
Pagi-pagi sebuah sedan telah memasuki pekarangan rumah Bramantyo.
Suasana dimeja makan sedikit terusik saat seorang art memberi tahu ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan pasangan senja itu
"Siapa tamunya Mah, kok Pagi-pagi sekali..?" Tanya Bramantyo.Tidak biasanya ada tamu yang datang pagi pagi begini.
Amarah buru buru melap bibirnya. Dia hanya menggeleng karena sesungguhnya dia pun tak tahu .
Angel sendiri langsung tertegun, sebenarnya dia yang tahu siapa tamu itu.
Semalam pria itu sudah berjaji akan datang pagi ini untuk menyapa kedua orang tuanya, dan langsung memberitahu kepada kedua calon mertuanya kalau sebentar malam dia dan kedua orang tuanya akan datang.
Tapi gadis itu tidak menyangka Dani akan datang sepagi ini. Terlalu bersemangat pria itu, pikir Angel.
Kedua orang tuanya sudah melenggang pergi keruang tamu disusul Angel dibelakang.
Diruang tamu. Bramantyo sedikit terkejut melihat siapa yang datang. Seorang Dokter muda yang berbakat, dia pernah diperkisa Dokter ini saat chek up bulanan. Saat Dokter pribadi mereka ada urusan yang lain
Satu kata untuk penilaian Dokter muda ini adalah ramah.
"Selamt pagi Om..Tante.." Sapa Dani ramah dan langsung menyalim takzim calon mertuanya.
Bramntyo melirik sekilas isterinya, Amara hanya mengedik bahunya.
"Pagi juga." Balas Bramantyo ramah. "Silahkan duduk."Masih dengan ramah.
"Terimakasih Om."
"Hmm.. Maaf! Tapi Ada apa ya Dok Pagi-pagi sekali sudah disini..?"
Dani mencoba memperbaiki letak duduknya, dia sedikit grogi. Pandangan nya menyapu sekeliling mencari seseorang yang telah menempati hati nya itu.
Pandangan nya akhir nya jatuh tepat dibelakng calon mertuanya, terlihat seorang gadis yang sudah memporak porand ahatinya tengah menatapnya dari jauh.
Rasa gugup dan grogi yang sempat mendera seketika hilang melihat gadis nya tengah tersenyum dan memberinya semangat padanya.
Melihat Dani yang hanya tersenyum sembari melihat kebelakang membuat Bramantyo ikut menoleh dan akhirnya rasa penasaran nya terjawab.
Kini pria paruh baya itu mengulum senyum. "Ehem..."Dia berdehem mencoba menarik kembali perhatian anak muda didepannya yang sepertinya melupakan keberadaan dirinya dan isterinya
"Ah.. Maaf Om. Maksud kedatangan ku..." Kembali melirik Angel.
Bramantyo menarik nafas pelan."Angel, kesini nak." Panggil Bramantyo pada akhirnya. Angel pun akhirnya mendekat. "Duduklah!" Titah Bramantyo, mengarahkan lirikan matanya kesofa panjang dimana sudah ada Dani disana
Angel telah mengambil tempat duduk. Dirinya terkesan biasa biasa saja tapi hatinya jedag jedug. Perasaan nya was was takut kedatangan Dani tak diterima oleh kedua orangtua nya khususnya Mama nya.
Berbanding terbalik dengan Dani, pria itu malah tersenyum lebar, bahkan pandangannya tak pernah lepas dari gadis disampingnya ini . Dua hari tak bertemu membuat dia begitu merindukan cinta pertama dan satu satunya itu.
"Sekarang kata kan, apa maksud kedatangan mu kesini..?"
Melepas pandangan dari Angel, Dani menatap Bramantyo. Tapi sebelum membuka suara dia menarik nafas pelan guna menetralkan rasa gugup nya.
"Aku ingin menyampaikan pada Om dan Tante, kalau sekarang aku dan Angel saling menyukai." Menatap Angek sekilas.
__ADS_1
Bramantyo masih menyimak tapi tidak dengan Amrah, perempuan itu langsung ingin membuka suara tapi langsung dicegat oleh suaminya. "Mah.." Pandangan kini beralih ke Dani.
"Aku serius dengan Angel, dan kedatangan ku pagi ini ingin sekalian menyampaikan kalau nanti malam kedua orang tua ku akan berkunjung kesini sekedar bersilahturaim dengan Om dan Tante."
"Apa maksud orangtua mu ingin kesini, jangan bilang kamu mau melamar anak saya ya, aku nggak mau. Aku nggak merestuinya." Sewot Amarah tanpa bisa dicegah oleh suaminya.
"Mah.." Lirih Angel tak terima dan langsung mendapat pelototan dari sang Mama.
"Mah..Kenapa bicara seperti itu. Dia nggak bilang mau melamar Angel, yang dia katakan hanya bersilahturaim, kenapa jadi sewot begitu." Semprot Bramantyo
"Ck! Tetap saja Pah, aku nggak mau Angel pacaran sama dia. Seharusnya dari awal aku sudah curiga kedatangannya bersam Angel kemarin. Dan kamu.." Pandangan kini beralih kepada Angel dengan sorot mata tajam. " Mama kecewa sama kamu Jel, kenapa berhubungan dengan dia tanpa memberitahu dulu pada Mama. Apa keberadaan Mama tidak penting lagi buat mu ha..?" Sentak Amarah penuh kecewa. Dia beranjak dari duduknya.
Dia merasa kecolongan, Angelnyang dijaga dan dipantau selam ini lepas kendali, telah berpacaran degan Dani tanpa sepengetahuan darinya.
"Mah..Duduk dulu. Semuahnya dapat dibicarakan dengan baik baik, kenapa harus emosi begini sih." Ucap Bramantyo mencoba menenangkan sang isteri, menarik tangannya yang sudah berdiri dan hendak pergi
"Tidak Pah, Mama tetap nggak setuju. Dan kalian segera akhirnya hubungan ini karena sampai kapan mu aku tidak merestui hubunga kalian. Aku sudah menjodohkan Angel dengan orang lain." Amara akhirnya meninggalkan ruang tamu dengan amarah dihati.
Dani sendiri tangannya terkepal kuat mendengar Angel yang sudah dijodokan dengan pria lain. Perkara makian dan umpatan dia bisa terima tapi tidak dengan yang itu. Dirinya sangat kecewa.
Angel yang menyadari itu langsung mengusap pelan bahu Dani. Mencoba menenangkan pria itu sekalian merasa bersalah.
Dani tersadar, diliriknya Angel yang tengah menatapnya dengan rasa bersalah membuatnya tak tega. "Its Ok!" Ucap Dani pada akhirnya. Dia mencoba tersenyum, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Dan interaksi keduanya dapat dibaca oleh Bramantyo. Dia tersenyum senang, tahu kalau keduanya saling mencintai, khususnya Dani, dia bisa melihat dari tatapan pria itu, kalau dia sangat mencintai Angel. Itu saja sudah cukup baginya.
"Ehem.."Bramantyo berdehem, menarik perhatian kedua anak manusia yang ada didepannya. "Apa kamu benar benar serius dengan putri ku..?"
"Iya Om. Sangat. Dan aku tidak pernah seserius ini." Jawab Dani mantap
"Baiklah, bagiku itu sudah cukup. Datanglah nanati malam bersama kedua orang tamu. Masalah isteri ku, biar nanti aku yang bicara dengannya."
"Pah.." Angel berlari memeluk Ayah sambungnya yang memang sedari dulu tidak pernah membedakan bedakan dirinya dengan Ayura "Terima kasih Pah."
Bramntyo membalas pelukan sambil terkekeh.
Diapartemen mewah Abimanyu Gala Yudistira.
Tampak Abi masih membujuk Ayura yang masih terlihat sedih.
"Kalau kau tidak ingin bertemu dengannya, baik lah, tidak usah lagi menemuinya. Masalah kantor biar aku yang urus surat pengunduran diri mu. Dan kamu boleh memilih bekerja di kantor Papa mu atau dikantor ku. Aku akan sangat senang kalau kamu malah memilih dikantor ku."
Ayura menggeleng. "Aku memang tidak akan bekerja dikantor nya, tapi seperti kata nya, aku harus profesional. Aku datang pertama bekerja disana dengan baik baik, jadi keluar pun harus dengan baik juga. Aku akan menyelesaikan pekerja ku dan setelah itu aku akan keluar."
"Baiklah! Terserah dirimu. Apa pun keputusan mu aku akan selalu mendukung mu." Abi kemudian bangkit dari posisi yang dari tadi berjongkok. Membelai lembut rambut Ayura dan hendak berlalu tapi tiba-tiba
Grebb...
Tubuh pria itu menegang saat kedua tangan mungil milik Ayura memeluknya erat dari belakang, apalagi dirinya merasakan kepala sang gadis yang sudah bersandar manja dipunggung kokokhnya. Hati nya berdesir hebat
"Ay.."Lirih nya
"Apa aku dulu sangat manja pada mu..?"
__ADS_1
Pertanyaan Ayura mengembalikan kesadarannya. Dirinya pun terkekeh." Iya ! Kau sangat manja." Melepaskan belitan tangan Ayura, kini keduanya saling berhadapan.
"Kamu tahu, dulu, aku selalu menjemput mu saat pulang sekolah, dan sampai dirumah kau akan menceritaka kejadian disekolah dan semuah teman teman mu sambil duduk diatas pangkuan ku. Dan aku harus fokus mendengarnya, kalu tidak kamu akan memegang kedua pipi ku kuat kuat agar tidak melihat ketempat lain, fokus hanya pada mu"
"Benarkah..?" Binar bahagia bercampur malu. Ayura tersipu.
Abi terkekeh menikmati wajah malu malu Ayura. "Saat tidur pun kamu selalu minta digaruk punggung mu, kalau nggak kamu nggak bakalan tidur. " Dan cerita Abi membuat bola mata gadis itu membesar.
"Jadi aku dan kak Abi tidur berdua." Tanya gadis itu tak percaya. Gadis itu menelan salivanya dengan susah. Dan Abi mengerti itu. Dia kembali terkekeh.
"Apa yang kamu pikirkan.? Saat itu kau masih 10 tahun dan aku tidak bernafsu pada mu. Beda sekarang, kalau tidur barenga mungkin lain ceritanya. Apa mau kita reka ulang..?" Tanya Abi diakhir kalimat sambil mengulum senyum, membuat gadis itu melototo dan menganga bersamaan.
"Pak!!!" Seru Ayura sambil memukul lengan Abi. Pria itu semakin tergelak. Ditariknya tubuh Ayura dan didekapnnya penuh sayang.
"Bagi ku dulu ataupun sekarang, kamu tetap gadis kecil ku, Ay." Abi mengurai pelukan. Ditatapnya netra Ayura penuh cinta. "Dan aku akan selalu ada untuk mu, menjaga dan melindungi mu. Nyawa ku taruhannya Ay." Ayura terenyuh, merapatkan tubuh, kini dia yang memeluk Abi dengan begitu erat. Tak lupa Abi mendaratkan kecupan di pucuk kepala Ayura. Gadis itu menikmati pelukan dan kecupan lembut Abi dengan netra yang terpejam.
'Aku mencintaimu Ay, sangat.'
'Aku tidak menyangka kita sedekat itu dulu. Kenapa tidak diawal saja kau menyadarinya Kalau aku adalah gadis kecil mu, kenapa baru sekarang disaat aku sudah ada yang punya..?'
Malamnya dikediaman Bramantyo, tampak Bramantyo, Amara dan Angel telah bersiap siapa dengan penampilan yang rapi dan juga elegan. Karena mereka akan kedatangan orang tua Dani untuk bersilahturahim seperti yag diucapkan Dokter tampan itu
Masalah Amara, sebenarnya dia belum setuju dengan pilihan Angel, tapi janji Bramantyo ini hanya silahturahmi dan bukan sebuah lamaran untuk sang Putri.
Bramantyo pun sudah meminta pada isterinya agar nantinya selalu bersikap ramah dan sopan, bila ada ucapan atau perbuatan yang tidak mengena dihatinya.
Dan dia mengiyakan karena tak ingin melawan ucapan sang suami dan tak ingin juga memeprmalukan wibawa sang suami dihadapan tamunya nanti.
Ketiganya telah bersiap, Amara sesekali memantau makanan dimeja makan, takut ada yang kurang atau tak enak. Walaupun hatinya nggak rela tapi dia juga tak ingin ada kekurangan yang akan membuat mereka malu.
Bramantyo sendiri sudah duduk diruang tamu, sambil bermain ponselnya. Angel sendiri masih dalam kamar nya, memastikan dandanannya rapi dan paripurna
Dia ingin pertemuan pertamanya dengan calon mertua menjadi berkesan.
Sebuah mobil mewah keluaran Eropa terpakir manis dipekarangan kediaman Bramantyo. Bramantyo langsung berdiri berniat menyambut tamunya, Amara yang mendengar deru mobil pun langsung ikut keluar menyambut sang tamu yang dipikir orang tua Dani.
Bramantyo mengulum senyum melihat siapa yang datang. "Sayang..." kedua tanganya terbentang lebar meminta sang tamu, eh bukan! Tapi sang putri tercinta untuk masuk dalam dekapannya.
"Pah.." Ayur berlari dalam pelukan sang Papa. "Aku merindukan mu"
"Papa juga merindukan mu nak."Balas Bramantyo mendekap erat penuh sayang sang putri tercinta. "Bagaiman kabar mu, kamu baik-baik saja kan." Tanya pria senja itu mengurai pelukan.
"Ay Baik Pah."
Peluk terurai, Bramantyo mendaratkan kecupaan dikening Ayura. Siapa pun melihat pasti hatinya menghangat melihat kasih sayang antara Bapak dan anak itu.
"Yah udah kita masuk. Nak Abi mari silahkan masuk."
"Baik Om."
Melepas pelukan Papanya, Ayura yang hendak melangkah, terhenti seketika melihat Mama tirinya berdiri dengan tatapan yang bagi Ayura sedikit lain, tidak ada kebencian disana.
"Kemana saja kamu..?" Tanya Amara sedikit ketus. Baik Ayura maupun Abi tersentak. Tangan Abi sudah terkepal "Kenapa tidak mengabari kami..? Suara nya sedikit merendah. tak seketus tadi. "Kalau tidak mau mengabari Mama nggak apa, setidaknya kabari Angel, agar dia tak kuatir. Kamu itu perempuan, tak seharusnya pergi sampai tak pulang, taka ada kabar nya pula." Ngomel Amara panjang lebar.
__ADS_1
Dan semuah ocehan Mama tirinya tak membuat Ayura marah atau pun sedih, tapi dia malah merasa senang, hatinya menghangat. Merasa ada yang kuatir padanya.
Grebb.....