Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Saling Diam.


__ADS_3

Hangatnya matahari pagi menyapa indah dengan sinar ke emasannya. Memberi tanda hari sudah dimulai dan mengajak penduduk bumi untuk menjalankan segala rutinitasnya


Seperti yang tengah dijalani penghuni di kediaman megah Bramantyo.


Pagi pagi sekali sudah terlihat asap mengepul dari bilik dapur, tampak wanita paruh baya dengan stelan rapi memegang spatula dan wajah yang tengah mengepul asap dari nasi goreng yang tengah di buatnya.


Lama tidak menjalankan rutinitas sebagai Ibu rumah tangga membuat wanita senja itu terlihat sedikit kesulitan, tapi tak ingin melibatkan art nya dalam kegiatan memasaknya pagi ini karena kali ini dia ingin memasak untuk semua anggota keluarganya. Para art nya hanya diizinka melihat dari jarak dekat


Nasi goreng sosis dengan irisan ayam goreng adalah buatannya hari ini. Dengan tampilan yang sangat menggugah selera.


"Bik, tolong rapikan dapurnya" Pinta sekalian titahnya dengan ramah setelah menyelesaikan ritual memasaknya.


Sang Bibi menganggguk patuh "I..iya Nyonya" Mimpi apa dia semalam melihat pagi ini sang Nyonya yang terlihat arogan dan sombong masuk kedapur, dan apa katanya membuat sarapan untuk keluarganya..? Apa dia salah dengar..? Tentu saja tidak. Karena sang Nyonya benar-benar melakukannya, memasak nasi goreng untuk sarapan bersama.


Dan apa tadi, dia meminta tolong dengan begitu ramah, padahal biasanya wanita itu selalu saja memerintah dengan congkak, jangan kan ramah, nggak marah saja mereka sudah sangat bersyukur.


Nasi goreng beserta lauk yang lain telah tertata rapi diatas meja. Saat sang kepala keluarga melenggang penuh wibawa menghampiri sang isteri yang sedang tersenyum lebar menyambut sang suami.


"Pah, mari sarapan dulu." Ucap Amara disertai senyum simpul.


Bramantyo mendekat dengan raut bingung, mendapat isteri sedang menata hidangan dengan apron masih membungkus badan. "Apa ini Mama yang masak..?" Hanya sebuah senyum disertai anggukan sang isteri membuat sebelah alis pria itu terangkat. Masih tak percaya.


"Tumben, emang Mama nggak syuting hari ini..?" Pertanyaan nya membuat isteri mencebik.


Sesungguhnya dia tidak tahu kalau Amara sudah dipecat oleh Krishna, karena pria itu pulang larut hingga sang isteri belum sempat untuk memberitahu.Lagian baginya ini bukan sesuatu hal penting yang harus segera disampaikan pada sang suami, mengingat semalam pria itu pulang dalam keadaan lelah


"Ck! Mama sudah nggak kerja lagi Pah, umur Mama sudah tua dan sudah waktunya menikmati hari tua dengan santai dirumah, masak masak dan nunggu Papa pulang." Rautnya sedikit sedih kemudian tersenyum. "Papa nggak marah kan kalau Mama nggak kerja lagi..?" Tanya Amara dengan raut sedih


Bramantyo sedikit terkejut mendengar isterinya sudah tidak bekerja lagi, tapi sedetik kemudian pria itu tersenyum senang, apalagi mendengar Amara yang katanya ingin fokus mengurus keluarga dan menunggunya pulang, itu merupakan berita yang paling ditunggu tunggu selama ini.


"Benarkah sayang...? Untuk apa Papa marah, Papa malah sangat senang Mah.Lagian uang yang Papa berikan tiap bulannya aku rasa cukup untuk keperluan Mama, tapi kalau Mama merasa masih kurang, Papa akan tambah lagi. Nggak masalah. Asal Mama memang serius mengurus kami. Dan Papa janji akan selalu makan dirumah, kalau itu Mama yang masak.Karena Papa kangen dengan masakan Mama." Ucapan Bramantyo antusias membuat Amara terharu, diusahakan lengan sang suami dan dibalas usapan dari suaminya dengan sebelah tangannya. Keduanya tersenyum lebar.


"Ehem...Ehem..." Suara deheman mengalihkan pandangannya mereka.


"Njel, kamu sudah bangun nak...? Tolong panggil Ayura biar kita sarapan bersama. Bilang padanya Papa sudah menunggu."


Angel mengangguk "Baik Bos!" dan langsung berlalu.


Kening Bramantyo terlipat halus menyaksikan pemandangan barusan, pikirnya apa isteri dan anak tirinya sedang berakting seperti yang sudah sudah..?


Sesungguhnya dia memang tidak pernah tahu semuah hal yang sedang terjadi akhir akhir ini, hubungan Angel dan Ayura. Dan sekarang Amara yang sudah ingin berubah pun masih dicurigai pria itu.


"Ayo duduk dan kita sarapan bersama." Ujar Amara saat Angel dan Ayura bergabung.


Bramantyo hanya diam menyaksikan drama yang sedang dimainkan isterinya. Terlalu banyak drama yang diperankan isteri dalam rumah tangga mereka membuat dia bersikap waspada.


Semuahnya pun makan dengan diam. Amara benar-benar menjalankan perannya sebagai seorang isteri yang melayani suami dengan baik dimeja makan. Seperti awal mereka menikah dulu.

__ADS_1


"Ay, perginya nanti sam Papa ya nak." Tawar Bramantyo.


"Apa Papa nggak telat nanti..? Kantor Ayura kan jauh Pah."


Bramantyo melirik jam dipergelangan tangannya. "Nggak kok Nak, masih bisa. Ayo!


Ayura mengangguk dan langsung ikut berdiri, berjalan lebih dulu meninggalkan Papanya yang masih pamitan pada Amara.


Angel menyaksikan kemesraa kedua orangtuanya dengan senyum kebahagiaan, hatinya menghangata. Teringat ucapan Ibunya semalam.


'Mama sudah tua nak, jadi sudah saatnya Mama istirahat dan fokus mengurus kalian. Banyak waktu yang sudah Mama buang tapi Mama bersyukur masih diberi waktu untuk berubah dan memperbaiki diri.'


* * * * *


"Kapan kamu mau membeli mobil mu sendiri Ay." Tanya Bramantyo tapi terdengar sindiran ditelinga Ayura


"Nanti Pah, kalau tabungan ku sudah cukup. "


"Perasaan gaji mu lumayan besar loh Ay.Emang mobil seperti apa sih yang kamu mau..? Kalau pun uang mu belum cukup Papa bisa menambahkan, dan kamu bisa menggantikan dengan cara mencicil atau kapan pun kamu mau, nggak masalah. Asal kamu bisa memiliki mobil sendiri. Papa merasa sangat kuatir kalau setiap hari kamu terus terusan naik taksi, nggak aman Ay, apalagi kalau pulangnya malam terus."


Bramantyo memintanya untuk mencicil karena dia tau watak putrinya yang tidak mau dibelikan mobil secara gratis.


Ayura menghela nafas. "Iya Pah, nanti Ayura carikan."


Mobil telah terpakir di halaman kantor, Ayura bergegas turun setelah menyalimi sang Papa, tak lupa tersenyum dan melambai pada Papanya setelah keluar dari mobil .


Apalagi melihat Ayura tersenyum dan melambai manja membuat rahangnya mengeras.


Tapi saat Ayura berbalik, tanpa sengaja kedua netra mereka beradu, Ayura hendak melayangkan senyuman tapi langsung urung karena dilihatnya sang Bos tengah membuang muka dan langsung berlalu tanpa mau menyapanya.


Hati Ayura sakit, sesungguhnya dia masih sakit hati dengan sikap Krishna kemarin tapi dia ingin melupakan nya, karena tak ingin berlarut larut dalam masalah. Toh Angel dan Mamanya juga baik baik saja.


Tapi melihat Krishna yang sepertinya masih marah padanya membuat dia hanya bisa mengelus dada.


"Panjangkan sabar Ay, bukankah sifatnya memang seperti itu.." Ucap Ayura mencoba menenangkan diri.


Tapi saat memasuki ruang sang Bos yang juga merupakan ruangnnya, lagi lagi Ayura dibuat kecewa saat sapaan selamat paginya tak dijawab oleh Krishna. Pria itu hanya melirik sekilas kemudian fokus pada laptop yang ada dimeja kerjanya


Hati Ayura mencelos.


"Baikkah, kalau kau tidak mau menyapa ku, aku juga tidak akan menyapa mu. Kita lihat saja sampai kapan kau bertahan dengan diam mu." Gumam Ayura disertai mencebik kesal.


Dengan cuek Ayura pun berlalu duduk dikursi kerjanya.


Ayura mengingat sesuatu, kopi buat Krishna.Karena memang seperti itu rutunitasnya tiap pagi saat pertama kali datang dia harus membuat kopi untuk sang kekasih merangkap atasannya.


Tapi baru saja bangkit dari duduknya, suara Krishna membuatnya tertegun dan kecewa.

__ADS_1


"Dam, buatkan aku kopi." Titah Krishna saat Adam masuk kedalam ruangan mengantar sebuah berkas.


Hati Ayura tercubit, melihat sikap dingin Krishna padanya, dia bahkan tidak menatap Ayura sama sekali.


Krishna terlalu kecewa pada Ayura, pergi berduaan dengan Abi tanpa mengabarinya, padahal kemarin dia sudah mencoba mencarinya untuk meminta maaf atas semua sikapnya yang sudah marah dan membentaknya kemarin.


Tapi Ayura malah memilih pergi bersama Abi dan melupakan semuah permintaan nya untuk menjaga jarak dari Abi. Dia benar-benar kecewa dan berharap hari ini Ayura menjelaskan semuahnya, tapi ternyata gadis itu datang dengan tampang biasa biasa saja tanpa rasa bersalah. Jelas saja dia sangat kesal.


Dia masih mendiamin Ayura sampai jam makan siang tiba. Memilih makan siang di luar tanpa pamit dan mengajak Ayura membuat hati gadis itu terasa perih, seperti diremas remas kemudian dibanting banting seperti adonan roti.


Tapi sesungguhnya dia sedang bertemu dengan klain pria hingga tidak mau mengajak nya.


Sebenarnya dia pun sangat tersiksa dengan sikap dinginnya, tapi setiap dia ingin menyapa Ayura, bayangan dirinya pergi bersama kakaknya membuat dia memilih ke mode senyap.


Sedangkan Ayura, Sedih..? Tentu saja.Tapi dia mencoba untuk tegar, satu yang menjadi kekuatannya adalah menunggu saat Krishna lelah dan kembali menatap dan menyapanya dan disaat itulah dia akan membalas perlakuan dingin sang kekasih. Dendam.. Itu yang dirasakan nya.


"Baiklah, kamu jual aku beli. Aku tidak akan bersedih ataupun menangis dengan semuah perlakuan mu, kita lihat saja siap dulu yang akan menyerah dengan situasi seperti ini. Kamu atau aku..?" Geram Ayura sembari menyipit kedua matanya dengan tangan yang terkepal kuat, melihat kepergian Krishna tanpa menatap nya sedikitpun.


Dia pun akhirnya memilih makan siang dengan kedua teman temannnya, Putri dan Nanda.


Dan hal itu membuat kedua temannya beserta beberapa teman yang lain pernah satu divisi dulu terlonjak senang, bisa makan bareng sama sahabat atau teman yang mereka anggap paling baik sudah.


* * * * *


Sudah beberapa hari hubungan Krishna dan Ayura masih belum ada perubahan, sama sama masih mempertahankan egonya. Menunggu siapa dulu yang akan menyapa.


Dan setiap siang dia selalu menghabiskan waktu istirahat dan makan siang bersama teman temannya.


"Belum baikan juga Non...?" Tanya Nanda saat sedang menikmati makan siang mereka.


Ayura menggeleng cuek. Fokus pada makannanya yang hanya diaduk aduk dari tadi.


"Ngambeknya jangan terlalu lama, diantara kalian harus ada yang ngalah, dan aku sarankan kamu yang harusnya meminta maaf terlebih dahulu. "Ucapan Nanda terhenti karena mendapat pelototan dari Ayura


"Kenapa harus aku..?"


Nanada menarik nafas pelan "Karena kamu yang salah. Dia melakukan itu semuah karena dia peduli pada mu Ay. Dia mungkin tidak suka dengan Mama dan saudara tirimu itu, yang selalu menjahati mu selama ini, jangan kan dia aku aja kesal dengan tingkah mereka, apalagi dia yang notabene sebagai kekasih mu."


"Dan satu lagi , kemarin kamu juga pergi sama Pak Abi kan..? mungkin dia sudah tau, jadi disini kamu banyak salahnya. Udah nggak menghargai kebaikannya kamu malah memilih pergi dengan pria lain, sedangkan kamu tahu sendiri, sudah posesif seperti apa kekasih mu itu."


Sebagai teman yang satu server dengan Krishna yang tidak menyukai Angel dan Mamanya, Nanada mencoba menyadarkan temannya itu.


Sedangkan Ayura hanya bisa diam, mencerna ucapan Nanda yang sepertinya benar adanya. Disini dia yang salah. Apa dia yang harus duluan yang meminta maaf..? Pertanyaan itu terus berputar diotak.


"Ck! Nggak usah dibahas lagi, lanjutkan makannya, ini sudah jam berapa..?" Sela Putri menengahi, melihat Ayura bersedih karena merasa dipojokan oleh Nanda.


"Eh iya, mumpung hubungan mu dengan Pak Krish lagi renggang ,bagaiman kalau wekend ini kita jalan-jalan. Karena kalau mereka udah baikan pasti kita tidak diizinkan lagi oleh Pak Krish untuk jalan bersama kekasihnya, secara dia kan posesif banget." Dan usulan Putri mendapat sambutan hangat dari Ayura dan Nanda.

__ADS_1


__ADS_2