
Ayura teringat akan Abi, dia harus menemui sang atasan untuk meminta maaf karena tidak bisa mengikuti fashion show minggu depan, sesungguhnya dia merasa sangat bersedih harus membatalkan fashion show yang akan dikutinya, tapi mau bagaimana lagi dia sudah berjanji pada Krishna.
Dia merasa tak enak hati karena sudah mengecewakan Abi dan Yudistira entertainment, selaku pemimpin dan perusahaan yang menaunginya.
Karena fashion show kali ini dia akan membawa nama Yudistira entertainment.
Selain itu dia juga ingin melihat tangan Abi yang terluka tadi.
Semakin dekat dirinya dengan ruang Abi, semakin takut dan cemas melanda, Dia yakin Abi pasti akan sangat kecewa padanya, menganggapnya tak becus dan tak bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
Ragu ragu dia berdiri depan pintu ruangan Abi, tangannya sudah terangkat akan mengetuk pintu kaca itu, tapi gadis itu terlonjak saat pintu itu dibuka dari dalam. Ayura begitu kaget melihat pria yang ingin dijumpai berada di depannya dengan tatapan datarnya.
Baik Ayura maupun Abi sama-sama mematung di depan pintu, netra keduanya beradu. Ayura menjadi grogi, lidah nya keluh sekedar untuk menyapa pria itu.
"Masuklah!" Ucap Abi kemudian menggeser sedikit badan, membiarkan Ayura masuk, dia pun ikut dibelakang Ayura, memperlsilahkan gadis itu duduk, dia sendiri duduk disofa seberang berhadapan dengan Ayura.
Ayura hanya menunduk, belum bisa membuka suaranya, gadis itu tidak tahu harus memulai dari mana sampai suara Abi menyadarkan nya.
"Ada apa..?" Tanya Abi datar, netranya tak lepas dari Ayura dari gadis itu masuk sampai duduk dihadapannya. Sebenarnya dia sudah sangat tahu apa yang mau disampaikan gadis itu.
Ayura menarik nafas pelan sebelum akhirnya membuka suara " Aku ingin meminta maaf." Lirihnya.
"Untuk..?" Tanya Abi lagi dengan nada suara yang terdengar ketus
Ayura masih menunduk. "Aku tid.. " Ucapnya terpotong perkataan Abi.
"Angkat muka mu kalau lagi bicara" Ketus Abi lagi
Gadis itu tertegun dan langsung mengangkat wajahnya,tapi tetap netranya tak serta merta menatap pria itu, sesekali menunduk. “Maaf kalau aku nggak bisa mengikuti fashion show minggu depan. Maaf kalau sudah mengecewakan Bapak dan Yudistira entertainment ini. Maaf kalau sudah tidak profesional dalam bekerja. Dan Maaf..."
"Sudah cukup!" Ucapan Ayura terpotong lagi oleh Abi.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, sehingga luka yang diperban mengeluarkan darah segar, dan menodai kasa putih itu.
Walaupun sebenarnya dia tahu tujuan Ayura kesini untuk apa, tapi saat ayura mengungkapkan maksudnya entah mengapa dia masih terbawa emosi.
"Maaf..! " Lirih gadis itu lagi sambil menunduk.
Tapi saat menunduk netranya tak sengaja tertuju pada tangan Abi, dia menjadi kaget melihat darah yang merembes pada perban itu. tangan Abi mengeluarkan darah segar.
"Pak, tangan mu..?" Pekik Ayura panik.
Abi mengangkat tangan kanannya, dia mendesah pelan.
Ingin sekali dia membantu mengobati luka pria itu, tapi dia takut Abi menolak atau bahkan marah padanya.
"Biarkan saja, Willy tidak ada disini untuk mengobati nya." Sebenarnya dia ingin sekali Ayura menawarnya untuk mengobati lukanya, dia hanya mencari alasan Willy tidak ada untuk menarik perhatian Ayura, apa gadi itu berinisiatif untuk mengobati lukanya atau tidak.
"Apa boleh aku mengobatinya..? menunggu Pak Willy takut infeksi." Ucap Ayura kemudian menawarkan diri.
"Baiklah kalau kamu memaksa"
Ayura mendelik dengan ucapan Abi, perasaan nya dia hanya menawar dan bukan memaksa.
Ayura lalu mengambil kotak obat yang sudah ditunjuk Abi, Abi terus menatap Ayura dengan hati yang berbunga, terselip senyum tipis dibibirnya
__ADS_1
Ayura dengan sungkan duduk disamping Abi, kemudian meraih tangannya membuka perban nya dengan sangat pelan dan mengolesi cairan antiseptik dengan begitu lembut, tangan nya bahkan gemetar saat menyentuh tangan Abi dan saat mengobati lukanya.
Pria itu hanya tersenyum bahagia melihat Ayura yang begitu pelan dan lembut saat mengobati lukanya, bahkan tau gadis itu gemeteran. Dia pun tau sesungguhnya Ayura masih takut berdekatan dengannya, tapi dia terlihat cuek dan malah menikmati semuah reaksi yang Ayura tunjukan.
Tapi saat kasa yang mengandung cairan antiseptik menyentuh jari tengah Abi, pria itu sedikit meringis karena luka nya memang sedikit lebar.
"Maaf Pak, luka bagian sini memang agak lebar, apa nggak seharusnya kedokteran saja..?" Tanya Ayura menunjuk jari tengah pria itu
Abi langsung menarik tangannya, Ayura kaget dengan reaksi Abi, apalagi pria itu berlalu dan terlihat mengambil sesuatu diatas meja.
"Ayo!" Ajak Abi.
"Haa..?" Ayura tidak mengerti apa maksud Abi. Maksudnya Ayo apa..? Ngapain..? pikir nya.
"Katanya mau kedokteran, ayo!" Ajak Abi lagi.
Butuh beberapa detik hingga gadis itu mengerti maksud dan tujuan Abi.
"Ahh, iya Pak" Ucap Ayura terbata.
Keduanya sudah berada diparkiran sekarang.
"Kamu bisa nyetir kan..?" Tanya Abi.
Ayura mengangguk "Bisa Pak."
"Baiklah kamu yang nyetir." Titah Abi sembari melirik tangannya yang terluka dan menyerah kan kunci mobil pada Ayura.
"Iya Pak."
"Tidak papa Pak" Balas Ayura sembari tersenyum sekilas menatap Abi kemudian fokus menyetir.
Abin terkesima melihat senyuman Ayura, dia selalu melirik Ayura, dan saat gadis itu balas melirik nya, dia pura pura menatap ke depan masih dengan ekspresi datar.
Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung masuk keruangan Dokter Dani. Sebelum nya Abi sudah menelpon Dokter tampan itu, saat perjalanan nya kerumah sakit. Dokter Dani sendiri merupakan teman Abi saat kuliah dulu.
"Ada apa..? Emang kamu sakit apa sampai harus kerumah sakit, biasanya kan kamu memerintahkan aku kekantor kalau nggak kerumah..?" Cercah Dokter Dani
"Cih, kamu nggak berubah berubah, tetap cerewet" Umpat Abi.
Dokter itu terkekeh.
Dokter Dani kemudian melirik gadis cantik yang tengah duduk di samping Abi. "Eh.. ternyata ada gadis cantik disini." Senyum Dani pada Ayura
Ayura membalas dengan senyum ramah.
"Apa dia kekasihmu..?" Bisik Dani pada Abi tapi masih bisa didengar Ayura.
Abi tak menjawab, pria itu hanya berdecih kesal, tapi sejujurnya dia merasa sangat senang dengan pertanyaan Dani.
Dani kemudian melirik Ayura, menuntut jawaban, Ayura menggeleng pelan sembari tersenyum.
Kening Dokter itu terlipat halus, merasa aneh seorang Abi membawa seorang gadis cantik dan ini bukan kekasihnya, pada hal sepengetahuan nya, Abi tidak pernah dekat dengan gadis mana pun, tapi apa ini..?
Ayura yang menyadari Dani yang tidak percaya kembali mengklarifikasi. "Pak Abi atasan saya, tangannya sedang terluka, dan kami kesini untuk mengobati lukanya" Jelas Ayura membuat Dani ber oh ria.
__ADS_1
"Mana lukanya, coba aku lihat"
Abi lalu mengangkat tangannya dan menunjukkan lukanya, Dani langsung mengulum senyum, pria itu bahkan sedanga menahan tawanya melihat jari Abi yang luka.
Baginya, luka sekecil ini tak harus kerumah sakit, cukup dengan diolesi salep atau obat merah dikasih perban besok juga langsung kering.
Tapi pria ini malah memilih kerumah sakit, mengacaukan jam kerjanya, dan Abi sendiri harus meninggal kan urusan kantornya karena hanya ingin mengobati lukanya yang tak seberapa ini...
Apa ini nggak mencurigakan... ?
Kecurigaan nya menjadi nyata, kalau semuah ini ada hubungan dengan gadis cantik disamping nya ini. Apa ini kekasihnya Abi, atau gadis yang sedang disukai Abi..? Muncul pertanyaan pertanyaannya pada dirinya.
Dokter Dani terus mengulum senyum saat mengobati luka Abi. Dia bahkan mengerjai Abi dan Ayura.
"Wahh, lukanya sangat serius, untung segera dibawah kesini, kalau tidak bisa infeksi bahkan bisa dipotong jarinya." Ucapan Dokter Dani lebay, Abi melirik tajam ke arah nya, sedangkan Ayura menjadi kaget.
"Benarkah..? Apa itu parah Dokter..?" Tanya Ayura panik membuat Abi pun ikut mengulum senyum.
Hati nya menghangat mendengar Ayura mengkuatirkan nya.
"Iya Nona.. " Dani menggantung ucapannya
"Ayura, panggil aja Ayura, Dok."
"Iya Ayura, ini lumayan parah. Dan aku mohon pada mu untuk mengawasi lukanya,karena atasan mu ini sangat ceroboh dan tidak peduli dengan sakitnya." Tutur Dani mendrama dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.
"Mau kan kamu membantu ku menjaganya..?" Tanya Dani dan dianggukin Ayura dengan serius. Abi kembali menyembunyikan senyuman nya.
Luka tangan Abi sudah diobati dan dikasi perban.
Keduanya pun pamit, Dani membukakan pintu ruangan nya, Ayura sudah keluar duluan.
"Aku sudah transfer bayarannya, 5 kali dari biasanya." Bisik Abi pada Dani
Mata pria itu membesar, rahangnya pun terbuka lebar, mendengar kata lima kali dari biasanya. Bagaiaman nggak kaget coba, yang bayaran biasanya aja udah mehong,, bagaimana dengan yang lima kali lipat.
"Ahh, benarkah..? Terimakasih banyak , aku doakan agar cepat jadiannya." Bisik Dani sambil menepuk nepuk dada Abi menggunakan punggung tangannya.
"Cepat sah kan, sebelum di tikung yang lain." Tambahnya lagi.
Abi hanya senyum masam mendengar ucapan Dani yang terakhir.
Keduanya pun berlalu
Dani mengantar kepergian Abi dan Ayura dengan senyum lebarnya. Dia benar-benar sangat senang baginya hari ini adalah hari keberuntungan nya, mengingat pundi pundinya akan bertambah, dan ini semuah berkat Ayura.
Tapi mengingat Ayura membuat dia merasa bersyukur akhirnya Abi menemukan tambatan hati setelah sekian lama menyendiri.
Sepengetahuan nya dari masa kuliah dia tidak pernah melihat Abi berdekatan dengan seorang perempuan, pada hal banyak sekali gadis yang mengejar ngejar dirinya, tapi jangankan berdekatan dengan cewek, melirik pun saja tidak.
Tapi dia memiliki banyak teman cowok, khusus dengan dirinya. Dia lebih sering menghabiskan waktu bersama dirinya, apa apa hanya dengan dirinya hingga munculah rumor kalau dirinya dan Abi adalah sepasang g@y.
Semenjak saat itu semua gadis bahkan para cowok yang tidak mengetahui keadaan yang sesungguhya menghindar dan lebih parahnya menatap mereka dengan tatapan menjijikkan. Iiyyuuhh...
Dirinya sangat kesal, citranya sebagai lelaki sejati tercoreng, tapi tidak bagi Abi, dia malah diam saja menanggapinya, tanpa berniat untuk mengklarifikasi nya.
__ADS_1
Dia bahkan merasa bersyukur berkat rumor itu dia tidak lagi dikejar kejar oleh gadis-gadis itu.