
Pesta ulang tahun Mama Elvira digemparkan dengan berita Alvin yang mengenalkan calon menantu keluarga mereka. Hal ini membuat semua orang penasaran ingin tahu siapa sosok wanita beruntung yang digandeng pewaris tunggal Alamjaya Grup itu. Beberapa gadis yang sempat dijodohkan dengan Alvin pun patah hati. Niatnya mencari perhatian Alvin malam ini telah berujung gagal.
Setelah mengenalkan Daniza dengan keluarganya, Alvin membawa wanita itu ke sebuah meja dan duduk berdua. Beberapa hidangan sudah tersedia di meja. Alvin memilih steak, yang merupakan makanan kesukaan Daniza.
Sejak tadi Daniza tidak banyak bicara. Lidahnya terasa kaku, begitu pun dengan tubuhnya. Masih ada sedikit tanda tanya yang memenuhi benaknya.
"Kak Alvin, boleh aku tanya sesuatu?" Daniza memberanikan diri menatap manik hitam laki-laki itu.
"Boleh. Apa sih yang tidak untuk kamu?" Sebuah kalimat gombalan kembali meluncur bebas dari mulutnya.
Selama beberapa saat, Daniza terdiam, seperti memilih kata yang tepat agar Alvin tidak salah paham. "Kenapa tadi Kak Alvin bilang ke mereka kalau aku calon menantu di keluarga ini?"
Alvin balas menatap Daniza. "Memang kenapa? Kamu tidak mau jadi mantunya mama? Kamu bisa jadi penawar sapu flying in the sky, loh." Alvin masih sempat bergurau, meskipun sedikit rasa kecewa karena Daniza mempertanyakan hal semacam itu.
"Tapi ...."
__ADS_1
"Maaf, kalau itu membuat kamu tidak nyaman," potong Alvin cepat setelah melihat raut wajah Daniza. "Sebenarnya aku bosan dengan tante-tanteku. Mereka selalu berusaha menjodohkan aku dengan gadis pilihannya. Padahal aku sudah punya pilihan sendiri."
Daniza kembali terdiam. Ia tahu betul wanita yang dimaksud Alvin adalah dirinya, karena beberapa waktu lalu Alvin sudah menyatakan cinta tanpa peduli dengan statusnya. Tetapi, separuh hati Daniza merasa bahwa dirinya sama sekali tidak layak dan tidak pantas untuk pria sempurna seperti Alvin.
Siapalah Daniza Amaria, seorang istri terbuang yang dipungut Alvin beberapa waktu lalu.
"Hai Alvin, lama tidak bertemu." Sapaan lembut itu membuat Alvin dan Daniza seketika menoleh ke sumber suara.
Seorang wanita cantik memesona berjalan dengan anggun ke arah mereka. Daniza tampak canggung, berbeda dengan Alvin yang biasa saja. Bahkan terkesan mengabaikan wanita itu.
"Hai, Sher!" balas Alvin, sedikit acuh tak acuh.
Masih segar pula dalam ingatan Daniza bagaimana siswi paling populer di sekolah ini dulu memandang remeh dirinya. Bahkan Sherly adalah ketua geng siswi populer yang pernah sengaja mengunci pintu toilet saat Daniza sedang mengganti pakaian olahraga.
"Kamu belum mengenalkan teman kamu ini ke aku, Vin!" ucap Sherly. Dirinya adalah satu dari sekian gadis yang patah hati malam ini. Alvin pernah menolak perjodohan mereka mentah-mentah. Selain itu, Sherly juga sudah menyukai Alvin sejak masa sekolah.
__ADS_1
"Dikenalkan? Bukannya kamu sudah kenal, ya?" balas Alvin. Tangan Daniza lantas digenggamnya dengan erat. Seolah sengaja menunjukkan di hadapan Sherly.
"Sama sekali tidak! Aku belum tahu siapa dia dan rasanya belum pernah bertemu." Sherly meneliti wajah wanita itu sambil berusaha mengingat. Namun, ia tetap merasa tidak pernah bertemu.
"Mungkin kamu sudah lupa ... ini Daniza, adik kelas kita dulu."
Seketika bola mata Sherly membulat penuh. Gelas minuman berwarna merah di genggamannya jatuh hingga mengenai gaun indahnya. Mendengar nama Daniza, ingatannya langsung tertuju pada sosok siswi culun dan kampungan yang kerap ia bully bersama teman-temannya yang lain.
Alvin bahkan pernah marah besar kepadanya, karena sengaja mendorong Daniza hingga terjatuh di tangga.
"Hah, Daniza?" ucapnya nyaris tak percaya. "Maksud kamu ... Daniza anak yang culun itu?"
Sudut mata Daniza berkerut. Ingin membalas, tetapi Alvin mengeratkan genggaman tangannya. Seperti memberi isyarat agar Daniza tetap tenang. Akhirnya, Daniza memilih bergelayut manja di lengan Alvin. Hal yang membuat Sherly seperti tengah dilahap api.
"Jaga bicara kamu! Asal tahu saja, Daniza jauh lebih cantik dan lebih berkelas dibanding kamu!"
__ADS_1
Mendadak suasana terasa mencekam bagi Sherly ketika tatapan menghujam Alvin mengarah kepadanya.
***