
Ucapan Abi membuat tubuh Krishna seketika membeku, tubuhnya hampir terhuyung kebelakang, untung ada Yua yang langsung menahan bobot tubuhnya. "Kak, kau baik-baik saja..?" tanya Yua penuh kuatir.
Mendengar suara penuh kuatir Yua, Krishna mencoba tersenyum, tak ingin gadis masa lalunya merasa cemas bagaiman pun mereka baru berjumpa dia tidak ingin membuatnya tak nyaman. Walupun sesungguhnya dia yakin Yua sudah merasa tak nyaman setelah apa yang telah terjadi.
"Mari kita pergi." Niat kedatangannya adalah ingin menitip Yua untuk tinggal di rumah ini sementara waktu, sampai dia mendapat apartemen yang nyaman untuk gadis ini.
Tapi dia sadar keadaannya tak pas, apalagi melihat Mama Airin yang tak henti hentinya menangis dalam dekapan sang suami.
Abi sendiri sudah memilih pergi dengan emosi yang masih membara.
* * * * *
Disebuah gudang bawah tanah, keadaan terlihat sunyi dengan pencahayaan yang temaram nampak beberapa pria bertubuh besar dan tinggi dengan pakayan serba hitam tengah duduk dengan sebatang rokok ditangan diselingi obrolan ringan mereka sekedar untuk mengusik ngantuk, menjaga tahanan sang Bos yang sedang terlelap diatas kursi dengan tangan terikat kebelakang.
"Cih!" Liat masih sempat sempatnya mereka terlelep, bukanya berdoa untuk keselamatan mereka. Dasar bedebah." Rutuk seorang penjaga dengan kesalnya.
"Iya, pada hal aku saja sempat memikirkan nasib mereka, eh mereka malah enak enak santai"Timpal penjaga yang lain.
"Biarkan saja mereka istirahat sebentar, toh sebentar lagi mereka akan bertemu dengan dewa kematian. "
Semuah nya tergelak, tapi tawa mereka tidak bertahan lama karena tiba tiba dari arah pintu munculah sang Bos dengan aura mematikan.
Serempak mereka berdiri, menjatuhkan rokok yang masih tersisa, mematikan dengan ujung sepatu. Kompak memberi hormat pada sang pemimpin tertinggi mereka.
"Selamat malam Tuan" Hormat Willy pada Abi dan diikuti yang lain. Abi hanya melirik sekilas, mengacuhkan mereka. Terus melangkah .
"Diman para baj*ngan itu..?"
"Didalam Tuan." Jawab Willy lalu mengikuti langkah Tuannya menuju ruang khusus penyekapan.
Saat sudah Didalam ruangan, Abi menyeringai melihat ke empat preman Itu sedang asyik terlelep tanpa dosa "Bangunkan mereka. "Titah Abi dingin.
Willy lalu mengkode seorang pengawal. Dan dengan sigap pengawal itu mengambil seember air dan langsung menyiram ke empat preman itu bersamaan. Sontak keempatnya langsung terbangun.
"Sudah puas tidurnya, apa yang kalian mimpikan tadi hmm..?" Tanya Abi pada si bos preman, dengan menarik rambut setengah gondrongya kebelakng, dan kaki kanannya terangkat menginjak dengan kuat paha sang preman.
"Aaahhhh" Teriak sang preman merasakan sakit pada kepalanya, rasanya seperti rambut rambut nya hampir terlepas dari kepalanya, jangan lupakan sepatu fantofel Abi menekan dengan kuat dipahanya.
"Lepaskan ikatan mereka" Titah Abi sembari melepaskan tangannya pada rambut preman dengan kasar membuatnya meringis hebat.
Keempat preman sekarang berlutut dihadapan Abi.
Dia kembali mendekati sang Bos preman, membuat pria itu menatap iba, Abi terus saja meneror dirinya.
Jelas saja karena diotaknya hanya wajah pria itu yang terngiang ngiang hendak melecehkan Ayura.
"Katakan dengan tangan mana kalian menyentuh nya..?" Tanya Abi berjongkok dihadapan sang preman sembari melirik ketiga preman yang lain, tak lupa sepasang sepatu fantofel nya menginjak kedua tangan preman yang sedang diletakan diatas lantai Sontak saja hal itu kembali membuat si preman memekik hebat.
"KATAKAN DENGAN TANGAN MANA KALIAN MENYENTUHNYA HA.?" Teriak Abi penuh emosi. Membuat ke empat nya bergidik ngeri.
__ADS_1
Tubuh ketiganya bergetar, sedangkan si Bos kembali memekik tertahan saat Abi kemudian berdiri dan menumpuh bobot tubuhnya pada kesepuluh jarinya..
"Potong jari jari mereka." Sontak mata keempat preman itu membola sempurna.
"Tuan, kami mohon ampunin kami, kami berjanji tidak akan mengulangi lagi. Beri kami satu kesempatan Tuan." Tangis salah satu preman pecah
"Kenapa aku harus mengampuni kalian, apa pada saat itu kalian juga mendengar permohonan gadis itu untuk dilepaskan, apa kalian memeprelakukannya dia dengan baik ha...?"
Bukkhh...
"Aauuwww!"
Satu tendangan keras mendarat di perut preman tersebut
Abi melirik sekilas anak buahnya, mengerti akan kode sang Tuan, anak buah itu lalu mengambil belati panjang , saat langkahnya mendekat ke empat preman itu langsung berlari memeluk kaki Abi meminta pengampunan.
Bukh...
Bukhh...
Bukhh....
"Apa yang kalian lakukan brengsek..? Menjauhlah dari Tuan Abi." Sentak Willy mendendang keempat preman itu hingga tersungkur ,menjauh dari kaki Abi.
"Pegang mereka!" Instrupsi Willy pada anak buahnya. Keempat preman itu sudah menangis histeris, Abi sendiri memilih duduk dikursi kebesarannya, satu gerakan kepala dan pengawal yang sedang memegang belati panjang itu langsung melakukan tugasnya.
Cress...
Cress...
Cress...
"Aaaaaa..."
Terdengar teriakan menyanyanyat hati dari keempat preman itu saat kesepuluh jari mereka dipotong tanpa perasaan oleh pengawal setia Abi.
Abi lalu melirik sekilas Willy yang tengah berdiri disampingnya, mengerti akan kode sang Tuan, Willy bergegas mengambil tongkat baseball menyerahkan kepada Abi.
Abi meraih tongkat baseball ini lalu mendekati sang Bos preman, air mata sudah membasahi pipi pria malang itu, entah apa yang akan dilakukan lagi Abi padanya.
Abi menyeringai iblis saat mendekati preman itu. "Kamu tahu, betapa berharganya gadis itu bagi ku..?" Tanyanya dengan mengangkat wajah preman yang sedang tertunduk menahan perih yang termat sangat pada tangannya menggunakan ujung tongkat baseball. Mau tidak mau pria itu pun mendongak menatap Abi dengan wajah yang memucat.
"Aku bahkan tidak mengampuni diriku saat tanpa sengaja membuatnya nya menangis." Abi menekan dengan kuat ujung tongkat baseball itu pada dada sang preman, pria itu tak bersuara, rasa perih dan sakit pada jari jarinya lebih mendominasi. Terlihat darah segar sedang menetes pada jari jari buntung itu.
"Apa kalian tahu,aku bahkan baru saja menghajar adik kandung ku, karena dia juga salah satu penyebab kemalangan gadis ku itu. Terus kalian pikir aku akan mengampuni kalian." Tanya Abi dengan sinis
"Tu...Tuan aku mohon, lepaskan kami, kami akan bertobat, kasihan anak dan isteri kami sedang menunggu dirumah, aku mohon kemurahan hati mu" Pinta preman bertubuh ceking.
Abi menatapnya tajam "Apa pada saat itu kalian juga melepaskan gadis ku,saat dia meminta kemurahan hati kalian, apa kalian memperlakukan dia dengan baik ha..? Isteri dan anak mana yang kalian maksud. Aku yakin pria seperti kalian bila mati pun tak akan ditangisi oleh anak dan isteri kalian, bila kehadiran kalian hanya untuk menyakiti dan menyiksa mereka."
__ADS_1
"Dan kamu "Tatapan nya beralih menyorot tajam Bos preman itu. "Kamu bahkan hampir..." Ucapan Abi terhenti, selaksa peristiwa kembali berputar, tangisan Ayura, ketakutan Ayura membuat dia sejenak memejamkan matanya dan...
Bukh..
Bukh...
Dua pukulan keras dari tongkat baseball menghantam keras perkutut si preman membuatnya berteriak histeris, rasanya dia ingin mati sekarang juga.
Abi kembali menghantam ketiga preman dengan membagi buta menggunakan tongkat baseball itu.
Teriakan dan erangan memggema dipenjuru ruangan. "Siram mereka."
Dan kembali mereka berteriak histeris kala air yang mereka gunakan untuk menyiram mereka adalah air yang telah dicampur dengan garam, hingga bisa dipastikan betapa perihnya luka disekujur tubuh mereka terkena air asin itu.
"Bunuh kami saja Tuan, aku mohon." Pinta salah satu preman.
Abi menyerinagi. "Kalian memang akan mati, tapi tidak semudah itu." Ketus Abi kemudian melirik Willy, menyerahkan tongkat itu pada sang asisten setianya. "Pastikan mereka terus berteriak sampai besok pagi."
Willy tahu, apa yang harus dilakukannya sekarang, seringai iblis tercetak jelas dibibir nya membuat keempat pria itu menatapnya nanar dengan airmata yang terus mengalir deras. Penyesalan kini menerpa, hanya pasrah yang mereka lakukan sekarang.
Pria itu melenggang pergi setelah membersihkan kedua tangannya dari darah preman preman itu, di iringin teriakan histeris para preman itu, dia menyeringai puas. Dan sekarang saatnya dia akan pulang menemui gadisnya.
Diliriknya jarum jam sudah menunjukan angka 3 dini hari.
* * * * *
Dikediaman utama. Setelah kepergian Abi dan Krishna Meninggalkan kedua orangtuanya dengan hati yang hancur. Tangis ,sesal dan keputus asaan pada diri kedua pasangan senja itu.
Airin masih saja menangis dalam dekapan sang suami. "Mah, udah ya. Kamu harus istirahat, Papa takut kamu sakit nanti." Pinta Ardiansyah terus memeluk sang isteri sembari mengusap lembut punggung istrinya yang terus bergetar.
"Mama sudah sakit Pah, dan ini lebih sakit dari apapun, Mama nggak kuat, nggak sanggup lihat putra putra kita berkelahi seperti ini, rasanya Mama lebih baik mati Pah."
"Mah...Apa yang Mama katakan..? Kita masih bisa mencari jalan untuk mendamaikan mereka"
Ucapan Ardiansyah membuat Airin melepaskan pelukan sang suami, mendorong kuat dada pria tua itu. "Mendamaikan seperti apa yang Papa maksud ha..? sudah sejauh ini bahkan separah ini, tapi Mama lihat belum ada perkembangan sama sekali, mereka masih saja bermusuhan bakmhkan hampir saling membunuh, damai macam apa yang Papa maksud ha..? Papa bilang Papa memiliki kekuasaan dan kekuatan kan..? Papa bahkan bisa mengatasi masalah sebesar tapi kenapa malah anak sendiri ngak bisah..?" Teriak Airin penuh histeris.
"Masalah nya yang mereka perebutkan adalah perempuan Mah, kalau aku memiliki kemampuan untuk mengkloning , maka aku akan memgkloning gadis itu untuk dibagikan satu satu untu mereka." Sesal Ardiansyah stres.
"Terua kita harus bagaimana.? Membiarkan mereka saling membunuh ha.?"
"Sabar sayang, sabar Mah, aku juga akan berusaha, kita berdoa saja agar ada jalan keluarnya. Lagian sebenci bencinya Abi, dia tidak akn membunuh adiknya sendiri, begitu juga Krishna Mah. Aku akan mencoba berbicara dengan mereka, sekeras kerasnya mereka ,mereka adalah anak anak kita yang patuh dan masih menghormati kita. Dan yang jelas mereka sangat menyayangi kita sebagai orang tua khususnya Mama." Jelas Ardiansyah penuh sabar.
Airin pasrah, dia tidak tahu lagi cara mendamaikan kedua putranya.
Dia tidak mungkin meminta Abi mengalah lagi setelah apa yang sudah dilakukannya selama ini untuk Krishna.
Dan sungguh tidak adil kalau Airin kembali meminta putra sulungnya untuk kembali mengalah.
Sedangkan meminta Krishna untuk mengalah pun lebih tak mungkin, Ayura adalah kekuatannya dan obat penawaran buat dirinya. Akan jadi apa kalau sampai Ayura dipisahkan dari dirinya.
__ADS_1
Kedua pasangan senja itu dilema, bagai buah simala kama..