
Helikopter Abi baru saja mendarat diatas roff top rumah sakit Himeldi
Disana sudah ada Willy dan beberapa anak buah yang sudah menungguinya.
Abi dan Willy langsung bergegas kebawah dengan menggunakan lift.
"Apa semuahnya aman saat aku tidak ada..?" Tanya Abi saat keduanya sudah didalam lift.
"Iya Tuan." Jawaban Willy dan Abi langsung meliriknya tajam.
"Benarkah..? Terus bagaimana dengan keamanan sistem perusahaan...? Apa kamu sudah menemukan sinyal asing yang hampir masuk kedalam sistem keamanan kita..?"
"Kami belum bisa menemukan siapa pelakunya Tuan. Tapi bagian IT Support sudah melakukan backup terhadap semuah data perusahaan, kami juga sudah menghalaunya. Sepertinya dia seorang Cyber dunia. Karena cara kerjanya begitu rapi dan licik."
"Apa ada data perusahaan yang dicuri..?"
"Semuahnya masih aman Tuan." Jawaban Willy membuat kening Abi terlipat halus. "Sepertinya mereka ingin bermain main dengan kita. Kecurigaan ku mereka hanya ingin mengalihkan sedikit perhatian kita, tapi aku tidak tahu apa yang tengah mereka incar."
Abi terlihat sedang mencerna laporan dari Willy, dia terlihat sedang berpikir keras, terbukti dengan matanya yang sedikit mengecil dengan kening terlipat halus .
"Apa kamu mencurigai seseorang..?" Tanya Abi dengan seringai.
Wilky mengangguk. "Iya Tuan. Aku sedang mencurigai seseorang."
Abi lalu menyeringai tajam."Tetap pantau pergerakan mereka."
"Iya Tuan."
Abi kemudian membalikan badanya menghadap Willy. "Bagaiamn dengan pasukan khusus yang aku minta, apa mereka sudah samapi disana...?"
"Maaf Tuan, aku belum menanyakan nya, tapi menurut perkiraan ku seharusnya mereka sudah sampai disana. Aku akan menghubungi mereka untuk lebih memastikan lagi." Ujar Willy dengan sedikit membungkukan badannya.
"Hmmm..." Abi menanggapi dengan deheman sambil mengangguk kecil.
Ting..
Pintu lift terbuka, keduanya langsung melangkah keluar menuju ruang perawatan Krishna.
Tapi baru beberapa langkah, ponsel Willy berdering. Dahinya mengkerut melihat satu nama pada layar ponselnya. Setelah meminta izin pada Abi, Willy kemudian menerima panggilan tersebut.
Sambil berjalan mengikuti langkah Abi, pria itu pun kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, ada apa..?" Tanya Willy saat panggilan terhubung.
"....."
"Apa...? Kenapa bisa begitu..?"
"...."
"Tetap halau mereka, aku akan segera kesana"
Langkah Abi langsung terhenti mendengar nada bicara Willy, sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi. "Ada apa..?" Tanya Abi.
__ADS_1
Willy menunduk dalam, dia yakin Abi pasti sangat marah bila mendengar kabar yang tidak mengenakan ini.
"Maaf Pak, sesuatu yang buruk telah terjadi. Cyber itu sudah menerobos masuk kedalam perusahaan dan mengganggu seluruh jaringan IT hingga mereka sekarang tidak bisa beroperasional.." Jawab Willi dengan penuh rasa bersalah.
"What..? Kenapa bisa terjadi...? Apa yang dilakukan anak buah mu hingga mereka bisa menerobos masuk kedalm badan perusahaan Will..?" Tanya Abi murka.
"Maaf Tuan. Aku akan segerah kesana untuk melihat apa yang terjadi. Maaf aku tidak bisa menemani Tuan saat ini." Sesal Willy dengan terus menunduk, tak ada keberanian untuk sekedar mengangkat kepalanya.
Abi langsung memijit keningnya yang tiba tiba berdenyut. Dia bahkan terdengar menghela nafas dalam. "Pergilah! Dan cepat hentikan mereka."
Selepas kepergian Willy, Abi langsung melangkah kekamar Krishna yang sudah diberi tahu oleh Willy sebelumnya.
Saat pintu ruangan dibuka oleh Abi, dia langsung bergegas masuk. Didalam ada Krishna yang masih terbaring diatas kasur dengan kedua orangtua mereka yang setia duduk menemaninya.
Dan kedatangan Abi membuat kedua orang tua mereka terlihat sangat bahagia dan senang, khususnya Airin sang Mama.
"Abi sayang, kamu sudah datang nak..? Tanya Airin dan langsung beranjak memeluk sang putra pertama yang sudah lama tidak ditemuinya itu.
Abi hanya tersenyum dan membalas pelukan sang Mama. "Mama apa kabar..?" Tanya Abi mengurai pelukan.
"Mama baik sayang." Jawab Airin sambil menengadah kepalanya, melihat wajah Abi yang sangat dirindukan ini. "Ahh, lihatlah Pah, dia semakin tampan dan sedikit gemuk. Betul kan Pah." Ardiansyah yang ditanya pun mengangguk, mengiyakan pertanyaan istrinya. Abi sendiri hanya terkekeh mendengar penuturan Mamanya.
Sedangkan tanpa sepengetahuan mereka, pria yang berada dibelakang mereka sedang mendengus kesal. Dan kemudian menyerinagi tipis.
"Terimakasih boy, akhirnya kamu datang juga." Ucap Ardiansyah dan hanya dijawab Abi dengan senyuman tipis.
Abi lalu melirik kebelakang, dilihatnya adiknya yang sedang terbaring diatas ranjang pasien, dengan selang infus yang masih menempel dipunggung tanganya.
"Apa kabar Krish..?" Tanya Abi sembari mendekati ranjang sang adik.
"Ya sudah, kalian bicaralah. Mama dan Papa akan keluar sebentar cari makan." Pamit Airin pada kedua putranya.
"Iya Mah.." Jawab Abi dan Krishna bersamaan.
Selepas kepergian kedua orang tua mereka. Abi kemudian menatap Krishna. "Bagaimana kabar mu..?" Tanya Abi ulang.
"Sudah agak mendingan.Tapi masih sedikit lemah." Jawab Krishna denga memaksa sebuah senyuman. " Terimakasih sudah mau datang menjenguk ku." Abi hanya mengangguk kecil.
"Ada apa kamu ingin menemui ku.?"
"Emang tidak boleh ya aku ingin dijenguk oleh kakak kandung ku..?" Tanya Krishna dengan sedih, membuat Abi berdecak.
"Benarkah..? Tak ada niat yang lain."
"Ck! Kak Abi terlalu mencurigai ku. Emang apa yang bisa dilakukan pria lemah ini." Cicit Krishna sembari terkekeh kecil. Abi hanya menyeringai.
Keadaan hening sejenak hingga Krishna kembali membuka suara. "Apa kabarnya kak..? Apa dia baik-baik saja..?" Tanya Krishna dengan sendu.
Abi tahu siap yang dimaksud Krishna dengan dia.
"Tentu saja dia baik-baik saja. Aku menjaganya, melindungunya dan selalu menghiburnya hingga dia bisa bangkit dan melupakan kesedihannya termasuk orang yang sudah memberinya luka." Jawab Abi dengan senyum mengejek. "Kamu tenang saja, dia aman bersama ku."
"Aku ingin sekali menemuinya, apa itu boleh..?" Pinta Krishna dengan sendu.
__ADS_1
"Tapi dia belum mau menemui mu. Lukanya baru saja sembu. Bertemu dengan mu akan membuatnya mengingat luka lama yang sudah kau toreh. Aku hanya ingin dia tidak terluka lagi gara gara kamu." Ucap Abi bernada sindiran membuat Krishna mengepalkan kedua tangannya dibalik selimut tebal.
"Aku hanya ingin meminta maaf padanya. Dan ingin menjelaskan semuah padanya. Aku yakin Ayura pasti mengerti dan mau memaafkan ku. Karena aku tahu dia pasti masi sangat mencintaiku. "
"Percaya diri sekali kau."
"Harus, karena aku berusaha semampu ku dengan segala cara agar kembali mendapatkan Ayura kembali."
Abi mengepalkan kedua tangannya. "Termasuk membayar hacker dari luar negeri untuk memata matai ku..?" Pertanyaan Abi membuat netra Krishna membola sempurna. Dia sempat kaget tapi kemudian berusaha setenang mungkin.
"Ck! Kak Abi omong apa..? Aku tidak mungkin melakukan itu." Dusta Krishna. Pria itu langsung tergelak kecil. Menutupi keterkejutannya.
Abi haya mendengus kesal. Apalagi dilihatnya Krishna duduk dengan santai sambil menggerak gerak kakinya tanpa dosa. Tanap sepengetahuan Abi, pria licik itu tengah berpikir sesuatu cara agar bisa menahan Abi lebih lama disini.
"Kak, aku ingin minum, apa kau boleh mengambilkan untuk ku..?"
"Bukankah kau sudh terlihat kuat. Kenapa masih bersikap manja begitu."
"Ck! Aku masih lemah. Lagian posisi tempat air sedikit jauh, ku tidak bisa menggapainya."
Ya, benar air mineral yang diletakan Airin memang sedikit jauh dari tempat tidur Krishna, kalaupun dia ingin mengambilnya maka dia harus terlebih dahulu turun dari ranjang.
Abi yang melihat itu menghela nafas kasar tapi kemudian mengambil sebotol air mineral, dibukakan penutupnya dan langsung disodorkan pada adiknya itu.
Entah apa yang direncanakan Krishna tapi dia mencoba sebisa mungkin menahan Abi lebih lama disini, dia selalu saja mencari topik obrolan walaupun dia tahu Abi terlihat enggan menanggapinya. Tapi tetap saja dia berusaha membuat kakanya mau tidak mau menemaninya ngobrol.
Selama ngobrol dngan Abi lebih tepatnya dia lah yang banyak berbicara, netranya tak pernah lepas dari ponsel yang berada diatas nakas.
Hingga terlihat layar ponselnya menyala tanpa suara dan getaran membuat dia tersenyum devil. Dia lalu menekan tombol disamping tempat tidurnya hingga tak lama seorang perawat pun masuk.
Tentu saja semuah tingkah laku dan gerak geriknya tanpa sepengetahuan Abi.
"Maaf Pak, jam besok pasien sudah habis. Bisa tinggalkan pasien karna sekarang waktunya istirahat." Ucap perawat itu pada Abi.
"Baiklah. Aku pegi dulu. Semoga cepat sembuh."
"Terimakasih banyak kak." Ucap Krishna dengan senyum lebar. Tapi tidak dengan Abi, pria itu hanya menatapnya dengan tatapan datar.
Setelah itu dia pun beranjak pergi dan akan menuju kekantornya yang kurang lebih seminggu sudah ditinggalkan nya itu. Sekalian mencari tahu masalah yang tengah dihadapi anak buahnya.
Sesampainya dikantor Abi langsung menuju ruang IT Support. Dia ingin melihat sudah sejauh mana usaha Willy dan anak buahnya menghalau dan mencari tahu tentang siapa hacker itu sebenarnya.
Dan dia sedikit bernafas dengan lega saat mengetahui kalau Willy dan anak buahnya sudah tahu siapa hackernya dan sudah memukul mundur para hacker itu.
Setelah mengetahui semuah masalah sudah beres, Abi kembali keruangan nya disusul Willy dibelakang nya.
"Terus bagaiman dengan pasukan khusus itu Will. Apa mereka sudah sampai atau belum. Astaga!" Pekik Abi kemudian. Dia teringat sesuatu "Aku belum mengabari Ayura sedari tadi. Ck! Ini semuah gara gara bocah manja itu aku jadi lupa memberi kabar pada Ayura. " Kesal Abi sambil mengambil ponselnya, ingin menghubungi Ayura.
Begitu juga dengan Willy, pria itu baru ingat kalau dia juga belum sempat bertanya pada anak buahnya yang tergabung dalam pasukan khusus.
Sibuk dengan masalah keamanan kantor yang sedang diserang oleh cyber tidak bertanggung jawab membuat dia lupa menanyakan keberadaan pasukan khusus itu.
Kening Abi sudah terlipat halus, perasaan wa was sudah menyergap, sudah beberapa kali dia menelpon ke vila tapi tidak ada yang mengangkatnya sama sekali. Dia juga mencoba menghubungi anak buahnya, tapi tetap saja panggilan terus saja teralihkan.
__ADS_1
Pikiran nya sudah benar benar kacau. Dia masih saja mencoba menghubungi nomor pengawal yang lain sampai suara keras Willy mengalihkan atensinya.
"Apa maksud kalian..?"