
Senyum mengembang pria berwajah lelah itu menyambut sang kekasih seketika memudar saat manik hitam legam nya menangkap kening mulus sang kekasih berbalut handiplast merah muda.
"Apa yang terjadi..? Kenapa sampai terluka Ay..?"Tangannya terulur meraba lembut kening itu. Manik mata itu menatap intens menunggu jawaban si empu pemilik hati.
Ayura sedikit menggerakkan wajah, hingga tangan Krishna menggantung diudara, tak ingin membuat kuatir Ayura mencoba tersenyum manis. " Hanya luka kecil Krish, dan aku nggak papa. Kata Adam, kamu memanggilku. Ada apa..?" Ayura mengalihkan topik.
Krishna menarik nafas pelan, paham Ayura sedeng berkelit. "Benaran nggak papa..? Apa karena ini kamu nggak masuk kemarin..?" Keukeuh Krishna mengorek info.
"Iya Krish.. Aku nggak papa kok." Jawabnya dengan senyum. Tapi tidak serta merta membuat Krisna merasa lega.
"Baiklah, aku akan meminta Adam mencari tau nanti." Ucapan Krishna membuat Ayura mendelik.
"Nggak usah ngadi ngadi deh. Adam itu sangat sibuk, nggak usah kamu tambah lagi dengan masal remeh temen ini." Ayura memutar bola mata jengah. Dan berlalu
"Hei! Kata siapa masalah remeh temeh, kalau menyangkut kekasih ku itu berarti masalah serius." Bantah Krishna mengikuti langkah Ayura.
Langkah Ayura terhenti, membalikan badan. "Kamu belum mengatakan, kenapa mencari ku..?" Tanya Ayura seketika berbalik melangkah menuju sofa.
Krishna seketika tersenyum, dan langsung mendekap tubuh mungil sang kekasih. "Aku merindukan mu." Dagu pria itu suda bersandar pada pundak Ayura.
Tubuh Ayura seketika menegang, baru pertama kali mereka bersentuhan dengan begitu intim, membuat Ayura sedikit gelisah.
"Krish... " Nada Ayura sedikit menolak. Krishna tahu itu.
"Biarkan seperti ini Ay. Tidakakan kau merindukan ku..?" Tanya Krishna dengan sendu.
Ayura menghela nafas kasar. "Kalau rindu, kenapa tidak menghubungi dari semalam Krish. Aku kecewa pada mu, kamu bahkan tidak memberitahu aku kalau kamu sudah menjadi CEO disini. Kenapa Krish..? Kenapa aku harus mendengar dari orang lain..? Apa aku tidak begitu penting dimata mu hmm..?"
Meluahkan isi hatinya, Ayura melepaskan dekapan erat pria itu. Dia hendak melangkah menjauh tapi lengan kokoh Krishna menahnnya.
"Maaf Ay.. maaf.. Kemarin aku sangat sibuk dari pagi sampai malam. Pria kaku itu meninggalkan pekerjaan begitu banyak pada ku. Aku sangat kewalahan kemarin. Maaf kalau tidak memberitahu pada mu. Tapi sungguh aku tidak mengabaikan mu."
Ayura menghela nafas kasar. "Pria kaku itu kakak mu. Tidak kah kau menaruh sedikit hormat padanya..?"
"Tidak usah membahas pria lain Ay. Kita baru jadian dan aku tidak ingin mendengar kau bercerita tentang pria lain ataupun menyebut namanya." Tegas pria itu membuat Ayura berdecak kesal.
Tubuh mereka sekarang berhadapan, Netra Krishna terus memandang Ayura, gadis itu membuang muka.
"Kamu tahu, semalam aku kerumahmu tapi kamu sudah tidur. Aku bahkan berdiri dibawah kamar mu dengan begitu lama. Tapi sayang kamu sudah tidur. Jadi aku putuskan untuk pulang. "
"Benarkah..?"
Krishna mengangguk lemah. "Tanyakan saja pada security mu."
Ya, semalam saat jarum jam menunjukan angka 11. Krishna masih berkutat dengan setumpuk berkas yang harus diperiksa dan dipelajari hingga membuat kepalanya hampir pecah.
Tapi karena dia yang begitu merindukan sang kekasih hati, membuatnya memilih kabur, meninggalkan tumpukan pekerjaan dan menuju kediaman gadis pemilik hati nya.
__ADS_1
Tapi dia sedikit kecewa melihat kamar sang kekasih dalam keadaan remang. Dia yakin Ayura pasti sudah dialam mimpi. Tak ingin mengganggu sang kekasih, dia memilih berdiri dibawah kamar Ayura dan terus melayangkan pandang sampai rasa kantuk itu mendera, membuatnya memutuskan untuk pulang.
"Duduk Ay, aku akan memberitahukan sesuatu pada mu." Krishna lalu menuntun Ayura duduk bersisihan di sofa panjangnya.
"Ada apa..?"
Krishna menyematkan surai hitam sang kekasih kebelakang telinga. Ayura merona. Terbiasa berdebat dan bercanda bersama selama ini membuat dia sedikit canggung saat pria itu mencoba berlaku mesra padanya.
"Mulai sekarang, aku ingin kamu menjadi sekertaris ku..?" Pinta Krishna beserta interupsi membuat netral gadis itu membesar.Dan seketika menggeleng kuat.
"Nggak Krish. Aku nggak bisa." Tolak Ayura membuat pria itu memberenggut.
"Kenapa..?"
"Ck! Itu bukan bidang ku, kamu tahu sendiri aku ini seorang desainer Krish. Bagaimana mungkin aku jadi seorang sekertaris mu. Yang ada bukannya membantu, aku malah membuat masalah buat mu." Tolak Ayura.
"Kalau itu masalah mu, Adam bisa membantu mu, dia yang akan mengajari mu semuahnya."
"Tapi Krish..."
"Sudah Ay, aku tidak menerima penolakan, ini sudah keputusan ku." Krishna menarik nafas pelan. "Aku hanya ingin kamu selalu didekat ku. Dan jabatan ini yang pas agar kita selalu bersama. Kita baru saja jadian dan kamu tahu kemarin saja aku begitu sibuk hingga tidak bisah bertemu dengan mu. Kalau terus seperti ini bagaimana bisa kamu akan jatuh cinta pada ku."
Krishna menggenggam tangan Ayura, netra nya intens menatap manik milik Ayura. Keduanya saling menatap.
Ayura merasa apa yang dikatakan Krishna benar adanya, kemarin seharian saja tak bertemu, dia juga merasa kecewa dan rindu pada pria ini.
Bagaimanapun nasib ribuan karyawan ada ditangannya. Dan untuk pekerjaannya biar nanti Adam yang akan mengajarnya, seperti kata Krishna.Toh dia juga nggak bodoh bodoh amat. Darah bisnis Bramantyo mengalir pada dirinya.
Dan akhirnya Ayura pun mengangguk setuju. Sontak Krishna langsung memeluk tubuh Ayura. "Makasih sayang, maksih."
Ayura kaget, tapi gadis itu kemudian tersenyum dan membalas pelukan Krishna.
* * * * * *
Dan hari hari berikutnya, Ayura menjalani tugasnya sebagai sekertaris. Dengan bantuan Adam, hanya butuh beberapa hari saja, dia sudah bisa menguasai tugas dan pekerjaan nya.
Dan hari ini ada pertemuan dengan klain nya di sebuah restoran.
"Nanti disana kamu nggak usah dekat dekat dengan Pak Fahreza Alexander ya Ay. Dia itu seorang Casanova, kalau dia menggoda mu tak usah kamu tangap." Pesan Krishna saat keduanya sudah didalam mobil, sedang menuju ke restoran.
Ayura hanya mengangguk menanggapi. Baginya dia sudah terbiasa dengan tingkah posesif Krishna.
Pernah juga dia membatalkan kerjasama dengan seorang klain hanya karena pria yang sudah berumur itu mata jelalatan terus memandangi Ayura dengan tatapan memuja. Dia bahkan menggoda Ayura tepat di depan wajahnya.
Sontak hal ini membuat Krishna meradang, dia hampir saja melayangkan pukulan ke wajah pria itu kalau saja tidak dicegat oleh Ayura.
Dan kejadian itu membuat mereka kehilangan kontrakan bernilai fantastik.
__ADS_1
Krishna sangat geram. Dan mulai satu itu dia begitu posesif pada Ayura. Terkadang dia tidak mengikuti sertakan Ayura dalam pertemuan dengan para klain ataupun koleganya.
Tapi hari ini klainnya adalah seorang teman lamanya, makanya dia mengajak sang kekasih walaupun dengan terpaksa. Tapi nasehat dan petuah terus dilontarkan pria itu dari masih dikantor sampai didalam mobil.
Ayura hanya bisa mengelus dadanya. Sabar... Mobil yang dikendarai Adam sudah sampai ditempat yang dituju.
Nampak seorang pria sedang berdiri dengan senyuman menyambut kedatangan mereka.
"Maaf. Apa aku terhambat..?" Tanya Krishna saat sudah di depan pria yang bernama Fahreza Alexander itu.
Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya. "Sepertinya tidak. Hanya aku saja yang terlalu bersemangat." Jawab Reza dibarengin kekehan kecil.
Kedua pria yang merupakan teman kuliah itu pun berjabat tangan. Krishna pun lalu mengenalkan Ayura.
Sedangkan Ayura gadis itu terus menunduk saat pertama kali masuk ke restoran itu. Karena sesungguhnya dia mengenal rekan kerja mereka saat ini.
"Kenalakan ini Ayura, sekertaris ku."
Tangan Reza terulur, Ayura lalu mengangkat wajahnya. Sontak Reza memekik nama gadis itu.
"Ayura..?"
Ayura trsenyum masam. "Iya Pak Reza. Apa kabar..?"
"Kalian sudah saling mengenal..?" Terdengar nada sedikit ketus dari pertanyaan nya.
"Iya Pak, Pak Reza ini bos ku dulu saat aku bekerja dikafe." Jelas Ayura. Tuntutan sikap profesional mengharuskan Ayura memanggil Krishna dengan sebutan Bapak atau pun Pak.
"Kenapa kamu keluar tanpa pamitan pada ku Ay..? Aku sangat kecewa saat tahu kau sudah resign dari kafe" Terdengar nada kecewa dari ucapan Reza, jangan lupa sorot matanya yang tak lepas dari wajah Ayura. Membuat Krishna mengepalkan tangannya.
"Maaf Pak, saat itu Bapak sedang keluar negeri jadi aku pamitan sama Regan. Adik Bapak. Sekali lagi maaf." Ayura terus menunduk tak berani menatap Reza, karena terdengar helaan nafas beberapa kali oleh pria disebelnya ini. Dia yakin Krishna sedang menahan geram.
Tak ingin susana menjadi semakin panas, ayura memilih berpamitan ke toilet.
Dan kepergian Ayura di iringi tatapan dari Reza sampai punggung gadis itu menghilang dibalik tembok.
"Apa kamu menyukainya..?" Tanya Krishna mengalihkan atensi Reza.
"Kalau iya, lupakanlah, karena sekarang dia adalah kekasih ku." Potong Krishna sebelum Reza menjawab pertanyaannya.
πΏπΏπΏπΏπΏ **BERSAMBUNG πΏπΏπΏπΏπΏ
HARI INI SENIN YA. MOHON VOTENYA. ππ
JANGAN LUPA JUGA LIKE N KOMENNYA MBAK MBAK SYANTIEK... πππ
LOVE YOU ALL... πππ**
__ADS_1