Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Tingkahnya Sungguh Menggoda Iman.


__ADS_3

Abi baru saja menerima makan malamnya yang dipesan tadi, dia menyesali kenapa hanya memesan satu porsi sedangkan Ayura akan datang, rencananya sekalian mengajak gadis itu makan. Mau pesan lagi, lama sedangkan Ayura dalm perjalanan.


Dia sedang memikirkan bagaimana cara nya memesan lagi makan untuk Ayura, tiba tiba pintu apartemennya berbunyi


"Astaga, cepat sekali dia datang." Ucap Abi bermonolog, antara senang dan kaget.


Dengan semangat dia langsung membuka pintunya, seketika dahinya mengkerut "Ada apa..? Apa ada masalah..?" Tanya Abi pada sangat asisten si Willy.


Willy tidak langsung menjawab pertanyaan Abi, tapi netranya mengisyaratkan keterkejutan nya.


Abi menyadari itu, dan dia menjadi tak suka, karena sangat asisten merangkap body guard terhandalnya tidak akan diam dan akan menginterogasinya sampai tuntas


"Aku bertanya, ada apa dan kenapa kesini..?Pergilah! aku tidak ingin diganggu." Celetuk Abi membiarkan sangat asisten tetap berdiri di pintu karena Abi menghalangi jalannya.


Willy bergeming tak bersuara. Tapi sorot matanya memancarkan kemarahan yang begitu besar.


Dia merasa kecolongan kali ini, bagaimana bisa wajah atasannya menjadi babak belur seperti ini, siapa yang sebenarnya yang telah melakukannya, kenapa Abi hanya diam dan tak memberi tahu hal sepenting ini padanya.


Dia benar-benar marah, tapi pada dirinya sendiri karena merasa gagal dalam menjalankan tugas untuk menjaga dan melindungi bos.


"Baiklah, masuk! Aku tahu kamu tidak akan pergi sampai aku menjelaskan semuanya." Desah Abi kesal, dia lalu menyingkir, memberi jalan untuk Willy.


"Siapa yang telah melakukannya..?"


"Jangan terlalu dalam mencampuri urusanku. Emang apa yang akan kau lakukan bila aku mengatakan siapa orangnya..?"


" Aku akan mematahkan semuah jari jarinya" Ucap Willy dingin


Abi menghela nafas kasar. Dia harus mengakui keteguhan nya. Karena itulah sumpah nya untuk menjaganya.


Dia bahkan pernah mendorong Pak Ardiansyah yang ingin masuk keruangn Abi saat Abi tidak ingin bertemu siapapun. Baginya perintah Abi adalah sebuah sabda yang harus dijalankan. Apalagi dia telah bersumpah untuk melindunginya


"Pergilah, sebentar lagi Ayura mau datang, dan aku tidak ingin dia melihat mu disini."


Willy masih bergeming, alisnya terangakt sebelah mendengar penuturan Abi.


Abi sangat kesal, melihat Willy bergeming ditempat. "S*hit! Kau bahkan tidak menggubris semuah ucapanku" Umpat Abi kesal.


Dia kembali menghela nafas kasar "Pak Bramantyo yang melakukannya. Dia sudah melihat vidio itu. Sekarang katakan sebenarnya kamu sudah mengahpus vidio itu atau belum..? Kenapa dia sampai mendapatkan vidio itu ha..?" Tanya Abi dengan sorot mata tajam.


Hal ini membuat Willy benar-benar terkejut, dia belum bersuara tapi dari ekspresi nya dia sepertinya sedang berpikir keras


"Aku berani bersumpah, aku benar-benar sudah menghapus vidio itu."


Abi menyeringai"Terus dia dapat dari mana..?"


Kali ini Willy yang menyeringai. "ApaTuan benar-benar tidak tau orangnya atau pura pura tidak tahu..? Apa Tuan mau saya menyeretnya kesini dan melemparkan nya kehadapan Tuan..?" Tanya Willy menyeringai.


"Cih! Aku tidak yakin kau seberani itu" Sindir Abi. Keduanya pun lalu tersenyum miring, mengetahui siapa dalang semuah ini.


"Kamu sudah tahu semuah nya dan sekarang pergilah. Eh.. tapi tunggu! Apa yang kau bawa..?" Tanya Abi sembari menggerakan dagunya ketangan Willy.


Willy mengangkat paper bag yang dibawahnya. "Aku bawain makan malam untuk Tuan"


"Ahh, kamu memang asisten ku yang paling peka" Paling tidak kegelisahan nya tadi sudah ada jalan keluarnya.


Abi lalu mengambil paper bag itu dari tangan Willy dengan sedikit kasar, kemudian dia langsung mendorong tubuh Willy untuk keluar


Saat pintu apartemen dibuka, keduanya begitu kaget melihat seorang gadis cantik tengah berdiri di depan pintu, menatap bingung keduanya.


"Ayura..?" Kaget Abi.


Posisi Willy kini berada di depan Ayura, pria itu malah menatap Ayura dengan tidak bersahabat, membuat Ayura menjadi gugup. Dan Abi menyadari itu.


"Hei! Apa yang kau lakukan..? Kenapa kamu menakutinya..?" Kesal Abi lalu menarik tangan Ayura untuk masuk setelah mendorong kenebo kering itu untuk menyingkir.

__ADS_1


"Masuk Ay!" Ucap Abi. Willy sudah pergi.


Ayura masih merasa risih dengan tatapan Willy tadi, dia yakin Willy pasti sudah mengetahui apa yang sudah terjadi pada Abi, dia pasti sangat marah makanya menatap nya tadi dengan tidak bersahabat


Abi menyadari itu. "Jangan dipikirkan Ay, dia memang begitu. Apa kamu sudah makan..?" Tanya Abi mencairkan suasana.


Ayura menggeleng. "Belum Pak! Tapi aku tidak bisa lama lama disini, Pak. Aku harus segera pergi sebelum Papa pulang."


"Aku sudah memesan makanan untuk kita berdua, temanin aku makan dulu. Aku sangat lapar. Mungkin karena luka ini, aku jadi cepat lapar." Pinta Abi beserta perintah.


Secara akal sehat kita bisa berpikir, apa hubungannya luka diwajah dengan cepat lapar coba..? Ayura pun berfikir demikian tapi yang dilakukan hanya bisah menarik nafas kasar. Apa bisa dia membantah ucapan sang boss..?


"Tunggu sini, aku akan mengambil piring dan sendok dibelakang. Duduklah Ay"


Sepeninggal Abi, Ayura menyapu semuah ruangan Abi. Dia menjadi risih satu ruang dengan laki-laki.


Abi datang, Dia lalu menyodorkan paper bag berisi makanan dari Willy sedangkan dia sendiri membuka paper bag miliknya yang isi nya spageti.


Bibir Ayura memgerucut tajam melihat apa isi paper bag itu, Abi yang melihat Ayura mendorong kembali makanan itu menjadi bingung..?


"Kenapa..? Apa kamu tidak suka..?"


"Ck! Aku nggak suka sushi." Tolak Ayura


"Emang itu susi ya..?"


Kening Ayura terlipat halus " Bukankah ini Bapak yang pesan, kenapa Bapak jadi bingung ..?"


"Ahhh, itu pasti terjadi kesalahan. Padahal aku memesan rendang untuk mu tadi." Dusta Abi. Pria itu kemudian merutuki si Willy.


'Dasar asisten sialan, dia tahu aku tidak suka sushi kenapa dia malah membeli ku itu...?'


"Baiklah! Makanlah, setelah itu aku akan mengobati Bapak."


"Ahhh jangan begitu, aku menjadi tidak enak padamu, bagaimana kita makan berdua..?" Tawar Abi menunjukan sepiring spageti.


Ayura merasa risih sekarang, merasa Semakin kesini Abi semakin aneh dan blak blakan seperti bukan dirinya.


Tapi akal Abi seakan nggak ada habisnya, tanpa menghiraukan penolakan Ayura, dengan cuek dan sedikit paksaan dia menyuapi Ayura sesendok spageti miliknya.


Senyum puas terlukis dibibir pria itu satu melihat piring nya bersih, berkat kolaborasi keduanya.


Lain Abi lain pula Ayura, Abi boleh saja tersenyum puas, tapi tidak bagi Ayura setiap sesendok spageti yang masuk kedalam mulut nya dirasa hambar, keras seperti batu. Dia bahkan kehilangan cara mengunyah dan menelan spageti itu. Karena merasa gugup dan malu, apa lagi tatapan Abi tak pernah lepas darinya.


Tak ingin berlama lama diruangan ini yang seakan membuatnya kesulitan untuk bernafas, Ayura buru buru mengobati luka Abi.


"Aku akan langsung mengobati luka Bapak. Hmm dimana obatnya..?" Tanya Ayura


"Ada dikamar ku, apa kamu bisa mengambilnya..?" Ucap Abi kembali menggoda Ayura


"Haaa...?"


"Kenapa kamu selalu terkejut Ay. Tak bisakah kau rileks dengan ku..? Kita kan teman..?" Goda Abi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tak bisakah Bapak mempercepat prosesnya, aku harus cepat pulang Pak. Aku sudah terlalu lama disini..?"


"Baiklah tunggu disini, ak akan segera kembali." Ucap Abi, baru beberapa langkah dia kembali menggoda Ayura. "Apa kamu mau ikut aku kedalam..?"


"Pak..!" Pekik Ayura penuh kesal membuat Abi terkekeh senang. Terlalu bahagia bisa mengerjai Ayura.


Dia tidak pernah menyangka kehadiran Ayura membawa warna warni dalam hidupnya, yang biasanya hanya diselimuti hitam pekat.


Abi lalu bergegas kekamar mengambil obat yang diberikan Dani dikamarnya. Niatnya ingin menjerat gadis ini agar berlama lama dengan nya, tapi mengingat ancama Bramantyo, dia tak boleh egois.


Ayura bergegas mengobati lukanya, awalnya keduanya duduk disofa panjang, tapi postur Abi yang lebih tinggi membuat Ayura akhirnya berjongkok di depannya.

__ADS_1


Selama Ayura mengobati lukanya, netra Abi tak pernah lepas dari wajah Ayura, dia sangat menikmati momen langka ini, berada begitu dekat dengan gadisnya.


Tapi tidak bagi Ayura, dia tau Abi terus menatap nya, tapi dia mencoba mengabaikan, tingkah Abi sungguh membuatnya resah.


"Ay, bisa nggak kalau besok kamu nggak usah ke Jepang..?" Tanya Abi ketika Ayura tengah mengoles salep.


"Aku pasti sangat merindukanmu." Tambahnya lagi


"Ha..?" Ayura kaget, netra nya refleks menatap Abi, pandangan mereka beradu, untuk sesaat pandangan mereka terkunci satu sama lain.


Tatapan Abi begitu senduh, sarat akan permohonan.


"Ini sudah selesai, aku mau pulang." Ucap Ayura mencoba menghindar. Tetap bersama pria ini, keselamatannya jantungnya terancam.


Ucapan dan tingkah laku Abi terus membuatnya, gugup, malu, kehilangan kata kata dan detak jantungnya pun berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang.


Gadis itu lalu membalikan badanya, tapi Abi malah menarik tangannya hingga tubuhnya jatuh di atas tubuh Abi, Abi lalu menyandarkan tubuhnya pelan di sandaran sofa, tangannya tanpa permisi memeluk erat tubuh Ayura.


" Pak..".Ayura kaget, dia langsung bangun tapi Abi kembali menahan nya.


"Biarkan seperti ini Ay."


"Pak..."


"Aku mohon Ay, lima menit " dia memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh Ayura.


"Pak aku mohon jangan begini" Pintar Ayura resah, tanpa melihat wajah Abi.


Akhirnya Abi melepaskan belitan tangannya, seketika Ayura langsung bangun, buru buru merapikan pakaiannya, gadis itu terlihat canggung dan malu, dia bahkan membuang muka menutup rona merah pada wajahnya.


"Aku pergi dulu." Pamit Ayura tanpa melihat Abi. Membuat Abi tersenyum senang, melihat kegugupan Ayura


"Willy menunggu mu dibawah, dia yang akan mengantar mu."


"Nggak usah Pak, aku naik taksi saja. Pak Willy pasti cape." Tolak Ayura lembut.


Bagi Ayura, ogah banget satu mobil sama sikenebo kering itu, apalagi mengingat tatapan dingin pria tadi. Ayura sampai merinding.


"Ini sudah sangat malam dan aku tidak mengizinkan kamu naik taksi. Pilih pulang bersama Willy atau kamu menginap disini bersama aku..?"


Titah Abi bernada ancaman membuat Ayura mendelik kesal. Lagi lagi Abi selalu saja menggunakan kekuasaannya untuk menindas nya. Bibirnya sudah mengerucut tajam. Gadis itu lalu beranjak pulang setelah menghentakkan kaki di depan Abi.


'Ahhh, lihatlah! tingkahnya sungguh menggoda iman.' Batin Abi


Ayura sudah berada di loby apartemen dan langsung disambut oleh Willy, Walaupun wajahnya tidak terlihat semenyeramkan tadi, tapi tetap saja, Ayura merasa canggung.


"Mari Nona, aku antar. Silahkan masuk." Ucap Willy sembari membuka pintu mobil dan mempersilahkan Ayura masuk.


Pria itu lalu berlari memutar mobil masuk kedalam mobil, duduk dibelakang kemudi. Baru saja dia menghidupkan mobilnya, seseorang telah masuk kedalam mobil bagian belakang.


"Pak Abi..!" Pekik Ayura dan Willy bersamaan..


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Epilog:


Setelah Willy diusir Abi keluar dari apartemennya, pria itu lalu masuk kedalam mobilnya dan memilih pulang.


Baru saja dia menyalakan mesin mobilnya satu pesan masuk dari Abi, memintanya untuk tetap menunggu dibawah agar bisa mengantar pulang Ayura nanti.


Dia lalu melirik kebelakang, dilihatnya paper bag berisi makanan miliknya yang belum dia sentuh.


Sambil menunggu dia ingin mengisi perut nya yang sudah lapar.


Keningnya mengkerut kala melihat kotak makanan miliknya yang ternyata isinya adalah spageti untuk si bos.

__ADS_1


"Sushi ku." Keluh Willy lemah.


Dan dengan terpaksa dia menikmati spageti yang ternyata tidak dia suka.


__ADS_2