
"Harga dari semuah berlian ini aku perkirakan mencapai 50 atau 60 triliun. "
"What!" Pekik Ayura dan Putri bersamaan. Jangan lupakan bola mata mereka hampir keluar dari sarangnya
"Jangan kaget dulu. Aku belum menjumlahkan semuahnya.".Nanda menyeringai
"Sedangkan yang merah ini." Nanda menunjuk liontin hati itu. "Ini adalah batu ruby merah. Dan harganya mencapai 100 milyar."
Putri langsung mengibas ngibas wajahnya dengan tangan nya. informasi dari Nanda membuatnya merasa panas dan sampai tak bisa bernafas dengan benar
Nanda kembali menjelaskan "Sedangkan kalungnya ini adalah emas putih harganya hanya 50 juta."
"Hanya lima puluh juta..? Hanya..?" Putri kali ini memekik. Sedangkan Ayura, gadis itu masih sama ekspresi nya, melotot dan menganga.
"Jadi total keseluruhan dari kalung ini adalah mencapai ratusan triliun"Jelas Nanda dengan berapi rapi sambil menikmati raut kaget kedua temannya.
"Itu semua uang kan..? Bukan daun..?" Celetuk Putri.
Ayura lalu mengambil kalung dari tangan Nanda, diteliti nya dengan seksama. "Nan, kamu yakin. nggak salah memberi informasi ini? Dari mana kau tahu kalau kalung ini bisa berharga sedemikian mahalnya..?" Tanya Ayura masih memandang kalung ditangannya dengan penuh bingung.
"Orang tua ku penjual perhiasan Ay, sebelum bekerja di Yudistira Entertainment aku sempat membantu kedua orangtua ku, jadi aku tahu tentang semuah jenis perhiasan. Dan untuk berlian itu sangat langka Ay. Jarang diperjual belikan. Hanya orang tertentu yang memilikinya"
"Pertanyaan ku, dapat dari mana kalung itu, dan teman kamu yang mana yang sampai memberikan teman kecilnya dengan barang bernilai fantastis itu. Aku yakin teman mu pasti the real Sultan."
"Iya Ay, siapa teman mu itu..? Penasaran banget aku sama dia. Se cinta cintanya seorang pria kaya kepada wanitnya, tidak pernah aku mendengar dia memberikan hadiah dengan barang senilai angka gila itu. Paling mentok Milyaran. Nggak ada tuh sampai ratusan triliun gitu." Ucapan Putri di anggkukin Nanda
"Aku juga nggak tahu siapa yang memberikannya pada ku. Aku juga tidak ingat. Tapi sebenarnya disini ada foto kami berdua." Ucap Ayura kemudian membuka liontin berbentuk hati itu.
"Coba aku lihat!" Kalung itu sudah beralih ke tangan Putri. Nanda pun ikut melihat foto itu.
Keduanya mengamati foto dikedua sisi liontin itu, Disana ada foto Ayura dan seorang anak laki-laki laki.
Dahi Putri berkerut. "Tunggu! Sepertinya aku pernah melihat foto anak ini." Ujar Putri menunjuk foto anak laki laki itu.
"Benarkah..? Siapa..?" Ayura begitu antusias.
Selama ini dia biasa saja dengan keberadaan kalung itu, bahkan tak berniat untuk memakainya. Tapi setelah Nanda menjelaskan kemewahan dan kehebatan kalung ini, dia menjadi penasaran.
"Tapi aku lupa, aku tidk ingat pernah melihat nya dimana." Terlihat kekecewaan tercetak diwajah Ayura. "Tapi sungguh aku pernah melihathya." Yakin Putri lagi.
"Emang kamu nggak ingat tentang anak ini..?" Tanya Putri.
Ayura memggeleng. "Ingatan ku tentang masa kecil terlalu buruk. Aku bahkan tidak ingat dengan mediang Ibukku. Sampai saat dia meninggal juga aku nggak ingat. Kata Papa, dulu aku sempat kecelakaan hingga kehilangan banyak memori tentang masa kecilku." Ayura terlihat sedih.
"Yah udah Ay, jangan dipaksa kalau memang tak bisa mengingatnya. Tapi aku rasa teman mu itu sengaja menyimpan foto kalian disini, agar saat bertemu nanti dia bisa mengenalmu lewat kalung ini."
Putri mengangguk setuju dengan ucapan Nanda. "Benar banget tuh Ay, aku juga merasa demikian. Jadi mulai sekarang pakai aja kalungnya. Siapa tau bocil the real Sultan ini sedang mencari mu."
Ucapan Putri membuat Ayura berdecak kesal, tapi tetap menyunggingkan senyuman merasa lucu ucapan terakhir teman bar bar nya ini.
__ADS_1
"Aku pakaiin ya."Pinta Nanda, Ayura pun mengangguk. Nanda pun langsung memakaikan kalung itu dileher Ayura.
" Daebak! Canti banget kamu Ay. Semakin bersinar. Memang yah, sesuatu yang mahal pasti jatuhnya akan cantik dan menawan bagi yang memakai. Ditambah kamu yang cantik, semakin bersinar saja." Puji Putri tulus
Tapi saat melihat Ayura memakai kalung Ini, Putri malah menjadi kuatir dengan keselamatan Ayura, gadis itu takut Ayura dijambret atau di rampok.
Tapi Nanda mengatakan malah tidak papa, karena menurut nya banyak juga yang tak tahu dengan jenis berlian dan harga berlian The Kohinoor itu, tapi dia tetap menyarankan pada temannya itu agar tetap waspada
Ketiganya pun melanjutkan obrolan mereka, Ayura pun sudah membagikan oleh oleh buat keduanya.
Ayura memeblikan kedua temannya itu syhal dan slim bag yang lucu buat Nanda dan Putri.
Keduanya memekik senang, karena barang yang diberikan Ayura sebagai oleh oleh bukan harga yang murah. Mereka yang tahu mode tentu saja langsung bisa menaksir harga kedua barang itu bukan kaleng kaleng.
Keduanya sangat berterimakasih merasa senang. Tapi bagi Ayura ini bukan apa apa, dibanding kebaikan keduanya kepada dirinya. Menerima dia sebagai teman dihari pertama dia bekerja di Yudistira entertainment.
Ayura pun menceritakan tentang perjalannya ke Jepang bersama Krishna. Membuat Putri langsung teringat tentang salah satu misinya datang kerumah ini, yakni menanyakan tentang hubungan Ayura bersama Krishna dan Abimanyu.
Bukan tak mungkin, sekarang ini sudah menjadi rahasia umum hubungan nya bersama kedua kaka beradik itu, khususnya bersama Krishna
"Ahhh, aku hampir melupakan misi ku untuk datang kesini." Pekik Putri membuat atensi keduanya teralihkan. Menatapnya bingung.
"Ay, jelaskan pada kami apa hubungan mu bersama Pak Abi dan Pak Krishna..?" Pertanyaan Putri membuat Ayura tersenyum simpul.
Dua pasang mata itu langsung menyipit kearahnya penuh curiga.
"Apa ada sesuatu yang indah, bestie..? Sampai kamu senyum senyum sendiri..?"
"Hei! Kenapa malah terkekeh begitu coba."
"Iya Ay, cepat ceritakan. Jangan buat kami penasaran."
Ayura menghela nafas pelan, "Sebenarnya aku dan Krishna..." Ayura menjeda ucapan.
Kedua gadis itu menganga menunggu kelanjutan cerita Ayura
"Woi! Tutup mulut kalian, nggak tahu apa tuh lalat udah keluar masuk dengan bebas" Canda Ayura membuka keduanya memekik kesal.
"Yaakkk! Kau...!" Putri langsung memukuk lengan Ayura
Sedangkan Nanda, gadis itu hanya bisah mengepal kedua tangannya di depan wahh Ayura, mengisyaratkan kekesalannya.
Ayura terkekeh. "Baiklah, baiklah aku akan melanjutkan cerita ku, tapi jangan tegang gitu dong. Berasa nonton film horor saja." Ayuk masih tergelak membuat keduanya menatap nya penuh emosi.
"Ok! Ok! Sebenarnya aku dan Krishna itu berteman. Sedangkan dengan Pak Abi, nggak ada hubungan Apa apa, hanya sebatas hubungan kerja, sebagai bawahan dan atasan."
Ayura menceritakan dengan benar, tapi terlihat raut ketidak puasan diwajah kedua temannya itu.
"Teman..? Tapi seingatku saat awal kita menonton konser Krishna kamu bilang tidak mengenal dia..?" Ingatan Putri pada awal pertemanan mereka
__ADS_1
"Iya Itu benar. Awal bertemu dan berteman dengan nya, aku tidak tahu kalau dia seorang artis papan atas yang sering kalian ceritakan itu. Aku kira Krishna teman ku dan Krishna idola kalian adalah dua orang yang berbeda." Ayura menjeda lisan.
"Tapi saat nonton konsernya pada malam itu, aku baru tahu ternyata mereka adalah orang yang sama. Aku sempat kecewa dan marah padanya. Tapi setelah itu dia meminta maaf, kami baikan dan kembali berteman."Ayura tersenyum.
"Hanya berteman..? Aku rasa tidak. Sepertinya dia menyukaimu."Ucap Putri, kemudian melirik Nanda meminta tanggapan.Dan gadis itu mengangguk.
"Semuah teman satu team juga mengetahui itu.Caranya dia menatap mu, dan selalu ingin diperhatikan oleh mu. Bisa Disimpulkan kalau dia menyukaimu. Bahkan dia bela belain mendatangi mu dikantin waktu itu. Hal yang tidak pernah terjadi sebelum kamu datang."
"Iya betul itu." Nanda mengangguk menyetujui ucapan temannya. "Dia bahkan berdebat dengan Pak Abi diruang rapat hanya karena meminta mu menjadi stylisnya. Semuah perbuatannya dikategorikan apa coba kalau tidak menyukai mu..?" Ucap Nanda menimpali
"Lagian nih ya, dikantor juga lagi heboh tentang hubungan kalian, apa lagi kalian berdua sampaii kejepang bareng, semakin panas lah beritanya. Jadi aku yakin kamu pun pasti tahu perasaan Krishna." Tambah Nanda
Ayura pun tersenyum. Sepertinya dia memang harus jujur tenang hubungannya dengan Krishna. Karena lambat laun mereka pun akhirnya akan tahu.
"Sebenarnya.... " Ayura menjeda ucapannya. Malu mau mengatakan yang sebenarnya. "Sebenarnya aku dan Krishna udah jadian waktu di Jepang."
"Apa..?"
"Benarkah..?"
Ayura hanya tersenyum simpul, melihat keterkejutan kedua temannya.
Tapi setelah itu baik Nanda maupun Putri, memekik senangn. keduanya pun mengucapkan selamat dan merasa senang Ayura dan Krishna jadian. Ketiganya berpelukan. Sampai Nanda mengurai pelukan.
"Oh iya Ay, apa kamu sudah tahu berita tentang kantor kita hari ini..?" Tanya Nanda
"Berita apa..?"
"Ck! jadi kamu belum tahu..? Belum dikabari sama ayang beb gitu..?"
Ayura menggeleng bingung. "Emang ada apa sih..?"
"Hari ini telah terjadi pengalihan kepemimpinan dari Pak Abi ke Pak Krishna, dan disahkan langsung oleh Pak Presdir. Pak Ardiansyah."
Ucapan Nanda membuat Ayura tertegun, Ingatannya tentang percakapan nya dengan Krishna kemarin, mengatakan ada hal penting yang akan terjadi pada hidupnya hari ini.Jadi ini ya maksdnya Krishna.
"Jadi kamu belum tahu..? Ya ampun pacar naik jabatan kok kamu sebagai kekasihnya nggak tahu..?"
Ayura menghela nafas pelan, terlihat raut kecewa diwajah nya. Membuat Nanda menyikut Putri karena ucapannya tadi.
"Dia hanya bilang kemarin minta ku datang kekantor karena ada kejadian penting dalam hidupnya hari ini. Tapi aku nggak tahu kalau ini maksudnya.Lirih Ayura dengan kecewa.
Dia merasa kecewa pada Krishna. Seharusnya Krishna bisa mengabarinya tentang berita penting ini kan, Agar dia tidak menjadi orang bodoh di hadapan kedua temannya seperti saat ini. Tapi apa ini, dia menjadi orang terakhir yang mengetahui hal penting ini.
Dan lagi, Ayura merasa Krishna memang tidak pernah terbuka padanya.
" Dia tidak mengabari mu ya..?"Tanya Nanda pelan, tahu Ayura sedang kecewa pada Krishna.
Ayura menggeleng." Mungkin dia sangat sibuk jadi nggak bisa mengabari mu. Atau mungkin dia ingin membuat kejutan untuk mu besok saat datang kekantor nya." Hibur Putri.
__ADS_1
Ayura pun hanya tersenyum menanggapinya.