Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Krishna Lebih Mendengarkanku.


__ADS_3

"Sayang, kita keapartemen ku dulu ya, aku ingin mandi setelah itu baru kerumah sakit. Nggak papa kan..?" Tanya Dani meminta persetujuan Angel.


Angel mengangguk mengiyakan. Mereka berdua baru saja menghabiskan waktu berdua, makan siang disebuah restoran.


Keduanya telah sampai dihunian mewah milik Dani. Pintu Apartemen terbuka setelah Dani menekan kode akses masuk ke apartemen itu. Angel begitu terkesima melihat isi apartemen Dani yang begitu bersih dan rapi untuk ukuran seorang pria.


"Sambil menunggu ku kamu bisa sambil menonton tivi. Kalau mau makan atau minum, ambil aja didalam kulkas." Jelas Dani sambil menarik tangan Angel membawanya masuk kedalam apartemen.


"Duduk sini aku akan menyalakan tivi untuk mu." Setelah menyalakan televisi Dani kemudian melangkah kebelakang dapur mengambil minuman dan beberapa snack untuk Angel.


"Aku bisa sendiri Dan. Bukankah kamu harus segera kerumah sakit.? " Ucap Angel tak enak hati melihat Dani begitu antusias melayaninya.


Kekasih hatinya itu selalu saja memberinya perhatian perhatian kecil maupun besar membuat dirinya selalu merasa sangat dimanjakan.


"Nggak Papa Sayang, aku tak ingin kamu kecapean saja." Ucap Dani sembari meletakan minuman dan snack keatas meja dihadapan Angel.


"Apa nggak ada minuman soda." Tanya Angel melihat Dani meletakan seboto air mineral dihadapannya.


"No Sayang, itu nggak sehat untuk mu. Takutnya sudah ada Dani Junior didalam sini." Sela Dani, duduk disamping Angel sambil mengusap perut datar Angel.


Angel sedikit tersentak melihat tangan Dani tengah mengusap perutnya. Tapi kemudian terlihat mencebik. "Jangan marah Sayang, aku hanya ingin menjaga kesehatan mu dan calon anak kita." Entah mengapa dia merasal apa yang diakuann bersama Angel beberapa hari yang lalu membuahkan hasil. Makanya dia sangat menjaga pola makan Angel.


"Iya, seharusnya aku ingat kalau kekasih ku itu seorang Dokter." Canda Angel membuat Dani terkekeh. Dia tak banyak berkomentar atau membantah karena merasa Apa yang dilakukan Dani adalah bentuk perhatian padanya.


"Good Girl" Mengusap pucuk kepala Angel. "Yah udah, aku mandi dulu ya. Tunggu aku disini. Atau kau mau ikut mandi bersama ku..?" Canda pria itu membuat Angel menyorotnya tajam, Dani kembali terkekeh sambil berjalan kedalam kamarnya .


Mata Angel membola sempurna, duduknya yang tadi bersandar pada sofa langsung tegak sempurna melihat siaran berita didalam televisi.


"Astaga! Apa apaan ini.?"


Dani yang baru saja keluar kamar langsung bergegas menghampiri Angel saat mendengar Angel memekik.


"Ada apa sayang..?"


"Dan, lihat, itu Helena teman ku, dia ditangkap oleh polisi bersama seorang pria didalam kamar hotel. Mereka kedapatan memakai obat terlarang." Seloroh Angel dengan begitu terkejut. Netranya terus fokus menatap layar televisi hingga tidak menyadari kekasih hatinya sedang menyeringai.


"Astaga,aku tidak menyangka, kenapa Helena bisa melakukan itu. Dia itu teman yang baik. " Sesal Angel


"Ck! Apanya yang baik. Kamu itu terlalu polos hingga mudah ditipu dengan tampang polos mereka. "


"Apa maksudku mu..? Dia memang baik kok. Pasti laki laki itu yang telah mnejebaknya."


Dani menghela nafas kasar, dia tidak menyangka Angel yang terkenal sombong dan angkuh ternyata sepolos ini. "Laki laki itu bernama Wira, dan pria itu yang telah membawa mu kehotel malam itu." Ucapan Dani membuat mata Angel membola sempurna.


"A..a.apa maksud mu..?" Tanya Angel terbata.


"Dan teman yang kamu anggap baik itu yang telah memcampurkan obat laknat itu pada minuman mu." Lanjutnya lagi dan itu berhasil membuat Angel tertegun parah. Bibir gadis itu bahkan sampai bergetar tak sanggup mengucap kata kata.


"Sekarang kamu mengerti 'kan kenapa, aku tidak mengijinkan mu untuk bertemu dengan teman temannmu..? Mereka nggak ada yang betul. Akan lebih baik kalau kamu berteman dengan Ayura dan kedua temannya." Ujar Dani lembut, mengusap air mata dipipi Angel yang sempat menetes karena tak pernah menyangka teman yang dianggap baik malah menjerumuskannya.


"Sudah nggak usah sedih, kamu sudah aman. Dan mereka sudah mendapatkan ganjarannya."

__ADS_1


Angel terlihat sangat sedih dan sedikit shock. Dani lalu menarik tubuhnya masuk dalam dekapannya. Diusapnya surai hitam Angel penuh sayang.


Tapi beberpa menit kemudian Angel teringat sesuatu, buru buru dia mengurai dekapan, kemudian menatap Dani penuh curiga.


"Tunggu. Jangan bilang kamu dalang dibalik tertangkapnya mereka..?"


"Haiss, apa yang kau pikirkan..? Buruan aku sudah terlambat nih." Seru Dani kemudin bangkit, tapi rasa penasaran Angel, membuat dia menarik tangan Dani hingga pria itu jatuh dan parahnya bibir pria itu malah menempel sempurna dibibir tipis Angel.


Bola mata keduanya membulat sempurna. Angel yang tersadar langsung mendorong tubuh Dani. Tapi bukannya menjauh, Dani malah ikut menarik tubuh Angel hingga posisi keduanya kembali tegak.


Angel yang malu hendak membalikan wajahnya, tapi dengan sigap Dani menahan nya , kemudian mendekati wajahnya secara perlahan, refleks Angel menutup matanya.


Mendapat lampu hijau dari Angel, Dani kemudian dengan lembut mel*mat bibir Pink Angel. Ciuman yang awalnya lembut dan ringan seketika berubah menjadi panas dan menuntun kala Angel ikut membalas mem*gut bibirnya.


Sebelah tangan Dani menekan tengkuk Angel dan sebelahnya lagi berada dipunggungnya mengusap punggung gadis itu, hingga ciuman itu semakin dalam.


Keduanya masih saling melum*atan, menyesap dan memag*gut. Lidah Dani menyeruak masuk mengabsen deretan gigi putih Angel dan sekalian mengajak gadis itu berbelit lidah.


Angel begitu menikmati permainan bibir dan lidah Dani hingga tanpa sadar tubuhnya sudah berbaring disofa dan tubuh Dani tepat diatasnya tanpa melepas pag *tan itu.


Tangan Dani tak tinggal diam menyusup dibalik baju Angel dan mere*mas sebelah bukit milik Angel hingga tanpa sadar gadis itu pun melenguh.


Rem*san yang awalnya lembut kini berubah menjadi sedikit kuat membuat Angel merasa sedikit sakit hingga mengembalikan kesadaran gadis itu.


Buru buru didorongnya tubuh Dani yang tengah mengukungnya, Ciuman itu terlepas. Dani menatap Angel dengan tatapan yang sudah berkabut. Angel tahu itu, tapi gadis itu hanya bisa menggeleng.


"Maaf. Aku terbawa suasana." Sesal Dani langsung beranjak duduk..


*


*


*


Yua tetap seperti biasa selalu memprovokasi nya dengan kedekatannya dengan Krishna. Sebenarnya dia memilih cuek, tapi melihat Krishna yang begitu perhatian dan memanjakan gadis itu membuat hati Ayura sakit.


Meskipun rasa yang dimiliki kepria itu menipis tapi tetap saja bagaiman pun mereka masih berstatus pacaran.


Beruntung dia memiliki Abi yang selalu memberi dia semangat dengan cara mengirimkan pesan dan terkadang menelponnya.


Seperti sekarang ini dia sedang ngobrol dengan Abi lewat telpon, Ayura terus saja mengoceh dengan ringan gembira hingga tidak menyadari kehadiran Krishna yang tengah menyorotnya tajam.


"Aku minta berkas kontrak kerja sama kita dengan Alexander Group" Sela Krishna disaat obrolan Ayura dengan Abi.


Ayura lalu mengambil berkas yang dimaksud Krishna, menyerahkan pada pria itu tanpa mematikan panggilan. Dia bahkan menyodor berkas itu tanpa melihat kearah Krishna.


"Yang sopan kamu Ay, masa memberikan ku berkas ini tanpa melihat ku. Sepenting itukah obrolan kalian hingga mengacuhkan ku. Lagian ini jam kerja, bisa bisa nya kamu ngobrol dan tertawa sesuka hatimu."


Ayura tertegun, kemudian menarik nafas dalam. "Maaf kak, Aku matiin telponnya . Nanti aku hubungi lagi"


"Jangan kuatir kak. Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Mematikan telepon, Ayura menghadap Krishna yang tengah menyorotnya tajam. Dia terbakar cemburu melihat Ayura begitu lepas dan ceria berbicara dengan seseorang yang diyakininya itu Abi. Dan membuat dia semakin marah mendengar Ayura memanggilnya "kak".


Ayura yang juga emosi membalas menyorot pria itu dengan tidak kalah tajam. "Apa mau mu..? Disini siapa yang mengacuhkan siapa.? Bukankah selama ini kau yang telah mengacuhkan ku, dan lebih mementingkan teman mu itu. Lagian sekarang masih jam istirahat jadi kamu tidak usah marah marah."


"Jadi kamu cemburu...?" Ketus Krishna dengan tersenyum miring.


"Sudah nggak lagi." Balas Ayura tak kalah ketus. Rahang Krishna mengeras, Gadis itu hendak kembali duduk dikursinya tapi Krishna mencekal tangannya dengan begitu kuat. Ayura bahkan meringis merasa sakit pada pergelangan tangannya.


"Apa maksud mu.?"


"Tanyakan saja pada dirimu." Dan cengkraman itu semakin kuat. "Auww sakit Krish." Keluh Ayura membuat pria itu tersadar lalu melepaskan cengkrama tangan Ayura.


Ayura mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah. Krishna yang mengetahui itu langsung menarik tangan Ayura. "Maaf Ay.." Lirih pria itu penuh rasa bersalah kemudian mengusap tangan Ayura.


Dan bersamaan itu datanglah seorang gadis merusak kebersamaan Ayura dan Krishna.


"Kak Krish, ada apa.?" Tanya Yua melihat Krishna yang mengusap tangan Ayura yang sedikit memarah dan mengacuhkannya.


Tapi buru buru Ayura menarik tangannya. Membuat Krishna berdecih kesal. "Bersiaplah, ikut aku meating dengan Reza nanti."


"Kak, kamu mau kemana, aku ikut ya." Mencekal tangan Krishna yang hendak berlalu. Tentu saja dia harus meminta ikut, dia tidak mau Krishna pergi dengan Ayura. Dia tak ingin keduanya kembali dekat, apalagi melihat Krishna mengusap tangan Ayura dan mengacuhkannya membuat dia harus mengambil tindakan.


"Tidak usah, kamu tunggu saja disini. Kalau mau pulang minta diantar sama supir." Jawab Krishna tetap berlalu tanpa menghiraukan Yua yang sedang kesal.


"Kak.." Rengek gadis itu dengan manja, berharap Krishna luluh.


"Jangan membantah Yua. Aku nggak suka." Tegas Krishna sambil melempar tatapan tajam membuat gadis menyebalkan itu mematung ditempat. Dia bahkan tak bisa menelan salivanya dengan benar. Dia baru melihat pancaran kemarahan Krishna yang belum pernah dia temui.


"Bawa berkas yang kau minta tadi pada ku." Ujar Krishna sambil berjalan ke kekursi kerjanya.


Ayura lalu mengambil berkas yang tadi sempat di hempaskan pria itu keatas meja. Saat melewati Yua yang masih mematung terbit sebuah ide membuat dia ingin membalas gadis itu.


"Kalau kamu ingin ikut, mengapa kau tidak mengatakan pada ku, aku yang akan meminta Krishna agar mengizinkan mu ikut. Karena dia selalu mengiyakan semuah permintaan ku."


Ayura lalu memberi senyuman manisnya saat melihat tatapan tajam Yua.


Dia berjalan dengann begitu anggun dan sedikit menggoda ke arah Krishna. " Ini Pak berkasnya." Ayura menyerahkan berkas itu dengan senyum lebar, membuat hati Krishna menghangat. Dia bahkan ikut membalas senyuman Ayura.


"Makasih."


Target masuk perangkap.


'Waah hatinya sudah tenang. Aku akan meminta nya mengizinkan Yua ikut, semoga dia mau. Dengan begitu gadis menyebalakan itu tau, siapa yang lebih didengar, dia atau aku.'


"Pak, kenapa tak kau izinkan saja dia untuk ikut, kasiha dia kalau harus sendirian disini, lagian disana dia bisa duduk agak jauhan agar tidak mengganggu jalannya rapat." Pinta Ayura dibubuhi senyuman cantiknya.


Sedangkan Yua yang mendengar ucapan Ayura membuat kedua tangannya terkepal kuat. Apa lagi ucapan Ayura yang menyuruhnya duduk agak jauhan agar tidak mengganggu jalannya rapat membuat dia benar-benar emosi.


Disini Ayura seperti menganggapnya pengganggu dan tak berguna makanya dirinya harus dijauhkan.


Krishna melirik Yua, kemudian menatap Ayura, gadis itu tersenyum lagi hingga Krishna terhipnotis "Baiklah dia boleh ikut."

__ADS_1


Dengan senyum penuh kemenangan Ayura melangkah pasti kearah Yua. "Apa aku bilang, Krishna selalu mendengarkanku bukan..?" Ejek Ayura tepat ditelinga Yua, tepatnya gadis itu setengah berbisik.


Yua merasa benar-benar dipermalukan, hingga kedua tangannya semakin terkepal kuat dibawah sana.


__ADS_2