat laki-laki itu terlonjak saking terkejutnya.
"Jangan mendekat, atau aku tidak akan segan menusukmu dengan pisau ini!" ancam Daniza.
Alvin sontak mengangkat kedua tangannya ke atas. Saking paniknya ia menganggap pisau itu layaknya pistol.
Alvin sedikit heran, karena sebelum tidur tadi, Daniza baik-baik saja. Sekarang malah mau mengakhiri hidupnya. Tetapi, kemudian ia teringat pesan dokter bahwa Daniza mengalami depresi berat. Kelakuannya tergantung suasana hati.
"Oke … oke! Aku tidak akan mendekat. Kamu mau apa, Daniz? Kenapa mau bersih-bersih jam segini? Ini kan masih pagi?" tanya Alvin konyol. Sebisa mungkin ia mengulur waktu untuk mencari kesempatan menyelamatkan Daniza. Alvin berpura-pura tidak tahu apa yang akan Daniza lakukan meski ia paham kelakuan Daniza akan mengarah ke mana nantinya.
"Siapa yang mau bersih-bersih?" sungut Daniza. Entah kenapa pertanyaan Alvin membuat Daniza kesal.
"Terus kenapa kamu memegang cairan pembersih kamar mandi kalau tidak mau bersih-bersih?" tanya Alvin lagi. Daniza makin kesal saja mendengar pertanyaan Alvin.
__ADS_1
"Aku mau mati saja! Hidupku sudah tidak ada artinya. Sebaiknya Kak Alvin pergi dan jangan ikut campur urusanku!" kata Daniza terpaksa mengaku.
Alvin tersenyum bodoh. Ekspresinya yang panik dibuat setenang mungkin. "Oh … jadi kamu mau bunuh diri dengan meminum cairan pembersih?"
Sekarang laki-laki itu malah menyilangkan tangan di di depan dada.
"Iya!" balas Daniza ketus.
"Ya ampun Daniza Amaria!" Alvin menepuk jidat. "Cairan pembersih tidak bisa dipakai bunuh diri. Sekalipun kamu minum satu botol penuh, kamu tidak akan mati, paling-paling hanya muntah dan masuk rumah sakit lagi," ujar Alvin.
Daniza terdiam sejenak memikirkan ucapan Alvin. Setahunya, cairan pembersih kamar mandi sangat berbahaya jika tertelan.
"Kak Alvin jangan bercanda! Itu hanya akal-akalan Kak Alvin supaya aku tidak jadi bunuh diri, 'kan?" kesal Daniza. Pisau di tangannya masih terus mengacung ke arah Alvin. Daniza sendiri tidak berani bunuh diri menggunakan benda tajam karena takut darah. Maka dari itu ia memilih cairan pembersih sebagai media bunuh diri pertama.
Alvin masih berusaha mengulur waktu sampai menemukan momen yang pas untuk bergerak mendekati Daniza. Pisau di tangan wanita itu terlalu berbahaya, selain dapat melukai dirinya, benda itu juga dapat berbalik melukai Daniza.
"Serius! Aku tidak bercanda. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh browsing dulu sebelum bunuh diri," kata Alvin sambil mengangguk penuh nada meyakinkan.
Wajah Daniza berubah bingung. Ia ragu apakah harus percaya omongan Alvin atau tidak.
"Tapi di tulisan ini, meminum cairan pembersih dapat menyebabkan keracunan. Aku sudah membaca petunjuk sebelum meminumnya, jadi Kak Alvin jangan coba mengelabuhiku!"
Sontak Alvin terbahak. "Hanya keracunan saja Daniz! Tidak ada tulisan yang menjelaskan soal kematian. Jadi tidak ada jaminan bahwa kamu benar-benar akan mati," ucap lelaki itu kembali memasang tampang konyol.
Wajah Daniza berubah malu. Jelas pikirannya sekarang berubah ragu karena Alvin terlihat santai begitu.
Alvin menggelengkan kepalanya sekali lagi. "Daniz … Daniz … kamu ini lucu sekali, sih! Masa mau bunuh diri tidak tahu aturannya. Lagi pula memang belum ada kasus orang mati karena meminum cairan pembersih! Paling-paling hanya akan membuatmu sakit perut!" Alvin terbahak.
Daniza yang kesal langsung membuang botol di tangannya. Ia juga membuang pisau yang sejak tadi diarahkan kepada Alvin. Alvin segera menggunakan kesempatan itu untuk mengamankan Daniza dengan membekuk tubuhnya.
Saat itu juga Daniza baru tersadar bawa Alvin sudah membodohinya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku mati! Kenapa Kak Alvin menghalangi!" Wanita itu meronta, menangis, dan minta dilepaskan.
__ADS_1
***