
"Krish...kau tidak papa.?" Teriak Adam panik dan berlari kearah Krishna, menangkap tubuh pria itu yang hampir terhuyung kebelakang.
Krishna mencoba mere*as dadanya yang semakin terasa sakit dan sesak. "Ambil obat ku Dam." Titah Krishna dengan pelan.
"Tidak Krish, itu tidak boleh lagi. Karena kamu baru saja meminumnya setengah jam yang lalu." Bantah Adam membuat pria itu murka.
"Cepat lakukan Adam. "
"Kita kedokter saja sekarang."
"ADAM..." Bentak Krishna penuh penekanan.
Dengan helaan nafas kasar Adam pun langsung mengambil obat dan segelas air untuk atasannya itu.
Setelah meminum obatnya, Krishna memejamkan matanya sebentar. Dan setelah dirasa tubuhnya mendingan. Dia pun langsung membuka mata nya.
"Katakan! Apa lagi yang kau ketahui."
Adam memghela nafas kasar, dia tahu setiap informasi yang diberikan akan membuat Krishna akan terkejut dan itu tidak baik untuk kesehatan nya, tapi kalau tidak memberitahukan padanya juga bukan pilihan yang tepat.
Karena dia yakin pria yang berada disamping nya ini sangat keras kepala.
"Sekarang mereka tengah mencari keberadaan nona Ayura. Sudah beberapa kali mereka mendatangi kantor Pak Bramantyo, tapi untuk saat ini, Pak Bramantyo masih bisa mengatasi dan menghalu mereka. Sepertinya beliau juga memiliki kekuatan hingga bisa menghalangi penjahat berbahaya itu sampai detik ini." Adam menjeda ucapnnya.
"Dan sepertinya Pak Bramantyo juga mengetahui sedikit banyak tentang penjahat itu, hingga dia langsung mengambil sikap menyembunyikan data data Ayura semenjak kejadian itu."
Krishna langsung melirik kearah Adam, sepertinya dia sudah bisa menarik benang merah dari semuah rentetan kejadian yang dia alami.
Dimana dia begitu kesulitan mencari Yua kecilnya dan bahkan memakan waktu yang begitu lama. Dia mengira Ayura sudah berpindah keluar kota atau pun negeri, hingga dia tidak bisa menemukan nya dikota ini. Tapi ternyata Pak Bramantyo sendiri yang menyembunyikan identitas Ayura selama ini. Dia merasa benar benar terkecoh.
"Apa karena itu, kita tidak bisa menemukan Ayura selama ini..?" Tanya Krishna dengan meringis pelan, karena dadanya dirasa semakin sesak.
"Ya..Dan untuk menghilangkan jejak Ayura, mereka merubah semuah identitas Nona Ayura dan selalu berpindah pindah tempat tinggal."
Krishna menarik nafas pelan. "Itu artinya sekarang Ayura dalam bahaya." Dia memejamkan matanya, sesaknya kembali menjadi.
"Ya Krish, dan aku yakin menghilangnya Ayura sekarang adalah karena masalah ini. Sepertinya Pak Bramantyo dan Pak Abi tengah bekerjasaam untuk menyembunyikan Nona Ayura."
"Jadi dari awal kak Abi sudah mengetahui semuah ini, dan kenapa Pak Bramantyo lebih mempercayakan Ayura pada pria itu dari pada aku..?" Ada semacam iri dan disepelekan tengah menyerang hatinya.
"Dam...." Lirih pria itu pelan, sembari mere*as dadanya dan seketika kemudian dirinya pun ambruk.
"Krishna..."
🍒 🍒 🍒
Deruh langkah kaki memggema dilorong koridor rumah sakit. Terlihat sepasang suami isteri senja tengah berlari dengan raut panik dan cemas.
Keduanya pun langsung mendekati Adam yang tengah berdiri diluar IGD.
__ADS_1
"Bagaiman keadaan Krishna, Dam..?" Tanya Airin penuh cemas, airmatanya pun terus saja berderai, semenjak Adam memberitahukan kalau Krishna berada dirumah sakit.
"Masih diperiksa didalam Nyonya."
"Sebenarnya apa yang terjadi.?" Tanya Airin lagi.
Adam tidak menjawab, diliriknya suami wanita itu. Tapi pria itu malah membuang muka. Adam pun jadi bingung, mengatakanyang Sebenarnya atau tidak. Karena Pak Ardiansyah sudah mewanti wanti dirinya dan Willy untuk tidak memberitahu masalah apapun yang terjadi antara Abi dan Krishna .
Dan disaat dia bingung, pintu kamar dibuka membuatnya sedikit bernafas lega.
Munculah seorang dokter dari dalam.
"Bagaiman keadaan anak saya, Daren..?" Tanya Ardiansyah pada temannya yang merupakan kepala rumah sakit Himeldy.
Dokter itu terlihat menghela nafasnya. "Ikut aku keruangan ku, ada yang perlu aku jelaskan."
Dan disinilah mereka sekarang, dirungan Dokter Daren.
"Ada apa, cepat Katakan." Titah Ardiansyah nggak sabaran.
"Keadaan Krishna sangat lemah saat ini. Ada beberapa faktor membuatnya drop. Sepertinya dia kelelahan dan stres ditambah dia mengkonsumsi obat dalam dosisi tinggi hingga keadaannya sekarang benar-benar kritis.
🍒 🍒 🍒
Sudah empat hari Ayura berada di pulau pribadi milik Abi. Dia begitu menikmati hari harinya bersama Abi yang selalu memanjakannya, memberi perhatian perhatian kecil maupun besar membuat dirinya selalu tersenyum dan bahagia.
Semenjak ungkapan cinta Abi padanya, membuat pria itu kini semakin rajin dan gencar mengungkapkan isi hatinya tanap mengenal waktu dan tempat. Dia selalu mengungkapkan kata kata cinta pada nya membuatnya selalu merasa terbeban..
Hingga setiap hari disaat akan tidur, disaat bangun tidur, sarapan dan sedang bersantai pun Abi dengan mesra mengungkapkan kata kata indah itu..
"Selamt tidur Ay, aku mencintai mu." Ucap pria itu sebelum gadis itu masuk kedalam kamarnya.
"Selamt pagi. Bagaimana tidur mu..? Mimpi indah kan..?" Tanya Abi kemudian menarik tanganya dan mengecupnya pelan. "Aku mencintai mu"
Dan disaat mereka sedang bermain dipantai, Abi tidak pernah bosan bosan melukiskan isi hatinya. "Aku mencintai mu Yuana Putri" Teriak Abi sambil mendekap tubub Ayura, sembari memutar mutar tubuh mungil itu.
Dan seperti itu hari hari Ayura dipenuhi dengan pernyataan cinta Abi untuknya dan sekarang dia mungkin sudah kebal dan terbiasa dengan semuah itu.
Pagi menyapa dengan indah, berhiaskan suara kicau burung yang bertengger dipohon pohon ditambah dengan suara deburan ombak yang selalu menemani pagi Ayura kala terjaga dari tidurnya.
Dan pagi ini dia berencana membuat nasi goreng untuk sarapan dirinya dan Abi.
Beberapa hari ini Abi yang sering memasak untuknya, maka dari itu dia ingin membuat sesuatu untuk pria terhebat setelah Papa nya tentunya.
Daster panjang selutut dengan lengan pendek dan rambut yang dicepol asal, Ayura akhirnya berperang dengan wajan dan spatula.
Nasi goreng campur sayur sawi, orekan telur, bakso dan suwiran ayam menjadi menu andalan kali ini.
Dia ingin cepat cepat menyelesaikan masakannya sebelum Abi bangun. Karena selain ingin memberi kejutan, dia juga tak ingin Abi merecokin dirinya saat memasak. Karena dia tahu seberapa usilnya pria itu dengan dirinya.
__ADS_1
Disaat tanganya dengan telaten mengaduk masakannya, sekikas terlintas di benaknya kalau saat ini dia merasa tengah berperan menjadi seorang isteri sekarang, memikirkan itu membuat dia tersenyum malu. Tapi buru buru dia membubarkan pikiran nyelenehnya. Aaahh...Sok sok 'an menjadi isteri, membalas cinta pria itu saja belum. Ck ck ck...
Ayura masih sibuk dengan masakannya dan pikiran anehnya sampai suatu suara serak tepat disamping telinganya mengangetkannya.
"Masak apa Ay..?" Ayura yang terkejut, spontan berbalik dan. " Cup! " Satu kecupan mendarat dipipinya.
Dan satu lagi selain sering mengumbar kata cintanya, Abi juga sering mencuri kecupan dipipi atau dikening nya. Katanya sih itu bentuk ungkapan sayang dari seorang kakak ke adiknya. Hadeew, sang karep mu lah mas. Hayati lelah...
"Kak Abi..Apa yang kakak lakukan.."Kesal Ayura dengan mata melotot .
Posisi mereke begitu intim membuat Ayura sedikit risih. Bagaimana tidak, Abi berdiri bgitu menempel dibelakang nya, bahkan dapat dia rasakan hembusan nafasnya mengenai telinganya. Panas dingin tubuhnya itulah yang dialaminya sekarang.
Maka dari itulah dia ingin cepat cepat menyelesaikan masakannya, karena kalu sudah ada pria yang sudah tiga hari ini berubah 180 derajat ini, sudah pasti direcokin yang bukan bukan.
"Aku hanya ingin menanyakan kamu sedang masak apa Ay."
"Aku masak nasi goreng kak." Jawab Ayura tanpa menoleh. Dan memilih sibuk dengan masakannya. Karena dirinya juga sedang menetralkan degupan jantung nya selalu berdetak hebat bila dekat dekat dengan Abi.
"Aku tidak menyangka kalau adik kecil ku bisa juga memasak" Ucap Abi disertai kekehan kecil, karena Ayura mendelik padanya. Dia tidak pernah suka Abi mengatakannya gadis kecil.
"Apa ini enak..?"
"Tentu saja, siapa dulu yang buat..?" Jawab Ayura dengan jumawa dan kembali membuat pria itu terkekeh.
Ayura tengah menyendok sesendok nasi goreng yang mau di cicip rasanya, tapi tiba-tiba Abi juga mau ikut mencicipinya.
"Coba aku yang rasa, aaa..."
"Ya udah, bergeser sedikit biar aku bisa menyuapi kakak." Pinta Ayura pada Abi. Karena pria itu tak bergeser dari tempatnya. Bagaimana mau menyuapinya kalau posisinya masih dibelakang tubuhnya.
"Disini aja Ay, aku lagi pewe nih." Ucapan Abi membuat Ayura mendelik tajam. Tapi pria itu memilih cuek dan terus membuka mulutnya "Aaa.."
Dan dengan berat hati Ayura pun mengarahkan sesendok nasi goreng kesamping kepalanya dengan sedikit menjauhkan kepalanya dari mulut pria itu yang sedang terbuka. Dan hal yang tak terduga, karena merasa pergerakan tangan Ayura yang begitu lama, merasa nasi gorengnya nggak sampai sampai membuat mulut pria itu langsung maju kedepan dan merampas nasi goreng itu dengan mulutnya, dan bersamaan itu tangannya dibawah sana pun langsung memeluk pinggang Ayura dengan erat. Dia hanya takut Ayura terdorong kedepan, karena didepan sana masih ada wajan panas berisikan nasi goreng.
Hal ini sontak saja membuat Ayura benar-benar kaget.
Tanpa menghiraukan tubuh Ayura yang sedang menengang, Abi malah menikmati nasi goreng dalam mulut dengan santainya. " Ini enak Ay, mau lagi dong." Ucap Abi tanpa dosa.
Ayura menghela nafas berat, bergegas dia mematikan kompornya. "Yah udah, kak Abi tunggu aja dimeja, biar aku siapin dulu nasi gorengnya." Titah Ayura dengan menekan amarahnya. Kelakuan pria ini benar-benar menguji kesabarannya.
"Kak..." Pekik Ayura dengan geram, melihat Abi hanya diam dan malah kini meletakkan kepala dipundaknya dengan begitu santai.
"Iya...iya..Ay, cerewet banget sih. Orang kak Abi cuma peluk doang, nggak diapa apain juga." Omel Abi lalu melepaskan belitan tangannya dengan hati tak rela.
Dia lalu mengambilkan piring dan sendok untuk Ayura tanpa diminta, Ayura sendiri mengulum senyum geli melihat raut Abi yang tengah cemberut, seperti anak kecil yang sedang diomelin Emaknya karena hanya tau main dan tidak membantu Emaknya didapur. Begitulah wajah Abi saat ini versi Ayura.
Setelah menyiapkan dua piring nasi goreng diatas meja, Ayura pun bergegas kekamarnya untuk bersih bersih, sebelum akhirnya sarapan bersama Abi.
Tali Abi malah mencegahnya. " Langsung makan aja Ay, setelah itu kita berenang."
__ADS_1
"Ha...?"
"Aku ingin lomba berenang dengan mu." Ucap Abi dengan menyembunyikan seringai.