Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Rapat Bulanan


__ADS_3

Krishna dan Ayura baru saja masuk kedalam kamar Ayura setelah acara makan malam di restoran dekat hotell tempat mereka menginap.


Keduanya lalu menuju balkon menikmati pemandangan kota Jepang pada malam hari.


"Apa jadwal mu besok..?" Tanya Ayura. Bersandar pada pembatas balkon.


"Tidak ada." Jawab Krishna sembari melirik Ayura. "Bagaimana kalau kita jalan jalan..?"


"Ah, ide bagus. Apa bisa kita mengajak Amel..?" Tanya Ayura antusias


"Hmmm, entahlah. Takutnya dia ada jadwal kuliah." jawaban Krishna membuat Ayura meredup.


"Tapi besok malam mungkin kamu bisa bertemu dengannya. Besok ada undangan dari Dubes untuk mengisi acara AIM disana. Dan aku dengar Hiro juga akan menjadi nara sumber untuk acara itu"


Dan jawaban Krishna kali ini membuat bibir Ayura melengkung sempurna.. "Benarkah..?"


Krishna mengangguk. "Apa kamu senang..?"


"Seperti kata mu, aku langsung menyukai anak itu. Selain cantik, dia juga ramah dan ceriah." Ayura menghela nafas. "Aku iri padanya, dia dikelilingi kakak kakaknya yang sangat menyayanginya."


Wahah Ayura tiba tiba sedih mengingat kisah hidup nya yang tak semanis Amel.


Ucapan Ayura membuat Krishna ikut bersedih. 'Aku mengerti perasaan mu Ay, dan aku janji akan memberi kebahgiaan untuk mu' Janji Krishna dalam hati.


Berbicara tentang Amel membuat Ayura mengingat tentang percakapan mereka kemarin dikafe tentang Abi.


"Kris, aku ingin menanyakan sesuatu pada mu." Ucap Ayura memandang wajah Krishna, pria itu mengagguk pelan.


"Apa..?"


"Masalah Pak Abi, kemarin aku mendengar kamu menyebutkan Pak Abi.. " Belum selesai pertanyaan Ayura, ponsel Krishna berdering tanda panggilan masuk.


Krishna lalu melihat siapa yang menelponnya. "Tunggu Ay, aku jawab dulu. Sepertinya penting." Ucap Krishna dan langsung melangkah pergi.


Meninggalkan Ayura dengan perasaan kecewa.


Diluar pintu kamar Ayura, Krishna mengusap dadanya dengan lega. "Syukurlah, kali ini Adam benar-benar menyelamatkan ku. Maaf Ay, aku belum bisa mengatakan nya sekarang." Dia langsung bergegas pergi dari kamar Ayura


Setelah kepergian Krishna, tiba tiba saja gadis itu teringat akan Abi. "Astaga! Ahh aku melupakan janji ku untuk bertukar kabar dengan Pak Abi. Aku bahkan tidak menanyakan tentang luka lukanya, ahhhh matilah aku. Dia pasti sangat kecewa pada ku." Sesal Ayura kemudian meraih ponsel nya dan langsung menghubungi Abi.


* * * * *


Sedangkan belahan bumi bagian lain, tepatnya di kantor AK Group. Setelah kepergian Ayura, Abi menjadi uring-uringan.


Semua karyawan dan para staf tak terkecuali Senopati dan Willy menjadi bulan bulanan kemarahan Abi.


Sifat aslinya keluar, arogan dingin dan perfeksionis nya kembali mengudara setelah hampir dua bulan ini menghilang.


Apalagi melihat Ayura tak sekalipun menghubungi nya, saat gadis itu berangkat sampai tiba disana, Ayura tidak ada kabar.


Terpaksa dia melampiaskan rasa kecewa dan frustasi kepada semuah karyawannya.


Dirinya terlalu kecewa hingga enggan menghubungi gadis itu.


Dan tepat hari ini genap dua hari Ayura belum ada kabar.


Siang ini Abi kekantor masih dengan perasaan kesal.


"Segera kumpulkan semua staf, rapat bulanan dimajukan 1 jam lagi." Interupsi Abi pada Senopati sebelum memasuki ruangannya.


Senopati yang mendengar itu hanya bisa mundur beberapa langkah, berusaha menstabilkan tubuh nya yang tiba-tiba lemas seperti jely.

__ADS_1


"Gawat!!! Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi" Celetuk Senopati langsung bergegas keruangan nya dan menghubungi semua orang untuk berkumpul diruang rapat dalam waktu 1 jam.


"Haiiis!! Apakah dia kira kami ini robot..? Bagaimana mungkin menyiapkan rapat bulanan dalam waktu 1 jam..? Pada hal kan sudah ditentukan kalau rapat nya akan digelar lusa siang..?" Gerutunya dengan frustasi.


Diruang rapat, semuah staf penting beserta kepala bagian sudah berkumpul.


Terdengar keluh kesah dari semua staf.


"Ada apa ini..? Mengapa rapatnya dipercepat..?"


"Ya, bukankah jadwal seharusnya adalah lusa..?"


"Laporan kami belum selesai, ini akan membawa malapetaka saat Tuan Abimanyu mengetahui nya."


Semua orang mengeluh tapi Senopati tidak punya waktu untuk meladeni mereka karena dia pun sedang sibuk mempersiapkan berkas miliknya.


Setelah menunggu 10 menit sambil berkeluh kesah akhirnya Abi memasuki ruangan.


Orang-orang yang sedari tadi sudah ketakutan langsung menegang dengan sempurna saat melihat raut wajah Abi dan suasana horor yang dibawah pria itu kedalam ruangan.


"Kamu! Silahkan kedepan presentasikan laporan mu." Titah Abi pada Senopati.


Seketika tubuh pria itu menegang, dia bahkan menelan salivanya dengan susah payah.


"Dan kalian semuah." Ucap Abi lagi sambil menatap tajam pada semuah orang yang hadir. "Siap siap dengan laporan kalian, aku akan meminta kalian semuah untuk membaca laporan kalian setelah dia." Ketus Abi sembari melirik Senopati.


Bisah dibayangkan wajah tegang terpancar dari semuah staf, keringat panas dingin mengalir deras dipelipis mereka tanpa sempat untuk di lap. keadaan begitu tegang, dinginnya pendingin ruangan tak sanggup menghentikan laju peluh.


Mereka seakan tengah dihadapkan dewa kematian. Salah sedikit pekerjaan mereka taruhannya, antara di pecat atau turun jabatan.


Sedangkan si Willy hanya menggeleng geleng melihat tingkah semuah karyawan seperti narapidana eksekusi mati.


Bukanya menunggu sampai jadwalnya baru dipersiapkan, jadi keteteran seperti ini kan..?


Mereka terlalu terlena karena perhatian Abi yang akhir akhir ini lebih terfokus pada Yudistira Entertainment dan kehadiran Ayura tentunya. Sehingga mereka menyalahkan gunakan kebaikan dan sikap lemah Abi dua bulan terakhir ini.


Senopati yang disuruh mempresentasikan laporan nya langsung berdiri dipodium dan mulai mempresentasikan laporan nya.


Pria itu lalu memperlihatkan laporannya lewat proyektor yang dipantulkan didinding.


Abi memperhatikan dengan raut tak bersahabat, baru beberapa menit Senopati menjelaskan laporannya, Abi lalu menghentikannya.


Terlihat pria itu memejamkan matanya. "Berhenti! Buat ulang laporannya." Ucapnya dingin


Dengan tubuh lemah lesu, Senopati turun dari podium. Semuah staf tidak luput dari amukan Abi, semuahnya disuruh ulang membuat laporannya.


Rapat bulanan masih berlangsung. Jarum jam sudah menunjukan angka 8 malam, mereka belum berhenti sedetik pun.


Rapat mereka tidak pernah dijeda. Sibuk dengan memperbaiki laporan mereka sehingga gelas berisi air yang disediakan diatas meja tak ada satupun orang yang berani menyentuhnya.


Bahkan sudah tiga kali Senopati mempresentasikan laporannya karena terus dikoreksi Dan disalahkan oleh Abi.


Semuanya sibuk sampai suara dering telpon dari ponsel berlogo apel setengah digigit milik sang atasan berdering.


Abi hanya memandang semuah stafnya tanpa. berniat melirik ponselnya. Sampai dering yang ke 5, merasa kesal Abi lalu meraih ponsel yang terletak diatas meja. Berniat mematikan panggilan itu.


Tapi netranya tanpa sengaja membaca nama penelpon seketika matanya membola, sudut bibirnya terangkat, tipis. Sangat tipis.


Seketika dia menggeser tombol berwarna hijau. Panggilan pun terhubung. Abi hanya diam, menunggu suara diseberang membuka obrolan. Sedikit kecewa membuat dia tidak mau menyapa terlebih dulu.


"Halo... " Terdengar suara lembut dari seberang, Suara yang sangat dirindukan dua hari ini. Suara yang hampir menjungkir balikkan dunianya. Suara yang mengembalikan sikap hangatnya menjadi monster bagi semuah staf yang tengah berada diruang rapat ini.

__ADS_1


"Halo Pak, apa Bapak mendengar suara ku..?" Tanya gadis itu ulang.


"Iya." Jawab Abi singkat.


"Apa aku mengganggu..? Kalau iya biar aku matikan telponnya."


"Satu jam lagi... Satu jam lagi aku akan menghubungi mu. "


"Baik Pak! " Panggilan pun dimatikan.


Abi masih memandang ponselnya dengan tatapan bahgia dan sebuah senyuman. Dan pemandangan langka ini disaksikan semuah orang dengan mata membola


Bahkan ada yang saling sikut, memberi kode pada teman disebelahnya yang mungkin tidak melihat nya.


Melihat senyuman Abi seperti embun penyejuk atau bahkan seperti oase di gurun pasir.


"Rapat ditunda Dan aku berikan kalian waktu untuk menyelesaikan laporan kalian sampai besok siang." Ucap Abi lalu meninggalkan ruang rapat.


Semuah staf langsung berpandangan satu sama lain, menghembuskan nafas lega akan kepergian Abi.


Mereka bahkan mengucapkan banyak Terima kasih pada sipenelpon rahasia itu.


Bahkan ada yang mendoakan kesehatan dan umur yang panjang bagi sipenelpon karena secara tidak langsung menolong mereka dari amukan dewa kematian.


"Apa Tuan langsung pulang..?" Tanya Willy mengikuti langkah Abi dari belakang


Abi menghentikan langkah dan membalikan badan. " Pulang dan istirahat lah, aku akan mengemudi sendiri." Titah Abi.


"Baik Tuan."Willy melihat kepergian Abi dengan senyum, melihat mode manusia Abi telah aktif.


Abi telah sampai di apartemen nya, dia masih menginap disana karena selain ingin menyembunyikan lukanya dari kedua orang tua nya, juga karena mengingat kenangan nya bersama Ayura saat gadis itu datang mengobatinya dua hari yang lalu.


Masih dengan pakaian kerjanya dia langsung menghubungi Ayura dengan melakukan vidio call.


Sedangkan Ayura yang memang menunggu telpon dari Abi, langsung senang saat ponselnya berbunyi, tapi gadis itu agak kaget mengetahui Abi melakukan panggilan vidio call, dengan ragu dan sedikit canggung dia menggeser tombol warna hijau pada layar ponselnya.


" Halo Pak." Sapa Ayura membuka obrolan, karena yang dilihat Abi hanya diam menatap nya.


"Halo Pak, apa kabar..?" Sapa Ayura lagi.


"Buruk! Kamu mengabaikan ku Ay." Ucap Abi dengan sedikit kecewa.


"Apa kamu sesibuk itu disana hingga tidak bisa menghubungi ku..? "


"Maaf Pak."


Keadaan menjadi hening, Abi memilih pasif membiarkan Ayura berusaha untuk menunjukkan rasa bersalah nya.


"Apa luka Bapak sudah diobati..?" Dan pertanyaan inilah yang ditunggu tunggu Abi.


"Belum, semenjak kamu pergi aku tidak pernah mengobatinya, karena aku lupa. Seseorang yang aku harapkan untuk meningkatkan ku pun tidak ada, dia terlalu sibuk hingga melupakan janjinya." Sindir Abi membuat Ayura sangat merasa bersalah


Dan memang begitu kebenarannya Abi tidak pernah mengobati lukanya secara rutin, beberapa kaki Willy menawarkan dirinya untuk mengobatinya, tapi selalu saja ditolak.


Sebenarnya lukanya pun sudah sedikit membaik, obat yang diberikan Dani sangat mujarab hingga baru beberapa kali diobati,. lukanya sudah mengering. Bahkan wajah nya pun sedikit. terlihat bersih, walaupun masih ada tanda memar dibeberapa bagian.


"Maaf! " Cicit Ayura dengan lirih.


Wajahnya terlihat sendu, jangan lupakan bola matanya yang sayup,menunjukan rasa bersalahnya yang malah terlihat menggemaskan dimata Abi. Niat ingin memghukum gadis itu agar terlihat bersalah, memudar kala memandang wajah polos Gadis diseberang yang langsung merobohkan niat awalnya


'Aku memang tidak bisa lama lama marah pada mu gadis kecilku.'

__ADS_1


__ADS_2