Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Bukankah Dia Terlalu Manis..?


__ADS_3

"Pak...Pak Abi... apa Bapak baik baik saja..? Hikh...hikh... Maaf...huuu...maaf..." Tangis Ayura pecah setelah dia mencoba beberapa detik tadi menahannya.


"Ay.. Hei... Aku tidak papa, aku baik baik saja Ay, kamu tidak usah merasa kuatir hmm..." Abi kaget mendapat tangisan gadis yang sedang menjungkir balikan dunianya mencoba menenangkan nya.


Ada perasaan menghangat menjalar di hatinya, tapi seketika ikut melow mendengar tangisan pujaan hati. Ingin sekali dia berlari kerumah Ayura dan menariknya dalam pelukannya. Tapi sayang itu hanya angan angan tanpa bisa diwujud.


"Tapi luka Bapak, hikh...hikh...itu pasti sangat sakit. Maaf Pak maafkan Papa, hikh...hikh.. tak seharusnya Papa melakukan itu"


"Aku bersalah dan aku pantas mendapatkan itu. Kalau aku diposisi Papa mu, pasti aku juga melakukan hal yang sama, menghajar pria yang sudah melukai hati dan perasaan anaknya dengan tanpa ampun. Bahkan aku mungkin mematahkan kaki dan tangannya." Abi lalu duduk diatas ranjang di ruangan Dani.


"Kamu tidak usah menguatirkan aku dan menangisi pria jahat ini, karena aku tidak apa-apa dan tak pantas mendapatkan tangisan mu. Kamu mengerti..?"


"Apa lukanya sudah diobati..?" Tanya Ayura, tangisannya mereda berganti isakan.


"Sudah Ay, Dokter Dani sedang mengobati lukanya. Dia bilang besok lukanya pasti sudah kering." Dusta Abi


"Benarkah..?"


"Ck! Kamu nggak percaya pada ku Ay..? Kamu tahu sendiri, aku ini pria kuat. Aku bahkan tak jatuh saat di pukul Papa mu, aku bahkan tak menangis tadi, aku pria hebat kan..?" Canda Abi, membuat Dani bergidik ngeri.


'Ahh, kenapa dia jadi alay gini ya..?' Batin Dani merinding


"Ck! Lawakan Bapak nggak lucu" Ucap Ayura tapi tetap saja dia sedang tersenyum disana. Dia tidak menyangka Abi bisah melawak dengan keadaan nya seperti ini.


Seketika keadaan kembali hening


Dani menghela nafas kasar, dari pembicaraan Abi dia dapat menarik benang merah apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya, tapi dia belum tahu kejadian apa yang menyebabkan insiden ini.


Tapi dengan sering licik dengan kasa beroleskan cairan antiseptik dia mendekati Abi.


Niatnya hanya ingin membuat sedikit drama agar gadis diseberang merasakan bersedih dan bersalah. Dengan begitu dia bisa lari kerumah sakit untuk menemani sahabat nya yang kelihatan sangat mencintai gadis itu.


Tapi yang Dani tangkap sepertinya Abi belum mengutarakan perasaan nya pada si gadis.


Abi melotot kearah Dani yang tengah mendekati nya, dia sadar apa yang tengah dipikirkan pria ini dengan seringai di bibirnya.


Netra Abi mengisyaratkan pertanyaan 'apa yang kau lakukan..?' Dani mengerti itu tapi tetap saja dia mendekati Abi dan langsung menempelkan dengan kuat kasa putih itu, sehingga Abi memekik antara perih dan sakit.


"Aauuww.." Pekik Abi masi dengan ponsel tertempel ditelinga.


"Pak...Pak Abi, Pak Abi baik baik saja..?" Terdengar nada kuatir dari seberang


"Diam dan tenanglah, biar aku bisah mengobati luka mu ini. Kamu kira luka mu ini ringan ha..?" Ucap Dani dengan sengaja bersuar lantang dan mencoba melebihi lebihkan keadaan.


Abi semakin melotot karena dia mendengar lagi suara tangisan Ayura.


"Luka mu ini bahkan sangat lebar, ini seharusnya dijahit ini." Ucap Dani kemudian menekan lagi luka dipelipis Abi membuat pria itu kembali memekik


"Aauuww, Dan.. Kamu mau membunuhku..?"


"Jadi Bapak bohong padaku, lukanya ternyata parah kan..?"


.


Dan selanjutnya Ayura kembali menangis, dan Abi sibuk memenangkan nya, mereka terlihat sepasang kekasih, Abi fokus menenangkan Ayura sehingga tidak perduli dengan keberadaan Dani yang tengah mengobati lukanya. Dan akhirnya semuah berjalan tepat waktu.


Ayura pun akhirnya tenang, dia berjanji akan kembali menelpon Abi setelah pria itu kembali kerumah, hal itu membuat Abi terus tersenyum.

__ADS_1


Panggilan berakhir Abi meletakkan ponselnya, tiba tiba saja dia menganggap dadanya, dadanya menjadi berdegup dengan kencang.


"Dan, tolong kau periksa tubuhku, spertinya jantungku sedikit bermasalah, apa karena pukulan ini ya..?" Tanya Abi sembari memegang dadanya.


"Ha..? Apa maksud mu..?" Dani sedikit bingung dengan keluhan Abi, tapi kemudian pria itu menepuk jidatnya sembari menggeleng kepala.


100 persen dia merasa yakin sekarang kalau sahabatnya ini sedang jatuh cinta.


Dani telah selesai mengobati luka Abi. Lukanya memang sedikit parah tapi tidak harus dijahit seperti yang Dani katakan


Dan sekarang dia sudah berada didalam apartemen nya, dia tak mau pulang kerumah dengan keadaan nya yang seperti ini. Bisah dijamin kedua orang tuanya bakalan ngamuk. Dia lalu menghubungi willi sang asisten.


"Will,kalau kamu sudah tidak ada kesibukan di Yudistira entertainment,tolong kamu ke AK Group bantu Senopati disana. Kelihatan dia sangat kerepotan.Maaf aku tidak.bisa kembali kekantor,hari ini aku sangat lelah dan ingin istirahat"


"Apa Bapak naik baik saja..?" Sang asisten peka, dia menyadari sang atasan nya tidak baik baik saja dari nada bicaranya. Apalagi Abi tidak kekantor lagi, kalau bukan karena masalah yang berat tidak mungkin dia mengabaikan pekerjaannya.


Abi menghela nafas kasar, Willy terlalu peka terhadap dirinya, bekerja bertahun membuat dia mengenal tuanya luar dalam lebih dari siapapun.


"Aku baik baik saja. Jangan banyak bicara dan lakukan apa yang aku perintahkan" Tegas Abi.


"Baik Pak, aku akan melaksanakan perintah mu."


"Aku mengandalkan mu. " Ucap Abi lalu memutuskan obrolan.


Memikirkan banyak hal, pria itu pun tertidur. Dia baru terbangun saat jarum jam pendek menunjukkan angka 7 malam. Bergegas dia kekamar mandi membersihkan dirinya, yang hanya bisa dilakukan dibagian tubuh bawahnya saja sesuai saran Dokter tanpa membasuh wajahnya


Saat keluar dari kamar mandi, masih berbalut handuk di pinggangnya dia meraih ponselnya memesan makan malamnya via online.


Baru saja dia meletakan ponselnya diatas nakas, ponselnya berdering,dia tidak langsung mengangkat nya. dia sepertinya enggan menerima telepon dari siapa pun. Dia hanya melirik ponsel itu, tapi netranya membesar dibarengi senyum lebar buru buru diraihnya ponsel yang sedang bersenandung.


"Hai!" Sapa Abi saat panggilan terhubung


"Tentu saja tidak. aku baru saja selesai mandi, kenapa, apa kamu merindukan ku..?" Canda Abi sebelum gadis diseberang sana mengajaknya ngedrama Korea.


"Ck! aku serius Pak, kenapa senang sekali ngelawak coba..?" Kesal Ayura.


Abi terkekeh, dia yakin bibir Ayura sedang mengerucut disana karena kesal. Dia lalu mematikan panggilan itu. Ayura terkejut melihat panggilan telah dimatikan.


Tapi kemudian ia terkejut saat Abi melakukan panggilan, bukan panggilan biasa melainkan melakukan vidio call, hampir saja ponselnya jatuh dari tangannya saking kagetnya.


"Loh, kenapa dia melakukan vidio call, aku harus bagaimana ini..?" Tanya Ayura panik.


Ponselnya terus berdering membuat nya dengan terpaksa menekan tombol hijau.


Hal yang pertama yang dilihat adalah wajah Abi, walaupun lukanya sudah sedikit rapi dari tadi siang, tapi tetap saja bekas itu masih sangat kentara, apa lagi mata kiri Abi sedikit membengkak, membuat dia kembali bersedih padahal tadinya dia sedikit terhibur dengan candaan Abi.


Tanpa suara, disentuh layar ponselnya, seperti sedang menyentuh wajah Abi, netranya sudah mengembun.


Melihat reaksi ayura, Abi merutuki dirinya yang sudah melakukan vidio call ini. Awalnya dia hanya ingin melihat wajah Ayura yang kesal, yang sangat dirindukan ini. tak bermaksud membuat gadisnya bersedih seperti ini.


Dia yakin Ayura pasti kembali merasa bersalah.


"Ay, aku matikan panggilan nya yah, aku akan menelpon biasa aja hmm."


Ayura menggeleng, setetes air mata jatuh mengalir bebas dipipi mulusnya. "Maaf! "


Abi menghela nafas." Sudah berapa kali aku bilang, ini bukan salah mu Ay." Tak tahu harus mau bilang apa lagi Abi memilih diam.

__ADS_1


Hingga dia mengalihkan topik pembicaraan. " Bagaimana dengan persiapan mu ke Jepang, besok..? Apa semuah nya sudah beres." Tanya Abi mengalihkan topik.


Ayura mengangguk. "Sudah! Semuanya diurus oleh Krishna."


"Kamu harus bersenang senang disana, ingat foto dan kirim ke aku, hmm..?"


Ayura mengangguk dengan semangat. "Apa Bapak pernah ke Jepang..?"


Abi menggeleng. "Sudah.Tapi aku belum pernah jalan jalan disana, kamu tahu sendiri aku sibuk dan kesana hanya karena urusan bisnis. Jadi nanti kamu harus temanin aku jalan jalannya. Kamu jadi tour guide nya, ok!" Ujar Abi dengan senyuman lebarnya.


"Baiklah, tapi semuah biaya akomodasi nya ditanggung Bapak ya."


Abi mengangguk. " Dipotong gaji ya."


Mata Ayura melotot. "Eh, nggak ada ya, orang Bapak yang minta ditemanin, masa gaji ku yang jadi korban. Bapak kan Kaya, masa harus aku juga yang bayar, lagian ini atas permintaan Bapak, minta ditemanin. Pokoknya aku nggak mau ya." Kesal Ayura panjang lebar.


Abi terkekeh. Gadis itu emang terlalu polos hingga tidak menyadari tengah dikerjai Abi.


Saking asyiknya tertawah tanpa sadar ponsel Abi mengarahkan ke badan pria itu hingga terlihat dada bidang dan kokoh nya, Ayura memekik karena mata sucinya ternoda.


"Bapaaakk... Bapak belum pakai baju ya..?" Pekik Ayura. Dia langsung menutup matanya.


Abib terkekeh melihat reaksi Ayura "Kan tadi aku bilang baru habis mandi, apa kamu lupa..?"


"Tapi bisahkan Bapak pakai baju dulu baru menelpon ku, mana ini vidio call lagi." Rutuk Ayura masih menutup matanya dengan tangannya


"Buka mata mu Ay, apa kamu tak ingin melihat tubuhku, aku terlihat seksi loh Ay, tanpa baju."Goda Abi.


"Bapaaak... Kalau Bapak nggak pakai baju, aku matiin nih" Teriak Ayura kesal.


"Hahaha... Baiklah aku akan pakai baju, tunggu jangan dimatikan ya Ay." Abi lalu memakai baju dan celananya dengan terburu buru, takut Ayura mematikan ponsel nya.


"Buka mata mu Ay, aku sudah memaki baju."


Ayura tersenyum. "Apa luka Bapak sudah diobati..?" Dia ingat perkataan Dokter Dani kalau Abi sering mengabaikan lukanya tanpa tau kalau itu hanyalah dusta untuk menarik perhatian nya.


Timbul seringai jahat diwajah Abi, sepertinya dia punya rencana bisa bertemu dengan Ayura malam ini. Dia bisa memanfaatkan kepolosan Ayura.


"Belum Ay, emang siapa yang akan mengoleskan salep nya, aku sendirian di apartemen ini. Padahal pesan Dani tadi harus sering diobati biar cepat sembuh, tapi mau bagaiaman..?" Ucap Abi ngedrama


Ayura menjadi sedih mendengar ucapan Abi. "Maaf.." Lirih Ayura merasa bersalah.


"Ay, bolehkah kamu kesini mengobati luka ku..?"


"Haa..? Tapi..." Gadis itu tak tahu harus menyanggupi permintaan Abi atau malah menolak nya. Karena dia takut dengan amukan Papanya sampai tau dia keluar dari rumah dan menemui Abi.


"Nggak bisa ya..?" Tanya Abi menampilkan raut sedihnya.


Ayura belum bisa menjawab, tapi tiba-tiba dia mendengar bunyi mobil, gadis itu mengintip dari jendela, dia melihat mobil Papanya baru saja keluar dari gerbang. Dia lalu memulas senyum.


"Baiklah, kirim alamat apartemen Bapak." Ucap Ayura kemudian mematikan panggilan itu.


Sedangkan Abi, pria itu terlonjak senang mendengar Ayura mengiyakan permintaan nya.


Abi bercakak pinggang sekarang. Pria itu mengulas senyum penuh kemenangan.


"Kekurangan nya dia terlalu polos untuk membaca perasaan ku, tapi kelebihannya dia juga terlalu polos hingga tidak bisah melihat kalau aku sedang mengerjai nya. Ahhh bukankah dia terlalu manis.."

__ADS_1


* * * * * * * *


__ADS_2