Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Apa Mau Berhenti..?


__ADS_3

"Aaaaa...." Pekik Angel saat merasakan sesuatu yang besar dan panjang berusaha memaksa masuk menerobos pertahanan nya selama ini.


Seiring dengan air mata yang menetes saat merasakan sakit dan perih ketikan dibawah sana senjatanya Dani mencoba memaksa masuk. Dani yang kini berada diatas tubuhnya sedang berusaha memasukan senjatanya kedalm lubang kenikmatan milik Angel langsung terhenti .


Dia begitu tak tega melihat Angel tersiksa dibawah kungkungannya.


"Apa ini begitu sakit..?" Sebagai seorang Dokter seharusnya dia tahu kalau ini memanglah sangat sakit, tapi dia tidak menyangka akan sesakit ini, hingga membuat Angel sampai menangis. Bagaimana pun ini juga pengalaman pertama baginya.


Selama ini dia hanya belajar tentang teori dan baru kali ini dia mempraktekannya. Jelas saja dia juga sedikit blank.


Angel mengangguk kecil dengan pertanyaan Dani. Wajahnya masih meringis dengan menggigit bibir bawahnya, menahan sakit dibawah sana.


"Apa mau berhenti..?"


Angel menggeleng. "Lanjutkan! Kita sudah sejauh ini." Ucapnya dengan menerbitkan sebuah senyuman, walaupun Dani tahu itu senyum yang dipaksakan.


Dan benar kata Angel, mereka memang sudah sejauh ini, kalaupun berhenti sekarang, status Angel sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Walaupun baru setengah jalan tapi Dani yakin selaput dara Angel sudah sedikit terkoyak. Dia sudah tidak perawan lagi .


Dan juga obat laknat itu masih bekerja. Mau tak mau Dani harus menuntaskan apa yang harus dituntaskan.


Dani mengangguk, mencoba membalas senyuman. Kemudian menyambar bibir Angel, kembali mel*matnya dengan lembut.


Ciuman berpindah ke kedua mata gadis itu secara bergantian. "Jangan menangis, aku tidak akan tega nanti. Ak akan berusaha melakukan dengan pelan,hmm.?" Rayu Dani dengan lembut


Angel kembali mengangguk. "Tuntaskan Dan, biar aku cepat terbebas dari panas ini." Ucapan Angel membuat Dani terluka, sakit dan menahan geram, mengetahui Angel begitu tersiksa karena obat laknat itu


Dani tersenyum, Dibelainya wajah Angel, kemudian kembali mem*gut bibir Angel, lembut tapi dalam dan semakin dalam, Angel pun membalasnya dengan begitu bergairah hingga tiba tiba dibawah sana menyeruak masuk dengan kuat dan....


"Daniiiii, sakiiit!" Melepaskan bibir Dani, gadis itu memekik keras, bersamaan dengan kuku kuku tajam Angel menancap sempurna dipunggung kekar Dani hingga pria itu pun merasakan sakit


dan nikmat bersamaan.


Sakit dipunggung nya kalau Angel mencakar nya degan begitu kuat dan nikmat saat miliknya seperti diremas remas milik Angel.


Sedangkan Anegl kembali meneteskan airmata nya, ini terlalu sakit buat nya. Hingga Dani mengusap bulir bulir kristal milik Angel.


"Jangan menangis sayang. Aku mencintaimu mu Angel." Dani mencoba memberikan kata kata indah agar rasa sakit itu bisa teralihkan. Tapi sesungguhnya pria itu pun meneteskan air matanya, melihat Angel begitu tersiksa sampai menangis karena dia sendiri yang pada akhirnya merenggut kesucian gadis yang selama ini dijaga dan dipantau secara diam.


Dani berhenti sejenak, membiarkan Angel terbiasa dengan senjatanya.


"Aku akan bergerak, hmm." Angel hanya bisah mengangguk.


Hingga Dibawah sana pinggang Dani sudah bergerak berirama dengan pelan dan lembut.


Rasa sakit yang dialami berangsur menghilang dan berganti kenikmata denga diiringi goyang pinggang Dani dengan hentakan hentakan yang semakin lama semakin cepat hingga pada akhirnya..


"Aakhhh..." Pekik keduanya bersamaan saat pelepasan itu datang. Dan Dani tumbang disamping tubuh Angel dengan tubuh yang tengah bermandikan keringat.


Mengusap peluh di kening Angel, Dani kemudian merengkuh tubuh Angel yang juga basah bermandikan keringat. Mendekpanya penuh cinta, mendaratkan sebuah kecupan penuh sayang.


"Tidurlah sayang! Aku mencintaimu. "


* * * * *


,

__ADS_1


Abi baru saja pulang keapartemennya. Setelah membersihkan tubuhnya yang begitu lengket, keringat bercampur debu dan darah sang preman yang tersisah di beberapa bagian tubuhnya dikamar yang lain.


Dengan langkah ringan dan pelan dia mendatangi Ayura yang masih terlelap pulas karena Dani sudah menyuntikan obat tidur untuk gadis itu.


Duduk disisi pembaringan, Abi menatap sendu wajah lelah Ayura yang terlihat masih sembab.


Dibelai lembut surai hitam Ayura yang menjuntai di kening dan pipi gadis itu. Abi lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut berdurasi lama dikening mulus Ayura.


Pria itu terlihat sangat lelah hingga memilih bersandar pada headboard sembari memejamkan matanya, dengan sebelah tangan yang masih memebelai lembut rambut Ayura.


Tapi seketika matanya langsung terbuka dan menyalak marah saat kejadian yang menimpa Ayura tadi kembali terputar dimemori otaknya.


Dia bersyukur datang diwaktu yan tepat, kalau tidak preman itu sudah pasti melecehkan Ayura. Dan sampai itu terjadi malam ini ke empat preman itu sudah pasti mati ditanganya saat itu juga.


Dan mungkin nasib Krishna pun mungkin akan habis ditangannya.


* * * * *


Pagi menyapa, silau sinar mentari pagi menerobos masuk disela sela kain korden yang tersingkap, menampar wajah lelah Abi yang masih dengan posisi duduk di sisi Ayura dengan tangan masih bertengger di atas kepala Ayura.


Abi baru saja membuka netranya , memijit pelipisnya yang berdenyut sakit. Kepalanya msih pusing karena kurang tidur dan kelelahan.


Terdengar suara lenguhan kecil dari samping membuat dia cepat cepat bangkit, melupakan pusing yang tadi sempat mendera, Abi lalu berjongkok dihadapan Ayura.


Tak berselang netra gadis itu pun terbuka perlahan, tapi seketika kembali terpejam kala silau mentari pagi menerpa penglihatan nya.


Abi yang menyadari itu langsung berdiri menghalau cahaya matahari. Hingga netra Ayura kembali terbuka secara perlahan dan langsung menyapu seluruh ruangan.


Spontan saja gadis itu menjadi sangat panik setelah menyadari sudah terbaring disebuah tempat asing. Bayang bayang kejadian semalam terulang dibenaknya..


"Aaaa, Pergi..Pergi....Kumohon Lepaskan aku!" Teriak Ayura sembari berontak dalam selimut.


"Tolong...tolong...Kumohon seseorang tolong aku,hikh...hikh. " Tangis Ayura histeris.


Bayang bayang kejadian tadi malam kembali berputar menciptakan rasa takut dan trauma mendera.


Ayura terus saja histeris membuat Abi langsung menarik selimut dengan sedikit paksa karena Ayura menggenggamnya dengan begitu erat.


"Ay.. Tenang Ay, ini aku, Abi.." Bujuk Abi. Menarik tubuh Ayura dan memeluknya dengan erat meskipun Ayura terus saja berontak dalam dekapannya.


Ayura masih saja berteriak ketakutan hingga Abi melepaskan pelukan lalu menangkup kedua pipi Ayura, memaksa gadis itu untuk melihatnya.


Memberitahukan padanya kalau yang berada dihadapannya sekarang adalah dia bukan preman preman itu.


Hingga Netra Ayura yang langsung berpusat pada mata elang milik Abi pun langsung terdiam dalam isakaan nya.


"Pak Abi..." Lirih nya


"Iya, ini aku Abi, Ay.."


Tangan Ayura terangkat ikut menangkup kedua pipi Abi, gadis itu kembali memastikan kalau yang diedepanya benar-benar Abi.


"Pak Abi..hikh..hikh..mereka...mereka mau melec....hikh hikh.." Tangis Ayura kembali pecah,mengadu pada dewa penolongnya yang selalu ada disaat gadis itu tengah bersedih dan sekarang disaat gadis itu dalam bahaya pun Abi lah yang menolong nya.


"Stttt..." Abi langsung membungkam ucapan Ayura dengan jari telunjuk diletakan dibibir gadis itu. "Kamu sudah aman Ay. Penjahat itu sudah dikantor polisi."

__ADS_1


Ayura menggeleng. "Mereka pasti akan kembali." Masih dengan isakan, air mata pun tak berhenti menetes.


Abi mencoba tersenyum sembari mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. "Tidak akan pernah Ay, ada aku. Aku akan selalu menjaga mu,hmm. Kumohon percayalah pada ku.."


Ayura menatap intens netra Abi dengan netranya yang masih menggenang cairan bening. Ada kejujuran dan rasa aman disana.


Gadis itu percaya itu sontak di pun mengangguk, mencoba tersenyum tipis, membuat Abi malah tersenyum lebar.


Ditarik nya tubuh Ayura dan mendekapnya penuh sayang. Hati Abi menghangat kala mendapat pelukan balas dari Ayura. Dibelai nya surai hitam Ayura yang terlihat sangat berantakan dengan penuh sayang.


Hingga pelukan itu pun terurai. Dan Abi selalu memberikan senyuman hangat nya, beharap Ayura dapat tenang dan merasa aman.


"Sekarang, kamu kekamar mandi. Mandi dan setelah itu makan hmm." Titah Abi dengan lembut ,jangan lupakan senyuman yang selalu tercetak di bibir seksinya.


Ayura menggangguk, karena sesungguhnya dia juga merasa kebelet dari tadi. Abi pun menyingkirkan memberi jalan untuk Ayura.


Gadis itu lalu menyibak selimut yang masih menutup tubuh bagian bawahnya, seketika netranya membola melihat baju yang dipakai sekarang, bukan miliknya.


Kamija putih sebatas paha membuat dia langsung menatap Abi waspada. Abi yang menyadari itu hanya terkekeh kecil melihat ekspresi terkejutnya Ayura. Dia faham apa yang dipikirkan gadis itu.


"Bik Sumi yang mengganti baju mu semalam. Aku nggak ada baju wanita jadi aku pinjaman kamija ku." Jelas Abi penuh kehati hatian. Takut Ayura salah paham, dan kembali mengamuk.


"Tapi kenapa aku nggak pakai bawahan..?" Tanya Ayura malu, melihat paha mulusnya terpampang nyata.


Dan kalau saja dia berdiri dan berjalan, bisa dipastikan Abi dapat melihat paha mulus dan kaki jenjang nya. Hal ini akan membuatnya merasa sangat malu, apalagi kalau sampai Abi melihat bekas luka yang begitu panjang dan besar dipahanya. Sesuatu yang ditutupinya selama ini.


"Celana ku kebesaran dan tentunya sangat panjang Ay, apa kamu mau mengulang lagi menjadi badut cantik hmm..?" Goda Abi sembari mengatupkan bibir menahan tawa melihat Ayura yang sedang memelototinya dengan wajah yang memerah, membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


"Ck!" Ayura berdecak kesal. Lalu beranjak dari kasur dengan menggunakan selimut menutup tubuh bagian bawahnya. "Aku mau mandi, tapi pakayan ganti ku bagaimana..?" Tanya Ayura saat sudah didepan kamar mandi


"Tunggu! Aku ambilkan." Ucap Abi bergegas mengambil baju gantinya dan menyerahkan sebuah kamija lengan panjang berwarna merah maron kepada Ayura.


Alis Ayura langsung bertaut membentuk lengkungan. "Kamija lagi..?" Des*hanya frustasi.


Abi hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Kan udah ku bilang, aku nggak punya pakaian perempuan Ay, pakai saja ini sementara. Nanti aku akan menghubungi Willy untuk membelikan yang baru."


Ayura mengangguk, merampas baju ditangaj Abi dengan sedikit lesu. Tapi sebelum dia benar-benar masuk di kembali berbalik ,Abi bingung melihat Ayura yang kini berjalan kearahnya.


Dengan wajah mendunduk Ayura berbicara pada Abi. "Bapak jangan pergi, Tetaplah disini. Aku takut" Ucapan Ayura membuat Abi tercekat. Ternyata Ayura masih trauma.


Dia pikir setelah bercanda dan mengobrol dengan Ayura tadi, Ayura sudah baik-baik saja, ternyata dia salah.


Abi tersenyum kecut. "Iya Ay, aku tidak akan kemana-mana, aku akan menunggu mu disini. Dan sekarang pergilah mandi. Kau pasti sangat lapar sekarang."


Selepas kepergian Ayura kedalam kamar mandi, Abi langsung menghubungi Dani, meminta Dokter itu agar segera datang untuk memeriksa kejiwaan Ayura.


Tapi setelah melakukan panggilan untuk kesekian kalinya, Dokter itu tidak mengangkat nya sama sekali, membuat Abi terus mengumpat dengan kesal.


Dan saat panggilan berikutnya baru terdengar suara serak dari seberang.


"Hei, kemana saja kamu, kenapa tidak mengangkat telepon ku..?" Serang Abi dengan penuh emosi.


"Ada apa Bi....?" Tanya Dani dengan lesu. ...


"Kamu tanya ada apa.? Kurang ajar kamu, cepatlah kesini dan periksa kondisinya Ayura, sepertinya dia tidak baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2