Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Ada Pawangnya.


__ADS_3

"Ah..lupakan mereka! Ayo sekarang kita pulang, Mama pasti sangat senang bila melihat anak tiri yang sangat dibencinya pulang." Ucapan Angel Angel membuat Ayura memberenggut.


Dia tahu Angel sedang bercanda dengan dirinya, bukankah mulut gadis ini memang sepeda bon cabe level tingkat tinggi.


"Ck! Mama sudah berubah Njel, Mama tidak membenci ku lagi. Dia sudah menyayangi ku tau."


"Kata siapa..? Kalau pun iya, aku akan menghasut Mama untuk kembali membencinmu. Mama hanya bisa menyayangiku dan bukan kamu, gadis kampung."


"Eh, kurang ajar kamu. Dasar nenek sihir" Kesal Ayura sambil melesatkan beberapa pukulan kelengan Angel.


"Auw..Ay, ini sakit! Hentikan gadis kampung."


Ayura lalu menghentikan pukulannya, dan tak berselang kedua gadis itu tergelak kencang.


Tak jauh dari tempat Ayura dan Angel berada nampak seorang pria yang sedang duduk dibelakang kemudi tersenyum sedih, melihat interaksi kedua saudar tiri itu.


"Ayo ah kita pulang." Ujar Angel dan langsung menarik tangan Ayura.


"Eh.. Njel..Tapi.."


Belum juga Ayura melanjutkan ucapannya, dari depan terlihat Adam sedang berlari kearah mereka dengan wajah tegang.


"Nona Ayura, Tuan Krishna sudah bangun dan dia mengamuk, mencari anda."


Ucapan Adam membuat Ayura menghela nafas pelan. Angel sendiri memasang wajah bingung.


"Ada apa Ay...?"


"Nanti baru aku ceritakan. Sekarang aku harus pergi. Maaf aku belum bisa pulang kerumah. Titip salam buat Mama dan Papa ya Njel." Setelah berpamitan pada Angel, Ayura pun langsung melangkah pergi dengan cepat.


"Tapi Ay, ada apa..?"


"Akan aku ceritakan nanti." Teriak Ayura yang sudah menjauh.


Angel pun hanya biss diam melihat Ayura yang kini sudah masuk kedalam mobil yang dibukakaan oleh Adam.


Tak jauh dari situ, terlihat seseorang pria yang sedang menghubungi seseorang. "ikuti mobil hitam itu. Jangan lengah dan hilang pandangan dari gadis itu. Kalian mengerti..?"


Terdengar helaan nafas berat dari mulut pria itu.


Teringat kejadian di rumah sakit tadi, diaman dia mengacuhkan dan bersikap dingin pada gadis yang sangat dirindukanya itu.


Hatinya begitu sakit dan perih, melihat tatapan sedih sang gadis. Apalagi mengingat gadis itu sempat jatuh karena mengejar nya, dan dia memilih cuek dan pergi tanpa berniat menolong nya. Ayura pasti sangat terluka saat itu.


Tapi percayalah, dirinya pun sangat sakit dan terpukul. Ingin sekali dia berlari dan menarik gadis itu kedalam peluaknnya, menyalurkan rasa rindu yang membuncah seminggu lebih tak berjumpa dengan dirinya, tapi sebisa mungkin dia tahan.


Berada disamping gadis itu hanya akan membahayakan nyawa gadsi itu. Para anak buah Serkhan berkeliaran diman mana dan dia tak ingin gegabah.


🍒🍒🍒


Dirumah sakit, terjadi sedikit ketegangan saat Krishna bangun dan tak mendapatkan Ayura dismpingnya.


Dirinya mengamuk, mengabaikan terikan kuatir sang Mama, melihat dirinya mencabut selang infus dari tangannya. Dirinya berniat turun dari kasurnya dan mau mencari gadisnya.


Baru saja dia menurunkan kakinya, satu suara yang dicarinya sedari tadi menghentikan aksinya.


"Krish.." Teiaka Ayura dengan panik.


Krishna langsung menyorot tajam gadis itu.

__ADS_1


"Ck! Kamu keman saja Ay. Kenapa mengabaikan permintaan ku." Kesal Krishna sembari ingin melnajutkan aksinya yakni turun dari kasur. Karena dia ingin mendekati Ayura yang masih berdiri didepan pintu.


"Krish, jangan beranjak dari tempat mu." Tegur Airin dengan rasa kuatir


Hal ini membuat Ayura langsung berlari kearahnya. "Jangan turun dari kasur itu Krish, atau aku akan sangat marah." Ancam Ayura membuat pergerakan pria itu terhenti.


Dengan patuh dia menaikan kedua kakinya. Berbaring diatas kasur dengan posisi membelakangi Ayura.


Dirinya tengah melakukan aksi protes alias ngambek.


Ayura mendekat dengan menghela nafas kasar. Airin sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya tapi juga bernafas lega.


Airin kemudian mendekati Ayura "Dia belum makan Ay." Bisik Airin sambil melirik makanan Krishna yang belum tersentuh diatas nakas.


Ayura tersenyum dan kemudian mengangguk. " Iya Tante aku akan mencoba membujuknya."


"Maksih sayang." Ucap Airin dengan lega. Setidaknya sudah ada pawangnya.


"Krish.." Panggil Ayura pelan, berdiri dibelakang Krishna dan mengusap pundaknya dengan lembut, "Makan ya." Tidak ada sahutan dari depan. "Aku suap, hmm." Belum juga ada pergerakan.


Ayura menghela nafas pelan. Sepertinya dia harus banyak menyetok ekstra sabar menghadapi bayi tuanya.


"Baiklah kalau kamu tidak mau makan. Biar aku pergi saja. Untuk apa aku disini kalau kau terus memunggungi ku dan hanya diam." Ketus Ayura dengan meletakkan piring berisi makanan diatas nakas dengan sedikit kasar


Sontak saja, hal ini membuat Krishna langsung membalikan badanya, dan menyorot Ayura dengan begitu tajam.


"Kenpa bandel sih bukankah kau sudah berjanji untuk menjaga dan merawatku..?" Tanya Krishna dengan kesal.


"Maaf Krish, aku..., astaga Krish tangan mu berdarah." Ucap Ayura dengan begitu kaget, melihat tangan Krishna bekas infus tadi mengeluarkan darah karena dicabut secara kasar oleh dia tadi.


Ayura lalu menekan tombol disamping ranjang Krishna, tak berselang seorang perawat datang dan langsung memasang ulang selang infus itu.


"Kemana tadi..?"


"Jalan jalan, hirup udara segar."


"Ck Hirup udara segar atau mencari yang segar segar.?" Slidik Krishna.


Ayura mengulum senyum. Seseorang kalau sedag cemburu itu lucu ya..? Tak terkecuali pria kasar dan tak berperasaan ini salah satunya. Tak ubah layaknya anak kecil


"Itu salah satunya, karena mata ku sakit lihat pasien yang kurus dan brewokan seperti ini, mana bandel dan keras kepal lagi." Canda Ayura disertai kekehan mebuat Krishna memberenggut. Tapi dia kemudian ikut tersenyum tipis.


"Apa kamu bertemu dengan nya..?" Tanya Krishna memasang wajah serius.


Ayura seketika terdiam, di tahu siapa yang dimaksud Krishna. Tapi dia memilih diam. "Aaa... buka mulut mu Krish." Ayura mengalihkan topik, tak ingin membahas perkara pria itu. Hatinya akan sakit mengingat itu.


Krishna tahu Ayura sedang mengalihkan pembicaraan mereka. Pria itu menatap dalam netra gadis itu. "Kenapa tidak menjawab..?"


Ayura menghela nafas kasar. " Aku tidak menemuinya Krish."


'Dia bahkan mengacuhkan ku.' Batin Ayura.


"Puas! Ayo buka mulut dan habiskan makanan mu."


Krishna malah memalingkan wajahnya, dia tahu Ayura sedang berbohong.


Kembali gadis itu menghela nafas dalam. Diletakan sendok diatas piring. Tangannya lalu memegang dagu pria itu dan langsung membalikan wajah Krishna.


"Selagi Tante Airin dan Pak Ardiansyah tidak melihat kesini, boleh nggak aku memukul kepala mu pakai sendok ini..?" Tanya Ayura sembari mengambil sendok yang berada diatas piring dan diarahkan kepala pria itu. Kesabarannya benar benar sedang diuji pria ini.

__ADS_1


Sontak saja Krishna langsung memelototin dirinya. "Jahat kamu Ay. Aku masih sakit loh, tapi kau sudah mau kdrt sama aku."


"Aaaa..." Ayura meminta Krishna membuka mulutnya tanpa mau menghiraukan omelan pria itu.


Dia harus banyak bersabar. Setahun oacaran dengan pria itu dia sudsh hafal luar dalam kelakuan pria itu.


Dia tak boleh memancing emosi ataupun membuat dia cemburu. Panjang urusannya.


Ayura pada akhirnya memilih diam saat pria itu mengomel, dan menimpal sedikit saat pria itu bertanya. Hingga nasi beserta lauk didalam piring berpindah kedalam perutnya.


"Jangan pikirkan sesuatu yang membuat mu kuatir. Tapi pikirkan sesuatu yang bisa membuat mu bahagia. Agar kau cepat sembuh." Ucap Ayura pada akhirnya diselingin senyum hangat. Membuat pria itu pun ikut tersenyum kemudian mengangguk patuh.


🍒 🍒 🍒


Sudah dua hari Ayura merawat Krihsna. Kondisi pria itu cepat membaik. Dia bahkan terlihat sudah sehat dan bersemangat. Tapi bila dihadapan Ayura, pria itu tiba tiba saja lemah dan tak berdaya. Tentu saja itu hanyalah sebuah trik untuk menarik perhatian gadis itu.


Dan malam ini apa yang terjadi pada Ayura hingga dia memilih tidur lebih awal. Tentunya setelah mengurus bayi tuanya terlebih dahulu. Makan dan minum obat.


Krishna menatap sendu gadis yang tertidur di kasur yang bersebelah dengannya, dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


Soreh tadi Ayura bertingkah sedikit aneh, terlihat lebih banyak diam dan melamun. Dia pikir Ayura mungkin kelelahan mengurus dirinya atau mungkin memikirkan Abi.


Mengingat itu membuatnya sesak. Tapi apapun terjadi tekadnya untuk berusaha mendapatkan hati Ayura. Yah, dengan cara mengikatnya disamping nya.


Krishna menikmati wajah damai kekasih hatinya dalam tidur lelapnya. Pria itu tak berhenti untuk tersenyum.


Tak menyangka ,gadis yang selama ini dicari adalah Ayura. Dan sekarang tidur tepat dihadapannnya.


"Apa kamu hanya ingin menatapnya saja tanpa ingin memilikinya..?" Tanya sang Papa membuyarkan lamunan pria itu.


Sontak, dia pun langsung beranjak duduk. Dilihatnya Papanya tengah berdiri disamping kasurnya.


"Apa maksud Papa..?"


"Apa kau serius dengan Ayura..?" Tanya Ardiansyah. Kini dia, Krishna dan Airin sudah duduk disofa di ruangan itu.


Ada sesuatu yang ingin disampaikan Pria tua itu hingga meminta mereka mengobrol disofa, agar tidak menganggu tidur Ayura...


"Tentu sja Pah. Papa juga tahu itu." Jawab Krishna tak terima. Bagaiman Papanya menanyakan lagi keseriusannya, dia seharusnya sudah tahu bagaiaman tersiksanya dia selama ini saat Ayura pergi.


"Tapi maasalahnya Ayura sudah tidak mencintai ku lagi, sekarang dia mencintai kak Abi." Ucap Krishna dengan sendu.


"Terus kamu pasrah dan melepskanya begitu saja..?"


"Pah.." Pertanyaan Ardiansyah membuat Airin memekik memperingati nya. Krishna sendiri melotot.


Bagaimana bisa suaminya meminta Krishna memperjuangkan Ayura sedangkan dia tahu kalau Ayura mencintai Abi dan sudah pasti Abi juga pasti sangat menginginkan gadis ini. Kalau meminta memperjuangkan Ayura sama saja dia meminta Krishna dan Abi kembali bersitegang


Ada apa dengan suaminya hingga Airin menatap suaminya dengan tak suka.


Ardiansyah menghela nafas dalam, melirik istri dan anaknya bergantian. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan mereka berdua. Dan pada akhirnya membuka suara.


"Masalah Kakak mu, dia sudah melepaskan Ayura dan meminta mu untuk menjaganya. Dia bahkan mau kau menikahi Ayura."


"Haa..?" Kaget Krishna dan Airin bersamaan.


"Sekarang." Ucap Ardiansyah lagi.


"Apa...?" Kembali Krishna dan Mamanya dibuat kaget.

__ADS_1


__ADS_2