Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Senja


__ADS_3

Matahari kian beranjak ke ufuk Barat, sinar keemasannya mulai menapak syahdu. Mungkin kebanyakan orang begitu menikmati bahkan selalu berburu menikmati keindahan alam berwarna jingga itu, tapi tidak bagi Ayura.


Baginya senja melambangkan kesedihan dan kesendirian. Senja akan seperti itu, datang dengan keindahan nya lalu pergi begitu saja dengan sangat cepat. Lalu tergantikan dengan kehampaan malam.


Hingga membuat dia selalu menghindari pemandangan yang selalu dicari cari kebanyakan orang.


Mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar di bahu Abi, gadis itu beranjak pergi.


"Kenapa..?" Tanya Abi, menangkap pergerakan tangan Ayura yang hendak beranjak pergi.


"Aku ingin kedalam. Ini sudah soreh."


"Apa kamu masih menghindar darinya..? Apa perasaan itu masih sama..?" Tanya Abi mengerti akan sesuatu.


Ayura mengangguk pelan. Abi kemudian menarik tangannya dan memintanya duduk kembali ketempatnya. Ayura nurut tapi tatapannya kelain arah, dia tidak ingin ingin memandang kedepan yang baginya disana ada kesedihan.


"Senja tak pernah salah Ay, hanya kenangan yang membuat nya basah." Jemari tangan Abi tiba-tiba menyusup disela jari jari tangan Ayura yang terkulai diatas pangkuannya. Digenggamnya dengan mesra. Ayura tak menampiknya.


"Dulu...aku menganggap senja adalah sebuah kesedihan yang mengingatkan ku pada Mama, yang hanya bisa kupeluk sebentar dan langsung menghilang. Berganti duka dan lara."


"Aku tidak begitu mengingat Mama, tapi saat melihat album foto ku bersama nya, ternyata sebulan sebelum kepergiannya, aku sempat berfoto bersamanya berlatarkana senja, dan disana Mama tersenyum dengan wajah yang terlihat murung dan pucat."


"Senyum yang dipaksakan, menandakan dia sedang menyimpan sebuah kesedihan disana. Hatiku sakit kak, melihat itu, melihat senyumnya, wajah pucatnya dan senja." Terlihat suara gadis itu sudah serak dengan bahu bergetar, tanda dia sedang menahan tangis.


Abi pun terluka melihat kesedihan Ayura, ditariknya tubuh Ayura dan mendekapnya lembut, menyalurkan ketenangan untuk gadis itu.


"Tapi sekarang Mama sudah bahagia disana, sekarang kau juga harus bahagia, tidak boleh terkurung dalam kesedihan hanya karena senja. Ingat hidup terus berjalan dan kau tidak boleh terjebak di kisah sedih itu hmm..?"


Abi kemudian mengurai pelukan, diusapnya kedua pipi Ayura yang basah dengan linangan air mata dengan kedua tangannya.


"Bukankah aku selalu bersama mu, ada aku yang selalu menghibur mu, aku yang selalu menjaga mu." Hibur Abi disertai sebuah senyuman menenangkan.


Ayura pun memaksakan sebuah senyuman. "Jadi sekarang nggak usah sedih lagi bila melihat senja. Ini sangat indah dan romantis tau." Bujuk Abi seraya mencoba menggoda gadis itu.


Namun Ayuramalah menggeleng, "Tapi sekarang, saat melihat senja kesedihan ku bertambah. Aku teringat dengan kisah cintaku. Indah tapi hanya sebentar berada dilangit kemudian pergi begitu saja berganti menjadi gelap, sunyi dan sedih." Ayura kemudian menoleh dan menatap pria itu yang senantiasa memandang nya.


"Menurut kak Abi, senja itu apa..?"


Ditanya seperti itu, pria itu seketika mencoba berpikir dan kemudian tersenyum. "Senja mengajarkan ku bahwa menanti itu tidak mudah, berjuang pun sama susahnya. Apalagi harus berjuang menunggu seorang dalam ketidakpastian." Sindir Abi sekaligus bercanda, membuat Ayura berdecak. Abi malah tersenyum.

__ADS_1


"Tapi..., seperti senja yang setia menanti matahari menepi, seperti itulah aku yang selalu setia menanti cinta mu." Ujar Abi dengan tersenyum lebar, membuat Ayura kembali berdecak tapi sejurus kemudian gadis itu pun tersenyum.


Baginya Abi selalu saja ada cara membuat dia tersenyum dan selalu memiliki cara menghibur nya dari semuah kesedihannya.


"Jadi sekarang temani aku melihat senja. Seperti sepasang kekasih, aku ingin menikmati suasan romantis ini bersama mu." Abi kembali menggoda Ayura


"Tapi kita bukan sepasang kekasih kak." Elak Ayura


"Belum aja..., tapi nanti..., Saat disini.... " Abi menunjuk dada Ayura dengan jari telunjuknya. "Sudah hilang semuah luka mu, dan aku berusaha untuk menyembuhkannya. Menggantikan nya dengan kebahagian dan akan ku ukir nama ku disini, hmm."


Ayura bergeming ditatapnya netra Abi yang sedang menatapnya lembut. Dan Kedua netra mereka langsung beradu dengan satu garis lurus.


Tangan Abi terulur membeli pipi Ayura, gadis itu menikmati dengan tatapan syahdu dan sebuah senyuman manis.


Abi kemudian menarik kepala Ayura dan menjatuhkannnya diatas bahunya. Ayura menurut. Jemari Abin kembali menyusup disela sela jari Ayura, menggenggam dengan mesra


"Tidurlah! Kalau kau tidak ingin melihatnya. Duduk disini temani aku hmm.."


🍒 🍒 🍒


Kembali kerumah sakit, Krishna masih tebaring lemah, kedua orang tuanya sedang menjaganya. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan bersama kedua orangtuanya.


"Aku ingin bertemu dengan kak Abi, Mah. Apa Papa bisa meminta dia untuk datang menjenguk ku. Bukankah aku masih adiknya Mah.." Tanya Krishna dengan sendu, membuat Airin dan suaminya merasa terpukul.


"Adam sudah mencoba menelepon, tapi ponselnya nggak aktif. Sepertinya kak Abi benar benar tidak ingin berhubungan lagi dengan ku. Apa dia begitu membenci ku..?"


"Sayang..., bukankah begitu. Kakak mu pasti sibuk dan belum bisa datang menjenguk mu. Tapi kamu tenang saja, Papa akan mencoba menghubungi kakak mu. Bukan begitu Pah..?"


Hati Airin terenyuh mendengar permintaan Krishna. Tapi juga merasa lega mengetahui putra keduanya ingin menjumpai kakaknya, rasanya seperti menemukan oase dipasang pasir.


Semoga dengan pertemuan keduanya kali ini bisa meruntuhkan tembang beton yang keduanya bangun selama ini.


Maka dengan semangat empat lima dia langsung meminta suaminya harus segera mendatangkan Abi. Bagaiman pun caranya.


"Pah cepat hubungan Abi, minta dia untuk datang kesini." Pinta Airin dengan tidak sabarnya. Ardiansyah pun langsung mengangguk patuh walau dengan suasana hati yang tak jelas.


Pria itu sudah mengeluarkan ponselnya, tapi suara Krishna menghentikan aksinya.


"Pah, nomornya kak Abi nggak aktif. Papa minta Willy yang menghubunginya. Karena hanya kenebo kering itu yang bisa menghubungi kak Abi." Disaat tubuhnya masih lemah begitu, bicara pun masih terdengar lirih, tapi itu tidak meyulutkan semangatnya untuk mengumpat Willy. Karena dia memang begitu membenci asisten sekaligus body guard kakanya itu.

__ADS_1


"Ah, baiklah aku akan meminta dia untuk datang kemari." Sela Ardiansyah. Kemudian pria itu langsung menyingkir dan menghubungi Willy.


Tanpa ada yang tahu, pria yang diketahui sedang terbaring lemah itu tengah menyembunyikan seringai nya.


Dan disinilah Willy sekarang, bersama Ardiansyah terlihat ia sedang mencoba menghubungi bosnya. Sesungguhnya itu juga melalui amukan dan ancaman oleh Ardiansyah hingga pria itu mau tidak mau dan dengan wajah masam dia mencoba menghubungi Abi.


"Ada apa...?" Tanya Abi ketus, saat panggilan terhubung.


"Tuan besar ingin berbicara dengan anda Pak."


Jawaban Willy membuat pria diseberang telpon langsung terdiam. Tanpa ada yang tahu dia sedang menahan geram dengan mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya begitu tajam bahkan bisa menembus dinding kokoh yang ada dihadapanya.


"Pak...Pak..." Panggil Willy, membuat pria diseberang tersentak, tapi kemudian menarik dan menghembus nafas pelan, guna menetralkan emosinya.


"Iy...,"


Belum juga pria itu melanjutkan ucapanya ,diseberang sana sudah terdengar suara seorang pria yan yang merupakan panutan dan merupakan pria yang sangat dihormati itu.


"Halo Abi, ini Papa, apa Papa bisa ngobrol dengan mu...?" Tanya Ardiansyah. Pria itu tak sabar lagi, hingga dengan cepat merampas ponsel dari genggaman pria yang sudah diselamatkan dulu.


"Iya Pah.. ada apa..?" Tanya Abi datar.


"Nak..," Terdengar sapaan lembut penuh harapan dari seberang. "Adik mu sekarang sedang dirawat dirumah sakit, apa kamu tidak bisa meluangkan sedikit waktu untuk menjenguknya..?" Pinta Ardiansyah dengan sendu.


"Di...,"


"Maaf Pah, aku nggak bisa. Aku lagi sibuk." Ucap Abi cepat, memangkas ucapan sang Papa.


"Papa mohon Nak, datang dan jenguk adik mu, karena dia ingin bertemu dengan mu." Pinta Ardiansyah lagi.


"Ingat nak! Kalian itu masih saudara, sebenci apapun dan sedendam apa pun dihati mu, kalian tetap lah saudara, yang diakui langsung oleh dunia dan akhirat. Kalian adalah darah daging Papa, terlahir dari rahim yang sama. Sampai kapan kalian terus bersiteru, umur kami tidak lagi mudah, kapan saja Tuhan bisa menjemput kami, tidak ada yang tahu. Kami hanya takut disaat itu tiba kami belum bisa mendamaikan kalian. Itu akan membuat kami akan sangat menyesal dan menangung bebab penyesalan sampai mati. Tidak bisakah kalian mengambulkan permintaan kami. Berdamailah, jalin hubungan dengan adik mu layaknya saudara kandung pada umumnya. Setidaknya dengan begitu Papa dan Mama bisa pergi dengan tenang."


Deg.


"Pah..."


Hati Abi seperti tertampar mendengar ucapan keputus asaan dari Papa nya.


"Papa tidak akan meminta apapun pada mu lagi, hanya kali ini saja, penuhi permintaan Papa dan Mama.., temui adik mu!"

__ADS_1


__ADS_2