
Keduanya sudah didalam mobil, masih dengan Ayura yang menyetir, Abi melirik jam tangan nya.
Tiba tiba ponsel Ayura berdering, dia lalu mengambil ponselnya dalam tas dengan sebelah tangannya, Abi melirik nya tak suka, ada perasaan was was menggelayari hatinya.
Ponsel sudah ditangan belum sempat Ayura melihat nama si pemanggil, Abi sudah lebih dulu merampas ponselnya, Ayura hanya melongo. "Pak, ponsel ku..?"
"Konsentrasi menyetir nya Ay, aku belum ingin mati." Ucap Abi acuh.
Dia tersenyum smrik mengetahui siapa penelponya, tanpa persetujuan sang pemilik, Abi lalu menon aktifkan ponsel tersebut.
Ayura menghela nafas pelan, pasrah.
Abi lalu mengembalikan ponsel Ayura kedalam tas gadis itu tanpa rasa bersalah, cuek.
"Kita cari makan dulu Ay, ini sudah masuk jam makan siang." Ajak Abi sekalian perintah
Ayura mengangguk. "Baik Pak." Jawabnya lesu, dia masih belum terima kelakuan Abi yang menyabotase ponselnya tadi.
"Hmm.. Tapi dimana Pak..?".Tanya Ayura kemudian
" Terserah kamu maunya dimana, aku ikut aja."
Gadis itu berpikir keras, disuruh milih tempat makan, sedangkan dia tidak tau selera Abi. Dahinya terlipat halus, jari telunjuk nya diketuk ketuk diatas setir, dia pun menggigit bibir bawah, dia bingung menentukan pilihan, takut sang atasan nggak suka dengan pilihannya.
Abi yang menyadari kebingungan Ayura membuka suara. "Di tempat favorit kamu juga nggak papa. Hari ini aku nurut aja kemana kamu membawa ku. Aku lagi sakit jadi nggak akan banyak nuntut, cukup jadi anak baik aja." Ucap Abi sok pasrah bin lebay
Ayura melongo, tak menyangka sang atasan bisa juga lebay.
Gadis itu pun kemudian tersenyum. "Jadi nggak papa nih kalau aku yang pilih tempat makannya..?" Tanya Ayura penuh binar.
Abi mengangguk. Dia bahkan ikut tersenyum melihat Ayura yang senang disuruh menentukan tempat makan.
Mobil mereka telah terparkir di sebuah warung makan padang sederhana, tempat langganan nya selama ini, kesibukannya selama ini membuat nya tidak pernah lagi mengunjungi warung itu.
Sedangkan pria di sampingnya ini, bukannya marah, dia bahkan sangat senang mengetahui Ayura memilih warung ini, warung yang pernah dikunjungi gadis ini bersama Krishna dulu.
Dia tahu itu karena saat itu dia juga turut membuntuti Ayura dan Krishna.
"Ayo Pak! " Ajak Ayura memasuki warung itu.
Ayura menghentikan langkah nya. Gadis itu kemudian bertanya. "Nggak papa kan kalau kita makan disini..?" Tanya Ayura sungkan
Abi mengangguk tanpa bersuara membuat Ayura enggan, gadis itu masih berdiri menatap Abi sampai suara Abi membuat nya tersenyum dan kembali melangkah masuk.
"Ayo Ay, aku sudah lapar."
"Bapak mau pesan apa..?" Tanya Ayura saat keduanya sudah duduk.
"Samain aja."
Ayura mengangguk kemudian memesan dua porsi nasi padang, makanan kesukaannya
Pesanan sudah datang, diletakan pelayanan diatas meja di hadapan mereka masing-masing.
"Maaf Pak, aku memesan nasi padang, nggak papa kan..?" Tanya Ayura cemas.
"Nggak buruk." Jawab Abi tersenyum tipis.
__ADS_1
"Mari makan Pak!" Ucap Ayura kemudian langsung menyantap makanannya.
Ingin sekali gadis itu makan hanya memakai tangannya, tapi karena merasa sungkan, dia lebih memilih menggunakan sendok. Dia makan dengan sangat lahap, karena selain lapar dia juga sangat merindukan makanan ini.
Saking lahapnya dia jadi melupakan pria di depannya ini, sampai deheman Abi mengagetkan nya. Memaksanya mengalihkan pandangannya dari nasi padangnya, menatap pria itu.
Ayura kaget sekaligus bingung melihat makanan Abi yang belum disentu sama sekali, nasi beserta lauk yang berada di mulutnya tiba tiba berubah rasa menjadi sepat dan pahit, hanya diam dimulut nya tanpa bisah dikunya apa lagi ditelan.
Abi menahan tawanya, melihat ekspresi Ayura kaget bercampur takut dengan mulut penuh makanan, wajah nya menjadi sangat lucu dengan mulut yang menggembul penuh makanan.
Dengan susah payah dia mencoba menelan nasi didalam mulutnya itu. "Kenapa nggak dimakan..? Apa Bapak nggak suka..? Apa mau diganti makanannya..?" Tanya Ayura was was.
Abi menggeleng dengan raut sedih yang dibuat buat. " Bagaimana mau makan, kalau tangan ku begini..?" Ucap Abi dengan senduh sambil mengangkat tangannya kanannya yang terluka.
Menunjukan kalau dia tidak bisa makan dengan tangannya yang sedang terluka.
Ayura peka, dia meletakan sendoknya, dengan takut dia lalu menawari menyuapinya, gayung bersambut Abi langsung mengangguk dengan semangat.
"Apa Bapak mau Ayura suap..?" Tanya Ayura takut
"Kalau kamu nggak keberatan." Jawab Abi sok sungkan.
Sebenarnya Ayura merasa berat menawarkan diri menyuapinya tapi dia menyadari kode yang diberikan Abi, walaupun pria itu tidak meminta nya secara langsung tapi Ayura tau maksud dan tujuan pria itu.
Akhirnya dengan malu dan sungkan Ayura menyuapai Abi disela sela makannya. Abi dengan makanannya dan Ayura pun dengan makannya dan dengan sendok yang berbeda.
Ayura terlihat kikuk tapi tidak dengan Abi, pria itu terlihat menikmati suapan Ayura, dan entah setan apa yang merasukinya, timbul akal busuk di otaknya.
"Kelihatan makanan mu enak. Boleh aku mencicipinya..?" Pinta Abi tanpa sungkan
Ayura yang hendak menyuapi makanan kedalam mulut nya tertahan didepan mulutnya. Kaget
"Aaaa...?" Abi tanpa ragu membuka mulutnya, dan Ayura dengan ragu ragu menyuapi sesendok nasi miliknya itu.
"Wahh.. ternyata punya mu lebih enak." Ucap Abi antusias
Ayura tetegun.. 'Punya mu..?' Wajah Ayura pias. Kedengaran nggak enak banget ditelinga nya.
Walaupun dia tau maksud Abi adalah makanan miliknya tapi entah mengapa kata punya mu sedikit menggelitik hatinya. Dia menjadi malu, wajahnya merona.
Abi kemudian menyadari ucapannya langsung mengklarifikasi "Maksud ku makanannya enak." Jelasnya sungkan.
"I.. iya Pak." Jawab Ayura tak kalah sungkan
'Enak apanya..? jelas jelas makanan kita sama Pak. Kenapa jadinya punya ku lebih enak..? Eh.. eh.. kenapa aku juga ikutan mengatakan punya ku yah..? Haddeww..'
Dan setelah itu keduanya akhirnya makan makanan milik Ayura, Abi sendiri mendorong makanan miliknya kesamping dan memilih menikmati makanan milik gadis itu, makan berdua denga piring yang sama dan sendok yang sama pula.
'Kenapa dia jadi begini, aku kok merasa berciuman dengan nya secara tidak langsung' Desah Ayura.
Abi tak henti hentinya tersenyum semenjak dari dalam warung sampai didalam mobil, dia sangat merasa sangat bahagia, tentunya senyuman nya hanya dia yang tahu.
"Sekarang kita kemana Pak..?" Tanya Ayura membuka obrolan, karena semenjak masuk kedalam mobil, Abi hanya diam menatap kesamping jendela mobil.
Ayura nggak tahu saja kalau pria itu tengah menyembunyikan senyuman nya, mengingat semuah adegan dalam warung tadi.
"Apa kita langsung kekantor..?" Tanya Ayura lagi
__ADS_1
"Jangan..! Tolong antarin aku kesuatu tempat." Pinta Abi
Dengan berbekal alamat yang Abi berikan,gadis itu melajukan mobilnya membelah jalan. Ayura sedikit merinding saat memasuki kawasan yang ditumbuhi banyak pepohonan yang tinggi dan lebat disepanjang kedua sisi jalan.
"Apa benar ini alamatnya Pak..?" Tanya Ayura was was, sembari netranya terus memandangi jalan di depannya.
"Jalan saja terus, sebentar lagi kita akan sampai." Titah Abi.
Dan selang beberapa menit, mereka pun sampai, keadaan masih sama seperti jalanan yang mereka lewati tadi. Ayura semakin merinding. Abi sudah turun dari mobil, Ayura sendiri memilih diam didalam mobil sampai ketukan pada kaca mobilnya menyadarkan nya.
"Turun Ay" Suara Abi tegas bentuk sebuah perintah.
Ayura menghela nafas kasar sampai akhirnya memilih keluar, netranya tengah menyapu sekeliling, hatinya berdebar kencang
Gadis itu berpikir keras kenapa Abi mengajaknya kehutan ini, walaupun sesungguhnya pemandangan lumayan indah karena di hiasan pohon pinus di sepanjang jalan, susananya pun adem dan nyaman. Tetapi tetap saja dia merasa gusar.
Apa motif Abi mengajaknya kesini, ke tempat yang begitu sepih, bahkan sepanjang perjalanan setelah melewati jembatan tadi, dia tidak menemukan satu kendaraan pun yang serah dengannya.
"Kenapa Bapak mengajak saya kesini..?" Ayura memberanikan diri untuk bertanya.
Reaksi pria itu hanya melirik sekilas kemudian tersenyum tipis.
Lain Ayura, lain juga Abi, pria itu terlihat tenang, dia juga menyadari kegusaran gadis itu tapi dia memilih cuek, terus berjalan di ikuti Ayura.
Kini kedua nya menuruni tangga, Ayura mengamati keadaan sekitar, tempat nya seperti terawat, apa ini tempat wisata..? Tapi kenapa sepi..?
Sampai di pertengahan tangga, Ayura mendengar suara deburan air. Gadis itu menajamkan penglihatannya, menyapu sekeliling samapai netranya terfokus kesatu titik di depannya.
Mata gadis itu membola sempurna melihat pemandangan di depannya.
"Haaaa...?" Gadis itu memekik takjub.
Langkah Abi terhenti, membalikkan badan mendengar Ayura memekik, dia tersenyum melihat reaksi Ayura yang takjub.
Ayura tak menggubris Abi, pergelangan tangannya mendorong Abi kesamping,karena baginya pria itu tengah menghalangi pandangannya, tanpa menunggu dia lalu berlari menurunin tangga.
"Hati hati Ay, tangganya licin." Teriakan Abi tak dihiraukan gadis itu, dia terus berlari kebawa, Abi sangat kuatir akhirnya ikut berlari mengikuti langkah gadis itu, benar saja diujung tangga Ayura terpeleset.
Dia hampir saja terjatuh, untung Abi cepat menarik tangan nya hingga dirinya langsung membentur keras dada bidang pria itu.
Kedua tangannya berada diatas dada pria itu, sedangkan tangan Abi sebelah masih mencengkram tangannya, sebelah nya lagi reflek mendekap erat pinggang.
Waktu seakan berhenti berputar, keduanya mematung dengan tatapan yang terkunci, nafas pun seakan terhenti.
Abi menikmati wajah cantik gadis di depannya dengan mata membola, mungkin karena shock hampir jatuh tadi.
Sampai Ayura tersadar didorong nya pelan dada Abi. " Maaf Pak!" Wajahnya merona
Abi melepaskan dekapan pada pinngang Ayura "Jangan lari Ay, jalannya licin." Ucap Abi, diraihnya tangan Ayura lalu di genggamnya lembut.
Ayura mengangguk, menunduk melirik tangannya, sembari merapikan rambut kebelakang telinganya, menutup grogi nya.
Ayura mengikuti langkah Abi, entah mengapa dia rasa hatinya menghangat dengan perlakuan Abi, menggenggam tangan nya sebegitu lembut.
Begitu juga yang dirasakan Abi
Hangat....
__ADS_1
Damai...