
Tak ingin Abi terus menertawakannya, Ayura meminta Abi agar duduk saling membelakangi. Dan beginilah posisi mereka sekarang duduk saling membelakangi.
"Ay.. " Panggil Abi lembut. Ayura menoleh. "Boleh aku tanya sesuatu..?" Tanya Abi. Ayura mengangguk, masih menoleh, begitu juga Abi.
"Apa kamu masih marah padaku..? Apa kamu belum memaafkan ku..?" Merasa pembicaraannya sedikit serius, Ayura langsung membalikan badanya, begitu juga Abi.
"Kenapa Bapak tanya begitu..?"
Abi menghela nafas "Karena aku merasa kamu belum memaafkan ku."
"Dari segi mananya Bapak merasa seperti itu...?" Tanya gadis itu lagi.
"Karena yang ku lihat kau selalu ketakutan bila berdekatan dengan ku, tubuhmu sampai bergetar hebat saat sedang bersama ku, apa artinya coba kalau kamu sudah memaafkan ku..?"
Ayura menunduk sebentar. "Sebenarnya aku sudah memaafkan Bapak saat Bapak memanggil ku keruangan Bapak saat hari pertama bekerja, dan mengatakan sudah menyelesaikan tentang vidio tersebut. Saat itu aku sudah memafkan Bapak."
"Benarkah..?" Tanya Abi senang
Ayura mengangguk "Tapi bila berdekatan dengan Bapak aku memang masih sangat takut, aku takut berbuat salah, takut salah berbicara, takut Bapak marah dan kembali menyeret ku seperti waktu itu. Aku masih trauma bila berdekaatan dengan Bapak." Jelas Ayura sendu
Abi tertegun, Trauma..? Dia tidak menyangka apa yang dilakukan meninggalkan trauma yang mendalam pada diri gadis ini. Abi benar benar merasa bersalah
"Maaf Ay, maaf kan aku. Aku nggak nyangka apa yang kulakuan membuatmu trauma" Sesal Abi
"Saat itu aku sedang ada masalah, membuat ku khilaf dan memperlakukan mu dengan tidak manusiawi. Aku benar benar menyesal. Dan saat tahu kamu menang lomba desain itu, aku sangat senang dan berjanji untuk menebus semuah kesalahanku dulu, tapi melihat mu yang begitu ketakutan saat bersama ku membuat ku sangat bersedih dan merasa bersalah, aku benar benar menyesal."
Melihat ada kesempatan seperti ini, Abi tak ingin membuang buang waktu, dia harus memastikan apa ayura sudah memaafkan nya apa belum, dan syukurlah jawaban Ayura membuat dia senang, Ayura sudah memaafkannya.
Tapi saat mendengar Ayura trauma, dia benar benar terpukul dan merasa berasal. Dan tekadnya kali ini dia harus mengatasi rasa trauma nya, mumpung Ayura sedang bisa diajak ngobrol, situasi dan kondisinya juga mendukung, suasana hati Ayura juga sedang bersahabat, apalagi dari tadi Ayura begitu santai dan tidak ada rasa ketakutan atau tubuh yang bergetar saat berdekatan dengan nya. Maka Abi tidak mau membuang-buang kesempatan.
Ayura tersenyum mendengar pengakuan Abi.
"Ay, boleh aku minta sesuatu..?"
Alis Ayura terangkat sebelah
"Bisah nggak kamu melupakan peristiwa itu.Dan aku mohon jangan takut dengan ku, karena aku janji tidak akan melakukan hal kasar lagi padamu, walaupun kamu berbuat salah, atau pun membuatku malu, aku berjanji tidak akan marah apa lagi berbuat kasar pada mu." Pinta Abi dengan semangat.
"Kenapa bisa begitu..?"
"Karena aku mencintaimu." Batin Abi. Menelisik netra gadis itu.
Ayura memiringkan sedikit wajahnya, menunggu jawaban Abi.
"Karena aku ingin berteman dengan mu. Bisah nggak kamu memperlakukan ku seperti kamu memperlakukan Krishna..?"
"Nggak bisa begitu Pak, Bapak adalah atasan saya, mana mungkin saya memperlakukan Bapak sama dengan Krishna, kalian dua orang yang berbeda, Krishna adalah teman ku dan Bapak adalah atasan ku." Jawab Ayura tak terima
"Baiklah, kamu boleh memperlakukan ku sebagai atasan mu saat kita berada ditempat umum atau dijam kantor, tapi kalau kita hanya berdua bisahkan kalau kita bertingkah layaknya teman..?"
Ayura hanya diam, terlihat sedang berfikir. "Baiklah." Dan akhirnya menyetujui permintaan Abi.
Entah mengapa seharian bersama Abi dia merasa nyaman, rasa takut, segan dan tubuh yang bergetar menguap entah kemana.
"Benarkah..?" Abi sudah merasa sangat senang
Ayura mengangguk.
"Janji" Tanya Abi lalu mengangkat jari kelingkingnya.
Ayura kaget, hanya memandang jari kelingking Abi di depan wajahnya, pria itu kemudian mengancungkan jari kelingking nya di depan wajahnya nya, Ayura tersenyum kemudian menautkan jari kelingking nya ke jari Abi.
Abi sangat senang, jari telunjuk nya langsung menoel hidung Ayura. Seperti inilah cara dia dan Putri teman masa kecilnya ketika berjanji.
Sedangkan Ayura sangat kaget dengan apa yang barusan Abi lakukan, sekelabat bayangan masa kecilnya kembali berputar putar di benaknya. Terlihat gambaran masa kecilnya saat dia dan pria tanggung itu sedang berjanji seperti ini dan pria tanggung itu menoel hidung nya, seperti yang dilakukan Abi. Ayura tertegun.
__ADS_1
Dia menggeleng geleng kepalanya, mencoba mengusir bayangan masa kecilnya.
"Kenapa..?" Tanya Abi.
Ayura haya menggeleng."Tidak ada apa apa."
Sesaat kemudian Ayura mengingat sesuatu. "Pak tangan mu" Pekik Ayura lalu meraih tangan Abi terlihat perban yang masih basah. "Astaga, pasti Dokter Dani bakalan marah nih lihat tangan Bapak terendam air seperti ini. Ahh..aku bakalan diomelin omelin ama dokter Dani, Pak." Ayura panik, Abi tersenyum melihat kepanikan dan perhatian Ayura. Hatinya menghangat.
Abi menarik tangannya, "Nggak papa Ay, nanti diolesin aja salep yang diberikan Dokter Dani tadi." Jawab Abi.
* * * * *
Ayura telah memakai pakaian kembali. Keduanya pun bergegas untuk pulang. "Ahhh, sepertinya aku belum move on dari tempat ini." Ucap Ayura berdiri diatas batu besar sambil melempar pandangannya kesekeliling.
"Kalau kamu suka, kita akan sering-sering kesini, tapi sekarang kita harus pergi, kita sudah lama disini."
"Ayura mengangguk, baiklah. Tapi sekarang Bapak harus mengabulkan permintaan ku"
"Permintaan apa..?" Tanya Abi bingung
"Ck! Bapak nggak usah pura pura lupa ya, peraturan permainan tadi kan yang kalah harus mengikuti semuah permintaan si pemenang. Dan disini aku lah pemenang nya."
"Bagaimana bisa..? "
"Yah biasalah, ini buktinya." Ayura mengeluarkan batu putih yang kedua sisinya ada goresan berwarna hitam.
Netra Abi membesar, sesungguhnya dia yang mendapatkan batu itu saat lomba tadi, dan seingatnya dia menyimpan batu itu disaku jas nya sebelum menggendong Ayura, saat gadis itu tiba tiba pusing
"Kamu curang Ay, kamu mendapatkan batu itu dengan cara yang curang" Kesal Abi.. Tapi kemudian tersenyum tipis mengetahui kecurangan Ayura
"Ih.. ih.., mana ada, Bapak fitnah ih.." Lihatlah sepertinya dia sudah mulai berani dengan atasannya, tapi memang seperti itulah sifat Ayura yang usil da ceria.
"Kembalikan nggak!"
Abi mendekat, satu langkah dia maju satu langkah pula Ayura mundur, sampai tidak ada lagi tempat untuk mundur, karena dibelakang terlihat air tenang dan jernih yang sedang melambai lambai kearahnya.
Dan kalau selangkah lagi dia mundur, dipastikan dia akan kembali nyebur kedalam air itu.
Abi terus saja maju mengikis jarak keduanya, tubuhnya sudah sangat menempel "A.. apa yang Bapak mau lakukan..?" Suara gadis itu bergetar, takut
"Kembalikan batu itu" Ucap Abi dengan seringai
Ayura tetap menggeleng, membuat Abi melangkah lagi dan kali ini kedua tubuh menempel sempurna, netra keduanya beradu Ayura dengan tatapan melotot sedangkan Abi, pria itu bahkan tidak sekalipun berkedip, memandang manik coklat milik Ayura.
Abi lalu menarik tubuh Ayura, pria itu terlihat seperti memeluk Ayura tapi apa yang dilakukan, tangannya lalu bergerak kebelakang tubuh Ayura dan langsung mengambil batu dari tangan gadis itu.
Ayura pasrah tanpa perlawanan, karena posisi mereka yang begitu dekat, apalagi Abi bukan hanya asal mengambil batu itu, Ayura benar benar merasakan kalau pria itu tengah memeluknya.
"Batu ini sekarang miliku, dan aku lah pemenangnya" Ucap Abi menunjukan batu itu di depan wajah Ayura, dan langsung berlalu.
Ayura masih mematung karena tubuhnya bergetar hebat, karena Bibir Abi begitu dekat dengan bibirnya, sehingga bisah tercium aroma mint dari bibir pria itu.
"Ay, ayolah! Sampai kapan kamu berdiri disitu terus."
Ayura tersadar, Abi sudah menjauh, gadis itu lalu mengerucut tajam bibir nya sembari menghentakan kakinya merasa kesal.
'Hufff, aku yakin dia pasti akan mengerjai ku habis habisan dengan batu itu'
Didalam mobil, Ayura masih ngambek dan memilih diam, Abi menyadari itu.
"Emang apa yang mau kau lakukan dengan batu ini..?" Tanya Abi,merasa penasaran.
Ayura hanya melirik sekilas batu yang dipegang Abi kemudian kembali menatap jalanan di depan dengan perasaan kesal.
"Baiklah, karena aku lagi baik, jadi aku akan mengabulkan satu permintaan mu hari ini." Ayura langsung memandang Abi dengan senyum.
__ADS_1
"Hanya satu dan hanya hari ini, besok besoknya kamu yang harus mengabulkan semuah permintaan ku. " Ucap Abi dengan senyum jahil.
"Kamu mau apa, ayo katakan mumpung aku lagi baik."
Abi merasa Ayura memang tengah menginginkan sesuatu, sehingga begitu ngotot dengan batu ini, bahkan dia tadi mendapatkan nya dengan cara curang.
Abi hanya tersenyum, memikirkan bagaimana caranya gadis itu bisa mengambil batu ini dari saku jasnya tanpa dia sadari sama sekali.
"Kalau begitu baiklah." Ayura melihat jam di pergelangan tangannya. " Ini masih sore, Bapak harus menemani ku kesuatu tempat, dan Bapak harus menuruti semuah permintaan ku, jangan menolak ya." Tersenyum puas
Dahi Abi mengernyit. Baiklah, baiklah karena kamu sudah menemaniku seharian ini maka balasannya aku akan mengikuti permintaan mu kali ini. Pikir Abi.
'Aku penasaran sebenarnya dia mau ngapain..?
* * * * *
Keduanya kini telah berada di mall, sesuai janjinya Abi akan mengikuti kemauan Ayura. Pria itu belum tahu, kenapa Ayura mengajaknya ke mall. Pikirnya pasti Ayura memintanya membelanjakan barang barang disini, apa itu baju , spatu atau yang lain.
Tapi dia malah kaget, saat tahu Ayura mengajaknya ke lantai 5,disana merupakan tempat permainan anak anak, dahinya mengkerut. Apa mereka akan bermain disini..?
Dan tebakannya benar.
Abi akhirnya menemani Ayura bermain diwahan itu, segala macam permaian mereka mainkan,seperti walking dead, bowling,street basket dan air hockey. Ayura terlihat sangat antusias, Abi pun ikut bermain dia memilih bermain bowling dan street basket.
Ayura terlihat kesal karena saat bermain street basket Abi selalu memasukkan bola kedalam ring dengan santai sedangkan dia tidak.
"Ck! Kenapa Bapak begitu hebat dengan sangat santai memasukkan bola bola itu" Rungut Ayura
Abi terkekeh, dia lalu mengambil posisi berdiri dibelakang Ayura, Ayura kaget, dia ingin menghindari tapi Abi sudah mengukung tubuhnya, Dengan tubuh yang begitu menempel Abi mengajari nya cara memasukan bola bola kedalam ring.
Tubuh Ayura meremang, mendengar bisikan Abi. "Fokus ke depan angkat sedikit tangan mu dan satu dua tiga, lempar" Instruksi Abi dan
"Gol.. " Teriak Ayura "Pak bola nya masuk" Teriak Ayura sembari lompat. Hilang sudah kecanggungan nya.
Dan mereka pun melakukan sampai beberapa kali, masih dengan posisi Abi dibelakangnya dengan posisi yang begitu intim.
Puas bermain disana, kini Abi menarik tangan Ayura, walaupun bingung, Ayura tetap mengikuti pria itu dengan diam.
Keduanya tengah berada di tempat pakaian yang yang menjual segala macam jacket dengan berbagai macam bentuk.
Abi sedang memili milih, terlihat para petugas mall kalang kabut menyadari siapa yang kini berdiri dihadapanya, buru buru seorang pria yang memakai jas berlari mendekat dan langsung menunduk.
Melihat itu Abi langsung mengibaskan tangannya kearah pria itu. Dan langsung memberi kode pada pelayanan itu untuk bertingkah sewajarnya.
"Ambilkan jaket yang tebal buat kami berdua." Ucap Abi pada petugas itu.
"Ahh, i.. iya Pak!" Terlihat ketegangan dari wajah petugas dan pria berjas tadi.
"Untuk apa kita membeli jaket Pak..?" Tanya Ayura
"Lihat saja nanti, aku akan membawa mu kesuatu tempat."
"Tapi kenapa harus disini Pak..?" Ayura sempat melirik harga jacket itu. Dan ternyata harganya sangat mehong untuk ukuran gadis sesederhana dia.
Dahi Abi memgerenyit.
"Ck! Disini pakaian nya mahal mahal Pak, kenapa kita nggak beli dibawah saja.' Bisik Ayura takut didengar oleh petugas di depannya.
" Semahal apa sih Ay, aku ini seorang CEO, semoga kau tidak lupa itu." Ucap Abi ikut berbisik.
"Lagian kenapa kalau mahal, kau kira aku tidak memiliki uang hanya untuk sekedar membeli jacket jelek ini." Ucap Abi jumawa masih dengan berbisik ditelinga Ayura, begitu dekat hingga helaan nafasnya bisa menyapu daun telinga Ayura, tapi gadis itu tidak menyadarinya.
"Iya.. iya Aku ingat, aku sadar dan aku belum pikun Pak. Bapak adalah pengusaha kaya raya yang memiliki perusahaan dimana mana." Ucap Ayura sembari memutar bola mata jengah. Abi terkekeh
"Eh jangan jangan mall ini juga milik Bapak..?"
__ADS_1