
Disebuah apartemen mewah, terlihat penampilan seorang pria yang bgitu kacau dengan wajah penuh luka lebam hasil pahatan sang kakak.
Dia adalah Krishna, semalam dia tidak bisa memejamkan matanya, hingga memilih hanya duduk diruang tamu, menunggu pagi menjemput.
Hatinya begitu sakit, bukan karena luka yang hampir menutupi seluruh wajahnya, tapi karena kata kata Abi yang terus saja terngiang membuat dia tak sanggup untuk memejamkan matanya.
"Gara gara kamu, Ayura hampir saja diperkosa"
Dan kata kata itu membuat dia hampir gila. "Aaaa." Teriaknya dan langsung menghempaskan semuah benda yang ada dihadapannya hingga ruang tamu yang tadinya rapi dan bersih menjadi berantakan seperti kapal pecah.
Krishna begitu terluka dengan rasa bersalah nya, menjambak rambutnya sendiri sampai meninju dinding hingga buku buku tangan nya terluka.
Pria itu tak merasakan sakit pada tanganya karena rasa sakit pada hatinya lebih mendominasi.
Berniat melangkah keluar menemui Ayura dan meminta maaf. Tapi baru saja dia membuka pintu apartemennya, satu suara lembut yang mendayu daya tengah memanggilnya membuat dia urung memutar knop pintu apartemen.
"Kak Krish..Kau mau kemana..?" Tanya Yua palsu membuat Krishna terkejut.
Melepaskan gagang pintu, Krishna berbalik. Dia pun urung pergi meninggalakn gadis masa kecilnya.
Tak seharusnya dia pergi, bagaimana kalau Yua mencarinya dan bersedih ditinggal seorang diri disini, ditempat nya asing ini. pikir Krishna. Pria itu pun melangkah kearah Yua dengan senyum lebarnya.
"Aku tidak kemana mana Yua " Ucapan Krishna membuat Yua tersenyum senang.
*
*
*
Krishna sibuk dengan gadis masa lalunya tapi palsu begitu juga dengan Abi. Semenjak melihat bekas luka dipaha Ayura, menyadari kalau Ayura adalah gadis masa lalunya yang dicari selama ini membuat dia tak beranjak sedikit pun dari sisi sang gadis.
Dia terus saja memandang, menggenggam tangan Ayura sampai bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan senyuman.
Ayura dibuat bingung dan penasaran. "Pak! Apa bisa kau jelaskan semuah ini, kenapa tingkah Pak Abi jadi aneh begini setelah melihat bekas luka ku..?" Tanya Ayura dengan mengerenyitkan keningnya. Melihat Abi yang tak bergeser sedikitpun sedari tadi.
"Kamu nggak ingat luka itu.?" Ayura hanya menggeleng.
Pandangan Ayura menerawang. "Kata Papa, aku pernah mengalami kecelakaan. Itu membuat memori masa kecilku banyak yang hilang." Tutur Ayura dengan sendu.
Senyum Abi memudar melihat ekspresi sedih Ayura. Tangannya terangkat mengusap pipi Ayura membuat gadsi itu terjangkit kaget.
"Apa mau aku ceritakan tentang luka itu..?"
Ayura langsung mengangguk. "Emang Pak Abi tahu tentang luka ini..?"
Abi mengangguk kemudian mengambil dompet dari dalam saku celananya. Ia lalu menunjukkan sebuah foto yang barusan di ambil dari dompet miliknya. "Lihat foto ini!" Ayura lalu melihat dengan seksama gambar difoto itu.
__ADS_1
Dahinya terlipat halus mengetahui dirinya saat berumur sepuluh tahun dengan seorang pria tanggung yang ternyata selama ini selalu hadir dalam ingatannya disetiap momen momen tertentu.
Dan terakhir kalinya dia mengingat pria tanggung itu saat semalam, saat bayangan dirinya dan pria itu disekap disebuah ruangan. Dia juga masih ingat, kalau dia sempat memanggil nama pria itu. "Kak Abi..." Lirihnya sambil mengusap foto itu.
Pandangan nya teralih ke Abi, dan ternyata pria itu sudah meneteskan air mata mendengar suara lirih Ayura memanggil namanya "Kak Abi..."
"Apa kau ingat tentang pria ini..?" Tunjuk Abi pada fotonya. Tapi Ayura hanya menggeleng
"Apa ini adalah Bapak ..?" Abi mengangguk. Ayura tertegun. "Jadi dulu kita pernah bertemu..?" Abi kembali mengangguk.
"Kita tidak hanya bertemu, kita berteman dulu. Sangat akrab. Jadi kamu tidak mengingatnya sedikit pun.?" Ayura menggeleng.
"Tapi semalam aku mengingat sebuah kejadian dimana aku disekap disebuah ruangan gelap bersama pria ini. Mereka menyiksa kami." Suara Ayura bergetar, netranya sudah berkabut. Mengingat sekelabat bayangan mengerikan kembali terekam dibenaknya.
"Dan mereka....." Bibir Ayura bergetar. Abi mencoba menggenggam tangan nya, tahu Ayura sedang tidak baik-baik saja. "Mereka..." Ayura mencoba mengingat apa yang telah terjadi hingga..."Aaaaa...Tidak...tidak...Kak Abi...Tolong.." Tangisan Ayura pecah bersamaan dengan teriakan histeris.
Ayura menutup kedua telinganya dan terus saja berteriak histeris, Abi kaget dan langsung memeluk erat tubuhnya Ayura yang bergetar hebat, karena tangis bercampur takut.
"Ay...Tenang Ay...Ada aku disini.. Kumohon jangan takut!" Ucapan Abi tak mampu meredam rasa takut Ayura. Gadis itu tetap saja berontak dalam dekapan Abi.
"Mereka siapa..? Mengapa mereka ingin membunuh kita, hikh hikh..."
"Sshhtt...Kejadiannya sudah lama dan sekarang kamu aman Ay. Mereka sudah dipenjara."
Butuh beberapa menit hingga Abi bisa meredam ketakutan Ayura. Gadis itu masih seseguk. Tangan Abi terulur membelai lembut surai hitam Ayura, membisikan kata kata yang bisa menenangkan Ayura hingga gadis itu merasa tenang.
"Maaf aku belum bisa mengingat semuahnya." Sesal Ayura dengan netra yang tak pernah lepas dari wajah Abi.
"Tidak papa Ay. Pelan pelan saja. Yang terpenting aku sudah menemukan mu. Dan mulai hari ini aku ingin kamu memanggil ku Kakak. Bukan Bapak atau Pak. Apa itu boleh..?" Ayura tersipu.
"Jadi selama ini Bapak mencari ku..?"
Abu mengangguk pelan. "Iya! Aku mencari mu dalam waktu yang cukup lama. Dan aku tak pernah menyerah. Dan kesabaran ku berbuah manis, aku menemukan mu."Tutur Abi sembari merapikan anak rambut Ayura kebelakang telinga gadis itu.
Ayura tersipu sekaligus senang mendapat perlakuan manis dari Abi. Setelah kejadian semalam dan melihat Abi yang datang menolong nya membuat dirinya kini merasa nyaman dan ketergantungan pada pria ini.
"Kamu tahu..Saat melihatmu pertama kali saat makan malam dirumah mu, hati ku berdesir hebat, melihat wajah, mata, hidung dan senyuman mu, aku langsung merasa ada getaran hebat. Entah mengapa aku langsung merasa yakin kalau kau adalah Yuana Putri yang selama ini Aku cari." Diujung Ucapan Abi membuat kening Ayura terlipat halus
"Yuana Putri..? Siapa itu..?" Tanya Ayura bingung. Kenapa ada nama gadis asing dalam percakapan mereka.
Abi hanya tergelak kecil. "Itu nama kecil mu."
"Haa..?" Beo Ayura
Abi kembali tergelak. "Iya! Itu nama kecil mu. Tapi aku tidak tahu kenapa sekarang nama mu diganti. Mungkin Papa mu memiliki alasan khusus untuk itu."
"Terus...bagaimana dengan pertemanan kita dulu..?" Tanya Ayura dengan antusias. Dia bahkan bergeser duduknya lebih mendekat Abi. Membuat bibir pria itu tak henti hentinya tersenyum senang.
__ADS_1
"Dulu aku memanggil mu dengan nama Putri, karena kamu sangat cantik bagai seorang Putri." Ucap Abi sambil mencolek dagu Ayura membuat gadis itu tersipu, tapi kemudian mengerucutkan bibirnya membuat Abi lagi lagi tergelak kencang.
"Lanjutkan! Aku ingin mendengarnya" Pinta Ayura dengan manja.
"Kamu sangat suka ikan, apalagi kalu dibakar. Tapi karena kamu menelan tulangya, kamu jadi trauma dan tidak mau lagi memakan nya, kata mu takut digigit tulang ikan. Apa kamu mengingatnya..?"
Ayura hanya menggeleng. "Entahlah. Tapi aku memang tidak pernah lagi makan ikan. Dan aku tahu alasan nya, takut digigit tulang ikan. Tapi aku tidak mengingat kejadian yang sesungguhnya sampai aku tidak mau lagi memakan ikan itu." Tutur Ayura sendu.
"Kamu juga tak suka sushi. Karena olahan daging ikan mentah membuat mu alergi parah. Dan karena itu aku seperti orang gila, menggendong mu lari kerumah sakit tanpa alas kaki. Saat kamu tanpa sengaja memakan sushi."
"Benarkah..?"
Abi mengangguk. "Aku begitu panik saat itu, apalagi melihatmu sedang sesak.. Dan satu lagi, kamu sangat menyukai boneka tedy. Jadi setiap kali aku berkunjung aku selalu membawa mu boneka beruang itu. Dan saat ulang tahun mu yang kesepuluh, aku memberikan hadiah boneka tedy yang hanya ada lima didunia. Kamu sangat senang waktu itu, saking senangnya kamu langsung loncat kedalam pelukan ku, dan memberikan ku banyak kecupan disemuah wajah ku."
Ucap Abi dengan tergelak hebat membuat Ayura cemberut. Tapi kemudian ikut tersenyum. Dia tidak menyangka Abi mengingat semuah hal tentang dirinya.
"Apa kamu masih menyimpan semuah boneka pemberian ku..?"
"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas semuah boneka ku masih tersimpan rapi di dalam lemari kaca. Oh iya, emang boneka pemberian Bapak seperti apa.?"
"Kak Abi Ay.." Tegur Abi tak terima Ayura memanggilnya Bapak.
"Maaf! Aku belum terbiasa."
"Pelan pelan saja, nanti juga kamu juga akan terbiasa."
Kemudian Abi mengingat pertanyaan Ayura. Dan dia mencoba mengingat nya. "Seingat ku, bonekanya berwarna putih tulang, dengan pita berwarna coklat pada lehernya dan diatas pita ada gambar hati berwarna Pink fanta."
Dan penjelasan Abi membuat Ayura tertegun. "Boneka itu masih ada Pak, masih tersimpan rapi didalam lemari ku." Celetuk Ayura membuat Abi senang, mengetahui Ayura masih menyimpan boneka pemberian nya. Tapi kemudin kesal mendengar Ayura masih memanggilnya Pak.
Abi menghela nafas pelan "Kak Abi Ay."Ralat Abi lagi. Gadis itu hanya bisa nyengir..
"Hehehe...Maaf..." Nyengir Ayura, membuat Abi langsung tersenyum bahkan ikut terkekeh. Melihat tingkah menggemaskan Ayura ,sepertinya dia tidak bisa lama lama kesal pada gadis yang sangat dicintainya ini.
Tak berselang Abi yang meras sedikit lengket pada tubuhnya menjadi tak nyaman karena dirinya memang belum mandi.
Dia pun ingin pergi membersihkan dirinya, tapi baru saja beranjak ,tangannya sudah ditarik oleh Ayura. "Pak, eh Kak Abi mau kemana..?" Tanya Ayura ikut beranjak. Berdiri dihadapan Abi.
"Aku mau mandi dikamar sebelah. Kamu tunggu disini ya." Titah Abi sembari memegang pundak Ayura, meminta gadis itu untuk kembali duduk disofa, tapi Ayura malah menggeleng tak terima.
"Aku ikut. "
"Haa..?" Beo Abi. "Kenapa..?"
Ayura kemudian menyapu pandangan seluruh ruangan. "Aku takut."
Deg....
__ADS_1