Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss

Dibuang Suami Dan Dinikahi Boss
Aku Insecure!


__ADS_3

Selepas sarapan, Alvin memutuskan untuk berangkat kerja pasca dua bulan lebih cuti. Mama Elvira, Daniza dan Eric sudah berkali-kali hendak memastikan. Apakah ia benar-benar sudah yakin ingin bekerja. Mereka takut kondisi Alvin belum sepenuhnya pulih, dan itu jelas hanya akan memperburuk keadaannya saja jika terlalu dipaksakan.


"Vin—" panggil Eric yang kini duduk di kursi kemudi.


"Apalagi, Ric? Aku kan sudah bilang mau kerja!" potong Alvin cepat. Eric bahkan belum sempat mengambil napas saat laki-laki itu menyambar dengan suara keras.


"Bukan begitu Mas Alvin, Sayang! Kamu yakin sudah bisa mulai bekerja? Bukannya kamu masih sering pusing?" kata Eric dengan nada lemah yang sengaja dibuat mirip dengan suara Daniza. Pasalnya wanita itu juga sempat melarang berangkat kerja, tetapi tak dihiraukan oleh Alvin.


"Tidak usah sok peduli begitu. Lebih baik kamu urus pacar kamu sendiri dari pada pusing memikirkan aku!"


"Si@lan kamu! Awas saja kalau sampai merepotkan di kantor!"


"Tenang Eric, Sayang! Kalau kamu lelah, akan aku beri suntikan tetanus!" bisik Alvin lembut, dengan suara dibuat mirip seperti Dokter Mila.


Sontak Eric kehilangan kata. Ia selalu saja merasa malu jika membicarakan hubungannya dengan Mila.


"Ayo jalan! Apa butuh disuntik dulu?" Alvin melipat tangannya di dada lantas berpaling ke arah jendela.


"Iya iya!" Eric mulai melajukan mobil.


"Oh ya, Ric. Apa ada pemberitaan tentang aku yang dua bulan cuti?" tanya Alvin. Dipikirnya klien-klien mereka mungkin bertanya-tanya tentang absen-nya Alvin dari perusahaan selama dua bulan.


"Ada beberapa yang sempat bertanya. Tapi kamu tenang saja, rahasia masih aman. Apa kata mereka kalau tahu kamu sempat mengalami amnesia dan berubah menjadi anak 18 tahun!" Eric tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.


Alvin menatap kesal.


"Jadi bagaimana rasanya nginap di kamar special request-mu bareng Daniza di Paris?"


"Ngomong sekali lagi kubuat kamu nginap di gorong-gorong!"


*


*


*


Tak terasa hari bergerak siang.


Pekerjaan Alvin hari ini berjalan lancar karena delapan puluh persen urusan pekerjaan masih dipegang oleh Eric. Sementara Alvin hanya sekadar membantu mengecek beberapa dokumen, dan sisanya waktunya ia gunakan untuk tidur leha-leha di sofa sambil mengganggu kegiatan Eric.


Setengah hari ini Eric benar-benar dibuat iri oleh Alvin. Tentu saja karena lelaki itu terlihat bersenang-senang di tengah pekerjaan Eric yang menggunung, sayang gunungnya tidak kembar.


Namun, terlepas dari semua itu Eric tidak bisa melimpahkan pekerjaannya kepada Alvin. Sesuai kata Alvin tadi, ia sengaja berangkat untuk menutup kecurigaan orang luar mengenai kondisinya yang kurang sehat.


"Nih!" Eric menaruh satu porsi rujak permintaan Alvin, membuat Alvin langsung bangkit dari posisi tiduran, lantas menyomot sepotong jambu air.

__ADS_1


"Enak juga siang-siang makan rujak!"


"Biasa aja kali, Vin! Kayak baru pertama kali makan rujak saja." Eric mendengkus. Berbeda dengan Alvin, menu makan Eric hari ini adalah nasi goreng buatan Mila.


"Emhh!" Eric berdecak melihat sekotak makanan di meja.


"Kenapa?" tanya Alvin.


"Tidak apa-apa." Eric menggeleng. Lantas menutup kembali kotak makanannya.


"Gelar boleh dokter, tapi ternyata masakannya jauh lebih buruk dari masakanku!" ucap Eric dalam hati.


"Kenapa tidak dimakan? Ada racunnya, ya?"


"Sembarangan kamu! Aku lagi malas makan, sepertinya nasi goreng kurang cocok untuk menu makan siang."


"Dasar pacar durhaka! Padahal Mila sudah rela repot-repot masak, malah tidak dimakan."


"Kan sudah kubilang nasi goreng kurang cocok untuk makan siang!" Eric mendengkus. Akhirnya ia putuskan untuk memesan melalui aplikasi online daripada darah tinggi mendadak karena keracunan masakan Mila.


"Oh ya, Ric! ngomong-ngomong bagaimana caranya kamu meminta bantuan Ruben?" Alvin menghentikan kegiatan makannya setelah puas. Seperti kelaparan, ia nyaris menghabiskan seporsi rujak. Bahkan tidak ada inisiatif untuk menawari Eric sepotong pun.


"Kenapa memangnya?" Eric menatap konyol. "Kasih tahu tidak, ya?"


"Aku heran. Si cecunguk Ruben kamu sogok berapa sampai mau bantu buat reunian palsu? Aku tidak yakin dia mau bantu kamu setelah kamu rebut calon tunangannya!"


Alvin menatap marah.


"Biasa aja kali, Vin! Ngapain ekspresi kamu jadi begitu? Tersinggung?" tanya Eric curiga.


"Sedikit!" Ia mendengkus marah. "Sialan juga si Ruben. Kalau ujung-ujungnya dia pacaran sama Sherly, kenapa tidak sejak dulu saja? Ngapain pakai acara drama-drama segala?"


Alvin menghembuskan napas panjang. Lalu menarik kotak bekal Eric. Baru saja Eric hendak menariknya kembali, Alvin sudah lebih dulu memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Pyuhhh. Masakan apaan ini?" Alvin langsung meraih selembar tissue dan mengeluarkan nasi goreng yang tersisa di mulutnya. Eric yang merasa prihatin pun menyodorkan segelas air putih.


"Makanya, jangan mengambil milik orang lain sembarangan! Cukup Daniza saja yang kamu rebut, nasi goreng Mila jangan." Eric terkekeh.


Alvin mengusap bibirnya yang basah. Lidahnya masih terasa kebas, meskipun sudah meminum segelas air putih.


"Gila si Mila! Bisa-bisanya dia masakin nasi goreng racun ke pacarnya. Kayaknya dia mau bikin kamu darah tinggi, supaya cepat mati!"


"Mulut tolong kondisikan! Mila 'kan dokter, kalau aku sakit pasti diurus."


"Dokter kalau tidak bisa masak buat apa? Yang ada nanti kamu kalau sudah nikah langsung turun derajat jadi bapak rumah tangga!"

__ADS_1


"Bagus kalau jadi bapak rumah tangga. Biar bisa pensiun dari sini! Capek sama kamu terus!" balas Eric tak mau kalah.


Tetapi, dalam hitungan detik wajahnya mulai tampak murung. Membuat Alvin menatapnya serius.


"Kenapa lagi itu muka jadi bengkok?"


"Vin, sebenarnya ada yang mau aku tanyakan ke kamu!" Suasana penuh canda mendadak berubah serius. Alvin yang paling mengenal Eric pun tahu bagaimana Eric saat bercanda dan bagaimana saat dalam keadaan serius.


"Apaan?"


"Menurut kamu orang tuanya Mila itu seperti apa?"


Selama beberapa saat Alvin terdiam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Eric. "Memangnya kenapa?"


"Malam ini Mila mau ajak makan malam dengan keluarga besarnya. Aku harus bagaimana, Vin!" lirihnya.


"Ya tinggal datang dan pasang tampang sok cool seperti saat kamu menghadapi Mila!"


Eric menghembuskan napas panjang. Memandang nanar gedung-gedung tinggi di sekitar kantor. Ia selalu kehilangan kepercayaan diri jika sudah dihadapkan dengan status sosial. Apalagi Mila bukan orang yang berasal dari keluarga sembarangan.


"Bukan begitu maksudku, Vin! Kamu tahu siapa aku dan siapa mereka. Apa orang tuanya Mila mau kalau anaknya menjalin hubungan dengan orang sepertiku?"


...*...


...*...


...*...


Halo man-teman, sambil nunggu bang Mpin up, mampir di karya keren satu ini dulu yesss.


Siapa yang sudah kenal Author "Lee Yuta"


Nah, Kak Yuta lagi buat karya baru nih.


Kepoin Yukkkkk


Judul : Hubungan Satu Malam


Author : Lee Yuta



Jangan lupa masukin ke Favorit biar dapat Notif kalau up.


Terima kasih.

__ADS_1


🤗


__ADS_2