
Suasana terasa sangat mencekam bagi Alvin sejak meninggalkan kafe beberapa menit lalu. Berada di bawah ancaman, ia takluk pada keinginan Eric untuk mengikuti Ruben dan Mila. Bahkan Alvin terpaksa meninggalkan mobilnya di kafe dan meminta anak buahnya datang untuk membawa pulang mobil tersebut.
"Untuk apa kita ikutin mereka, Ric? Macam pengangguran aja," protes Alvin.
"Udah diam, jangan banyak protes atau aib-aibmu bocor ke Daniza!" ancam Eric. Pandangannya tak lepas dari mobil yang melaju dengan kecepatan sedang di depan sana.
Alvin bungkam saat itu juga. Ancaman mematikan Eric berhasil menjeratnya. Namun, ada seringai di sudut bibirnya setelah meyakini bahwa Eric sedang terbakar cemburu.
"Dia cuma mau antar Mila pulang. Itu lihat, mereka masuk ke kompleks perumahannya Mila."
"Kamu tidak dengar malam ini mereka janjian ketemu di restoran? Cecunguk itu pasti mau lamar si Mila dengan gaya sok romantis," balas Eric tak terima.
"Terus kalau dia mau lamar si Mila kenapa? Apa urusannya dengan kamu?" Alvin bertanya sok polos, seolah tidak paham dengan isi hati Eric.Tatapan Eric pun menghujam tajam, membuat Alvin merasa seluruh tubuhnya ikut merinding. "Santai, Ric. Aku kan cuma tanya."
"Tapi pertanyaan kamu itu nyelekit!" maki Eric.
"Iya, maap maap! Galak amat! Kalau tidak ada perasaan lebih, kenapa seposesif ini sama Mila?"
Eric berdecak kesal. "Aku cuma tidak mau si Mila dapat jodoh seperti Ruben. Kamu kan tahu Ruben itu biawak!"
"Buaya, Ric!" Alvin membenarkan ucapan Eric.
"Terserah, mau buaya mau biawak!"
"Terus kalau tidak suka Mila, kamu sukanya sama siapa?" Sudut mata Alvin memicing setelah mengajukan pertanyaan itu.
"Belum ada. Aku belum kepikiran untuk suka sama seorang wanita." Lagi-lagi ia mengelak demi menjunjung harga diri.
"Jadi kamu sukanya sama cowok?"
"Diam, Vin!"
__ADS_1
Akhirnya keadaan kembali kondusif. Keduanya mengintai layaknya agen profesional. Alvin terpaksa mengikuti perintah Eric, padahal sebelum keluar rumah sudah berjanji kepada Daniza untuk pulang cepat.
"Vin!" panggil Eric di sela-sela perjalanan. Kini sore sudah berganti senja. Gelap mulai menyelimuti Bumi. "Boleh tanya sesuatu?"
"Apaan?"
"Sebenarnya kamu anggap aku apa?"
Alvin terlonjak mendengar pertanyaan aneh itu. Jika tidak ingat sedang berada di bawah ancaman Eric, ia pasti sudah meminta diturunkan di sisi jalan. Pikiran negatif sudah bermunculan di benak Alvin, apakah patah hati membuat Eric membelok arah dan memilih menyukai sesama jenis?
"Yang jelas bukan selir!"
"Terus aku dianggap apa, dong?" tanya Eric lagi. Kali ini sedikit memelas.
Tubuh Alvin semakin bergidik. Sekarang ia menggeser posisi duduknya semakin ke ujung. "Jangan minta hal lebih dari aku, Ric! Aku laki-laki normal!"
Sontak ucapan Alvin membuat Eric naik pitam. Tatapan laki-laki yang tengah dilahap cemburu itu semakin menghujam.
"G0blok! Bukan itu maksudku!" maki Eric.
"Jijik juga bayanginnya kali!" Ia mendengkus marah. Tatapannya masih mengarah pada mobil Ruben di depan. Jangan sampai kehilangan jejak, atau ia akan kehilangan Mila untuk selama-lamanya. "Aku cuma mau tahu kamu anggap aku apa?"
"Oh ... bilang dari tadi! Bikin senewen aja." Alvin mengusap dada dan bernapas lega. Ternyata Eric masih normal. "Dianggap saudara, lah! Apa lagi coba?"
"Kalau dianggap saudara, artinya kamu rela memberi apapun yang kuminta, kan?"
"Memang kamu mau minta apa?" Alvin mulai curiga. "Wah mau ngelunjak ini bocah," tambahnya dalam hati.
"Tapi sebelumnya aku mau tanya dulu. Mengikat orang di gorong-gorong itu tindakan kriminal, bukan?"
Alvin menarik napas dalam sebelum menjawab. "Kalau ketahuan polisi ya tindakan kriminal, Ric. Tapi, kalau yang tahu cuma kita berdua, kayaknya nggak termasuk kriminal, deh."
__ADS_1
"Yakin, Vin?"
"Menurut pengalamanku seperti itu. Yang terpenting, jangan sampai mama tahu."
Eric mengangguk mengerti. "Ruben pasti senang kalau kita ajak nostalgia. Nongkrong di gorong-gorong sambil minum kopi. Itu bukan tindakan kriminal, kan?"
Bola mata Alvin seketika melebar saat baru menangkap ke mana arah pembicaraan Eric. "Selama nggak ketahuan polisi, kayaknya bukan, Ric."
Eric menyeringai. Kakinya bergerak menekan pedal gas dalam yang membuat mobil melesat cepat.
*
*
*
Mungkin ini adalah malam penuh sesal bagi Alvin. Niatnya mengompori Eric sebenarnya untuk membuktikan kecurigaan tentang perasaan Eric terhadap Mila. Di luar dugaan,sekarang ia harus berada di lahan kosong di belakang sekolah hanya untuk mencegah Ruben menemui Mila malam ini.
"Jaga dia di sini, Vin! Aku mau ketemu sama Mila dulu!" pinta Eric setelah memastikan segalanya berada di bawah kendali.
"Kamu gila, Ric? Aku harus di sini sama dia?"
"Sekali-sekali kalian nostalgia. Lagi pula tadi kamu bilang rela memberikan apa saja yang kuminta. Saudara apaan kamu?"
Alvin menghela napas kasar. "Ya bukan begitu juga konsepnya, Dodol!"
"Ini cara paling efektif, Vin. Aku cuma mengikuti cara kamu dulu." Eric melirik ke arah Ruben dan mendekat. "Ingat ya, Ben. Pulang nanti kamu harus minta pembatalan perjodohan dengan Mila. Kalau tidak, gorong-gorong ini akan tertimbun bersama kamu."
Ruben yang mulutnya dibekuk dengan lakban itu hanya mengangguk. Sepertinya ia benar-benar kapok berurusan dengan dua manusia aneh itu. Sementara Eric langsung berlalu meninggalkan tempat itu.
Tinggallah Alvin menatap mobil yang kemudian menghilang dalam pandangannya. Gorong-gorong yang tidak tahu apa-apa harus menjadi sasaran tendangan sepatu mahalnya.
__ADS_1
"Gorong-gorong sialan! Bisanya merepotkan manusia saja terus!"
...****...